Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 17



-Flashback on-


Di tengah samudra atlantik utara, sebuah kapal tampak terombang ambing tanpa lampu yang menyala di dalam kapal layaknya kapal hantu. Seseorang tengah sibuk membuang gulungan gulungan besar ke dalam laut yang dingin dan dalam.


"Ughhh berat sekali manusia - manusia ini. Dasar manusia sampah! Kalian terlalu berat pasti karena dosa yang kalian tanggung!" Maki seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Antonio. Ia mengusap peluhnya kasar setelah selesai membuang sampahnya."


"Aku harus segera pergi dari sini, tidak mungkin Bryan dan Louise tak mencariku." Antonio mengemudikan kapalnya menjauh mengikuti instingnya, alat penangkap radar yang terpasang di kapalnya terpaksa di rusak agar kapal dan helikopter sekaligus tak dapat melacak posisinya dimana. Ia hidup dalam kapal selama kurang lebih seminggu, dengan hidup menggunakan persediaan makanan kaleng serta air bersih dalam kapalnya.


"Hhahhh haahh. Akhirnya


setelah melewati malam malam sialan itu aku sampai di daratan!” Antonio menoleh kiri dan kanan di sekitaran bibir pantai, matanya fokus pada sebuah tulisan papan tanda selamat datang di dekat pantai.


"Spanyol?"


Tak lama kemudian datanglah orang orang berpakaian serba hitam memukul tengkukknya hingga ia tak sadarkan diri. Beberapa orang itu membawa tubuh Antonio kedalam sebuah mobil, dan membawanya entah kemana.


"Sudah sadar, Antonio?" Suara berat pria lainnya membangunkan Antonio. Pria misterius itu menggunakan sebuah topeng, namun bagi seseorang yang telah lama mengenalnya pasti langsung mengetahui siapa pria tersebut.


"K-kamu Siapa?"


"Stttt, pelankan suaramu. Kamu tak ingin tertangkap oleh Benvolio kan? Spanyol adalah kampung halaman Benvolio, kalau kau ingin tahu. Dan panggil aku mr. X."


"T-tapi bagaimana bisa kau kan


"Dengarkan aku! Aku sudah menemukan putramu." Ucap pria tersebut. Sontak saja mata Antonio membola. Putra? Ia hanya memiliki seorang putri yang cantik di Italia.


"Hah lelucon yang bagus mr.X, tapi aku hanya memiliki seorang putri di Italia."


"Niluh ayu? Kau mengingatnya bukan?" Ucap mr. X disusul dengan senyum smirk miliknya, seperti dilempar ke lautan lepas Antonio mendadak gugup dan panik. Wajahnya penuh dengan peluh dan juga pucat.


"B-bagaimana kau bisa mengetahui wanita itu? Lalu apa maksutmu dengan putra?"


"Hahahaha!" Tawa menggelegar milik mr. X membuat jantung Antonio berdetak lebih kencang. Mr. X bahkan mengeluarkan air mata saat tertawa. Ia melanjutkan lagi bicaranya.


"Kau ternyata sebodoh ini Antonio. Kau meninggalkan benihmu di rahim wanita itu! Menjijikkan!"


"A-apa?"


"Kau memiliki putra dari wanita lain bodoh. Bagaimana ini? Haruskah aku membocorkan identitasnya kedalam keluarga istrimu?" Mata Antonio semakin melotot,


"Jangan macam macam X, sekarang dimana anak itu?” Ucap Antonio semakin tak sabaran. Giginya bergemeletuk menahan amarah. Tentu saja hal itu tambah membuat X tertawa kegirangan. Akhirnya, satu langkah lagi dan Oregon akan menjadi clan yang lebih besar dari milik Benvolio, BLACKWINGS.


"Tenang dia sudah aku amanankan. Aku akan memberimu kesempatan! Tentu saja imbalan yang kau dapat tak lain dan tak bukan adalah pertemuan dengan anak laki lakimu dan juga uang yang banyak!"


"Apa itu?" X tersenyum smirk,


"Bergabunglah dengan OREGON. Kau sudah keluar dari BLACKWINGS bukan? Aku membutuhkanmu!"


"Huh baiklah. Apapun itu asal aku bertemu dengan anakku."


"Bagus Antonio!"


Tak lama kemudian Mr. X dan Antonio, serta beberapa anak buahnya yang lain pergi menuju markas mereka di Malaysia. Salah satu dari anak buah Mr. X menyebutkan bahwa saat itu mereka membuntuti Bryan dan ternyata saat mereka menyelidiki siapa yang bertarung bersama Bryan adalah anak Antonio, dan juga Ivanna. Mereka merasa Ivanna bisa menjadi alat untuk menghancurkan Bryan. Senyum mereka mengembang. Kehancuran Bryan dan juga BLACKWINGS ada didepan mata mereka.


