Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 18



"Any questions, Ben?" Bryan mengetuk ketuk jarinya pada meja, salah satu tangan lainnya memegang sebuah cerutu. Sedangkan Ben mencoret kertas di depannya. Sejak satu jam yang lalu mereka berdua membicarakan tentang Antonio dan Samuel, serta beberapa 'skenario terburuknya' jika ternyata mereka dan Oregon bersatu melawan BLACKWINGS.


"Ivanna Isabella!" Bennedict menggumamkan nama Ivanna. Tentu saja itu membuat kakaknya Bryan menghentikan ketukan pada mejanya, bagaimana bisa Bennedict mengenal Ivanna?


"BEN!" Bentak Bryan, Ben yang sejak tadi melamun sontak terkejut dengan suara Bryan yang naik beberapa oktaf.


"Y-yaa?"


"Bagaimana bisa kamu mengenal Ivanna? Aku bahkan belum menceritakannya denganmu?" Salah satu alisnya naik, Ben tampak gugup dengan keringat yang membasahi keningnya.


"Ben?"


"O-oke! Aku menemukan foto seorang gadis di bawah meja kerjamu, lalu kemarin aku mencari gadis itu dan menemukannya!"


"Jadi?"


"Hey, bisakah kembali ke permasalahan kita? Bagaimana kalau ternyata mereka tahu kelemahanmu adalah Ivanna?" Ben berusaha mengalihkan pembicaraan, ia tak mau jika Bryan mencoba mencari tahu Ivanna darinya bisa-bisa ia akan ketahuan oleh Bryan.


"Sam mengenal Ivanna bukan? Dan terakhir kali dia menculik Ivanna, ia langsung tahu bahwa Ivanna adalah milikmu! Jadi ada dua opsi yang menurutku bisa menyelamatkan Ivanna tanpa harus membuatnya terlibat dengan BLACKWINGS. Yang pertama, kau bisa menyuruh anak buahmu untuk memata matai Ivanna, mengawasi Ivanna dari belakang." Ucap Ben panjang lebar, ia menarik nafas panjang untuk meneruskan kalimatnya,


"Atau yang kedua, kau bisa membawanya pulang ke Italia. Mama pasti menyukainya." Senyum Ben mengembang, semoga saja kakak laki lakinya ini mau mendengarkan masukannya. Bryan membuang putung cerutunya kedalam asbak, mengepulkan asapnya naik ke udara. Saran Ben lumayan juga, tapi mempertemukan kedua orang tua angkatnya dan Ivanna?


"Aku akan mengirimkan orang untuk mengawasi Ivanna. Kau, urus saja semuanya di Italia! Biarkan Ivanna menjadi urusanku." Final Bryan sambil bangkit dari kursinya, meninggalkan Bennedict di ruang kerjanya.


"Haaahh, selalu saja keras kepala!" Umpat Ben kepada kakaknya.


"Bagaimana liburan minggu depan Anna, kau ada rencana?” Ucap Maria sambil menyeruput minuman sodanya, Leon dan Ivanna yang berdiri didepannya saling bertatap tatapan. Seminggu ke depan, manager minimarket tempatnya bekerja memberikan cuti untuk Ivanna dan Leon selama 3 hari. Tentu saja hal itu menjadi kesempatan untuk Ivanna dan Leon berlibur, harusnya.


"Ayolah, kita ke pantai yuk? Pumpung cuaca beberapa hari ini panas banget!" Ajak Leon, Ivanna diam dan sesekali menghembuskan nafasnya kasar. Ia juga ingin berlibur, namun bagaimana dengan bunda dan yang lainnya.


"Aku izin bunda dulu ya Leon, Maria. Kalian tahu kan, rumah juga sibuk banget?" Maria dan Leon saling bertatapan, kemudian mereka menggangguk bersamaan. Tak lama kemudian datanglah beberapa pembeli, Ivanna memilih undur diri meninggalkan Maria dan Leon berdua, mereka tampak mendesah pelan.


