
Bryan dan Ivanna sedang berendam setelah selesai percintaan mereka. Aroma mawar dan juga ruang kamar mandi yang hangat membuat mereka berdua betah berlama-lama berendam.
"Aku capek Bry, sudah dulu ya?" Rengek Ivana ketika Bryan mengecup dan meninggalkan jejak kemerahan di area leher dan tengkuknya. Tak hanya itu, bahkan tangannya pun menolak untuk diam sejenak.
"Hmm I know. Aku hanya ingin menciumimu.“
Ucap Bryan pelan. Ivanna mendesah pelan dan menyandarkan kepalanya di dada Bryan. Ivanna memainkan busa yang terapung di permukaan air hangat itu sambil merasakan lembutnya busa sabun di lengannya.
"Bry?"
"Yes sweetheart."
"Apa kau mencintaiku?" tanya Ivanna yang membuat Bryan menghentikan kegiatan menyabunnya. la menatap Ivanna yang berada di dadanya dengan intens.
"Apa kau meragukanku?" Ivanna menggeleng, ia menutup matanya ketika Bryan mencoba menyisihkan beberapa anak rambut di wajahnya.
“Aku mencintaimu, aku mencintaimu hingga nyaris la jika kau meninggalkanku. Aku akan melakukan apapun agar bisa memilikimu." Bryan mencium kening Ivanna, chumannya berubah intens saat Bryan menatap bibir penuhnya. Ia meraup bibir itu, mengigitnya kecil untuk membuka akses masuk untuk lidahnya. Ia melepas ciumannya ketika Ivanna memukul lengannya pelan.
"Bisakah kita melakukannya lagi? Aku akan melakukannya pelan-pelan." Ucap Bryan, Ivanna mengangguk. Bryan mengusap pelan perut Ivanna.
"Aku akan melakukkannya pelan agar tak menyakiti mereka." Bisik Bryan di dekat telinga
Ivanna Bryan benar-benar melakukannya dengan
pelan, memberikan stimulasi kepada Ivanna agar miliknya benar-benar siap. Bryan tersenyum ketika melihat wajah Ivanna tampak memerah karna berhasil mencapai puncaknya. Ia mencium keningIvanna dan berusaha memasukkan miliknya dengan pelan.
"Shhhhh."
"It's okay baby girl, don't hold back your moan." Ucap Bryan hirih, Bryan menatap Ivanna intens sambil mengigit bibirnya. Sementara Ivanna memilih untuk menutup kedua matanya dengan lengannya.
********
"****!" umpat Bryan ketika ia merasakan miliknya hampir meledak Bryan mencabut miliknya dan mengeluarkannya di luar tubuh Ivanna. Ia membersihkan miliknya sambil melirik Ivanna yang merebahkan tubuhnya di dalam bathub.
Sementata Ivanna selesai membersihkan tubuhnya ia berdiri memakai bathrobenya. Sesekali iamendesis pelan ketika berjalan.
"Hey kau baik-baik saja amore?" ucap Bryan memeluk tubuh Ivanna, ia menciumi kembali tengkukbIvanna yang kini semakin penuh akan jejaknya Ivanna melirik sambil tangannya sibuk mengeringkan rambut.
"Aku baik-baik saja, kemarilah. Aku akan mengeringkan rambutmu Ivanna menepuk pahanya. Bryan mengulum senyumnya dan berjongkok di depan Ivanna yang sedang duduk di kursi rias. Bryan mengelus dan mengecup perut Ivana yang semakin hari tampak semakin besar
"Apa kau sebegitu menyukai anak-anak tanya Ivanna memecah keheningan, Bryan tersenyum
sambil menatapnya.
"Ya, aku menyukai anak-anak sejak bunda Grace menemukan seorang bayi perempuan di depan panti asuhan Setelah padre dan madre mengadopsiku aku memiliki keinginan untuk membangun keluargaku sendiri. Jujur saja aku sempat sedih ketika mendengarmu mengatakan kan akan mengugurkannya ketika kau hamil anak kita." Ivanna mematikan hair dryernya. La menunchik menatap Bryan.
"Maafkan aku atas ucapanku waktu itu. A-aku tidak bermaksud untuk ber" Bryan menempelkan jari telunjuknya di bibir Ivanna. Ia menggenggam tangan Ivanna.
"Aku memaafkanmu amore. Aku tahu apa yang kan katakan saat itu karna kau membenciku. Tak apa. aku masih memungganu untuk menerimaku Bryan mencium punggung tangan Ivanna.
