
Srek srek srek
Bunyi dedaunan yang diinjak oleh sepatu bootsnya menemaninya untuk berjalan di sore hari yang tampak begitu sepi. Musim gugur yang selalu menjadi momen di awal bulan September itu membuat dedaunan di area pemakaman pun tampak kering dan berguguran. Ivanna menggenggam erat dua tangkai bunga mawar merah, sesekali ia mencoba mengatur nafasnya agar menghalangi air matanya yang hendak turun.
Ivanna berhenti di sebuah makam, matanya nampak berembun ketika menatap batu nisan yang bertatahkan nama kedua putra dan putrinya. Ia tersenyum tipis ketika melihat beberapa tangkai bunga yang banyak diantaranya sudah layu.
"Hey sayang. Mommy merindukan kalian. Waktu berjalan begitu cepat bukan, Eve dan Ethan?" ucap Ivanna lirih sambil mengelus batu nisan tersebut.
"Sepertinya kalian juga sering bertemu dengan daddy kalian hm? Maafkan mommy karna ini ketiga kalinya mommy datang kemari." Ivanna mengusap air matanya. Tak lama kemudian ia terisak.
Tiga puluh menit Ivanna menangis akhirnya ia selesai juga melepaskan sesak yang menekan di dadanya. Ia memakai kacamatanya dan berdiri di samping batu nisan itu. Tak lupa ia menaruh setiap kiri dan kanan batu nisan itu dengan bunga mawarnya.
"Mommy?" suara anak kecil menyadarkan Ivanna. Ivanna menoleh kebelakang, seorang pria dewasa dan juga anak kecil dalam gendongan pria yang berusia 3 tahum datang menjemputnya.
"Ya Bri? Mengapa tidak menunggu mommy di dalam mobil saja?" Ivanna menggendong putri kecilnya, sesekali ia ikut tersenyum ketika anak itu menempelkan kening mereka menjadi satu. Persis sepeti apa yang selalu Bryan lakukan padanya.
"Bria mengajak papa untuk menemui mommy. Bria ingin pergi beli ice cream." Ivanna melirik pria yang kini berdiri di depannya, kemudian beralih melirik anaknya.
"Bria, uncle bukan papa sayang. Uncle Dom, bukan papa okay?" Bria menggeleng sambil memanyumkan bibirnya.
"Tapi Bria suka panggil papa, kalau uncle Dom bukan papa lalu dimana papa Bria?" ucapan polos Bria membuat keheningan di antara keduanya. Dominic berdeham lalu mengubah topik pembicaraan untuk mencairkan suasana yang tampak canggung.
"Bria masih mau makan ice cream matcha kan?" Bria mengangguk cepat lalu meminta Dominic untuk menggendongnya. Terbesit rasa keraguan di hati Ivanna jika melihat kedekatan antara putri kecilnya dan juga Dominic yang notabene adalah orang asing di hidupnya. Dominic menatap wajah Ivanna, lalu memegang bahu kecil itu dan tersenyum tipis.
"Take your time." Bisik Dominic pada Ivanna yang setelahnya meninggalkan Ivanna menggendong Bria pergi menuju mobil mereka.
Sepeninggalan Bria dan Dominic ia mengadahkan kepalanya sambil menarik nafas panjang, dan menghembuskan nafasnya kasar.
"Siapa yang salah Bry?" gumam Ivanna lirih. Tiba-tiba pikirannya di bawa pergi menuju masa lalu.
3 YEARS AGO
Ivanna mengerjapkan matanya pelan. Sinar matahari yang memantul dari jendela besar di sebuahbberada di rumah sakit menganggu penglihatannya. Ia mencium aroma obat-obatan yang kuat. Saat iya sadar barulah ia mengerti bahwa ia kini sedang Rumah sakit sedikit
"Nyonya akhirnya Anda sudah sadar." ucap seorang perawat yang saat ini sedang mengganti infusnya, Ivanna tersenyum tipis. Ia melirik sebucket bunga yang kini berada di nakas tempat tidurnya, sebucket bunga tulip putih.
"Oh Anda menyukainya nyonya? Suami Anda baru saja keluar setelah duduk selama satu jam di samping Anda." Ivanna meraih bunga itu dan mengelusnya.
"Berapa lama aku tertidur?" Tanya Ivanna lirih, ia merasakan seluruh tubuhnya kesakitan. Tiba-tiba Ivanna ingat sesuatu, perutnya. Ivanna mengelus perutnya dan senyumnya mengembang ketika ia masih bisa merasakan bayinya baik-baik saja.
"Mommy percaya kalian kuat. Bertahanlah sebentar lagi ya?"
Ceklek,
Bryan datang dengan keadaan yang nampak kusut, jangan lupa kantung matanya yang kini terlihat lebih besar. Ia tersenyum menatap Ivanna yang kini sudah membuka matanya dan mengelus pelan perutnya.
"A-amore?" ucap Bryan bergetar, ada kerinduan yang terpancar ketika ia melihat Ivanna bisa tersenyum untuk saat ini. Ivanna menatap kearah pintu, Bryan berdiri disama sambil memengang sebucket bunga tulip lagi.
