
Tiga hari kemudian,
Setelah terakhir kali Bryan membantu memandikannya, Ivanna sama sekali belum bertemu dengan Bryan. Terkadang Ivanna menanyakan kemana Bryan kepada Lucian, dan pria itu menjawab bahwa Bryan sedang sibuk di kantornya.
Malam ini Ivanna berinisiatif untuk mengantarkan minuman kedalam ruang kerja Bryan,
Tok tok tok
Ivanna mengetuk pintu, namun tak ada sahutan dari dalam. Ivanna semakin resah. Berkali-kali ia mengetuk pintu namun hasilnya sama. Ivanna membuka pintu itu, disana ia tak mendapati adanya Bryan yang sedang sibuk di dekat meja kerjanya. Ruangan tampak sangat sepi.
"Kemana dia?"
Ivanna mendengar suara gemericik air di kamar sebelahnya. Ia ingat bahwa di ruangan ini juga terdapat sebuah kamar mandi. Ivanna meletakkan minumannya di meja kerja Bryan lalu memilih duduk di sofa samping meja kerja itu. Ivanna mendongakkan kepala keatas sambil mengusap pelan perutnya.
Ceklek,
Bryan keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada sambil menyeka beberapa air yang tampak di wajahnya dengan handuk. Ia terkekeh mendapati Ivanna sedang mengelus perutnya sambil tersenyum menutup mata. Ivanna membuka matanya ketika air dari rambut Bryan jatuh di wajahnya.
"Hey!" ucap Bryan sambil tersenyum, Ivanna berdecih.
"Kau membasahiku." Bryan memutari kursi dan berdiri didepan Ivanna. Ia berjongkok dan menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu bantu aku." Ivanna mengambil handuk itu dan mengusap pelan rambut Bryan. Bryan menatap perut rata Ivanna, dengan satu tangannya ia mengusap perut itu.
"Apa yang kau lakukan di ruang kerjaku? Kau merindukanku hm?"
"Tidak! Aku hanya mengantarkan minuman untukmu." Ucap Ivanna sambil tangannya tetap sibuk mengeringkan rambut Bryan. Tak lama kemudian Ivanna menurunkan tangannya, ia menatap Bryan. Bryan membalas tatapan Ivanna dengan satu alis terangkat.
"Katakan Ivanna, kau mau mengatakan sesuatu bukan?"
"A-ku mau meminjam satu kemejamu."
"Untuk apa?"
"Aku ingin menggunakannya untuk tidur." Bryan terkekeh lalu merentangkan kedua tangannya.
"Maksutmu kau ingin aku memelukmu sambil tidur bukan? Sekarang kemarilah peluk aku." Ivanna mendengus,
"Aku ingin kemeja, bukan kamu! Sekarang aku akan pergi kekamarmu dan mengambil kemeja itu.” Ivanna bangkit dari duduknya ia hendak melangkahkan kakinya ketika Bryan memegang ujung kaosnya.
"Aku akan menemanimu tidur,"
"Tidak perlu, kau teruskan saja pekerjaanmu."
Bryan tersenyum smirk, ia menyukai Ivanna yang sedang tarik ulur kepadanya. Ia tahu Ivanna merindukan dirinya. Bryan memeluk Ivanna dari belakang, ia menempatkan dagunya di pundak Ivanna.
"Pekerjaan daddy akan selesai mommy, setelah itu daddy bisa menemanimu tidur. Jadi tunggulah calon suamimu di dalam kamar." Ivanna terdiam, lalu berjalan menuju kamar Bryan yang tentu saja penuh aroma pria itu. Ivanna merebahkan tubuhnya di kasur itu, dan mengambil nafasnya banyak-banyak menyerap semua aroma Bryan. Lalu ia menutup matanya hingga akhirnya ia benar-benar tertidur.
Ceklek,
Bryan membuka pintu lalu ikut merebahkan dirinya di samping Ivanna, Bryan memposisikan tubuhnya menghadap kiri untuk memindai wajah Ivanna yang. kini tertidur pulas.
"Kau benar-benar cantik sekali. Aku hampir gila berkali-kali karna takut kehilanganmu. Sekarang aku sudah mendapatkanmu amore." Gumam Bryan, Ia mengangkat kepala Ivanna dan meletakkan tangannya di belakang kepala Ivanna sebagai bantal. Lalu memeluk tubuh gadis itu. Saat ini jika Ivanna terbangun, mungkin Ivanna akan mendengar suara detak jantung Bryan yang terdengar menggila. Bryan meraih tangan Ivanna dan mencium punggung tangan itu.
"Be mine amore. Kau harus jadi milikku apapun yang terjadi."
Ivanna tampak menggeliat dan menenggelamkan dirinya pada dada Bryan yang sedang bertelanjang dada. Ivanna mengendusinya lalu terkekeh kecil, sepertinya ia sedang mengigau. Bryan menutup mulutnya dengan punggung tangannya saat merasakan deru nafas hangat yang menggelitiki dadanya. Wajah dan cuping telinganya memerah.
"Tuan, ada paket untuk Anda." Antonio yang sedang menikmati rokoknya pun menoleh kearah seorang pria yang kini berdiri di depannya.
