
"Bunda harus bagaimana?" Isak Grace dalam pelukannya kepada Ivanna. Bagaimana nasib adik adiknya yang lain jika harus meninggalkan panti asuhan ini?
Sesaat setelah semuanya tenang Ivanna membaca surat itu sekilas. Mereka akan menjadikan tanah ini menjadi sebuah indekost elit. Ivanna mendesah pelan, ia menatap ketiga biarawati tersebut.
"Jika kita ingin menpertahankan panti asuhan ini, mereka meminta berapa bunda?" Celine si biarawati berkacamata membenahi kacamatannya yang berembun, lalu menunjuk nominal pada kertas tersebut. Mata Ivanna membola ketika menatap betapa banyaknya angka nol pada baris itu.
"2,5 Miliar bun-da?" Mereka bertiga mengangguk.
"Tuhan, aku harus bagaimana?' batin Ivanna.
Leon dan Maria masuk kedalam panti, membawakan tas Ivanna yang tertinggal di dalam mobil.
"Ivanna?" Panggil mereka berdua, Ivanna lari dan memeluk kedua sahabatnya.
"Bagaimana aku bisa mendapatkan uang 2,5 Miliar?" Isak Ivanna.
Jam menunjukkan pukul 8.30 pagi, namun Ivanna seakan enggan meninggalkan panti asuhan demi bekerja. Setelah mengantarkan Maria pulang, Leon kembali lagi ke panti asuhan untuk menemani Ivanna. Sebuah panggilan masuk dari ponsel Leon, dari nada dering yang berbeda sepertinya itu berasal dari orang penting.
"Pak manager?” Gumam Leon, ia mengangkat panggilan itu.
"Halo pak? Ada yang bisa saya
bantu?"
"Ah benarkah? Astaga. Baiklah pak terima kasih atas informasinya, saya akan beri tahu juga kepada Ivanna." Ivanna melirik kearah Leon begitu mendengar Leon menyebut namanya. Leon mematikan panggilan itu, badannya merosot dan duduk tanpa semangat di kursi samping Ivanna.
"Hahhhhh sial!" Umpat Leon, Ivanna merasa aneh dengan sahabatnya. Setelah panti asuhan kini hal sial apa lagi yang menunggunya?
"Ada apa Le?" Tanya Ivanna, mata Leon memerah.
"Kita di pecat. Pak Manager hanya mengatakan bahwa seseorang membeli Minimarket tersebut dengan harga tinggi, lalu rencananya akan menjadikan tempat itu menjadi sebuah cafe. Benar benar kejutan yang menarik setelah berlibur bukan ?" Ivanna tentu saja terkejut, masalah datang bertubi tubi. Dimana ia akan mencari pekerjaan dan mendapatkan uang 2,5 miliar dengan cepat. Sekelebat pikirannya untuk menjual diri di tampik begitu saja, ia tak mau membeli tanah mereka dengan uang haram. Ivanna bangkit dari duduknya, mengusap kasar wajah sembabnya akibat terlalu lama menangis.
Tiba tiba semangatnya terisi penuh. Ia harus segera mendapatkan pekerjaan dan menyicil tanah mereka.
"Kau mau kemana?" Tanya Leon ketika mendapati sahabatnya tiba tiba berubah.
"Aku akan mencari pekerjaan!" Ivanna berlari menuju kamar mandi, membersihkan wajah dan badannya lalu lekas memakai pakaian terbaik untuk melakukan wawancara kerja. Ia mencari beberapa dokumen di dalam lemarinya. Ijazahnya hanya SMA, apapun manti pekerjaannya ia akan terima dengan senang hati. Ivanna menuruni tangga dan berlari melesat menghilang meninggalkan Leon yang keheranan.
Hal yang sama terjadi kepada Leon, secara tiba tiba semangatnya naik ketika melihat Ivanna begitu semangat demi mempertahankan tempat tinggalnya.
"Semangat Leon! Kamu juga harus seperti Ivanna, jangan kalah sama anak yang usianya berada jauh di bawahmu!"
Ivanna berjalan menyusuri jalanan kota, namun sudah 4 jam ia berjalan beberapa toko yang membuka lowongan kerja justru menolak Ivanna dengan berbagai alasan. Rasanya, ia akan menyerah begitu saja.
"Rasanya ingin menyerah saja, eh?" Ivanna menatap sebuah brosur yang tergeletak di samping tempat sampah tempatnya duduk. Ia membaca brosur itu, sebuah lowongan pekerjaan menjadi maid di sebuah Mansion. Ia menoleh ke kiri dan kekanan sembari tangannya memegang brosur itu.
Perjalanan terasa lama, Ivanna menoleh kiri dan kanan menikmati perjalanannya dengan helm besar yang membuatnya tampak seperti jamur. Untung saja, cuaca hari ini sedikit mendung. Jadi terik matahari yang sebenarnya sudah berada diatas kepala tak membuat Ivanna kepanasan.
