
Pagi itu seluruh anggota BLACKWINGS berkumpul dalam satu meja bundar besar dalam satu ruang aula gedung. Kasak kusuk terdengar sebelum akhirnya berhenti karena kedatangan taun besar Louise Benvolio yang diikuti oleh para ajudannya yang berpakaian serba hitam, dan tak lupa sebuah pin bergambar sebelah sayap berwarna hitam dengan garis tepi berwarna emas. Pin itu hanya digunakan saat rapat pada saat ini, karna pin itu memang hanya bertujuan sebagai simbol dan identitas bagi seluruh anggota BLACKWINGS.
Kedatangan tuan besar sebagai ketua clan membuat banyak pertanyaan bagi seluruh anggotanya, bagaimana tidak? BLACKWINGS adalah clan mafia terbesar yang bahkan anggota sekaligus pemimpinya tak diketahui identitasnya kecuali oleh orang dalam. Dan sekarang setelah beberapa dekade mereka melakukan tugasnya secara senyap mereka dikumpulkan kembali dalam satu ruangan.
"Tanpa basa basi saya ingin mengatakan bahwa ketua BLACKWINGS akan jatuh pada tangan putra pertamaku"
Pintu besar itu terbuka, menampilkan Bryan dalam balutan jas hitam mewahnya serta aksesoris mahal yang selalu melekat pada tubuhnya. Bryan menduduki kursi kebesaran yang semula milik Papanya.
Suara bisikan terdengar riuh, seolah mereka hendak melayangkan protes pada ketua mereka. Salah satu dari mereka mengangkat tangannya dan membuat suasana hening seketika.
"Bagaimana bisa tuan bryan yang diangkat menjadi ketua? Apakah keputusan Anda yak-“
"Stop! Biarkan ini menjadi urusanku dan Bryan. Masalah dengan clan lawan kalian selesaikan bersama. Untuk saat ini keputusanku sudah bulat" ucap tuan besar Louise meninggalkan ruangan tersebut. Bryan mengangkat kedua bahunya tak tahu.
"Jadi ada masalah? Silahkan berdiskusi soal apa tadi. Ahh clan lawan?" Bryan mengetuk ketuk meja dengan jari jarinya, mencoba mencairkan suasana yang canggung. Ia akan membuktikan kepada seluruh anggota bahwa ia juga pantas duduk di kursi kebesaran itu. Ia mencoba membaca lampiran kertas yang diulurkan padanya oleh Lucian.
"Oregon ya?"
"Mereka mengagalkan beberapa selundupan narkoba kita di perbatasan dan jalur laut di Amerika" Bryan mengangguk. Mereka semua tampak kalut, mereka berpikir Bryan adalah anak kecil yang sedang bermain mafia mafianan. Tanpa mereka duga bahwa Bryan memiliki potensi yang besar bagi clan mereka.
"Untuk bagian perbatasan biarkan aku yang menyelesaikannya, sementara untuk jalur laut hancurkan pelabuhan itu sampai habis tak tersisa. dan Damian?" Seorang pria setengah baya yang ditaksir usianya kurang lebih seumuran dengan papa nya. Dia adalah tangan kanan papanya yang dirahasiakan oleh tuan besar Louise, Damian Moronne.
"Masuk kedalam ruanganku segera. Aku ingin membahas sesuatu denganmu." senyum smirk andalanya selalu membuat beberapa orang begidik ngeri. Ya, Bryan lebih kejam dan sadis daripada papa nya. Beberapa orang tampak gugup dan menautkan kedua tangan mereka. Bryan sangat peka, itu berarti sesuatu telah terjadi dibelakang papanya tanpa diketahu olehnya.
Di dalam ruangannya Bryan beserta tuan Damian sedang berdiskusi ditemani oleh Lucian.
"Jadi kau tahu siapa mereka?"
"Belum bisa dipastikan tuan, mereka sangat licik!" Bryan mengangguk. Penghianatan bertahun tahun dan sampai sekarang belum diketahui oleh papanya berarti lawan mereka adalah orang yang licik.
"Belum bisa dipastikan tuan, mereka sangat licik!" Bryan mengangguk. Penghianatan bertahun tahun dan sampai sekarang belum diketahui oleh papanya berarti lawan mereka adalah orang yang licik. Bryan menghisap cerutunya dan menghembuskannya dalam dalam.
"Lalu tuan, bagaimana dengan pelabuhan itu?"
"Kau harus memasang umpan untuk menangkap ikan, Damian. Semakin lezat umpannya semakin banyak ikannya!"
"Pastikan mereka memakan umpannya. Aku akan membicarakan tentang menghancurkan pelabuhan itu dalam 10 hari kedepan tepat saat kita melakukan penyelundupan pada tanggal tersebut. Tentu saja mereka akan memberitahukan berita ini kepada mereka. Namun sebelum mereka mencuri barang barang kita, aku akan menghancurkan area tersebut lebih dulu. Ganti persediaan dengan barang barang tiruan, pastikan mereka tidak menyadarinya" tuan Damian mengangguk, rupanya Bryan benar bisa diandalkan.