"Paket? Dimana paketnya?"
"Di pintu utama tuan, seseorang mengantarkannya dan sekarang ia berdiri disana menunggu tanda tangan anda." Antonio mematikan rokoknya dan berjalan menuju pintu utama. Disana ia melihat seorang kurir tengah berdiri sambil tulis sesuatu di bukunya.
"Ah benar tuan Antonio? Saya mengirimkan sebuah paket untuk Anda. Silahkan tanda tangan disini." Antonio menatap pria itu curiga, lalu ia membubuhkan tanda tangannya pada buku itu. Pria pengantar paket membetulkan topinya lalu berpamitan dan meninggalkan area itu.
Antonio memakai sarung tangannya lalu menatap sebuah paket besar yang terbungkus plastik hitam. Ia mengambil sebuah cutter dari saku jasnya dan membuka paket itu. Tak ada nama dari pengirim paket tersebut, hanya ada nama serta alamat markas besar Oregon. Ia berdecih,
"Siapa yang bermain - main denganku?"
Didalam plastik itu terdapat kardus karton yang lumayan tebal. Saat ia membukanya aroma busuk yang menyengat tercium didalamnya. Antonio menutup kardus itu, dan mengibas - ngibaskan tangannya di depan wajahnya.
"****! Menjijikan, barang sampah apa ini? Kau, buka dan perlihatkan kepadaku apa itu isinya!” Seseorang ajudan yang berdiri disampingnya menutup hidunya, dengan satu tangan ia membuka kardus itu. Wajahnya terkejut ketika mendapati sebuah mayat pria dengan tangan dan kaki yang terpotong sedang diperban, dan juga perut yang tampak bekas jahitan vertikal. Jangan lupakan wajahnya yang sudah tak terbentuk akibat bekas sayatan demi sayatan pisau yang tajam. Sebuah kotak berada di sampingnya, ia membuka kotak itu. Terdapat potongan kaki dan tangan, serta isi perut dari mayat itu yang terendam air.
Ajudan itu berdiri dan menjauh dari sana, ia tampak memuntahkan isi perutnya.
Antonio yang tak menyadari apa isi didalamnya pun mengintip paket itu, aroma busuk benar-benar menguar dari dalam kardus dan kotak itu. Saking baunya, Antonio dapat merasakan matanya memerah.
"****! Disgusting pig!"
Ia melirik sebuah kertas yang menempel di kotak tersebut. Matanya membola ketika membaca catatan didalamnya.
[Bagaimana hadiahmu Antonio, kau menyukainya bukan? Tentu saja kau harus menyukai barang pemberian dariku. Kau harus merakit kembali Samuel, dia sangat menyukainya saat bermain denganku. Lain kali kau harus mendengar teriakannya! Ah maafkan aku kalau es dalam kotak itu mencair.]
Antonio memegangi dada kirinya, ia meremas kertas itu lalu membuangnya ke sembarang arah. Nafasnya naik turun.
"**** BRYAN! AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU SEPERTI KAU MEMBUNUH PUTRAKU!" Antonio duduk bersimpuh di depan mayat Samuel. Ia menangis,
Teriakannya menggema di seluruh area hotel terbengkalai itu. Orang-orang mulai mendatangi Antonio. Tak lupa mereka pun menutup hidungnya ketika mencium aroma busuk dari dekat Antonio.
"Kau! Kuburkan dia." Seorang ajudan mengangguk dengan permintaan Antonio. Kini Antonio berjalan cepat demi menemui Mr. X.
Brak!
Antonio membuka pintu tersebut, nampak beberapa pria yang sedang berkumpul menatap sinis kearahnya, namun tidak dengan Mr. X. Pria itu masih tetap pada posisi yang sama menautkan kedua tangannya di bawah dagunya.
"Kau sudah membukanya bukan?" ucap Mr. X.Antonio berjalan mendekati Mr. X dan menarik kerah pria itu, semua orang terkejut.
"Sebenarnya kau berada di pihak siapa huh? Kau sudah mengetahuinya bukan, DAMIAN MORRONE!” Damian menatap dingin kearah Antonio yang tampak menggila. Ia melepaskan tangan Antonio pada kerahnya dengan tenang.
"Tenangkan dirimu Antonio."
"TENANG? SAAT BRYAN DENGAN KEJAM TELAH MEMBUNUH DAN MEMUTILASI ANAKKU KAU MENYURUHKU UNTUK TENANG?"
Bugh!
Antonio meninju wajah Damian hingga pria itu tersungkur, beberapa dari mereka membantu Damian berdiri dan beberapanya lagi memegangi Antonio. Ruang meeting menjadi sangat ricuh saat ini.
"KALAU KAU TIDAK SEGERA MENYELESAIKANNYA BIARKAN AKU PERGI SENDIRI DAN MEMBUNUHNYA!" Antonio melepaskan pegangan dari orang – orang dan pergi meninggalkan ruang meeting. Damian berdiri dan menyeka darah di sudut bibirnya.
“T-tuan?”
"Aku tak apa, tenanglah Antonio tak mungkin nekat mendatangi Benvolio."