Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 51



"Ivanna, kira-kira sudah berapa usia kandunganmu?" Ivanna menggeleng.


"Anna tidak tahu madre. Hanya saja saat itu Chester lah yang memeriksaku dan juga mengatakan bahwa aku hamil." Yoanna mengngguk mendengar jawaban Ivanna, tiba-tiba terbesit sebuah ide di benaknya.


"Jadi karna kita belum tahu bukan sudah berapa lama kau hamil, bagaimana kalau pagi inj kita berangkat ke dokter kandungan. Kita akan mengajak Bryan juga."


Akhirnya dengan mengajak serta Bryan mereka bertiga pergi menuju rumah sakit disana. Tak lupa mereka menggunakan masker untuk menghindari kecurigaan beberapa orang yang mengenal Yoanna dan juga Bryan.


Untung saja hari masih sangat pagi, sehingga setelah mereka tiba di rumah sakit, hanya ada satu dua orang pasang suami istri yang sudah menunggu di kursi. Ivanna menatap mereka, ada yang suaminya mengelus perut istrinya yang tampak buncit dan satu lagi suami yang sedang memapah istrinya untuk berjalan.


"Are you okay?" Bisik Bryan yang dibalas anggukan kecil Ivanna.


"Hmmh. Aku hanya sedikit gugup karna akan bertemu dengan dia." Ucap Ivanna kecil namun masih didengar Bryan. Ivanna sedikit menyesal karna pernah berkata akan mengugurkannya ketika ia tahu dirinya hamil. Ivanna mengusap perutnya pelan lalu tersenyum. Setelah menunggu sekian lama akhirnya giliran Ivanna yang akan diperiksa. Mereka semua masuk bersama-sama.


"Halo perkenalkan saya dokter Ethan, silahkan berbaring." Ivanna mengangguk lalu naik keatas bed dan mulai merebahkan dirinya. Sementara itu dokter Ethan memakai sarung tangan karetnya dan mendekati Ivanna dengan membawa sebuah botol gel.


"Mohon bantuannya untuk membuka pakaiannya ." Saat Bryan akan memegang pakaian Ivanna, Bryan bangkit dan mencekal tangan Bryan.


"Panggilkan dokter wanita." Dokter Ethan meneguk air liurnya lalu mengangguk. Bryan melepas cekalan tangan dokter itu membiarkan dokternya keluar dari ruang perawatan.


"Bryan ada apa denganmu?" ucap Yoanna, Bryan hendak membalas ucapan Yoanna ketika seorang dokter wanita itu masuk dan memperkenalkan dirinya.


"Baik sekarang kita mulai pemeriksaannya ya?" Dokter Rose mengoleskan gel itu ke seluruh perut bawah Ivanna, lalu menggerakkan alat usg kekanan dan kekiri untuk melihat janin mereka.


"Kalian bisa melihat mereka?" ucap Dokter Rose, Bryan dan Ivanna tampak terkejut.


"Mereka? Maksutnya bagai-mana?" Tanya Ivanna pada dokter Rose yang dibalas senyuman tipis.


"Dari monitor usg kita bisa melihat ada 3 kantung janin terlihat. Lihatlah itu mereka." Bryan Ivanna dan juga Yoanna memandangi monitor usg itu. Bryan menatap mereka dengan perasaan bangga yang tak terbendung. Bryan memeluk Ivanna dan menciumi bibir gadis itu.


Bryan melepas pelukannya dan menatap Ivanna dengan tatapan yang dalam.


"Kau dengar kan Ivanna, kau melihatnya juga kan? Anakku, ah bukan. ANAK KITA. Kita akan memiliki tiga anak." Ivanna tersenyum haru menatap Bryan yang seakan-akan bahagia mendengar kabar itu. Berkali-kali tampak Bryan mengusap dan mengecup perut Ivanna. Yoanna begitu terharu menatap interaksi mereka dan juga ekspresi Bryan yang sangat senang hingga ia dapat melihat sedikit bulir air mata yang berada di pelupuk mata Bryan.


"Jadi kira-kira menantu saya, berapa usia kehamilannya?" tanya Yoanna, dokter Rose sedang menuliskan resep obat lalu memberikannya kepada Yoanna.


"Usia saat ini sekitar 5 minggu. Karna tentu saja kita bisa melihat kantung janin dengan jelas walau masih terlalu kecil. Ini resep vitaminnya, dan tak lupa saya ucapkan selamat atas kehamilan Anda." Dokter Rose tersenyum. Merekapun berjalan keluar dari rumah sakit. Bryan dengan cepat bertingkah sebagai calon suami dan juga calon ayah yang cekatan.


"Astaga tenanglah Bry aku sehat. Aku tak memerlukannya." Ucap Ivanna.


"Aku takut kau akan kelelahan amore, ingatlah saat ini kau sedang membawa tiga nyawa di dalam rahimmu." Balas Bryan sambil terus mendorong kursi rodanya. Sesampainya di parkiran Yoanna tampak terkejut ketika ia ditunggu oleh supir pribadinya,


"Saya di tugaskan tuan Bryan untuk menjemput Anda nyonya." Yoanna memutar bola matanya malas lalu melirik Bryan.


