Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 47



Bryan berjalan menuju pintu balkon, membuka pintu itu dan membiarkan angin sejuk berhembus masuk kedalam kamarnya. Ia merogoh saku celanannya, mengambil sebuah cerutu lalu menghidupkannya, tak lupa ia menutup kembali pintunya agar asap cerutu tak masuk kedalam kamar dan mengganggu kesehatan Ivanna serta calon anak mereka.


Bryan melirik kedalam kamar dimana Ivanna sedang tertidur setelah kegiatan mereka tadi yang cukup menguras tenaga.


Drtt drttt


Sebuah notifikasi pesan masuk berbunyi dari ponselnya, saat ini ponselnya sedang berada di atas nakas. Ia berdecih lalu kembali masuk kedalam kamar untuk membuka pesan masuk tersebut.


[Tuan, apakah Anda akan menemui Samuel?]


Senyumnya mengembang, Bryan hampir saja lupa dengan Samuel yang kini berada di dalam basement. Ia membuang cerutunya yang masih tersisa banyak, berjalan mendekati Ivanna dan mengambil kaosnya yang berserakan. Bryan mengusap pelan kepala Ivanna lalu mencium kening gadis itu, memakai kaosnya dan pergi menuju lantai satu.


Ting!


Pintu lift terbuka, Lucian tengah bersandar di samping tembok pintu keluar masuk lift. Bryan melirik tajam kearah Lucian.


"Aku belum memaafkanmu perihal tadi Lu, sekarang beritahu aku apa parfummu? Dan belikan beberapa parfum itu untukku!" ucap Bryan final. Lucian menggaruk tenguknya yang tak gatal, ia melenggang masuk kedalam lift dan turun menuju basement bersama Bryan.


"Uhukk uhukk!" Samuel terbatuk - batuk dengan posisi bersimpuh dengan tangan dan kaki yang diikat dengan kencang. Badan yang sebelumnya terlihat berisi kini semakin terlihat kurus, Bryan sengaja memberikannya makan satu kali sehari, itupun hanya makanan sisa dari para maid.


"How are you Sam?" Bryan tersenyum sambil melangkahkan kakinya mendekati Sam, berdiri di depannya. Bryan menatap Samuel dengan tatapan tajam dan perasaan bangga karna berhasil menangkapnya.


Sam berusaha menggerakkan badannya mendekati Bryan, namun ketika ia berhasil bergerak Bryan menendang Sam hingga membuat pria itu tergeletak.


"Akhirnya kita tahu bukan siapa pemenangnya? Lagi – lagi kau kalah Sam!" Samuel tetap terdiam mendengar ocehan Bryan, Bryan tak menyukai lawannya terdiam jadi ia memilih untuk kembali menendang perut Sam hingga membuat pria itu mengeluarkan batuk darah.


"Jawab! Kau mendengarku bukan? apa kau tuli?" Samuel dengan kekuatan yang tersisa berusaha menggeleng. Kemudian Bryan tertawa terbahak- bahak.


"Hahahaha aku lupa Sam, astaga maafkan aku. Rupanya aku sudah memotong lidahmu beberapa jam yang lalu."


Bryan mengambil sepasang sarung tangan karet, kemudian berjalan mendekati Samuel yang kini sedang berusaha untuk duduk.


"Lucian, kau boleh pergi! Jangan kemari sebelum aku memanggilmu." Lucian undur diri, Bryan mengambil sebuah jarum suntik yang sebelumnya sudah diisi oleh obat bius. Ia menekan spuit itu hingga jarum suntiknya sedikit mengeluarkan obatnya. Senyumnya mengembang.


"Aku akan mengantarmu kepada ayahmu Sam, jadi mari saling bekerja sama. Tidurlah!" Bryan menyuntikan obatnya, setelahnya ia menunggu. Memastikan seluruh cairan itu menyebar ke seluruh aliran darah Sam. Bryan mempersiapkan peralatan untuk membungkus hadiah yang menarik untuk Oregon, terutama Antonio.


