
Bryan memarkirkan mobilnya asal, saat melihat ketua maid pria tengah berjalan Bryan bersiul sambil melemparkan kunci mobilnya kepada maid itu.
"Masukkan kedalam garasi!" Bryan berjalan cepat memasuki lift, menekan angka didalamnya dan menunggu agar ia segera sampai ke lantai atas. Selama menunggu tak henti hentinya ia menggerakkan ujung sepatunya dan sesekali menggigit ibu jarinya.
"Sial! Kenapa lama sekali!"
Ting!
Lift berhenti di lantai atas, dengan cepat Bryan berlari menuju ruang kerjanya.
Brakk!
Lucian yang saat itu tengah membersihkan meja kerjanya terkejut takkala Bryan membuka pintu dengan keras. Bryan berjalan menuju kursinya, menetralkan degup irama jantungnya karna habis berlarian di koridor Mansion miliknya.
"Bagaimana dengan rencana kita?" Bryan mengetuk meja dengan jari jarinya. Lucian mendekat lalu menyodorkan sebuah map kertas berwarna coklat itu. Dengan cepat Bryan merobek map itu dengan pisau lipat yang berada di mejanya.
"Bagus. Pastikan seluruh kota ini tak ada yang akan menerima Ivanna kerja, dan juga buatlah iklan yang menguntungkan untuk pihak kedua." Ucap Bryan tersenyum misterius. Ia harus
membuat Ivanna bekerja langsung di dekatnya.
"Lalu, nona Ivanna akan ditempatkan di bagian mana?" Tanya Lucian yang dibalas senyum smirk dari Bryan,
"Maid! Aku tak sabar melihat gadisku memakai pakaian itu. Dan juga buatkan pakaian maid yang seksi, tapi jangan terlalu terbuka!"
"Baik tuan!"
Ivanna membuka pintu rumah bibi Keke, Leon dan Maria yang tengah duduk di ruang tamu mendadak berdiri dan mendesah lega ketika melihat sosok Ivanna.
"Astaga Ivanna, kamu dari mana saja?" Ucap Maria mendekati Ivanna, lalu memutari tubuh Ivanna. Leon pun menyusul mendekati Ivanna dan memutari tubuh Ivanna, untunglah sahabatnya itu masih utuh.
"Kau tahu? Aku dan Maria mencarimu seperti orang gila. Kau dari mana saja?" tambah Leon sambil memukul pelan lengan Ivanna. Ivanna hanya tersenyum sambil mengusap lengan yang mulai memerah akibat pukulan Leon.
"Aku hanya berjalan jalan di pinggir pantai melihat kerang, oh dan aku lupa membawa kantung plastik makanya aku tak membawa kerangnya sebagai bukti." Leon melirik tangan Ivanna yang menggenggam ponsel, Ia memukul pelan dahinya.
"Kau bisa mengabariku atau Maria jika berjalan jalan Anna, kau tak lupa kalau kau punya ponsel kan? Dasar! Aku takut kamu menghilang, bagaimana aku memberitahu bunda Grace kalau kau hilang." Ivanna memeluk kedua sahabatnya, untuk saat ini ia tak akan menceritakan temtang kejadian hari ini kepada mereka berdua. Ivanna takut hal itu malah membuat mereka kepikiran tentangnya.
"Baiklah kalau begitu. Besok aku akan menemanimu seharian Anna, besok kita akan mencari kerang bersama." Ucap Maria membuat mata Ivanna berembun. Ivanna memeluk mereka berdua lebih erat lagi.
"Terima kasih, dan maaf aku pergi tanpa mengabari kalian."
Adegan pelukan tersebut berhenti ketika seorang pria berkulit cokat eksotis dengan rambut wolfcut yang diikat satu ke belakang membuka pintu rumah.
"Oh? Maafkan aku!" Pria itu menutup pintu, Maria melepas pelukan itu dan berlari menemui sepupunya.
"Nah kalian, perkenalkan ini sepupuku. Namanya Dominic, kalian bisa memanggilnya Dom. Perkenalkan dirimu!" Maria memukul bahu pria di sampingnya, Dominic mengulurkan tangannya, di balas oleh Leon lalu bergantian dengan Ivanna.
"Aku Leon, dan ini sahabatku Ivanna. Kau bisa memanggilnya Anna"
"Halo. Aku Ivanna."
Setelah saling berjabat tangan, Dominic menatap jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
"Maaf aku harus pergi, silahkan nikmati waktu kalian."
Maria mendekati Ivanna, lalu menyenggol bahu Ivanna.
"Bagaimana penilaianmu kepada Dominic, Anna? Dia tampan bukan?" Ivanna menggaruk lengannya, lalu mengangguk.
"Iya, dia tampan." Jawab Ivanna, namun sekelebat bayangan Bryan saat menciumnya tiba tiba memenuhi pikirannya dan membuat Ivanna menjadi tambah salah tingkah.
"A-anu aku mau ke kamar duluan!" Ivanna berlari menuju kamarnya membuat mereka berdua saling bertatapan penuh keheranan.
"Dia kenapa?"
Bryan mengemasi pakaiannya ke dalam koper dibantu oleh seorang maid dan diawasi oleh kepala pelayan. Sejak kejadian pemecatan maid beberapa tempo hari kini di dalam Mansion, ia hanya memperkerjakan sedikit pekerja. 3 orang yang bertugas membersihkan taman, 3 orang membersihkan bagian dalam, 3 orang yang bertugas di bagian dapur, dan satu orang yang tak lain dan tak bukan adalah kepala pelayan.
