Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 43



Sam menghentikan motornya di sebuah jalanan yang sepi. Ivanna tak merasakan curiga sama sekali, ia menatap kiri kanan jalanan yang diterangi lampu jalanan.


"Ada apa Sam?"


Sam yang saat itu sedang memainkan ponselnya pun menoleh ketika mendengar pertanyaan dari Ivanna.


"Ah anu motornya mogok, aku sedang menghubungi salah satu temanku untuk kesini. Tunggulah sebentar Anna." Anna mengangguk dan membiarkan Sam menghubungi temannya. Suasana malam yang sangat sepi dan dingin membuat Ivanna berkali-kali mengusap lengannya. Ia menggosokkan kedua tangannya bersamaan untuk membuat telapak tangannya sedikit menghangat.


"Ya, aku menunggumu." Ucap Sam pada panggilannya sembari melirik ke arah Ivanna yang sedang berdiri membelakanginya. Sam mengambil sebuah kain dan juga suntikan bius yang sudah ia persiapkan khusus untuk Ivanna pada saku tasnya. Senyumnya merekah.


Lima belas menit berlaru akhirnya sebuah mobil berwarna hitam tampak berhenti di dekatnya, Ivanna bergerak mundur ketika melihat beberapa orang berbadan besar keluar dari pintu mobilnya.


"S-sam?"


Samuel mendekati Ivanna dan menyuntikkan cairan itu di bagian leher Ivanna,


"Tidurlah yang nyenyak Anna" bisik Sam ketika ia berhasil menyuntikkan cairannya. Ivanna sempat memegang lehernya dan melirik tajam kearahnya. Kemudian tak butuh waktu lama hingga akhirnya Ivanna pingsan. Sam menggendong tubuh Ivanna dan menidurkannya di kursi belakang dengan pahanya sebagai bantalan Ivanna.


“Bawa motornya, kita akan berangkat ke markas.” Ucap Sam pada orang-orangnya sambil kanan tangannya sibuk mengelus pucuk rambut Ivanna.


Mobil itu meninggalkan jalanan yang kosong


tersebut menuju ke suatu tempat yang disebut


sebagai Markas.


Pagi hari menjelang, Ivanna terbangun dari tidurnya dan ia mendapati dirinya tengah diikat di sebuah ranjang didalam kamar yang lumayan mewah. Ivanna berusaha melepaskan rantai yang mengikat kedua kakinya.


"Ah astaga, Sam! Sam!!" Ivanna berteriak memanggil Samuel.


Ceklek,


Pintu kamar terbuka, Sam berdiri di depan pintu sambil memegang nampan yang berisi makanan untuk Ivanna, gadis itu menatap nyalang padanya.


"Aku benar-benar kecewa denganmu, Sam!" ucap Ivanna, sementara Sam terkekeh mendengar pengakuan dari Ivanna. Sam menaruh nampan yang berisi makanan itu di atas nakas.


"Kau terlalu polos Anna, salahmu sendiri mengapa kau percaya denganku." Sam mengatakannya dengan santai, ia bahkan tak merasa bersalah karna membawa-bawa nama bundanya saat mengajak Ivanna.


"Lepaskan aku, aku mohon." Ivanna mengiba, Sam menatap Ivanna sambil menyebikkan mulutnya. Ia menghidupkan rokok dan menghembuskan rokok itu di depan wajah Ivanna hingga Ivanna terbatuk - batuk.


"In your dream. Aku masih belum menangkap Bryan, sayangku. Aku harus menghancurkannya hingga keping terkecil." Ucap Sam sambil meremas putung rokoknya, lalu ia mengapit dagu Ivanna. Senyum smirknya menggembang.


"Jadi kau harus bekerja sama denganku. Setelahnya kau akan aman Anna, tak ada lagi yang akan mengganggumu." Ivanna meneguk ludahnya. Daripada Bryan, saat ini Ivanna lebih takut terhadap Samuel.


"Cup, cup, cup. Jangan menangis Anna. Aku yakin sebentar lagi adalah hari kebebasanmu." Sam menepuk pelan pipi Ivanna, ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.