10 menit,


25 menit,


Akhirnya obat itu telah bekerja, Bryan menidurkan Sam diatas sebuah bed dan memasangkan selang oksigen di lubang hidung Sam.


"Aku yakin mereka akan menyukainya Sam."


Bryan mengambil sebuah gergaji, memotong kedua lengan bawah Sam hingga benar-benar terputus. Begitu juga dengan kakinya, Bryan memotongnya tepat di bagian lutut. Tampak darah menggenang dimana-mana. Bryan juga menyobek perut Sam, dan mengambil organ dalamnya. Kemudian Bryan mengambil sebuah jarum dan benangnya, menjahit kulit Sam dengan telaten.


Setelah memastikan jahitannya beres, ia memasangkan perban. Bryan memasukkan bagian kaki, tangan dan isi perut Sam kedalam sebuah klip plastic besar dan memasukkannya kedalam sebuah kotak yang sebelumnya berisi es batu.


Tampak sebuah monitor tak jauh dari bed Sam menunjukkan garis yang tampak mulai turun. Kemudian Bryan melepas sarung tangannya dan membuang sarung tangannya kedalam tempat sampah. Ia berdecih ketika menyadari bahwa pakaian dan seluruh badannya terkena cipratan darah. Bryan merogoh saku celananya,


"**** aku lupa membawa ponselku!"


Bryan melepas kaosnya dan berjalan menuju lantai tiga untuk membasuh dirinya.


Ivanna menggeliat di atas kasur, ia meraba sebelah kasurnya kemudian mengerjapkan matanya berulang kali. Ia tampak terkejut ketika menyadari sesuatu, Ivanna langsung terduduk dan mengintip tubuhnya yang tertutup selimut. Kemudian ia mendesah pelan,


"Ahh apa yang sudah kulakukan?" gumam Ivanna. Saat Ia menurunan satu kakinya, Ivanna melihat knop pintu yang bergerak. Otomatis Ivanna kembali menggulung dirinya di dalam selimut. Ivanna tampak terkejut,


Bukan karna ia mencium aroma Bryan yang sebelumnya sangat menganggu indra penciumannya, namun sekarang aroma itu bertambah kuat. Aroma besi dengan sedikit aroma amis. Perut Ivanna seakan - akan diaduk. Ia ingin mengeluarkan isi perutnya.


Ivanna hendak mengintip Bryan, namun sepertinya ia terlambat beberapa detik hingga akhirnya Bryan masuk kedalam kamar mandi. Jantung Ivanna berdetak kencang,


"Ugh baunya, aku pernah mencium itu. Tapi dimana?"


Ivanna hendak keluar dari selimutnya, sebelum akhirnya suara notifikasi ponsel berbunyi. Ivanna kembali menggulung dirinya di dalam selimut mengintip dari baliknya, ponsel milik Bryan berbunyi.


Ceklek!


"Ya Lucian?"


"Kau bisa mengantarnya sekarang, jangan lupakan potongan yang lainnya berada didalam kotak. Antonio akan kesulitan merangkai mainannya' jika kau melupakan potongan lainnya bukan?"


Bryan melirik rambut Ivanna yang mencuat dari balik selimut itu, Ia memegang kepala Ivanna dan mengusapnya.


"Aku menunggu kabar baik darimu!"


Bryan mematikan panggilannya, Ia mendudukkan kepalanya di dekat kepala Ivanna.


"Aku tahu kau sudah bangun amore!"


Ivanna mengeluarkan kepalanya dari balik selimut, saat ini keringat membasahi wajahnya. Bryan terkekeh dan mengelap keringat itu dengan tangannya.


"How's cute, lain kali kau tak perlu menguping pembicaraan orang dari balik selimut hm?" Ivanna menampik tangan Bryan,


"Sudahlah, aku mau mandi." Ivanna menurunkan kakinya, tiba-tiba ia terduduk karna rasa sakit di bagian miliknya. Ia mendesah kesakitan,


"Akhh!"