"Tuan semuanya sudah selesai." Ucap kepala pelayan sambil membungkuk. Bryan melirik sekilas sambil membetulkan letak jam tangannya.
Kau tahu kan apa yang harus kau katakan pada 'pelayan' baru kita? Aku ingin dia menjadi pelayan pribadiku. Awasi dia, jangan sampai masuk kedalam basement!" Ucap Bryan sambil berjalan meninggalkan kamarnya, disusul oleh kepala pelayan dan seorang maid yang membawakan koper miliknya.
Ting!
Lift turun di lantai satu, di depan mansion Lucian berdiri di samping mobil putih miliknya.
"Berapa lama kita di Singapura?"
"Seminggu tuan, tuan muda Bennedict di utus langsung oleh tuan besar Louise untuk mengawasi gudang."
"Oke, lalu masalah Ivanna?"
"Semua sudah selesai tuan. Setelah Anda terbang ke singapura pemilik minimarket akan langsung menutup tokonya dan melakukan pemecatan kepada nona Ivanna dan sahabatnya. Dan juga pihak kita sudah membuat kontrak pembelian tanah panti asuhan, hari ini bisa dipastikan foto copy suratnya akan di terima kepala Panti pagi ini."
"Bagus, baiklah sekarang kita berangkat. Richard! Kabarkan setiap satu jam sekali sejak kedatangan Ivanna. Aku yakin gadis itu akan bekerja di bawahku."
"Baik tuan!"
Mobil putih itu melaju melewati jalanan yang tampak sepi dini hari, di dalam kursi penumpang Bryan menatap jalanan sambil tersenyum misterius.
Welcome home Ivanna, tunggu aku seminggu lagi mi amore!"
"Anna! Buka pintunya!! Astaga gawat!!!" Leon menggedor gedor pintu kamar Ivanna dan Maria, Ivanna membuka pintu sambil mengucek matanya.
"Astaga Leon ada apa? Bukankah ini terlalu pagi untuk membangunkan orang?" Leon tampak gugup, ia menyadarkan Ivanna dengan menggoncang bahu Ivanna.
"Bangunlah! Kita harus berkemas. Panti asuhan-"
"Apa? Kenapa dengan panti?" Ucap Ivanna kepada Leon, mendadak nyawanya otomatis terkumpul mendengar kata panti asuhan. Ada apa ini?
"Bunda Grace menelponku sambil menangis, seseorang telah membeli tanah panti asuhan., mereka meminta semua yang ada didalam bangunan panti harus berkemas dan meninggalkan panti asuhan tersebut!"
DEG!
Jantung Ivanna seakan berhenti berdetak. Ia masuk kedalam kamar dan mulai membenahi pakaiannya dalam tas sambil menangis. Isakan Ivanna rupanya membangunkan Maria, ia refleks bangun ketika melihat Ivanna tergesa gesa.
"Ivanna? Ada apa?"
"Hiks aku harus pulang, seseorang telah membeli tanah rumah kami!" Maria bangun dan ikut mengemasi pakaiannya. Hari ini Bibi Keke menginap di rumah mertuanya, sehingga maria tak perlu khawatir kegiatan mereka mengganggu tidur Bibinya.
Dominic yang mendengar suara berisik dari kamar Maria ikut terbangun, mengucek matanya dan melihat sepupu serta yang lainnya merapikan barang bawaan mereka. Ia melirik jam yang menempel di dinding atas televisi. Jam 4 subuh.
"Kalian mau kemana?" Leon menoleh menatap Dominic,
"Kami harus pulang. Sesuatu telah terjadi di rumah Ivanna.” Dominic pergi menuju kamarnya, mencuci wajahnya di wastafel dan menggunakan jaket kulitnya.
"Biar aku antar, jam segini belum ada bis yang masuk ke area sini." Leon dan yang lainnya mengangguk. Mereka menaiki mobil milik Dominic dan melaju membelah jalanan. Diperjalanan Maria lebih banyak memeluk Ivanna, menenangkan gadis yang saat ini tengah terisak. Ivanna memilih menangis dalam diam. Sedangkan Leon membantu Dominic menunjuk jalanan, sesekali ia melirik kebelakang memastikan Ivanna tenang.
"Sabar Ivanna, kamu pasti kuat. Tenang masih ada kita!" Hibur Maria sambil mengelus punggung Ivanna.
Dua jam lebih perjalanan mereka hingga mobil berwarna hitam itu sampai di depan gerbang panti asuhan. Ivanna turun dari mobil dan berlari terlebih dulu masuk kedalam panti asuhan. Di meja makan Grace beserta yang lain tampak saling menunduk menatap kertas di depannya.
"Kita harus bagaimana? Panti asuhan ini sudah seperti nyawa bagiku!" Isak Grace, jantung Ivanna seperti diremas. Ivanna berjalan perlahan mendekati Grace dan yang lainnya.
"Bun-da?" Suara Ivanna tercekat, seolah suaranya tertelan kembali kedalam kerongkongan. Grace dan yang lainnya menoleh. Mata mereka memerah. Grace berhambur memeluk Ivanna.
"Ivanna sayangku. Bunda harus bagaimana?"