"Haaahhhhhh aku mencium aroma kemenangan." Ujarnya sambil mengambil kembali nampan berisi makanan itu dan memberikannya kepada Ivanna. Ivanna hanya melirik semangkuk bubur itu. Tiba- tiba perasaan aneh muncul, Ivanna merasakan jijik melihat bubur itu.


"Ugh hoek! Bawa kembali makanan itu. Aku tidak menyukai aromanya, apa yang kau campurkan didalamnya? Hoek!" ucap Ivanna sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia merasakan perutnya seperti di aduk - aduk. Samuel menatap Ivanna heran.


"Ada apa denganmu?"


"Bawa pergi makanannya ku mohon." Samuel memutar bola matanya malas, ia pergi keluar membawa nampan itu pergi keluar kamar. Ivanna menatap kedua tangannya yang sedang bertaut, ia mendesah pelan lalu tiba-tiba air matanya keluar.


"Selamatkan aku Bry, hiks." Gumam Ivanna lirih.


Bryan dan Lucian sudah turun dari helikopter mereka sejak 2 jam lalu. Saat ini Bryan dan Lucian sedang mengawasi radar di dalam mobil. Titik berwarna merah itu sudah tak bergerak selama 24 Jam.


"Mereka sudah siap tuan." Ucap Lucian pada Bryan yang dibalas anggukan oleh pria itu. Mereka yang dimaksud adalah beberapa anggota yang sengaja ia bawa dari Italia. Ia yakin bahwa hal yang sama sedang dilakukan oleh Sam.


Beberapa penjaga sedang duduk di beranda rumah sambil minum minuman keras. Mereka tampak sedang memainkan kartu,


"Hahahahaha"


Bryan menghidupkan saluran komunikasi dengan para anak buahnya yang kini sudah bersiap di tempat mereka masing-masing.


"Tim Alpha? Lumpuhkan yang ada di depan."


"Siap laksanakan."


Tim Alpha adalah tim sniper, mereka adalah tim yang terkuat dari tim yang di bentuk oleh Bryan. Mereka sudah berada di atas pohon untuk berjaga – jaga dan mengawasi tim lawan.


Craashhh!


Salah satu dari tim lawan lumpuh oleh tim Alpha. Mereka menembakkan peluru snipernya tepat dibagian kepala.


"Sial, ada penyusup!" Teriak salah satu dari mereka ketika melihat kawan mereka tewas dengan kepala yang hancur. Tak lama kemudian tim Alpha menghabisi mereka bahkan sebelum mereka mengeluarkan senjatanya. Bryan terkekeh.


"Sial, ada penyusup!" Teriak salah satu dari mereka ketika melihat kawan mereka tewas dengan kepala yang hancur. Tak lama kemudian tim Alpha menghabisi mereka bahkan sebelum mereka mengeluarkan senjatanya. Bryan terkekeh.


"Satu lawan satu Sam, mari kita lihat siapa yang akan tetap berdiri pada akhirnya." Bryan memasukkan senjatanya di saku celananya, lalu berbekal radar yang ia pergi menuju sebuah ruangan di pojok belakang tempat Sam menyekap Ivanna.


Sam mendapatkan sebuah pesan pada ponselnya, senyumnya mengembang.


"Well, sepertinya pangeranmu sudah tiba Anna. Kau harus lihat betapa menyeramkannya monster yang bersamamu itu." Ucap Sam memutari Ivanna yang kini duduk terikat di sebuah kursi. Ivanna menatapnya dengan tatapan tajam.


"Kau lebih mengerikan Sam, aku membencimu."


"Silahkan, tak ada yang akan berubah dalam hidupku walau kau membenciku Anna." Ucap Sam kepadanya.


Prang!!!


Suara jendela kaca pecah, Ivanna tampak terkejut. Namun ia lebih terkejut ketika melihat siapa yang melompat dari luar melalui jendela.


"Bry?" Bryan melirik Ivanna, lalu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.


"Selamat datang Bryan, apakah kau menyukai menu pembukanya hm?" Samuel tersenyum, Bryan mengepalkan tangannya dengan pipi yang mengeluarkan darah akibat terkena pecahan kaca.


