Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 29



Bryan masuk kembali kedalam panti asuhan. Ia melewati Maria yang tengah berdiri mematung menghalangi jalannya. Maria tampak kecewa karna Bryan melewatinya begitu saja.


"Ck! Apa bagusnya Ivanna?" Ucap Maria sambil pergi meninggalkan panti asuhan itu.


Sementara di mansion, Yoanna sedang mengunjungi taman yang berada di belakang mansion yang dekat dengan kolam renang. Ivanna yang sedang berjalan menuju paviliun menatap wanita yang tengah duduk di sebuah bangku taman. Yoanna melirik Ivanna, lalu memanggilnya untuk menemani waktu minum teh di sore hari.


"Silahkan nyonya, ini tehnya!" Ivanna menaruh secangir teh chamomile di meja depan Yoanna, wanita itu tersenyum lalu menepuk ruang kosong di sampingnya.


"Duduklah." Ivanna menggeleng, sangat tak sopan bila ia duduk bersanding dengan majikannya.


"Tak mengapa, duduklah."


Ivanna memilih mengikuti ucapan wanita itu, ia saling menggengam kedua tangannya erat.


"Kau terlihat sangat muda, berapa usiamu?” Ucap Yoanna memulai percakapan, ia tahu bahwa saat ini Ivanna merasa canggung dan tak nyaman berada di dekatnya.


"Umur saya 20 tahun, ah ia bulan depan saya sudah berusia 21 tahun." Yoanna mengedipkan kedua matanya berulang kali, sangat muda sekali gadis yang ditaksir Bryan.


"Benarkah? Lalu apa yang membuatmu bekerja di sini?"


"Saya butuh biaya untuk mempertahankan rumah kami."


"Kami?" Tanya Yoanna sambil meletakkan cangkir tehnya, sepertinya ia cukup tertarik dengan cerita Ivanna.


"Ya, seseorang datang dan mengakui tanah yang kita tinggali sebagai miliknya. Saya tinggal di panti asuhan di kota H. Mereka meminta uang sebesar 2,5 milliar. Dan saat aku mencari pekerjaan kesana dan kemari, saya menemukan sebuah pekerjaan di mansion ini. Tuan memberikan gaji yang besar sehingga saya memilih bekerja disini." Yoanna menatap Ivanna iba. Betapa besarnya beban yang dipikul pundak kecil Ivanna, sehingga gadis 16 Tahun ini harus bekerja demi mempertahankan apa yang seharusnya jadi miliknya. Yoanna memegang tangan Ivanna, bahkan tangan gadis itu begitu kasar dan penuh luka.


"Kau gadis yang baik, siapa namamu?"


"Nama saya Ivanna, nyonya!"


"Nama yang cantik, seperti pemiliknya. Kalau boleh tahu, dimana panti asuhanmu?”


"Panti asuhan kasih bunda, nyonya."


Deg!


Jantung Yoanna berdetak kencang. Panti asuhan itu adalah tempat dimana ia pertama kali bertemu dan mengadopsi Bryan. Bryan tak mungkin tidak mengetahui hal sebesar ini kan? Tak mungkin Bryan membiarkan panti asuhan tempatnya tumbuh untuk berjuang sendirian. Apa yang sebenarnya terjadi?


Tak lama kemudian datanglah Lucian memanggil Ivanna, setelah itu Ivanna berpamitan kepada Yoanna. Yoanna memanggil seseorang dari ponselnya.


"Camila, bisakah kau membantuku?"


"Kirimkan seseorang untuk datang ke Panti Asuhan Kasih Bunda dan memberikan uang santunan sebesar 3 milliar besok? Satu lagi, jangan cantumkan namaku. Gunakan nama acak!"


"Baik, terima kasih!"


Yoanna mematikan panggilannya, semoga saja hal ini bisa sedikit meringankan beban berat Ivanna.


Bryan turun dari mobilnya, ia melirik jam di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Ia berjalan hingga sampai di ruang makan, di sana nyonya Yoanna sedang duduk di kursi menanti makan malam bersama putra tercintanya.


"Hey boy, how's your day?" Bryan menarik kursinya, dan duduk dengan begitu tenang.


"Good!"


"Jadi, apa yang kau lakukan seharian ini?" Ucap Yoanna sambil menopang wajahnya dengan kedua tangannya di meja makan, Bryan melirik mama nya sekilas.


"Hanya bermain-main sebentar, aku sangat bosan karna tak melakukan pekerjaanku yang sebenarnya." Yoanna memutar bola matanya malas. Makan malam diantar oleh beberapa maid menggunakan troly. Bryan dan Yoanna tengah menikmati makan malam mereka, spagheti aglio olio. Mereka makan malam dengan damai. Sesekali, terdengar suara garpu dan piring yang saling bergesek.


"Kamu tak pergi ke panti asuhan sayang?" Bryan tersedak mendengar pertanyaan dari Mamanya. Dengan cepat Yoanna menyodorkan segelas air putih kepada Bryan.


"Ada apa denganmu?


"Bryan tak kenapa – napa ma, apa yang tadi mama lakukan di rumah seharian?" Bryan mengalihkan pembicaraan mereka. Lalu Yoanna menceritakan dengan jelas apa yang ia lakukan seharian ini, kecuali menceritakan tentang inti percakapannya dengan Ivanna. Ia merasa harus menyelidiki Bryan dan Ivanna kedepannya.