Beberapa menit perjalanan telah ia lalui, motor itu berhenti di sebuah Mansion besar yang tampak menakutkan jika dilihat dari luar gerbang. Ivanna membayar ongkos ojek online itu lalu mendekati gerbang. Rasanya ia tampak familiar dengan rumah megah itu.
"Ini bukan rumah si gila itu kan? Positif thinking Anna, orang kaya bukan Cuma dia saja, kan?" Hiburnya sendiri. Ivanna memencet bel di samping gerbang.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"A-anu, apa benar tempat ini menerima lowongan pekerjaan?" Ucap Ivanna, pria tersebut tampak berpikir sebentar lalu undur diri menuju posnya. Disana pria itu tampak menelepon seseorang.
"Benar. Silahkan masuk, lewat pintu depan saja ya?"
"Baik, terima kasih. Permisi!" Ivanna masuk gerbang tersebut. Perasaannya semakin tak enak ketika Ivanna menatap mansion tersebut.
"Positif thinking Ivanna, ini pasti hanya kebetulan" ia merapalkan mantra tersebut dalam hati.
Ivanna mengetuk pintu besar itu, hingga seorang pria paruh baya berpakaian rapi membuka pintunya.
"Selamat datang. Anda pasti pelamar kerja bukan? Perkenalkan saya Richard, saya yang akan memandu Anda di sini." Ucap Richard mengulurkan tangannya, Ivanna membalas uluran tangan tersebut.
"Selamat siang tuan Richard, nama saya Ivanna. Senang bertemu dengan Anda."
"Untuk saat ini, pekerjaan nona hanya membersihkan kamar tuan kita. Setelah tuan kembali dari pekerjaannya, tugas Anda adalah menjadi pelayan pribadinya."
"Pe-pelayan pribadi?"
"Dan fasilitas yang Anda terima yaitu seragam, alat mandi, makan 3x sehari. oh iya Anda diwajibkan tinggal di paviliun selama bekerja. Bayaran yang Anda terima selama bekerja di sini sebanyak Rp. 100.000. 000,00/bulan yang dibayarkan setiap tanggal 3 awal bulan. Apakah ada pertanyaan lainnya?" Terang Richard panjang lebar. Ivanna yang membaca jumlah o pada slip gaji tersebut hanya bisa melongo. 100 juta?
"S-saya menerimanya! Tapi sebelum itu bolehkah saya pulang dulu untuk memberitahukan keluarga saya?" Richard mengangguk. Ivanna yang mendengarnya tersenyum sangat lebar.
"Baiklah tuan Richard. Izinkan saya pulang terlebih dahulu. Besok pagi pagi sekali saya akan datang kemari."
Dalam perjalanan pulangnya Ivanna banyak berpikir, uang 100 juta dalam satu bulan adalah hal yang mustahil. Namun sepertinya Tuhan telah memberikannya pertolongan. Ia hanya perlu memberitahukan hal ini kepada Grace dan yang lainnya, lalu mendiskusikan kepada pembeli tanah panti asuhan jika ia bisa mencicilnya. Ia hanya perlu bekerja selama 2 tahun lebih hingga akhirnya ia bisa melunasi tanah itu.
Ivanna membuka pintu, tampak Grace dan yang lainnya tengah menikmati makan malamnya dengan perasaan sendu. Seakan akan panti asuhan ini kehilangan pelitanya. Ivanna mendekati ketiganya dan memberitahukan kabar bahagia darinya.
"Benarkah itu sayang?" Ucapan Celine dibalas anggukan Oleh Ivanna, mereka semua memeluk Ivanna sambil menangis karna terharu.
"Terima kasih sayang. Bunda sampai bingung harus membalas apa kepadamu." Ucap Grace. Ivanna menggeleng pelan,
"Bunda tak perlu membalas apapun, anggap saja ini adalah wujud baktiku sebagai anak kalian."
Bryan tampak sedang mendiskusikan senjata api pabrikannya kepada perusahaan besar di Singapura ini. Layar ponselnya berkedip beberapa kali karna sebuah pesan singkat masuk kedalam ponselnya. Bryan meminta izin untuk mengangkat ponselnya.
Bryan tampak sedang mendiskusikan senjata api pabrikannya kepada perusahaan besar di Singapura ini. Layar ponselnya berkedip beberapa kali karna sebuah pesan singkat masuk kedalam ponselnya. Bryan meminta izin untuk mengangkat ponselnya.
'Richard send a picture'
Sebuah gambar surat kontrak beserta nama gadis miliknya dan tak lupa tanda tangan berwarna merah dikirim oleh Richard kepada tuannya.
"Tuan, nona Ivanna menerima pekerjaannya. Besok pagi ia akan mulai bekerja.'
Pesan singkat dari Richard tersebut membuat Bryan tampak bersemangat. Ia menggigit bibir bawahnya dengan senyuman misterius.
"Ahh jadi tak sabar untuk segera pulang!"y