Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 45



Sudah dua hari ini Ivanna menemani Bryan yang masih juga belum sadarkan diri, memastikan cairan infusnya tak terlambat atau bahkan membantu mengganti perban. Ia menatap miris kepada bagian perut Bryan yang sudah di jahit itu. Ia ingat bagaimana lebarnya luka bekas tusukan itu dan betapa banyaknya darah yang menempel pada pakaian Bryan. Ivanna sedang mengganti perban di pipi Bryan. Ia menatap yang semula halus kini meninggalkan bekas goresan yang sangat panjang.


"Bangunlah Bry, kau tahu sudah berapa lama kau tidur? Semua khawatir padamu." Bisik Ivanna lirih pada Bryan. Tak lama kemudian Ivanna menatap jam yang berada di nakas itu. Jam 9 pagi dan ia sama sekali belum menyentuh sarapan. Ivanna bangkit dan keluar dari kamar Bryan dan pergi menuju lantai satu.


"Anna?" ucap Irish saat melihat Ivanna masuk kedalam dapur, Ivanna tersenyum tipis.


"Aku membuatkan sarapan untukmu. Makanlah."


"Tentu Irish, terima kasih." Balas Ivanna, Ivanna duduk dengan tenang menikmati makan siangnya, mula-mula tak ada yang aneh dengan sarapannya hingga tiba-tiba Ivanna berlari menuju kamar mandi dan mengeluarkan semua makanannya.


"ugh hoekk!"


Irish menaruh begitu saja peralatan yang akan di cuci ketika mendengar Ivanna berlari dan pergi mendekati Ivanna yang sedang duduk bersimpuh di depan toilet duduk.


"Hei kau tak apa Anna?" Ivanna menekan flush dan mengusap mulutnya dengan lengan. Ia menggeleng.


"Aku gak papa Irish. Mungkin karna beberapa hari ini telat makan asam lambungku kambuh." Ivanna menoleh kepada Irish,


"Oh my gosh Anna kau tampak pucat, kau mau aku buatkan bubur untuk sarapan?" Ivanna menggeleng dengan cepat,


"Jangan bubur, boleh aku minta oatmeal susu dengan potongan pisang? Entah mengapa aku ingin makan-makanan manis kali ini." Irish mengangguk, lalu menyimpan piring bekas makan Ivanna yang hanya tersentuh sesendok dan menggantinya dengan semangkuk oatmeal dan pisang. Tak lupa Ivanna berterima kasih dan mulai memakan - makannya.


Setelah selesai makan Ivanna beranjak dari meja makan, Irish mendekati Ivanna dan menyentuh wajahnya dengan kedua tangannya.


"Are you okay Anna? Kau harus menjaga kesehatanmu. Sudah ada Lucian yang bisa bergantian denganmu, jangan terlalu memaksakan dirimu. Istirahatlah dan aku akan memanggilkan dokter untukmu."


"Tak perlu Irish, aku hanya perlu minum air hangat saja. Tak apa-apa, dan terima kasih atas perhatianmu.” Irish tersenyum mendengar penuturan Ivanna.


Akhirnya Ivanna kembali menaiki lift dan pergi menuju kamar Bryan.


Setelah menutup pituntu Ivanna tak langsung mendekati Bryan, ia berlari menuju kamar mandi lagi ketika merasakan perutnya seperti di aduk – aduk.


"Ughh huekk, ahhh apa yang terjadi denganku?” suara Ivanna dari dalam kamar mandi membuat Bryan seketika terbangun dan menyusul Ivanna.


Sebenarnya sejak satu hari Ivanna menemaninya ia sudah terbangun, ia masih ingin melihat kesungguhan Ivanna dan meyakini bahwa Ivanna mencintainya. Bryan berdiri di belakang Ivanna ketika gadis itu sedang menunduk bertumpu pada wastafel dengan kedua tangannya. Ivanna yang merasakan leher belakangnya di pijat pelan oleh seseorang langsung mendongak dan mendapati pantulan Bryan yang sedang memperhatikannya sambil memijat pelan tengkuknya.


"B-bryan? Kau sudah bangun?"


"Tentu saja, apa yang terjadi denganmu?” Ivanna menghidupkan keran air dan membasuh mulutnya, tak lupa ia mengusap bibirnya dengan lengannya.


"Mungkin asam lambungku naik, ugh kau pakai parfum apa? Kau bau! Pergilah kau membuatku mual! Hoekkkk!" Ivanna kembali mengeluarkan isi perutnya, Bryan yang notabene memiliki harga diri tinggi sedikit tersinggung dengan ucapan Ivanna,


“Apa maksudmu? Begitu aku bangun dan ucapan yang ku terima adalah kau mengataiku bau! Kau tahu berapa harga parfumku huh?" Bryan tetap memijat tengkuk Ivanna, dari pantulan kaca di depan Ivanna, Bryan tampak melihat betapa kacaunya Ivanna saat ini. Ia mengambil ponselnya di saku celana dan menyuruh Lucian untuk memanggil Chester.


Setengah jam berlalu, saat pintu dibuka memperlihatkan Lucian dan juga Chester yang menenteng tas kerjanya. Mereka berjalan mendekati Bryan yang tampak duduk di kursi malas dan Ivanna yang berada di atas ranjang.


