
"A-apa yang akan kau lakukan?" Maria bergerak mundur untuk menghindari Bryan yang berjalan mendekatinya sambil memainkan pisaunya. Bryan tersenyum smirk,
"Melakukan apa yang seharusnya dilakukan sejak dulu, Maria. Aku membenci orang yang baik didepan namun busuk di belakang." Bryan meraih tubuh Maria, menggendongnya layaknya kantung beras dan menidurkannya di bed. Ia mengikat kedua tangan dan kaki imgadis itu dengan borgol. Bryan mengusap pelan perut gadis itu dengan pisau, tak jarang pisau itu menyerempet sedikit mengenai kulit dan juga meninggalkan luka menganga. Maria berteriak kesakitan.
"Huaaa aku mohon lepaskan aku!" Bryan menggeleng, ia menyumpalkan tisu yang ia raih dari nakas dan memasukkannya kedalam mulut Maria.
"Belum Maria, aku belum ingin membunuhmu. Jadi nikmatilah oksigen itu sebelum kau merindukannya."
Maria tampak kesulitan berbicara, matanya terus menerus mengeluarkan air mata. Sesekali ia mencoba memberontak dengan bergerak seperti hendak melepaskan diri, namun semakin banyak ia bergerak justru semakin kuat ikatan pada kedua tangan dan kakinya.
Bryan mengelus pelan perut Maria yang penuh dengan luka sobekan dimana – mana, ia menuangkan cairan alkohol itu di atas lukanya. Maria menggeliat kesakitan.
"Sayang sekali mulutmu harus ku sumpal, jadi aku tak bisa mendengarkan erangan kesakitanmu. Aku menyukai suara itu." Bryan tertawa, ia menyukai ketika menatap korbannya kesakitan.
"Ah apa hukuman yang pantas untukmu Maria?" Bryan mencoba menyobek kedua sisi bibir gadis itu hingga membuat mulut itu semakin melebar. Tawanya terdengar mengerikan,
"Hahahahaha sial aku merindukan melakukan hal seperti ini!" Pekiknya. Bryan memanggil kembali pria yang sejak tadi bermain-main dengan Maria. Ke empat pria itu datang mengelilingi Maria.
"Ada yang bisa kami bantu tuan?" Bryan memegang suntikannya, ia menyuntik cairan itu kedalam tubuh Maria. Senyum misteriusnya mengembang.
"Just **** her already, lakukan sampai tubuhnya le
Ivanna tampak terkejut ketika ia mendapati dirinya berada didalam kamar Bryan, dan jangan lupakan bahwa saat ini pakaian maidnya sudah berganti menjadi gaun tidur berbahan satin.
Tok tok tok!
Pintu di ketuk, Ivanna hendak berdiri namun bagian sensitifnya kembali merasakan nyeri.
"Masuklah."
Seorang maid tampak membawa troli berisi makan siang, Ivanna nampak memindai wajah maid itu.
"Maaf, kamu siapa?" Ucap Ivanna, Maid yang
sepertinya berusia tak jauh darinya menjawabnya.
"Perkenalkan, nama saya Lana. Saya ditugaskan untuk melayani Nyonya Ivanna." Ivanna nampak mengerjapkan matanya berulang kali, apa yang dikatakan tadi? Ia dipanggil Nyonya?.
"Sepertinya kamu salah sangka, memang benar namaku Ivanna. Tapi aku bukan Nyonya di rumah ini.” Maid itu mengangguk,
"Maaf nyonya, tapi itu semua atas perintah Tuan Bryan." Ivanna memutar bola matanya malas, tak lama kemudian Bryan masuk kedalam kamarnya. Senyumnya mengembang ketika menatap Ivanna.
istriku."mas. Jangan beri dia istirahat!" Bryan melepaskan kedua sarung tangannya, membuangnya kedalam tempat sampah medis lalu meninggalkan Maria yang sedang di setubuhi orang-orang mengerikan tadi.
Ia menekan tombol lift dan bergerak naik menuju lantai atas untuk menemui Ivanna yang sedang tertidur di kamarnya.
Ivanna tampak terkejut ketika ia mendapati dirinya berada didalam kamar Bryan, dan jangan lupakan bahwa saat ini pakaian maidnya sudah berganti menjadi gaun tidur berbahan satin.
Tok tok tok!
Pintu di ketuk, Ivanna hendak berdiri namun bagian sensitifnya kembali merasakan nyeri.
"Masuklah."
Seorang maid tampak membawa troli berisi makan siang, Ivanna nampak memindai wajah maid itu.
"Maaf, kamu siapa?" Ucap Ivanna, Maid yang sepertinya berusia tak jauh darinya menjawabnya.
"Perkenalkan, nama saya Lana. Saya ditugaskan untuk melayani Nyonya Ivanna." Ivanna nampak mengerjapkan matanya berulang kali, apa yang dikatakan tadi? Ia dipanggil Nyonya?.
"Sepertinya kamu salah sangka, memang benar namaku Ivanna. Tapi aku bukan Nyonya di rumah ini.” Maid itu mengangguk,
"Maaf nyonya, tapi itu semua atas perintah Tuan Bryan." Ivanna memutar bola matanya malas, tak lama kemudian Bryan masuk kedalam kamarnya. Senyumnya mengembang ketika menatap Ivanna.
istriku."
Lana pergi membawa trolinya meninggalkan Ivanna yang tampak menatap tajam Bryan, ia tak terima dengan pernyataan Bryan.
