Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 26



Sudah hampir satu minggu sejak Ivanna jatuh pingsan, yang berarti sudah kurang lebih 2 minggu ia berada di mansion Bryan. Bryan pun sudah tak terlalu mengganggunya, walaupun ia yang mengurus semua keperluan Bryan. Hanya saja tatapan mata Bryan yang mengawasi gerak gerik Ivanna selalu membuat ia kesal. Seperti saat ini,


Ia sedang membersihkan kolam renang di belakang mansion, dekat dengan paviliun. Bryan mengawasi Ivanna dengan dalih ingin mengerjakan pekerjaannya di dekat kolam renang. Tak jarang juga pria itu mengomentari apa yang dilakukan Ivanna.


Brakk!


Ivanna membuang tongkat jaring itu di dekat kolam renang, dan berjalan mendekati Bryan yang sedang duduk di kursi malas.


"Apa sebenarnya maumu?" Ucap Ivanna dengan wajah yang memerah karna terkena sinar matahari siang.


"Kamu" sahut Bryan dengan wajah tanpa dosa terus menatap layar laptop di depannya. Ia melihat Ivanna tengah melakukan pekerjaannya sambil tergambar jelas wajah kesal gadis itu. Ia terkekeh.


Lalu datanglah Lucian dengan sedikit berlari dan mendekati Bryan,


"Tuan, nyonya besar menelepon." Bryan bangkit setelah Lucian mengatakan pesan itu.


"Why? Tumben sekali mama meneleponmu." Mereka berdua meninggalkan Ivanna, gadis itu melirik perginya kedua pria yang sepertinya tampak seumuran itu. Ivanna menunduk di tepi kolam renang, menatap siluet dirinya dari pantulan air di kolam renang.


"Hhahhh! Apa yang harus aku lakukan untuk segera keluar dari tempat ini?" Ivanna menatap cincin di jari manisnya.


"Cincin di jari manis, apakah artinya dia menikahiku? Big No! Siapa yang mau menikah sama pria jahat yang suka menyiksa gadis kecil sepertiku?" Ucap Ivanna panjang lebar, kemudian suaranya berbisik pelan,


"Walaupun sebelumnya aku ingin sekali menikah dengan kakak dari panti asuhan itu. Tapi aku tidak mau kalo Bryan orangnya.” Ivanna berdiri dan berniat untuk berjalan meninggalkan kolam renang, naasnya ia menginjak tongkat pembersih kolam renang dan jatuh tercebur kedalam kolam renang. Ivanna berteriak meminta tolong, namun sayangnya tak ada satupun orang yang berada disekitar kolam renang pada jam seperti ini.


Nada panggilan tersambung, Bryan mengetuk - ketuk pelan meja dengan jari tangannya. Ia gugup, apa yang terjadi sehingga mama Yoanna menghubunginya?


"Ya mama?"


"Halo anakku Bagaimana keadaanmu? Kenapa kamu jarang menelepon mama nak?"


"Kabarku baik ma, tumben nelpon ada apa?" Bryan berjalan keluar di balkon, bersandar di pagar balkon sambil mengawasi Ivanna yang sedang duduk berjongkok di pinggir kolam renang.


"Ya mama rindu sama anak mama, si Ben juga jarang pulang. Papa sibuk juga. Mama kan kesepian, nah kamu kapan pulang sayang?"


"Bryan mau istirahat ma, lagian biar Ben belajar mengelola gudang dan mengawasi bawahan papa. Ya harusnya semuanya milik Ben." Dari balik ponselnya suara mama Yoanna terdengar pelan.


"Bryan kan juga anak mama sama papa? Kok ngomong begitu? Oh iya besok mama dan papa mau berangkat ke Indonesia-"


Suara mama Yoanna tak terdengar begitu jelas, karna setelah Bryan berbicara ia juga mendengar suara benda jatuh ke kolam renang.


Byurrr!