"Astaga Bryan, bukankah kau terlalu buas untuk ukuran seseorang yang baru saja hampir mati?” sarkas Chester, Bryan menatap tajam kearah Chester.


"Diamlah, sekarang periksa Ivanna!" Bryan memijat keningnya, Chester mendekati Ivanna.


"Astaga! Apa yang terjadi denganmu hingga kau begitu pucat? Bryan dasar binatang itu!"


"Aku pikir, asam lambungku naik. Karna sejak beberapa hari lalu aku mual setiap waktu sarapan." Chester terkejut, tapi kemudian senyumnya mengembang. Ia melirik kepada keduanya.


"Ahhhh begitu!" ucapnya tersenyum. Chester memainkan ponselnya, menyuruh seseorang untuk pergi ke apotik.


"Jadi Ivanna, kapan terakhir kau datang bulan?"


Deg!


Ivanna terkejut, bagaimana bisa ia melupakan itu. Ia melirik kearah perutnya yang datar, lalu melirik Bryan yang tampak sibuk berbincang dengan Lucian. Ia menatap kearah Chester.


"J-jadi maksutmu?"


Ting!


Percakapan mereka terhenti ketika seseorang mengirim pesan kepada Chester, ia membuka pintu kamar Bryan dan mengambil barang tersebut dari lantai satu. Ivanna mengigit bibir bawahnya lalu mengusap perutnya.


'A-aku hamil?' batin Ivanna,


Tak lama kemudian datanglah Chester membawa sesuatu dengan sebuah plastik hitam. Ia mendekati Ivanna, dan berbisik lirih di dekat wajah Ivanna.


"Sekarang coba tampung air senimu kedalam cup ini. Dan celupkan ujung testpack ini kedalam air senimu, okay?" Ivanna menelan ludahnya, ia melirik kearah Bryan dan mendapati kini pria itu menatap tajam kearahnya. Ivanna mengambil cup dan testpack itu dan berlari kedalam kamar mandi.


"Apa yang kau bisikan kepadanya?" Chester mengangkat kedua bahunya,


"Sepertinya nanti kau harus melihatnya sendiri, DADDY!" Bryan mengerutkan alisnya,


"Apa maksudmu huh?"


"Pergilah, dan susul Ivanna di kamar mandi." Bryan berjalan menuju pintu kamar mandi, ia sontak berlari membuka pintu kamar mandinya ketika mendengar pekikan Ivanna dari dalam.


"Ada apa?" Bryan terkejut mendapati Ivanna berdiri di depan cermin sambil memegang sesuatu dengan tangan gemetaran. Ivanna menangis.


"A-aku, ak-u!"


-Flashback beberapa menit yang lalu-


Ceklek.


Ivanna menutup pintu kamar mandi, ia bersandar pada pintu itu sambil menatap kedua benda di tangannya.


"A-aku takut, setelah itu apa yang harus kulakukan jika dia benar-benar ada disini?"


Ivanna berjalan mendekati toilet, ia menampung air seninya kedalam cup itu. Tangannya gemetar ketika berusaha mencelupkan ujung testpack itu di dalam cupnya. Ivanna bergerak mundur ketika ia melihat air seni itu merangkak naik menuju atas testpacknya. Ivanna menutup kedua matanya, mengepalkan kedua tangannya di dekat wajahnya dan berdoa,


"Tuhan, aku mohon! Apapun itu hasilnya, aku mengharapkan yang terbaik dariMu."


Selesai berdoa Ivanna meneguk ludahnya sambil mengulurkan tangannya mengambil testpack itu, ia memutar testpack itu kehadapannya.


Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika menatap hasilnya, dua garis merah yang salah satunya sedikit samar.


"T-tidak!" Ivanna berteriak, ia menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.


Brak! Bryan membuka pintu kamar mandi dengan kasar, lalu bergerak mendekati Ivanna.


-Flashback off-


"**** Ivanna katakan sesuatu! jangan membuatku takut!" Bryan panik dan mengoyang- goyangkan bahu Ivanna, ia menatap sesuatu yang berada di tangan Ivanna. Matanya ikut melotot ketika menatap itu.


"K-Kau hamil Ivanna? Kau benar-benar hamil?


"K-Kau hamil Ivanna? Kau benar-benar hamil? Oh **** akhirnya!" Bryan mencium Ivanna, lalu memeluknya erat - erat sambil mengusap kepala Ivanna. Gadis itu menangis dipelukan Bryan,


"Shhhh tenanglah, aku akan bertanggung jawab Anna." Bisik Bryan lirih, ia menangkup kedua wajah Ivanna yang sembab dengan hidung yang memerah. Bryan mengusap bawah mata Ivanna.


Ivanna sedikit tertengun menatap wajah Bryan, ada yang tak biasa ketika Bryan mendengar kabar bahwa la hamil. Bukan tatapan wajah bengis dan menyebalkan yang selalu Ivanna lihat, namun tatapan polos seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. Bryan begitu tampan dengan senyum yang begitu mengembang.


"Bry, aku tak akan menikah denganmu. Aku membencimu."


Bryan tersenyum mendengar ucapan Ivanna, ia menyisihkan beberapa anak rambut Ivanna yang menutupi sebagian wajah gadis itu.


"I Love you too amore, I love you more more too!" bisik Bryan sambil menatap lembut Ivanna.