Bryan dengan sigap membawa Ivanna kedalam kamar mandinya, sebelum itu Bryan sudah menyiapkan air hangat di dalam bathup untuk Ivanna berendam. Kini Ivanna berada didalam bathup yang berisi air hangat, Bryan pun menawarkan bantuan untuknya.


"Tak perlu, aku bisa mandi sendiri."


Bryan tak menyerah begitu saja, ia yang baru saja mandi kini membantu Ivanna mandi. Bryan duduk di samping bathup dan membersihkan rambut panjang Ivanna dengan shampoo, tak lupa ia membantu menggosok punggung putih Ivanna. Berkali-kali jakunnya naik turun.


"****!" umpat Bryan lirih, Ivanna yang mendengar umpatan Bryan pun menoleh kebelakang dan menatap pria itu dengan tatapan tajam.


"Aku bilang aku bisa mandi sendiri! Kau tak perlu membantuku kalau kau masih mengeluh dasar labil!" Bryan mengedipkan kedua matanya dengan tangan masih memegang spons yang berbusa, ia menatap Ivanna tak percaya.


"Hey! Mana ada pria normal yang tak akan mengumpat bila disuguhkan pemandangan yang indah hmm?" Ivanna mengambil air lalu menyipratkan air itu kepada Bryan,


"Ish pergi sana, aku mau mandi sendiri!" Usir Ivanna, tentu saja Bryan memilih untuk keluar dan mengganti celananya dengan celana yang baru.


Ivanna mendesah pelan di dalam bathup.


"Dasar." gumam Ivanna sambil menenggelamkan dirinya di dalam bathup


Bryan melakukan panggilan dengan Bennedict, ia berkali-kali menguap didepan layar komputernya hingga membuat Ben yang sedang berbicara kini diam menatap aneh kepadanya.


"Apa yang terjadi denganmu kak? Tidak biasanya kau menguap.


"Diamlah, kau masih kecil untuk tahu segalanya."


"A-apa? Hey dengar ya aku sudah dewasa tahu kak. Aku-"


"Iya - iya Ben, sekarang kembali ke penjelasan kita. Bagaimana Antonio dan yang lainnya?"


"Ck masalahnya kita belum menemukan markas mereka. Ponsel para penyusup sudah kau hancurkan kalau kau mau tahu! Dasar gegabah." Cibir Bennedict, Bryan memijat pelan pangkal hidungnya setelah mengetahui kesalahannya. Namun setelah itu ia membuka laci meja kerjanya dan mengambil sebuah ponsel milik Samuel. Ia mencari sesuatu didalamnya,


Gotcha!


"Entah ini benar atau tidak, kau ingat Samuel? Aku sudah menangkapnya dan ada sebuah alamat yang tertulis di ponselnya. Road X kau tahu tempat itu?" Terlihat Ben sedang mengetuk - ngetuk mejanya dengan jari-jarinya.


"Road X, ahh itu hanya jalanan sepi. Disana ada sebuah hotel besar yang terbengkalai. Jangan bilang kalau-" Bryan tersenyum sambil menautkan jari- jarinya di atas meja, ia menggunakan tangannya untuk menyandarkan dagunya.


"Benar! Tapi jangan menyerangnya dulu, kita harus memastikan mereka benar-benar lengah. Lalu menghancurkannya menjadi kepingan - kepingan kecil." Bryan tersenyum smirk. Ia mematikan panggilan videonya ketika Lucian mengetuk pintu.


Tok tok tok.


Lucian membuka pintu ruang kerja Bryan, lalu berjalan mendekatinya.


"Tuan, saya sudah mengirim Sam. Dan juga saat ini Sam sedang berada di dalam mobil menuju bandara dan berangkat ke Italia menggunakan pesawat Cargo milik Benvolio." Senyum Bryan tersungging. Ia memutar kursinya menghadap kaca besar yang menghadap kolam renang.


"Akhirnya aku memenangkannya Samuel!" ucap Bryan sambil mematikkan cerutunya.