Mata Bryan membola, Ivanna jatuh ke dalam kolam air.


"****!"


Ia langsung menjatuhkan ponselnya dan berlari menuruni tangga. Ia berlari melesat begitu cepat hingga akhirnya ia sampai di tepi kolam renang. Ivanna tenggelam.


"Ivanna!"


Bryan langsung teriun begitu melihat Ivanna berhenti bergerak, menggendong gadis itu ke kursi malas pinggir kolam renang. Bryan memukul pelan pipi Ivanna.


"Anna bangun hey! Amore!"


Nihil, Ivanna sama sekali tak bergerak. Bryan tak habis akal, ia melakukan CPR dan nafas buatan kepada Ivanna. Ia melakukan semuanya berulang.


"FREAKING GOD AMORE PLEASE WAKE UP!!" Bryan terus melakukan CPR hingga akhirnya air keluar dari mulut Ivanna. Semua orang datang berbondong-bondong setelah mendengarkan suara makian Bryan.


"Oh God!!" Bryan mendesah lega sambil mendongakkan kepalanya.


"Oh God!!" Bryan mendesah lega sambil mendongakkan kepalanya. Ivanna memandangi pria di depannya.


"Dia yang menyelamatkanku? Kupikir dia menyukai jika aku mati" batin Ivanna.


Kasak kusuk terdengar dari para maid yang menatap keduanya, Bryan melirik mereka satu persatu.


"Kalian semua berdiri di tengah kolam renang, jangan ada yang naik ke atas sebelum aku menyuruh kalian naik!" Ucap Bryan sambil menggendong Ivanna ala bridal style dan berjalan meninggalkan para maid yang masuk kedalam kolam renang satu persatu. Ivanna menatap Ivanna menatap wajah pria yang lebih tua darinya itu.


"Ada yang ingin kau bicarakan padaku?" Ucap Bryan, Ivanna menoleh kearah lain dengan wajah yang memerah.


"Kau benar kakak laki – laki yang memberiku cincin?" Ucapan Ivanna membuat Bryan berhenti. Tumben sekali Ivanna membicarakan hal ini. Bryan mengangguk lalu melanjutkan perjalanannya. Mereka sampai di depan pintu lift. Ivanna dengan peka memencet tombol buka, lalu saat pintu tertutup ia menekan tombol lantai 3.


"Mengapa kau menanyakan pertanyaan itu?" Tukasnya.


"Bunda Grace mengatakan bahwa kakak yang memberiku cincin adalah orang yang baik dan hangat. Tapi aku tak melihat hal itu padamu!" Bryan terkekeh, jadi seperti itu pemikiran Ivanna padanya selama ini. Bryan terdiam, ia tak mungkin menceritakan kepada Ivanna siapa ia sebenarnya.


Ting!


Pintu lift terbuka, Bryan membawa Ivanna ke kamarnya.


"Istirahatlah!" Bryan meninggalkan Ivanna yang tengah berbaring di kasur empuk miliknya. Ia memilih berjalan mencari ponselnya di balkon, puluhan panggilan tak terjawab dari mama Yoanna. Ia mendesah pelan lalu melirik Ivanna yang kini sedang tertidur. Bryan menghubungi kembali mamanya.


"Sayangku apa yang terjadi kepadamu??" Ucap Yohanna dari seberang panggilan, Bryan samar samar dapat mendengar suara mamanya dalam keramaian.


"Berhenti panggil anak-anak mama dengan sebutan seperti itu ma, Bryan geli! Mama dimana? Berisik sekali disana!"


"Hihihi mama lagi berada di lapangan terbang, mama mau pergi ke Indonesia. Papa dan Ben juga akan menyusul!" Bryan melirik Ivanna,


"What the ****! Kapan mama bilang mau kesini?"


