
Bunda Grace mengangguk. Bryan membuatkan sebuah kalung dengan rantai berwarna emas miliknya dengan bandul berupa cincin yang memiliki gambar dua buah burung merpati didalamnya. Ia memasangkan kalung itu untuk Ivanna. Rupanya Ivanna merasa risih dengan kalung itu, berkali kali ia menarik kalungnya hingga akhirnya ia menangis karna tak bisa melepaskannya. Bryan tersenyum.
"Aku janji akan main kesini setelah dewasa nanti, jaga kalung ini ya anna dan tunggu aku sampai aku dewasa dan aku akan menikahimu. Boleh kan bunda?" Ucapnya sambil menatap bunda Grace dan Ivanna bergantian. Ivanna tampak gemas dengan Bryan karna sejak tadi ia hendak meraih rambut Bryan."
Bryan mencium pelan pipi gembul Ivanna lalu berpamitan dan naik kedalam mobil mewah itu.
Didalam mobil mereka semua terdiam, sampai akhirnya ia dibawa menuju sebuah bandara tempat asing yang sama sekali tak pernah ia kenali. Berkali kali ia mengerjapkan pandangannya kekiri dan kekanan sambil mulutnya menganga. Mama Yoana sangat senang dengan kelakuan anak angkatnya itu.
Sebuah pesawat jet pribadi yang sejak beberapa hari lalu terparkir di dalam garasi khusus kini nampak mendekati tempat landasan. Bryan menaiki pesawat itu bersama dengan kedua orangtua angkatnya.
Setelah 16 jam lebih perjalanan yang melelahkan itu mereka sampai disebuah bandara, namun bandara ini tampak begitu sepi. Hanya beberapa orang yang tampak bekerja dan beberapa orang orang dengan pakaian serba hitam yang mengerubungi mereka saat ini.
Seseorang yang berasal dari Indonesia ditunjuk sebagai pengawal pribadi khusus untuk Bryan, mereka semua menaiki lagi sebuah mobil menuju sebuah mansion yang megah di tengah hutan.
"Aku dimana sekarang? Kenapa mereka semua berbicara dengan bahasa yang aneh?" Ucap Bryan sesampainya didalam mansion itu bersama pengawal pribadinya, Yoseph.
"Anda sekarang berada di mansion milik keluarga Benvolio yang berada di negara Italia, tuan muda" pria itu mengecek jam nya lalu meneruskah pembicaraan mereka.
"Sepertinya sebentar lagi guru privat khusus bahasa anda akan segera datang!" Bryan di antar menuju kamarnya di lantai atas menaiki sebuah lift.
Ting!!
Lift itu berhenti di lantai 3, ia dan Yoseph melewati lorong panjang dengan sebuah pintu di ujung lorong tersebut.
Saat pintu itu dibuka sebuah ruangan kamar bernuansa biru navy yang bahkan lebih besar dari sebuah kamar pada umumnya, dengan sebuah pintu yang menuju kedalam kamar mandi serta walk in closet yang telah diisi banyak pakaian berwarna hitam yang memiliki ukuran pas untuknya.
Setelah meletakkan barang bawaannya Bryan turun menuju sebuah ruang kerja yang diyakini sebagai ruang kerja milik papanya. Ia membuka pintu itu, tuan Louise tampak sedang duduk di kursi kebesarannya dengan beberapa bodyguard di sampingnya.
Tuan Louise sedang berbincang bincang dengan Yoseph, lalu Yoseph mendekati Bryan yang tengah berdiri didepan meja kerja itu.
"Tuan besar ingin Anda belajar di ruang kerjanya sambil beliau memantau pelajaran Anda. Karna saat ini perbedaan bahasa membuat beliau sulit berbicara dengan Anda!" Bryan mengangguk.
Tak lama kemudian seorang pria dengan kacamata bulatnya masuk kedalam ruang kerja dan memperkenalkan dirinya sebagai guru privat bahasa Asing untuknya.
Tak terasa sudah 5 bulan Bryan belajar bahasa Asing dengan guru privatnya, sekarang ia sudah sangat mahir dalam berbahasa Italia.
Prok prok prok
"Bagus anakku" tepuk tangan dari sang Papa membuatnya mengembangkan senyumnya. Dari sang Papa membuatnya mengembangkan senyumnya. Sekarang ia sudah bisa berbicara langsung dengan papanya.
