Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 42



Malam ini Samuel sudah duduk diatas motor trail miliknya, ia menunggu kabar selanjutnya dari Antonio. Bolak-balik Samuel melirik jam pada layar ponselnya.


Drttt drttt.


Sebuah pesan muncul di layar ponselnya, senyumnya mengembang.


"Mari kita mulai!" Ucapnya sambil memakai helm full facenya. Samuel memacu motornya dengan kecepatan tinggi di tengah – tengah jalanan yang sepi - karna jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ia mengedarai motornya menuju tengah hutan yang posisinya tak jauh dari Mansion Bryan, kurang lebih 3 o menit ia berkendara akhirnya ia sampai juga pada posisi ia memasang radarnya beberapa hari lalu. Ia memarkirkan motornya cukup jauh dari area gerbang itu. Samuel mendekati gerbang itu dengan membawa beberapa perkakas miliknya.


"Lumayan juga pengamanannya, dia memakai kunci yang harus dibuka dari dalam. Dan ketika sudah tertutup dari luar, akan sangat sulit masuk dari sini jika seseorang tak membuka kode pass nya dari dalam. ****!" Samuel meninju dinding samping gerbang itu. Kali ini ia harus melakukan apa? Samuel mengigit kuku - kukunya.


"Benar-benar sialan, aku harus menyusup lewat gerbang depan." Ucap Samuel sambil membuka tas di pinggangnya, ia hanya memiliki 5 jarum bius di kantungnya. Ia harus melihat situasi di depan mansion Bryan.


Selanjutnya Samuel pergi dengan motornya menuju gerbang depan mansion Bryan. Ia bersembunyi di balik celah batu, dengan teropong miliknya ia mulai menghitung jumlah penjaga di depan.


"Satu, dua, tiga, ****! Mereka semuanya berjumlah 6. Dan aku hanya membawa 5."


Samuel tak kehabisan akal, ia akan mencoba melumpuhkan 4 orang yang berada di depan. Ia berjalan lebih dekat dari pos penjaga, tampak 4 orang sedang berjalan bolak-balik di depan gerbang mansion. Samuel tiarap di dekat semak - semak, mengeluarkan sebuah ketapel dari saku depannya dan mulai membidik mereka satu persatu.


"Mereka akan berjalan berlawanan di depan gerbang selama kurang lebih 15 detik, lalu mereka akan berbalik arah dan berjalan lagi saling berlawanan. Aku hanya punya waktu 15 detik untuk melumpuhkan mereka sebelum akhirnya mereka berbalik dan menyadari bahwa salah satu diantaranya telah lumpuh." Gumam Samuel. Ia mulai menghitung kembali, sambil tangannya sibuk mempersiapkan senjatanya.


Saat akhirnya para pengawal berbalik arah, Samuel mulai melumpuhkan mereka satu persatu dengan mulut yang komat kamit menghitung langkah para pengawal yang sedang berjalan itu.


Ctss


Satu orang berhasil ia tembak, masih ada tiga orang lagi dan masih tersisa 13 detik. Samuel kembali menembaki mereka satu persatu.


Tinggal satu lagi, Samuel sudah menghitung sebanyak 12 detik. Kini tersisa 3 detik hingga akhirnya ia berhasil menembak mereka satu persatu. Samuel tak butuh waktu lama bagi mereka untuk jatuh pingsan. Kurang lebih 1 menit satu persatu dari mereka mulai kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh pingsan. Samuel melirik gengaman tangannya, kini hanya tersisa satu jarum saja. Ia menggenggam erat jarum itu.


"Benar-benar tak ada jalan lagi, aku harus nekat menerobos kedalam."


Samuel mengendap – ngendap. Rupanya salah satu dari dua orang yang tersisa menyadari bahwa pengawal yang berada didepan gerbang telah dilumpuhkan, saat ia hendak memangil salah satunya Sam mengapit leher pengawal itu dengan cepat dan menyuntikan jarum itu di leher pria itu,


"Have a nice dream sobat!" Bisik Sam padanya, tak lama kemudian pengawal itu pun terjatuh. Samuel menggeledah pakaian pengawal itu, ia hanya menemukan stun gun.


"Bukankah kau terlalu sembrono? Bagaimana bisa ia memperkerjakan pengawal yang hanya menggunakan stun gun?" Samuel terkekeh, kini hanya ada satu lagi pengawal yang perlu ia singkirkan.


"Siapa disana?" Seorang pria yang berpakaian serba hitam mirip pengawal lainnya menunjuknya, lalu pria itu berlari sambil merogoh saku celananya.


"Sial!" umpat Samuel, ia mengambil beberapa batu di tanah lalu berdiri dan mendekati pria itu. Samuel mencoba melumpuhkannya dengan pukulan, namun ia merasa bahwa pengawal kali ini lebih bisa mengimbanginya daripada pengawal yang lain. Ia menghidari pukulan dadi Samuel dengan begitu mahirnya. Sam tak kehabisan akal, ia mengeluarkan ketapelnya dan menembakkan batu – batu itu pada tangan pengawal itu yang saat ini sedang memegang stun gun.


Satu kali,


Dua kali,


Pengawal itu bisa menghindarinya, Sam memfokuskan untuk menembakan batu itu pada punggung tangan pria itu.