"Huhh baiklah, selamat menikmati waktu berdua kalian." Ucap Yoanna sambil menaiki mobilnya dan meninggalkan Bryan dan Ivanna berduaan.


"Aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat. Kau pasti menyukainya."


Bryan mengendarai mobilnya, Bryan melirik Ivanna yang samar – samar tampak mengerjapkan matanya berulang kali dan menguap.


"Kau bisa tidur amore. Setelah sampai aku akan membangunkanmu.”


"Baiklah." Balas Ivanna, akhirnya Ivanna tertidur. Bryan dengan tenang mengendarai mobilnya, tak lupa ia melirik Ivanna untuk memastikan wanitanya tak terhantuk kaca mobil.


Ivanna bangun ketika ia mendengar deburan pantai, ia masih berpikir bahwa ia sedang bermimpi. Ivanna menarik nafas dan mengeluarkannya. Ia dapat mencium aroma asin dari udara yang segar ini. Ia menatap kursi pengemudi disampingnya, namun ia tak menemukan sosok Bryan disana.


Bruk!


Ivanna menutup pintu mobil, tak lupa ia melepas sandal talinya demi menikmati teksur pasir putih yang hangat. Ia berjalan mendekati sesosok laki-laki yang berdiri sambil menghisap cerutunya.


"Bry?" Panggil Ivanna pada Bryan, Bryan menoleh dan mendapati Ivanna sedang berjalan mendekatinya. Ia mematikan cerutunya dan menginjak cerutu yang bahkan belum habis, tak lupa ia pun mengibas - ngibaskan asapnya agar Ivanna tak menyium aroma asap pembakaran yang sangat buruk bagi ibu hamil.


"Bagaimana tidurmu hm?" ucap Bryan sambil memeluk tubuh Ivanna berhadapan dengannya, tangannya membelai pelan anak rambut Ivanna yang terkena hembusan angin.


"Cukup menyenangkan, bahkan aku senang ketika bangun tidur aku melihat hamparan pasir putih dan juga tebing tinggi dibelakang sana. Benar – benar seperti berada di dalam mimpi." Bryan terkekeh.


"Untungnya aku sangat sadar 100% bahwa aku berhasil memilikimu dan mewujudkan mimpiku bersamamu." Bryan melepaskan pelukannya, ia bergerak mundur memberi jarak yang tak terlalu jauh. Bryan merogoh salah satu saku celananya, ia bersimpuh dan mengangkat sebelah kaki kanannya. Ivanna begitu terkejut hingga ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"No way!" ucap Ivanna yang diselingi tangis harunya, Bryan tersenyum dan mengulurkan sebuah cincin dengan bentuk mawar melingkar dengan berlian kecil bagian pucuk bunganya yang mekar.


"Aku tahu pertemuanmu denganku tak begitu berjalan mulus Ivanna, aku sendiri bahkan tak menyangka bahwa hari yang aku inginkan telah tiba. Tak mengapa untukmu saat ini yang belum mencintaiku, aku tahu kesalahanku padamu mungkin masih membekas di ingatanmu. Aku tahu aku mungkin juga bukan pria yang idamanmu. Tapi aku disini Bryan Kael Benvolio di pantai Cala Goloritze. Disaksikan oleh hamparan pasir putih, lautan biru dan semua hal yang ada disini, aku bersumpah akan mencintaimu, menemanimu disaat sakit dan juga sehat, menjagamu serta membahagiakanmu. So, will you marry me Ivanna Isabelle?" Nafas Bryan naik turun, bahkan cuaca sejuk di pantai ini tak semata- mata membuatnya segar. Keringat mulai membasahi dahi pria itu.


Ivanna meneteskan air matanya haru, ia mengangguk lalu mengulurkan tangan kanannya. Perlahan-lahan senyuman Bryan terbit. Bryan memasangkan cincin itu di jari manis Ivanna, sebelum itu ia melepas cincin yang melingkar sebelumnya dengan mudah. Melihat Ivanna menatap heran Bryan terkekeh kecil.


"Cantik sekali." Gumam Ivanna sambil memandangi tangannya dengan background lautan biru dibelakang sana. Bryan mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan Ivanna yang sedang menatap cincin itu. Bryan menatap Ivanna yang berjalan mendekatinya dari kamera ponselnya. Ia baru sadar ketika Ivanna berdiri tepat didepannya.


"Aku harap kau mau sedikit lagi menungguku Bry. Aku akan mencoba untuk menerimamu."ucap Ivanna. Bryan memasukkan kembali ponselnya, kemudian ia membawa Ivanna kedalam pelukannya, memberikan ciuman panas di tengah pantai.


"**** Ivanna, kau benar-benar membuatku gila ." Ucap Bryan menempelkan keningnya pada kening Ivanna. Tak lupa Bryan menaut kedua tangan Ivanna dan menciumi punggung tangannya satu persatu.


"Aku berjanji akan menyerahkan seluruh duniaku untukmu." Bisik lirih Bryan.