"Aku benar-benar mencintaimu amore. Kalau kau masih bertanya seberapa banyaknya cintaku kau pasti akan muak karna aku akan selalu mengatakan aku mencintaimu setiap detik untuk beberapa milliar tahun yang akan datang." Ivanna tersenyum haru.
"Aku juga mencintaimu Bry Ucap Ivanna lirih, namun Beyan masih dapat mendengarnya.
"Bisakah kan mengatakannya sekali lagi amore?"
"AKU MENCINTAIMU BRY™ Bryan berdiri dan
memeluknya. Ivanna sendiri bahkan dapat mendengarkan deru nafas lega Bryan dari telinganya.
"Aku lebih mencintaimu Ivanna"
********
Drtt drtt.
Bryan mengerjakan pelan pandangannya Bryan meraih ponselnya yang berada di nakas kanan ranjangnya. Matanya menatap deretan nomor asingbpada layar ponselnya, la melirik Ivanna yang kini sedang tidur memeluk tubuhnya dan mengunakan tangan kirinya menjadi bantal Bryan mengangkat kepala Ivanna dan bergegas menuju balkon untuk menerima panggilan itu.
Bryan menekan tombol hijau itu dan memasang
earbuds pada telinganya
"Selamat menikah buan Bryan Benvolio," ucap seseorang dari panggilan tersebut, Bryan mengenyitkan dahinya. Namun sedetik kemudian ia tersenyum smirk.
"Well well well, terima kasih atas ucapan yang mengharukan di pagi hari ini tuan Edmondo. Apakah Anda begitu tampak senggang hingga berani menghubungi pengantin baru ini?" Balas sarkas Bryan yang di balas kekehan dari penelpon itu. Bryan mengapit sebatang rokok dengan bibirnya, lalu merogoh sakunya untuk mengambil korek apinya.
"Tentu tidak Bryan, bukankah seharusnya kau senang karna mendapatkan ucapan selamat dariku. Kita hentikan dulu pertengkaran yang terjadi diantara kita Bukankah begitu?" Bryan tersenyum remeh mendengar ucapan Antonio. Sesekali ia meludah dari atas balkon kemudian kembali menghisap rokoknya.
"Kau harus menunggu kejutan dariku Bryan Aku
akan memberikan kejutan yang mungkin tak akan
pernah kamu hupakan seumur hidupmu." Bryan meremas ponselnya, tampak kini rahangnya mengeras. Tatapannya tajam bagaikan elang yang siap berburu mangsanya.
"Baiklah Aku menunggu kejutan itu." Bryan mematikan panggilan itu. Ia mengusap wajahnya.
"****! Aku akan membunuhom terlebih dahulu "
Gumam Bryan.
Ceklek.
Bryan menoleh, menampakkan Ivanna yang berdiri di depann pintu memegang ujung kemeja putih milik Bryan yang tampak kebesaran. Bryan menegak ludahnya, matanya memindai bagian depan tubuh Ivanna Semalam Ivanna tidur hanya memakai kemejanya tanpa menggunakan pakaian dalam Bryan dapat melihat dengan jelas puncak dari bagian dada yang kini tampak begitu montok karna efek kehamilan, dan juga perut yang sedikit menonjol. Rambutnya terurai begini apik hingga menampilkan sosok Ivanna yang benar-benar seksi.
"Hey amore, kau sudah bang rupanya." Bryan
“Apa yang kau lakukan di luar." ucap Ivanna. Bryan mengusapkan hidungnya yang mancung di tengkuk Ivanna.
“Hanya merokok. Aku takut membuatmu sesak
jadi aku memilih untuk melakukannya di luar. Kau ingin makan sesuatu sayangku?" Bryan memutar tubuh Ivanna, saling berhadapan hingga Bryan mampu melihat mata jernih Ivanna Bryan membelai pelan wajah istrinya itu.
"Aku ingin makan ice cream."
"Di pagi hari ini? Kau harus mengisi perutmu dengan sarapan dulu." Ivanna mengerucutkan bibirnya menerima penolakan dari Bryan. Bryan yang melihatnya pun terkekeh, tak lupa ia mencuri ciuman dari bibir Ivanna.
"Ishh belum mandi." Ivanna menutup bibirnya.
"Bagaimana kalan mandi bersama lagi hm Bisik
Bryan di dekat telinganya.
********
Ting!
Bryan dan Ivanna keluar dari lift bergandeng tangan. Rencananya kali ini Ivanna akan memasak makanan Indonesia untuk Bryan, akhirnya mereka memilih untuk pergi ke supermarket sekaligus check out dari hotel tersebut.
Click!
Bryan memasang sabuk pengamannya, ia melirik
Ivanna yang tampak duduk dengan tenang.