"Hah? Tadi mama sudah ngomong sama kamu. Tapi kamunya sudah lari dasar! Yaudah ya mama mau berangkat dulu, bye sayangku-“ Mama Yoanna memutuskan panggilannya. Bryan mendesah kasar.


Bryan buru-buru memanggil Ben, setelah menunggu cukup lama akhirnya panggilannya tersambung.


"Hal-"


"Hei! Kenapa kau tidak mengatakan bahwa kalian akan ke Indonesia?" Bryan mencerca Ben dengan pertanyaannya sebelum Ben menyelesaikan kalimatnya.


"Woah calm bro. Memang kenapa? Mama memang selalu seperti itu kan, malah rencananya mama memang mau memberikan kejutan dengan datang tanpa memberitahumu." Bryan memijat pangkal hidungnya, lalu mematikan panggilan tersebut. Tiba-tiba ia terdiam sambil menggigit ibu jarinya, pikirannya dibawa jauh melayang ke 8 tahun yang lalu.


-Flashback-


Setelah kejadian pembunuhan pertama Bryan, ia tampak berubah banyak dan menjadi anak yang pendiam. Mama Yoanna menatap kasihan kepada anak angkatnya itu, ia mendekati suaminya yang berada di kursi ruang tamu.


"Sayangku, apa yang terjadi dengan Bryan? Kenapa ia sekarang begitu pendiam dan dingin?" Louise yang sedang membaca koran melirik istri tercintanya itu.


"Aku sedikit memberinya pelajaran amore. Dia sekarang adalah anak tertua dari Benvolio. Tanggung jawab besar menunggunya. Jadi memberikannya sebuah pelajaran bukan hal yang buruk bukan?" Yoanna menggeleng, Louise adalah pria yang kejam. Namun bukan berarti ia juga akan berlaku kejam dengan keluarganya. Ia mengusap pelan dada suaminya,


"Bukankah masih terlalu dini bagi Bryan untuk mengerti apa yang terjadi dibelakangnya? Tentang BLACKWINGS? Kau tak berniat membuatnya menjadi mesin pembunuh sepetimu bukan?" Louise mengecup pipi istrinya, lalu mengelus pelan paha wanita yang masih terlihat cantik itu.


"Tenang saja, Bryan tak akan mati dengan mudah. Aku mempercayainya, anak itu punya potensi yang besar di sini. Kamu jangan khawatir ya, aku tahu kamu mengkhawatirkan anak-anak." Raut keraguan masih tergambar jelas di wajah ayu istrinya. Apa sebenarnya yang membuat istrinya khawatir.


"Tenanglah. Semua akan baik - baik saja." Perlahan tapi pasti wajah itu tersenyum. Ia bangkit dari samping suaminya.


"Aku harus berbicara dengan Bryan, ia pasti kesepian karna Ben terpaksa sekolah ke Luar negeri." Louise mengangguk, Yoanna berjalan menuju kamar anak laki-lakinya yang berada di lantai 2.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, namun Bryan tak nampak di kamar tersebut. Samar - samar Yoanna mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi anaknya.


"Ah dia sedang mandi rupanya."


Yoanna mengelilingi kamar Bryan, berjalan mendekati rak – rak buku yang didalamnya terjejer berbagai macam buku-buku pelajaran. Yoanna memegang salah satu buku itu dan mengelusnya, ia mengingat saat Bryan sudah mulai mahir berbicara bahasa Italia dan ia selalu merengek untuk dibelikan berbagai macam buku-buku cerita berbagai bahasa. Ia tersenyum.


"Waktu berjalan begitu cepat bukan? Anak-anak sekarang sudah dewasa." Ia mengelap sudut air matanya yang mulai berembun. Saat ia hendak meletakkan buku itu kembali sebuah kertas terjatuh. Yoanna memungutnya dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Siapa gadis ini?" Ia menatap foto Ivanna, lalu suara Bryan membuat Yoanna mematung.


"Mama? Sedang apa mama disini?"