"Bagaimana ini? Aku ingin ngenalin Ivanna sama sepupu aku!" Rengek Maria pada kekasihnya, Leon mencoba memutar otak supaya Ivanna mau berlibur bersama mereka, dan juga sebagai salah satu kesempatan Ivanna untuk sekedar melepas kepenatan dengan menyenangkan dirinya sendiri.


Nanti aku usahain ya sayang, aku juga kasihan sama Ivanna. Selain sibuk bekerja, sejak kecil Ivanna jarang memperhatikan dirinya sendiri."


"Lu, kumpulkan beberapa orang kemari!" Bryan tampak duduk tenang di kursi kebesarannya, beberapa menit kemudian Lucian datang dengan beberapa orang dibelakangnya. Bryan memindai mereka semua dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu sesekali menggeleng.


"Mereka?"


"Iya tuan, mereka adalah anggota kita yang paling cekata-." Bryan mendobrak meja kerjanya.


"Adakah selain mereka, astaga. Aku butuh orang yang terlihat normal dari luar." Ucapan Bryan semata mata karna penampilan mereka benar benar menyeramkan, seperti algojo. Badan yang terlihat besar, otot yang tercetak jelas dari balik kemejanya. Dan juga beberapa bekas luka di bagian wajah mereka. Bennedict yang sejak tadi bermain ponsel di kursi panjang refleks bangun dari tidurnya.


"Bagaimana kalo orang orangku? Mereka tak terlalu menyeramkan bukan?" Bryan menoleh, memperhatikan 2 orang bodyguard milik Ben yang berdiri di samping kursinya. Wajah mereka terlalu tampan untuk ukuran seorang bodyguard. Bryan mendesahkan nafasnya kasar.


"Tunjuk satu orang untuk mengawasi Ivanna. Namun sebelum itu, dia harus tanda tangan untuk menjadi bawahanku!" Bryan membuka laci, dan menyodorkan surat kontrak untuk bodyguard tersebut.


"T-tapi kenapa? Orangku orangmu juga, bukan?" Protes Ben membuat Bryan tampak melirik sinis.


"Aku punya cara kerjaku sendiri Ben, lepaskan salah satu orangmu kepadaku." Ben berdecih, lalu memanggil salah satu bodyguardnya untuk menandatangi kontrak dengan kakaknya.


"Peto, pergilah!" Seorang pria berperawakan besar dengan wajah yang tampan mendekati Bryan, dan menorehkan tanda tangannya pada kontrak tersebut. Untuk apa harus berpikir dua kali? Toh bekerja dengan Benvolio bersaudara juga sama sama berbahayanya.


"Peto, mulai sekarang kau bekerja dibawahku. Pelajari berkas berkas ini lalu pergilah awasi gadisku.


Ingat! Jaga gadisku, aku ingin setelahnya gadisku tetap bersih tanpa cacat! Awasi pergerakannya dan laporkan setiap jam kepadaku." Terang Bryan panjang lebar, setelah Peto membaca beberapa berkas berkanya, ia izin untuk undur diri mengawasi Ivanna. Senyum terbit di wajah Bryan, salah satu masalah telah berhasil diselesaikan.


Lucian datang tergopoh gopoh mendekati Bryan,


"Tuan, kami menemukan mata mata Oregon, dia sudah ada di basement." Ucapan Lucian berhasil membuat mata Bryan melotot.


"Ben, duduk disini dengan tenang ya adikku. Kakak akan segera kembali!"


Deg!


Degub jantung Ben berdetak tak karuan, tenggorokannya seolah tercekik, Bryan benar benar iblis sempurna yang diciptakan oleh Louise Benvolio. Bahkan semua tindakannya sangat mirip dengan Louise.


Bryan menuruni lift dalam mansionnya, setelah sampai di bagian paling dasar lift berdenting disusul pintu lift yang terbuka. Ruangan gelap dan tentu saja becek, karna Bryan baru membuat basement di sini. Ia berjalan sedikit jauh melewati lorong gelap yang hanya dihiasi lampu kecil. Ia berjalan sampai ujung lorong yang terdapat pintu.


Krekkk!