Jauh sebelum Louise mengundurkan diri memang dia melihat potensi tak biasa dari putra pertamanya ini. Dia lebih unggul dalam melakukan pekerjaannya, dan juga mampu memimpin dengan sangat baik daripada anak keduanya. Ia merasa bahwa BLACKWINGS akan lebih bagus dipimpin oleh anak seperti Bryan.
"Baiklah silahkan keluar. Satu lagi, diam. Jangan jawab apapun yang mereka tanyakan. Aku akan langung memberikan arahan untuk mereka!"
"Baik tuan muda" Tuan Damian meninggalkan mereka berdua, Bryan akhirnya bisa bernafas lega.
"Haaaahhh!! Sangat mengerikan satu ruangan dengan tangan kanan mafia"
"Tuan Damian adalah orang yang benar benar dipercaya oleh tuan besar"
"Aku tahu Lu, diamlah.
Hancurkan berkas berkas dari mereka saat ini” Bryan memakai kembali jasnya dan memasuki ruangan meeting kembali.
Ivanna beserta adik adiknya sedang melakukan piknik di lapangan belakang. Beberapa dari mereka ada yang kejar kejaran, melakukan permainan atau melukis seperti yang sedang dilakukan oleh Ivanna dan beberapa anak perempuan lainnya.
"Kak anna lihat aku menggambar kupu-kupu!" "Aku bisa menggambar ikan kak
"Aku menggambar donat"
"anna!!"
Mereka semua tampak sangat bersemangat dalam melakukan kegiatan mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, beberapa dari mereka sedang melepas lelahnya dengan berbaring dikarpet yang berada dibawah pohon trembesi yang tumbuh tinggi.
"Anak anak ayo! Makan siang sudah siap!" Bunda Cecil meneriaki anak anak dan mengajak mereka makan siang, tak ayal beberapa dari mereka terlojak kegirangan.
Ivanna yang mendengar itu langsung menghentikan acara melukisnya dan mengajak adik adiknya yang lain untuk segera menyusul makan siang.
"Sudah yuk kita makan dulu” Ivanna mengajak adik adiknya membereskan kembali alat lukisnya, mengajak ke sumur terdekat untuk membersihkan tangan mereka dari bekas cat yang mengering. Setelah itu mereka masuk kedalam rumah dan duduk di kursi meja makan panjang.
Anak laki laki memimpin doa makan dan mereka mulai memakan makan siang mereka. Siang ini lauk mereka adalah sayur kuah asem dengan tempe dan tahu goreng. Mereka makan dengan sangat lahap.
Setelah selesai makan siang, seperti biasa anak anak akan tidur siang sementara Ivanna dan beberapa biarawati lainya membersihkan area dapur. Ivanna yang sedang mencuci piring dan gelas didatangi oleh Vania.
"Kak" ucap Vania sambil menarik ujung dress Ivanna, ia menunduk menyaksikan adik kecilnya itu.
"Ya nia?"
"Kakak mau bacain aku cerita lagi?" Ivanna terkekeh. Adik kecilnya sangat senang mendengarkan cerita tentang princess dan pangeran. Ivanna mengeringkan tangannya dengan kain serbet lalu menyusul Vania yang sudah merebahkan diri terlebih dahulu di kasurnya.
"Nah adik kakak hari ini mau mendengarkan cerita apa?" Ivanna merebahkan dirinya disamping Nia, menyelimuti adiknya lalu menyurai rambut panjang sepundak milik Nia dengan jarinya.
"Hmmm cerita tentang princess yang gagal mendapatkan pangeran dong kak"
"Baiklah kakak mulai ya?"
"Jadi suatu hari ...." Ivanna bercerita dengan menepuk pelan adiknya supaya lekas tertidur. Nia dengan mata yang masih belum mengantuk ikut mengangguk dan menggeleng ketika kakaknya membacakan cerita untuknya, tak jarang ia ikut tertawa karna adegan lucu yang terdapat di cerita itu.
Setelah setengah jam kemudian, Nia berhasil tidur. Ivanna bergegas bersiap menuju tempat kerjanya karna hari ia akan akan bekerja pada shift siang.
Bryan dan Lucian berjalan beriringan masuk kedalam sebuah jet pribadi miliknya, Bryan mendudukan diri disebuah kursi kulit dan membaca beberapa laporan yang diperlukan untuk kedepannya.
"Bagaimana Ben? Apakah dia mengalami kesulitan?"
"Untuk saat ini sepertinya tidak tuan. Tuan Ben menjalankan pekerjaannya cukup baik. Mungkin kedepannya ia harus diberi sedikit pengarahan karna ada sedikit masalah dengan produksi senjata apinya!"
"Baiklah biarkan aku yang membantu mengawasinya. Pastikan kali ini rencananya berjalan lancar!"
"Siap tuan" Lucian mengundurkan diri dan duduk disamping pilotnya. Bryan meraba saku jas nya dan mengambil sebuah cincin yang mirip dengan milik Ivanna.
"Tunggu sebentar lagi. Aku akan membawamu masuk ke duniaku dan menguasai dunia bersama. Aku akan mengikatmu hingga kau tak bisa pergi dariku Ivanna" ucap Bryan menunjukkan senyum smirknya.