"Terima kasih papa"
"Sekarang namamu adalah Bryan Kael Benvolio. Mulai besok kamu akan bersekolah secara privat di pagi hari, sementara di siang hari kamu akan belajar mengelola bisnis dengan papa” Bryan mengangguk.
Sekarang usianya sudah menginjak 18 tahun. Karna kesibukannya belakangan ini akan segera ia ganti dengan mengejar pembelajaran yang ketinggalan serta mempelajari bisnis bersama papanya. Pintu ruang kerja di buka, Mama Yohanna terseyum manis mendekati kedua lelakinya. Ia mengecup singkat pipi mereka bergantian.
-Flashback off-
"..... Dan akhirnya mereka berdua hidup dengan bahagia selamanya, tamat!" Vania bertepuk tangan setelah mendengar cerita dari sang kakak. Jam sudah menujukkan pukul 12 malam, namun Vania dan Ivanna masih terjaga.
"Kakak?"
"Ya Nia?"
"Apakah kakak juga menunggu pangeran seperti putri itu?" Pertanyaan Nia membuatnya terdiam.
"Kalau aku, aku mau juga menunggu pangeran saat nanti aku sudah dewasa. Tapi nia gak mau ninggalin bunda sama kakak. Boleh kan kalau aku mengajak kakak dan bunda tinggal bersama?" Ivanna terkekeh. Adik kecilnya ini sangat pintar sekali berbicara, ia mengelus pelan pini Anna.
"Semoga suatu hari beneran ada pangeran tampan dan baik hati buat nia. Sekarang kita tidur yuk? Besok nia kan harus sekolah!" Nia mengangguk lalu memeluk boneka barbienya dari balik selimut, sementara Ivanna menepuk pelan pantat adiknya itu.
Setengah jam berlalu, walau kali ini Nia sudah tertidur namun tidak bagi Ivanna. Ia membuka jendela kamar yang berhubungan langsung dengan jalanan dan gerbang dibawahnya. Angin malam ini begitu sejuk serta berbagai macam bintang menghiasi langitnya. Ia berdiri diarea balkon sambil mengelus kalung yang sejak dulu ada bersamanya. Ia mengecup cincin itu.
"Bunda bilang kakak laki laki yang memberikanku kalung ini sangat menyayangiku. Semoga nanti kita dipertemukan bersama. Aku ingin melihat sosok kakak yang begitu sayang padaku” ia masuk kedalam kamar, mengunci pintu balkon dan menutup gordennya. Lalu membaringkan tubuhnya disamping adiknya tersebut.
Sementara di tempat lain Bryan tampak sedang sibuk begadang ditemani oleh beberapa tumpuk berkas dihadapannya. Lucian yang menemaninya begadang hanya bisa menguap berkali kali tanpa berani untuk beranjak dari tempat duduknya.
"Hoamm"
"Kau boleh pergi Lucian"
"Baik! Saya mohon Anda juga segera beristirahat karena besok adalah pertemuan penting untuk Anda dan juga tuan besar"
"Baiklah baiklah kau bawel sekali"
Lucian membungkukkan badannya memberi hormat lalu meninggalkan Bryan yang masih sibuk dengan berkas miliknya. Bryan menatap jam tangan yang selalu setia bertengger di lengan kirinya, ia bangkit dari kursi kebesarannya dan melangkahkan kaki menuju ruang rahasia miliknya.
Diatas kasur yang dipenuhi oleh foto foto Ivanna yang berserakan terdapat selembar map coklat yang sejak tadi diberikan oleh Lucian, namun ia lupa membukanya. Ia merobek map itu dan ia mendapatkan lagi berbagai macam foto Ivanna yang didapatkan hari ini oleh rekan kerjanya.
"Hahahahaha bagus, bagus sekali"
"Bahkan di foto ini aku bisa melihat dengan jelas seperti apa body adik yang kucintai ini"
"Lain kali aku akan menghukumnya karna berani memakai pakaian seperti ini untuk melayani orang lain!"
Bryan menciumi foto itu sambil mengeluarkan senyum smirknya.
"Semakin lama aku semakin tak sabar untuk segera memilikimu Ivanna, mi amore!"