Pintu terbuka, seorang wanita diikat di sebuah kursi dan juga mata dan mulut yang ditutup oleh lakban.


"Hmmmmpp hmppp!" Wanita itu memberontak dengan sesekali menggerak gerakkan tubuhnya berharap ia dapat melepaskan diri dari takinyang mengikatnya. Bryan mendekati meja disamping wanita itu, memasang sarung tangan karet dikedua telapak tangannya. Ia mendekati wanita tersebut lalu melepas lakban yang menutup mulutnya.


"Hhahh hhaaah brengsek!" Maki wanita itu.


"Wow! Mulutmu terlalu kotor untuk ukuran wanita cantik sepertimu, hmm."


"Lepaskan aku brengsek! Cuihh!" Wanita itu meludah hingga mengenai sepatu kulit milik Bryan, tindakan tersebut membuat Bryan marah hingga ia menampar wajah wanita itu dengan sekali tamparan hingga membuat wanita itu terjatuh bersama kursi yang diikat bersamanya.


Plakk!!


"Hey! Berani beraninya kau meludah di sepatuku!"


"Uhuk uhukkk... hoek!" Pukulan Bryan membuat wanita itu mengeluarkan darah dari mulutnya. Bryan mendekati wanita tersebut, menjambak rambutnya dengan sekali hentakan hingga membuat wanita tersebut mengaduh dan menangis.


"Di bayar berapa kau oleh mereka sehingga kau berani mengusikku ha?"


"Jawab!"


"Huhuhu aku tidak tahu siapa yang kau maksud!" Bryan mengambil pisau lipat miliknya yang sejak tadi terendam alkohol.


"Teruslah berbohong, aku akan memutus lidahmu.” Bryan mendudukan kembali wanita itu di kursinya, kali ini ia membuka ikatan mata wanita tersebut.


"Satu.."


"Dua.."


Bryan menghitung sambil sesekali melirik wanita yang kini duduk memandang kebawah. Kesabarannya sudah habis. Bryan mendekati wanita itu, membuka mulutnya dengan paksa lalu,


Srettt


Dalam sekali ayun lidah wanita tersebut telah pisah dari mulutnya. Wanita tersebut bergetar hebat.


"Sayang sekali kau menyia-nyiakan kesempatanmu. Ahh seharusnya aku akan menggunakan mulutmu untuk bermain main." Bryan tersenyum misterius. Tanpa harus bertanya Bryan sudah tahu alasan wanita tersebut mendatanginya, ia hanya sedikit bermain main dengan wanita tersebut.


"Kau menganggap ucapanku hanya gertakan bukan? Jawab pertanyaanku sebelum habis kesabaranku. Kau dibayar berapa oleh mereka?" Wanita tersebut mengeluarkan suaranya, namun karna lidahnya telah putus sehingga suara yang keluar dari mulutnya tak begitu jelas.


"Terlambat!" Bryan menghujani beberapa tusukan pada tubuh wanita tersebut. Suara teriakan dan aroma darah memicu adrenalin dalam diri Bryan. Ia sudah seperti orang yang kesetanan.


"Hahahahaha!" Bryan mengusap darah yang terciprat pada wajahnya, jangan lupakan kemeja putihnya kini sebagian telah terkena darah. Menciptakan pola yang apik dengan darah yang terciprat di mana mana. Kini tubuh wanita tersebut sudah hampir tak dikenali, hanya bagian pinggul kebawah yang masih terlihat utuh serta kepala yang hampir putus. Bryan menatap bagian pinggul wanita itu. Ia menelah ludahnya sendiri,


"Sial, sudah mati pun kamu masih menggodaku. Benar benar wanita sialan."


Bryan melepas sarung tangan karetnya, lalu membuang sarung tangan itu di samping tubuh wanita tersebut. Dia berdiri menatap pinggul wanita tersebut lalu mulai memainkan miliknya. Ia mengucapkan nama Ivanna berkali kali hingga akhirnya ia berhasil mengeluarkan cairan miliknya. Nafasnya naik turun,


"****! Aku butuh Ivanna."