"Ah gosh untunglah. Kau benar-benar membuatku khawatir." Ivanna tersenyum. Ia kembali mengelus perut buncitnya.
"Aku baik-baik saja, bukankah anak-anak kita juga baik-baik saja?"
Deg!
Ucapan Ivanna membuat Bryan terdiam. Ia tak tahu harus memulai dari mana untuk memberitahu Ivanna. Begitu banyak ketakutan yang berputar di otaknya. Ia takut senyuman Ivanna memudar, ia takut Ivanna membencinya. Dan ia juga takut jika Ivanna memilih untuk pergi meninggalkannya.
Bryan tak membalas pertanyaannya, ia mengecup puncak kepala Ivanna dan mengelusnya pelan. Ivanna mendesah pelan ketika melihat wajah Bryan. Tak ada wajah tampannya yang biasa tampak mulus, kini wajah itu ditumbuhi jambang halus dengan rambut yang bahkan entah kapan Bryan menyisirnya. Ia mengelus pelan wajah Bryan dengan sayang. Setelah itu keheningan muncul diantara mereka.
“Apa yang di ucapkan tuan Antonio benar? Tentang Sam?" Bryan terdiam mendengar pertanyaan Ivanna. Sedangkan Ivanna menautkan kedua jari-jarinya. Bryan melirik Ivanna dan kemudian ia mendesah pelan.
"Ya amore, aku yang melakukannya?"
Tes,
Air mata Ivanna tumpah. Ia mengangkat wajahnya dan mengusap air matanya,
"Tapi, kenapa bry?" Ivanna enggan menatap Bryan, ia masih merasakan tangan Bryan yang berusaha menggenggam tangannya.
"Aku tak bisa menjelaskanmu sekarang. Yang harus kau tahu aku adalah pria yang berbahaya. Aku berusaha melindungimu dan calon anak kita. Dan aku juga membunuh Antonio Ivanna, aku membunuhnya karna dia juga membunuh anak kita!" Jawaban Bryan membuat Ivanna seketika menoleh, matanya memerah.
"Apa maksudmu?" Kini giliran Bryan yang menunduk. la enggan menatap wajah Ivanna,
"Maafkan aku, kita kehilangan mereka amor-" Ivanna menampar Bryan, nafasnya naik turun dengan mata yang memerah dan juga wajah yang sudah merah padam. Ivanna menarik kerah Bryan hingga wajah mereka kini berhadapan.
“KAU PEMBUNUH!" ucap Ivanna menekankan kalimatnya, bola matanya bergetar.
"Aku tak habis pikir ternyata selama ini aku hidup berdampingan dengan monster sepertimu. Kau benar-benar menakutkan hingga berhasil membuat tulang-tulangku gemetaran. Kau harus menerima semua konsekuensi yang kau terima!" Bryan menelan ludahnya, ia tak bisa berkutik kali ini. Perlahan- lahan tangan dan bahu Ivanna merosot. Ivanna menangis histeris sambil memukuli dada bidang Bryan.
"Kenapa Bry? Kenapa? Setelah kau renggut kesucianku, kau membawaku kedalam hidupmu yang berbahaya sekarang kau yang membuatku kehilangan anak-anakku! Kenapa harus aku Bryan kenapa? Huhuhu!" Tangis Ivanna berhasil membuat pertahanannya ikut runtuh. Bryan memegangi tangan Ivanna lalu membawa wanitanya dalam pelukannya.
"Maafkan aku Ivanna, maaf." Ucap Bryan lirih. Bahkan kalimat maaf yang dilontarkannya begitu terasa menyesakkan dada. Ivanna melepaskan diri dari pelukan Bryan dan menatap tajam kearah pria itu sambil memegangi lengannya.
"Katakan padaku, apakah maafmu bisa membuat anak-anakku kembali?" ucapan Ivanna membuat dadanya seperti di hujani pisau – pisau tajam. Bryan - menyandarkan kepalanya di ceruk leher Ivanna.
"Bukan kau saja yang merasa kehilangan mereka amore, aku pun juga merasa kehilangan yang sama sepertimu." Kini giliran Ivanna yang terkejut. Bryan menangis di bahunya, ia dapat merasakan basah di area bahunya dan juga bahu Bryan yang kini nampak bergetar.
"Bukankah itu karma yang harus kau terima? Apa yang aku lakukan selama ini Bry? Apakah rasa sakit karna kehilanganku sama dengan rasa sakit yang kau rasakan? Apakah aku pantas mendapatkannya?" Bryan terdiam mendengar ucapan Ivanna. Ia mencoba mencerna semua perkataan Ivanna.
Ivanna benar. Rasa sakit yang ia rasakan takkan sepadan dengan rasa sakit yang Ivanna rasakan. Lalu apa yang kini harus Bryan lakukan? Apakah ia harus melepaskan Ivanna?
"Kau benar Ivanna, jadi bisakah kau memaafkanku? Kita akan melakukannya sekali lagi bersama-sama." Ucap Bryan bersungguh-sungguh. Ia memengang kedua tangan Ivanna di depan dadanya. Mata mereka saling bertatapan.