Disanalah Antonio dan Samuel berhasil bersatu, saling menyalurkan rindu yang tak terbendung sejak lama. Kini mereka dan juga Oregon bersatu untuk membalaskan dendam mereka.


-Flashback Off-


Setelah akhirnya berhasil merengek untuk dipinjamkan motor oleh Bryan, akhirnya Ben dengan perasaan senang dan girang berhasil keluar dari Mansion milik Bryan.


"Ah lelahnya. Aku sudah memberi kabar anak buahku dan bodohnya mereka tak tahu siapa gadis itu!"


Bennedict masuk sebuah minimarket, menuju ke bagian belakang mencari sebuah minuman dan berjalan menuju kasir untuk membayar minumannya. Leon yang sedang menjaga kasir nampak sedikit terkejut ketika pembelinya adalah orang asing.


"Tumben tumbenan ada bule disini? Ten thousand rupiah sir!" Leon menyerahkan minuman tersebut, nampak Ben merogoh saku celananya depan belakang, lalu pindah ke dalam jasnya.


"****! Aku lupa membawa dompet!"


"Anu sir, money?"


"Iya aku tahu! money money sialan!"


Ben yang tampak marah marah dalam bahasa Italia, sedangkan Leon yang hanya bisa sedikit berbahasa Inggris, membuat interaksi mereka nampak lucu dilihat dari luar kaca minimarket yang kedap suara.


"Astaga Ivanna kamu dimana? Aku pusing menghadapi bule gila satu ini." Ucap Leon sambil menekan layar ponselnya, menelepon Ivanna hingga nada panggilan tersebut diangkat.


"Anna? Kamu dimana?”


"Aku? Sabar Le, aku sudah hampir sampai kok."


"Disini ada bule gila, mending kamu kesini deh cepetan!"


"Iya iya sabar!"


Leon mematikan ponselnya, lalu tak lama setelahnya Ivanna datang membuka pintu minimarket sambil mengelap sedikit peluhnya yang jatuh akibat berlari.


"Astaga Leon ada apa?"


Mata Leon menunjuk seorang pria di depannya, badan tinggi besar, wajah yang bersih tanpa ada bulu bulu halus disana, nampak terlihat seperti seusianya. Pria itu sedang bermain dengan ponselnya.


"Aduh ajak dia ngomong coba. Kau tahu kan bahasa inggrisku jelek banget?" Ivanna mengangguk, ia menepuk pelan lengan Ben,


"Can I help you, sir?" Ben yang sejak tadi fokus ke ponselnya tampak menoleh begitu mendengar suara merdu dari Ivanna, saat matanya saling memandang secara tak langsung Ben tersenyum puas,


'Hahaha gotchu! Aku menemukan gadismu Bryan!' Batin Bennedict.


"Ah bisakah aku pulang sebentar? Dompetku ketinggalan, tenang saja rumahku dekat dari sini!" Jawab ben pada Ivanna, Ivanna tampak mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan membayar minuman milik Ben.


"Kamu bisa kembali kapan saja, tapi maaf peraturan disini kau harus membayar dulu minumannya baru kamu boleh meminumnya." Jelas Ivanna panjang lebar, Bennedict mengangguk. Lalu ia berterima kasih kepada Ivanna dan pergi menuju area parkiran membawa minumannya. Sebuah panggilan masuk membuat Ben berhenti sejenak untuk mengangkat panggilannya,


"Tuan bagaimana dompetnya? Ini saya hampir dekat dengan posisi Anda sekarang!"


"Putar balik, jangan bawa dompetku kemari.”


"A-apa? Kenapa tu-"


Ben mematikan panggilannya, menoleh menatap Ivanna yang tengah di introgasi oleh Leon. Senyum mengembang di wajah Ben takkala menatap Ivanna yang sesekali tampak tertawa bersama Leon.


"Bagaimana ini kak? Sepertinya aku juga menyukai gadis itu.”


Leon memukul bahu Ivanna, hingga gadis itu tampak mengaduh sembari mengelus bahunya yang sakit.


"Kamu bagaimana sih? Kenapa malah membayar minuman orang itu?"


"Aduh tenang dong Leon! Ini itu namanya teknik marketing. Coba mikir deh, kalau akhirnya orang tadi balik artinya kita sudah jadi karyawan yang baik kan? Coba pikirkan gajian bulan depan jika kita bisa menarik banyak wisatawan karna salah satu dari mereka percaya bahwa kita melayani dengan tulus?" Jelas Ivanna panjang lebar, Leon pun mengangguk paham.