"Lepaskan Anna, jangan libatkan orang lain dalam permusuhan kita!" Samuel terkekeh sembari berdiri di belakang tubuh Ivanna, ia mengeluarkan sebuah pisau lalu menempelkan bagian tajam dari pisau itu tepat di leher Ivanna.


"Aku hanya sedikit bermain-main dengannya Bryan, tenanglah."


Cup


Samuel mencium sekilas pipi Ivanna, Ivanna tampak terkejut begitupun Bryan yang merogoh saku celananya. Samuel menyadari itu,


"One by one Bryan, lempar senjatamu. Kalau kamu menolak maka pisau ini akan mengiris tengorokan gadis kesayanganmu."


"Fine!"


Bryan melempar senjata apinya, ia mengangkat kedua tangannya. Samuel tersenyum,


"Bagus, sekarang lawan aku!" Samuel membuang pisaunya lalu berlari kearah Bryan. Mereka berdua sama-sama saling menyerang satu sama lain. Ivanna melirik pisau yang dibuang oleh Sam.


"A-aku harus melepaskan diriku, bagaimana caraku untuk mengambil pisau itu?" gumam Ivanna, tanpa di duga Bryan jatuh limbung ke belakang hingga menyenggol Ivanna. Gadis itu terjatuh.


"Ahhh shhh." Bryan terkejut lalu menoleh ke arah


Ivanna,


"ANNA!"


Brukkk!


Samuel memukul hidung Bryan hingga Bryan mengeluarkan darah dari hidungnya, Bryan tersenyum smirk.


"Hahaha kau lumayan juga, Samuel Edmondo." Bryan bangkit dan kembali memukuli Samuel. Kini giliran Ivanna yang berjuang sendiri, untung saja ia terjatuh tak jauh dari tempat Samuel membuang pisaunya. Bryan melirik sekilas ke arah Ivanna, tanpa di duga Samuel mengeluarkan sebuah pisau lipat lainnya dari saku celananya. Melihat Bryan sedang terfokus dengan Ivanna membuat Bryan melancarkan aksinya.


Crashhhh!


"Ughhh ****!"


Samuel menusuk bagian perut kiri Bryan hingga mengeluarkan banyak darah. Ivanna terkejut dan berteriak.


"BRYAN!" Ivanna menangis begitu melihat banyaknya darah yang keluar dari perut kiri Bryan. Tak lama kemudian, Tim Alpha menembak bagian kaki Samuel dengan sniper mereka.


"Damn it!" Samuel berusaha melarikan diri dari kepungan anak buah Bryan, Lucian datang dari pintu kamar itu dan menendang belakang lutut Samuel hingga tersungkur.


"****! ****! ****! Bryan, aku yakin sebentar


lagi kau akan mati hahahaha!"


Bugh!


"Shut up! Beraninya kau menyakiti Bryan huh!"


Lucian memukul belakang leher Sam sambil terus sibuk memasang borgol pada kedua tangan Sam. Ia melirik Bryan yang sedang mendekati Ivanna dengan memegangi perut kirinya. Bryan mengambil pisau yang berada di samping Ivanna dan memotong tali itu. Ivanna berhambur memeluknya, Bryan terkekeh sambil mengelus rambut Ivanna. Ia memegang kedua wajah Ivanna dengan salah satu tangan yang kini bersimbah darah. Ia mendekatkan wajahnya di telinga Ivanna,


"Sudah ku bilang bukan? Hanya aku yang bisa menyelamatkanmu Ivanna. Kau harus bergantung padaku." Bisik Bryan mulai lirih dan akhirnya ia ambruk di bahu Ivanna. Lucian dan yang lainnya terkejut ketika mendengar pekikan Ivanna.


"BRY! Bangunlah kumohon huhuhu kau tak boleh mati seperti ini!" Teriak Ivanna sambil memeluk tubuh Bryan.


Lucian dan yang lainnya mendekati Bryan dan membawa tubuh pria itu masuk kedalam mobil. Didalam mobil, Ivanna duduk dengan pahanya dijadikan bantalan untuk Bryan. Ia terus menangis sambil memegangi wajah Bryan yang tampak berlumuran darah di wajah dan tangannya.


"Kumohon tetaplah hidup, aku belum berterima kasih padaku."