Ctak!


Batu itu tepat mengenai punggung tangan pria itu, saat pria itu tengah mengambil kembali stun gunnya Samuel berlari dengan cepat dan menendang dada pria itu hingga akhirnya jatuh terlentang. Kesempatan itu tak ia sia-siakan karna setelah itu Samuel membidikan stun gunnya.


Dritt drtttt


Pria itu akhirnya pingsan karna sengatan listrik. Samuel berlari menuiu box listrik. ia mematikanaliran listrik dibagian pos penjaga dan juga mansion untuk menghindari CCTV.


"Akhirnya tinggal selangkah lagi, I'm coming Ivanna." Gumam Sam.


Didalam kamarnya Ivanna tiba-tiba terbangun karna merasakan hawa panas di dalam kamarnya.


Alangkah terkejutnya ketika ia membuka pintu Samuel tengah berdiri di depan kamarnya.


"S-sam? Bagaimana kau bisa ada disini?" Sam menutup mulut Ivanna, sedangkan satu tangan lainnya berpose menyuruhnya untuk diam.


"Aku disini menjemputmu Anna. Mari ikut


denganku." Sam memegang lengan Ivanna, namun Ivanna tak kunjung juga bergerak dan hanya berdiri di tengah-tengah pintu.


"A-aku tidak bisa Sam, Bryan pasti akan menemukanku."


"Aku akan membawamu ketempat yang jauh hingga ia tak akan pernah bisa menemukanmu. Percayalah padaku!" Sam terus membujuk Ivanna, namun Ivanna hanya berdiri sambil menggelengkan kepalanya. Sam menemukan cara agar Ivanna mau mengikutinya,


"Kau tak kasihan dengan Bunda Anna? Mereka merindukanmu. Ikutlah denganku, aku akan membawakanmu menemui mereka." Ucapan Sam seolah menghipnotis Ivanna, Ivanna dengan gaun tidur satin yang cukup menerawang mengikuti langkah Sam yang berjalan menuruni tangga di depannya.


Sementara Sam sejak tadi menahan dirinya untuk tak melirik bagian dada Ivanna yang begitu terlihat menerawang dari balik baju tidur satin berwarna putih itu.


Sesampainya di lantai satu, Sam menoleh kepada Ivanna yang berdiri di belakangnya.


"Kau tahu jalan menuju basement?" Ivanna mengangguk, "Basement hanya bisa di akses lewat lift, karna listrik mati sepertinya kita tak bisa kesana."Tampak Samuel mengeratkan kepalannya,


"Tsk, jadi jalan satu-satunya kita pergi lewat gerbang depan. Ayo!" Samuel menggenggam tangan Ivanna, dan berlari menuju pintu gerbang utama. Sesekali Ivanna tampak menoleh kebelakang melihat melihat Mansion itu. Sebenarnya ada perasaan tak rela pada hati Ivanna ketika ia meninggalkan Mansion itu. Sam mengeratkan gengaman tangannya seolah menyadarkan Ivanna bahwa kini ia tak akan pernah lagi menginjakkan kaki di Mansion itu.


'Selamat tinggal semuanya.' Batin Ivanna.


Samuel membawa Ivanna menaiki motor sportnya, sebelum itu Sam melihat Ivanna tampak menggosok lengannya.


"A-apa yang kau lakukan?" ucap Ivanna ketika Sam memakaikan jaket kepadanya.


"Kau kedinginan Anna." Setelah itu Sam dan Ivanna sama-sama menaiki motor itu meninggalkan area Mansion di tengah hutan itu.


Olbia, Italia.


Bryan tampak mengusap wajahnya kasar, ia menatap telapak tangannya yang kini sudah terkena banyak darah dari korbannya. Senyumnya tersungging.


"Ben? Kau bisa menyuruh seseorang untuk menjual beberapa organ mereka. Tugasku sudah selesai bukan? Kau hanya tinggal memasukkannya kedalam kotak es." Ben mengangguk sambil mengusap tengkuknya. Melihat betapa ganasnya Bryan dalam mengeksekusi korbannya membuat bulu kuduknya berdiri.


"Aku tidak tahu bahwa kau mengerti cara melakukan pembedahan kepada mereka."


"Thanks to Mr. Louise, I guess." Sarkas Bryan, Bennerdict berdecih.


"Well, of course."


Drtt drttt


Sebuah notifikasi pesan berbunyi di ponsel Bryan. Bennedict menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Senyum tersungging di bibir Bryan, ia memperlihatkan isi pesannya kepada Ben hingga membuat mata Ben membola.


"Aku rasa, kau tahu bukan siapa yang melakukannya?" Ben mengangguk,


"Aku sudah memperkirakannya bro. Jadi kau boleh kembali ke Indonesia." Ben mengulurkan kepalan tangannya, Bryan membalas dengan melakukan fist bump dengan Bennedict.


"Aku percaya kau bisa mengatasi ini." Ucap Bryan sambil melirik kearah tumpukan badan yang sudah tak bernyawa di atas sebuah bed, kini Bryan berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Ia menekan-nekan layar ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Lu, kita kembali ke Indonesia." Bryan mematikan panggilannya, senyum smirknya mengembang.


"Mari kita lihat, sejauh mana kalian bisa lari dariku hm?"