"Kita berangkat sekarang?" Ivanna mengangguk. Bryan mengemudikan mobilnya pelan. Tak lupa Bryan menghidupkan musik untuk menemani perjalanan mereka. Saat lagu dari Elvis Presley di putar, Bryan tampak ikut bersenandung sambil mengetuk - ketuk pelan roda kemudinya.
"Wise men say, only fool rush in. But I can't help falling in love with you." Gumam Bryan sambil menatap Ivanna. Tak lupa salah satu tangannya memegang tangan Ivanna. Wanita mana yang tak jatuh dalam pesona Bryan, bahkan disaat seperti ini ia menyanyikan lagu untuk wanitanya.
"Take my hand, take my whole life too."
"For I can't help falling in love with you." Bryan dan Ivanna mengucapkannya bersama-sama, kemudian mereka saling tersenyum satu sama lain. Tak lama kemudian mobil itu sampai disebuah parkiran supermarket. Bryan memakai topi dan juga maskernya, terkadang Ivanna terheran- heran. Siapakah sebenarnya Bryan? Mengapa dia terlihat begitu berhati-hati.
"Apakah kau harus memakai seperti itu setiap kehtar ke tempat ramai?" Ivanna menatap Bryan,
sementara Bryan menautkan kedua alisnya sambil memasangkan masker untuk Ivanna.
"Tentu saja, suamimu cukup terkenal di negaranya." Ucap Bryan menyombongkan diri, Ivanna terkekeh.
"Apa kau seorang artis?"
"Bisa jadi, ayo." Bryan keluar dari pintunya, ia memutari mobilnya dan membuka pintu Ivanna.
Selesai menutup pintu Bryan dan Ivanna saling berjalan berpegangan tangan, tampak beberapa orang menatap mereka ini. Ivanna menarik sebuah troli dan membawanya masuk kedalam.
"Aku ingin makan salad buah." Ucap Bryan, Ivanna berhenti dan menatap Bryan. Ia terkekeh.
"Kenapa selalu kau yang ingin sesuatu, padahal aku yang hamil!" Bryan tertawa mendengar penuturan Ivanna. Ada apa dengan istrinya ini.
"Apa kau cemburu?" Ivanna menulikan pendengarannya, Bryan mengigit bibirnya gemas dan mencium bibir Ivanna yang terhalang masker hingga gadis itu terkejut.
"Kita masih di luar." Bisik Ivanna sambil mencubit pinggang Bryan, Bryan terkekeh.
"Jalan yang benar amore, tetaplah di hadapanku."
Ucap Bryan pada Ivanna yang dibalas jari jempolnya. Bryan menoleh kebelakang memastikan instingnya. Saat ia merasa semuanya aman barulah Bryan ikut membantu mendorong troli dan berdiri di belakang tubuh Ivanna.
********
"Green! Semunya aman tuan." Bisik seorang pria dari balik ponselnya.
"Bagus, tetap awasi anak dan menantuku. Pastikan mereka tetap dalam pengawasanmu." Ucap Louise, ia pun mematikan ponselnya dan menaruhnya di meja kerja. Louse memutar kursinya malas.
Ceklek.
Yoanna dan seorang maid berjalan mendekati Louise, maid itu meletakkan secangkir kopi dan juga secangkir teh chamomille di atas meja kerja itu. Maid itu menunduk dan meninggalkan Louise beserta Yoanna.
"Apa yang membuatmu khawatir sayang? Ada apa dengan wajahmu itu?" Yoanna memeluk suaminya dari belakang, ia pun menciumi rambut
pria itu yang tampak memutih.
Louise memegang tangan Yoanna yang berada di atas bahunya sembari mengelus tangan lentik itu
pelan.
"Seseorang mengantar paket pagi ini, seorang maid membukanya dan terkejut ketika melihat isinya. Kau tahu apa isinya? Baju-baju bayi yang
berlumuran darah. Aku yakin Antonio yang berada dibalik ini semua." Louise mencium punggung tangan istrinya, kemudian ia menghembuskan nafas pelan meneruskan ucapannya.
"Mereka menargetkan Ivanna dan juga calon bayi
mereka."
"Apakah kita harus memberitahukan ini kepada Bryan?" Louise menggeleng, tampaknya memberitahu Bryan akan menimbulkan lebih banyak masalah di masa mendatang.
“Aku sedang meminta beberapa dari anak
buahku untuk mengawasi mereka, selama Oregon dan Antonio tak dapat menyentuh Ivanna hal ini harus disembunyikan dulu dari Bryan." Ucap Louise final.