"Siapa yang mau jadi istrimu TUAN?" Bryan mengambil mangkuk makanan itu, lalu duduk di sebelah ranjang Ivanna. Ia tersenyum manis berusaha mengambil hati Ivanna.
"Aku yang mau menjadikanmu istriku, apa yang salah? Kamu tidak mungkin membawa calon bayiku pergi dari daddynya bukan? Nah sekarang ayo makan ." Ivanna memalingkan wajahnya,
"Apanya yang calon bayi, aku tidak mau mempunyai anak dengamu! Jadi jangan pernah bermimpi!"
Ting!
Bryan membanting sendoknya kedalam mangkuk itu, ia menatap datar Ivanna. Sementara Ivanna tampak ketakutan melihat Bryan menatapnya seperti itu.
"Makanlah, kau bawel sekali!" Bryan menyendokkan makanan itu di depan mulut Ivanna, namun Ivanna merebut sendok dan juga mangkuknya.
"A-aku bisa sendiri!"
Ivanna mulai memakan makanannya dengan tenang, Bryan menatap Ivanna yang sedang memakan makanan itu dengan wajah datarnya. Namun begitu Bryan tetap menemani Ivanna makan sampai habis. Setelah makan siang itu habis Ivanna menaruh dengan visualnya. Ivanna menahan wajah Bryan dengan telapak tangannya.
"Pergilah, kau membuatku sesak!" Ucap Ivanna, Bryan meraih telapak tangan Ivanna dan menciuminya sambil terus menatap Ivanna sensual. Bryan tersenyum sangat manis sambil mengusap rambut panjang Ivanna.
Bryan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah kalung berwarna silver dengan lambang kupu -kupu sebagai bandulnya. Ivanna menatap bandul kupu – kupu itu. Bryan memasangkan kalung itu pada Ivanna.
"Aku sedang berusaha mengambil hatimu amore! Jadi berikan aku kesempatan." Bryan mencium leher Ivanna lalu menurunkan kembali rambut Ivanna kebelakang. Ivanna memegangi bandul itu dengan tangannya sambil menatap datar benda itu. Bryan menatap wajah Ivanna dengan senyum puas. Ternyata mudah sekali mengambil hati seorang wanita. Namun wajahnya kembali datar ketika Ivanna menarik kalung itu hingga putus dan membuangnya. Mata Ivanna menatapnya nyalang.
“Aku tak akan tersentuh dengan barang konyol ini! Ingat baik-baik, aku tidak akan pernah mau menikah denganmu. Aku tidak mencintaimu!" Bryan memegang kedua tangan Ivanna. Matanya menatap sinis kepada gadisnya itu.
"Aku akan membuatmu mencintaiku dalam waktu dua bulan, ingat itu amore!" Bryan melepaskan genggaman tangan itu, lalu pergi meninggalkan Ivanna yang memegangi pergelangan tangannya.
Bryan tampak berjalan mondar - mandir kesana dan kemari di ruang kerja yang kini berada di lantai dua. Ia menatap jam di pergelangan tangannya. Tak lama kemudian notifikasi panggilan video muncul di layar monitornya. Bryan menekan tombol di keyboardnya.
"Hallo my broth-" wajah Ben yang tampak kusut setelah bangun tidur muncul di layar monitor itu.
"Bagaimana cara mendapatkan hati seorang gadis?"
Ben mengerjapkan matanya berulang kali, apa itu tadi? Kakaknya menanyakan hal percintaan kepadanya?. Ben mengusap wajahnya, sedikit menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari tangannya. Lalu duduk dengan tegap menghadap kamera.
"Well, kau bertanya pada orang yang tepat brother! Jadi siapa gadis beruntung kali ini?" Bryan menoleh sembarangan, bahkan Bennedict dapat melihat semburat pink di telinga Bryan. Senyumnya mengembang.
"Apakah ini tentang Ivanna?" Bryan menoleh, Ben tertawa terpingkal - pingkal menatap tampang bodoh kakaknya.
"Sudah ku duga, jadi hal apa yang membuatmu yakin kali ini kak?" Bryan bergumam lirih, Ben mendekatkan telingannya di dekat layar laptopnya.
"Kau bilang apa kak?"
"AKU SUDAH MENIDURINYA! Dasar tuli!" Sungut Bryan kepada adiknya, wajahnya nampak memerah karna menahan malu. Bennedict tertawa lepas, ternyata dibalik tampang garang dan jiwa psikopat kakaknya itu tersimpan sisi polos yang bodoh. Ben berhenti tertawa, ia tak melupakan sisi kejam dari kakaknya, ia menautkan kedua tangannya dan menatap tajam kearah Bryan.
"Apa hal baik yang pernah kau tunjukkan padanya, jangan bilang kau pernah menyiksanya? Kalau iya kau benar-benar akan kehilangan kesempatan untuk memilikinya. Hmm bagaimana kalau kau coba bertanya pada Mama. Kau tahu kan? Papa memiliki sifat yang kurasa 11-12 denganmu, jadi pasti Mamalah yang paling tahu apa yang membuat mama mau menerima papa!" Bryan mengangguk, berbicara tentang hal seperti ini kepada orang tuannya sangat memalukan, apalagi mamanya. Ia pasti akan di goda habis-habisan oleh mamanya.
Bryan mematikan panggilannya, ia menatap layar ponselnya. Menimang - nimang apakah ia akan menelepon Mamanya atau tidak. Ia mengigit ibu jarinya.
“Huft mengapa kau tidak langsung menerimaku saja Amore, kau membuatku dalam masalah besar jika itu menyangkut dengan Mama! Tsk sial!"