"Sayang sekali tuan Lucian tak mengizinkan para maid untuk memakai ponsel mereka. Apa kabar ya dengan Bunda? Aku merindukan mereka dan juga adik-adik." Gumam Ivanna, ia melirik sebuah foto diatas nakasnya. Ia bangun dan memilih untuk duduk di tepi ranjang. Mengambil bingkai foto dan mengelus foto itu. Sebuah foto keluarga Ivanna beserta para biarawati dan adik-adiknya tengah tersenyum lepas di foto tersebut. Ivanna mencium foto itu dan menaruh kembali fotonya pada nakas.


"Ya Tuhan, lindungilah mereka yang aku sayangi untuk malam ini dan seterusnya. Aamiin" sebelum akhirnya pergi ke alam mimpinya. ucap Ivanna


Pagi itu sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di denan nagar panti asuhan dua orang wanita dan pria yang memakai pakaian rapi turun dari mobil itu dan berjalan memasuki gerbang depan. Anak-anak yang sedang bermain di halaman depan berlari memanggil bunda mereka.


"Bunda, bundaa! Ada orang dengan mobil yang bagus datang kemari!”


Grace yang sedang mencuci piring menghentikan kegiatannya, ia mengelap tangan basahnya pada kain lap yang menempel di tembok samping tempat cuci piring. Ia bergegas pergi ke pintu utama.


Pasangan yang hendak mengetuk pintu itu terkejut melihat kedatangan Grace.


"Permisi!" Ucap mereka bersama-sama.


"Mari silahkan masuk" Grace mempersilahkan pasangan itu untuk duduk di kursi ruang tamu, tak lama kemudian datanglah Celine membawakan minuman untuk tamu mereka.


"Silahkan diminum" ucap Celine yang dibalas anggukan ramah dari mereka. Celine berdiri di samping Grace membawa sebuah nampannya.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan dan nyonya?" Grace memulai pembicarannya. Pria itu tampak membawa 2 buah koper besar dan sebuah map coklat yang entah apa itu isinya. Wanita itu menyerahkan map itu pada Grace.


"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Emily Rose dan ini suami saya Edward Watson. Kami secara pribadi ingin memberikan sedikit bantuan kepada panti asuhan ini. Untuk isi mapnya tolong Anda baca dengan seksama."


Grace membuka map itu, Celine yang berdiri di sampingnya ikut membaca surat didalamnya. Bantuan tunai untuk yayasan Panti Asuhan Kasih Bunda sebesar 3 Milliar. Grace dan Celine tampak syok ketika membaca nominal uang yang tertera pada surat tersebut.


"Astaga, benarkah ini tuan dan nyonya?” Pasangan Watson itu mengangguk, uang itu terlalu banyak bila harus disumbangkan kepada panti asuhan. Pasti mereka berdua bukan keluarga biasa.


"Semoga apa yang kami sampaikan kali ini bermanfaat untuk kelangsungan panti asuhan ini, kalau begitu kami permisi!" Pasangan itu berpamitan kepada Grace dan Celine. Mereka kembali menaiki mobil hitam itu. Celine dan Grace saling berpandangan, lalu pandangan mereka tertuju pada dua koper yang ditinggalkan oleh pasangan itu. Mereka membuka keduankoper tersebut.


"G-grace!! Ini benar-benar uang yang banyak sekali!" Tukas Celine, Grace mengangguk.


"Bagimana kalau kita bayarkan uang ini kepada pemilik tanah? Kasihan Ivanna bila harus berjuang sendiri untuk mempertahankan panti asuhan ini.” Suara lembut Irene membuat Grace dan Celine menoleh bersama – sama Mereka mengangguk setuju.


"Memang seharusnya uang ini kita gunakan untuk membayarnya. Akhirnya Ivanna anak kita, kini ia tak perlu lagi bersusah payah bekerja untuk panti asuhan ini." Grace berjalan menuju telepon kabel di ruang tengah, sebelumnya ia menyuruh Celine dan Irene untuk segera menyimpan koper dan uang tersebut di tempat yang aman. Grace hendak menelepon si pemilik tanah sebelumnya,


Sebuah panggilan masuk di ponsel Lucian, pada layar depannya tertulis nama Biarawati Grace. Lucian melirik Bryan yang sedang fokus pada layar komputernya.


"Halo?"


"H-halo tuan, saya hendak memberitahukan bahwa kami hendak membayarkan tanah itu."


Deg!


Ucapan Grace dari balik ponsel Lucian membuat pria itu terkejut, Lucian bahkan tak menjawab ucapan berulang dari Grace pada panggilan yang masih tersambung itu.


"Halo tuan?" Ucap kembali Grace untuk yang kesekian kalinya.


"Ya saya masih disini, biarkan kami mengurus hal itu nanti. Selamat pagi!" Lucian memutus panggilan itu, ia melirik Bryan yang kini menatapnya dengan satu alis terangkat.


"Ada masalah Lu?"


Lucian menelan ludahnya, terpaksa ia memberitahukan hal ini segera kepada tuannya itu.


"Biarawati Grace, ia hendak membayarkan uang tanah. Sepertinya mereka sudah memiliki uang 2,5 Miliar itu-"


Brak!!!


Bryan berdiri menggebrak meja dengan mata yang memerah dan nafasnya yang naik turun. Bryan tampak seperti dynamite yang hendak meledak.


"Siapa yang membantu mereka? ****! Gagal sudah semua rencanaku! ****!"