
Dengan adanya berita kedatangan nyonya besar Benvolio, seluruh anggota mansion tertlihat sangat sibuk sejak kemarin. Ivanna berdiri menatap laki – laki yang sejak tadi nampak kebingungan berjalan kesana kemari sambil mengigit kuku jarinya.
"Bisakah kau diam Tuan! Kau membuatku ikut terserang panic attack!" Ucap Ivanna kepada Bryan, laki-laki itu berhenti sejenak lalu meneruskan kegiataannya berjalan dengan gugup kesana dan kemari. Ivanna mendesah pelan, ia undur diri berjalan ke dapur. Membuat segelas teh chamomile berharap mampu menenangkan Bryan yang tampak gelisah.
"Silahkan tehnya Tuan, sepertinya kau terlalu mencemaskan sesuatu." Bryan mengambil teh itu dan meminumnya hingga tandas, Ivanna terkejut. Teh panas itu lenyap dengan sekali teguk. Ivanna mendekati Bryan hingga pria itu refleks terduduk di kursinya. Bryan terpana menatap keberanian Ivanna.
"Apa yang kau pikirkan? Astaga kau benar-benar meminum teh panas itu!" Ivanna menyentuh bibir Bryan, memastikan bahwa teh yang diminum Bryan benar membuat bibir pria itu melepuh. Bryan tersenyum miring,
"Kau sedang menggodaku rupanya?" Bryan mencekal tangan kedua tangan Ivanna yang berada disekitar wajahnya dengan satu tangan nya, Ivanna yang berdiri di antara kedua kakinya sempat terkejut dengan Bryan yang menjepit kakinya dengan kedua kaki laki-laki itu.
"Apa yang kau lakukan?!”
"Menurutmu?"
Salah satu tangan lainnya tak diam begitu saja, Bryan mengelus pelan lutut Ivanna lalu naik pelan hingga ke arah paha. Ivanna tampak menggeliat, Bryan tersenyum sambil menatap kedua mata Ivanna bergantian.
"You look so sexy, amore! Ingatkan aku untuk memakanmu bulan depan okay? Kau akan berusia 21 tahun bulan depan." Ivanna mendesah pelan,
"T-tidak! Lepas nggak!" Bryan terkekeh, senang sekali menjahili Ivanna, ia melepaskan genggaman tangan Ivanna, namun tidak dengan kakinya.
"Saya mau lanjut kerja, lepasin." Bryan menggeleng, ia menepuk pahanya.
"Kamu cukup jadi pelayanku!" Ivanna melirik arah lainnya, kenapa pria aneh itu menepuk pahanya.
Lucian datang mengetuk pintu, lalu masuk melihat kedua orang aneh itu saling memunggungi satu sama lainnya.
"Tuan, nyonya besar sudah datang!" Bryan bangkit dari kursinya, melirik Ivanna sekilas lalu melangkah menuju lantai 1.
Bryan datang menuju ruang tamu, disana terdapat seorang wanita yang ditaksir usianya kurang lebih setengah abad. Namun pakaian dan gayanya masih nyentrik untuk wanita seusianya. Wanita itu adalah Yoanna. Ia sedang menikmati teh melati buatan maid.
"Mama"
Yoanna menatap arah suara anak laki-lakinya, ia meletakkan cangkir itu dan bangkit memeluk Bryan.
"Apa kabarmu sayang?"
"Bryan baik ma."
Keduanya saling berpelukan, Ivanna dan Lucian berdiri menatap mereka berdua.
"Wahh cantik sekali! Benar- benar khas wanita italia." Gumam Ivanna membuat Lucian meliriknya.
"Ya, selain seorang designer. Dulunya beliau adalah seorang model terkenal di Italia." Ivanna mengangguk paham, rasanya ia benar-benar kagum pada sosok wanita itu.
Yoanna melirik gadis yang tengah berbincang dengan Lucian, ia tersenyum ketika berhasil mengingatnya.
"Jadi, dimana kamar mama?" Saat Bryan akan memanggil seorang maid untuk membantu membawakan koper sang Mama, Yoanna terlebih dulu memegang tangan anaknya.
"Mama mau gadis itu yang melayani mama!"
Deg!
Bryan terkejut ketika mamanya memilih Ivanna secara langsung untuk melayaninya, tak mungkin bahwa ibunya mengingat Ivanna bukan?
"Tapi-" Sebelum Bryan berhasil melanjutkan bicaranya, Ivanna terlebih dahulu mendekati Yoanna.
"Mari, saya antarkan menuju kamar tamu." Ivanna membalas ucapan mereka dengan bahasa Inggris. Walaupun ia tak terlalu bisa berbahasa mereka, namun Ivanna sedikit - sedikit paham apa yang mereka ucapkan sebab ia sering mendengarkan Bryan berbicara bahasa Italia dengan Lucian.
Yoanna tersenyum ketika mendapatkan keramahan dari Ivanna, ia akan mendekati gadis yang disukai anak laki-lakinya itu.
Ivanna berjalan di depan Yoanna sambil membawa koper, ia memimpinnya menuju lantai 2.
Ting!
Lift yang mereka tumpangi berhenti di lantai dua, Yoanna melirik Bryan yang tengah mengawasi Ivanna dari lantai satu. Senyumnya mengembang ketika melihat reaksi Bryan saat ia meminta Ivanna untuk melayaninya.
"Kau sudah bekerja lama disini?" Yoanna memulai percakapan dengan Ivanna, berharap gadis itu nyaman berbicara dengannya.
"Kurang lebih hampir satu bulan nyonya." Yoanna mengangguk, perjalanan mereka berhenti tepat di kamar yang berada paling ujung. Saat pintu dibuka, sebuah kamar dengan ranjang queen size dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan hutan yang menghijau. Ivanna membuka jendelannya berharap angin segar memenuhi ruang kamar ini.
"Ada lagi yang bisa saya bantu nyonya?"
"Pergilah, terima kasih sudah mengatarkanku." Ivanna membalasnya dengan senyuman.
"Benar-benar gadis yang sopan, semoga gadis itu bisa mengubah Bryan kembali menjadi Bryan yang dulu."
Bryan melirik Ivanna yang sedang menuruni tangga, pandangan mata mereka bertemu,
"Kemarilah."
Mau tak mau Ivanna berjalan mendekati Bryan.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Bryan menarik tangan Ivanna hingga ia duduk di pahanya.
"Apa yang mamaku bicarakan denganmu?"
Ivanna bangkit dari duduknya, ia melirik tajam kearah Bryan.
"Tidak ada, beliau hanya bertanya sudah berapa lama aku bekerja disini. Kalau tidak ada hal yang lain saya ijin untuk pergi ke belakang."
Ivanna pergi menuju belakang, sementara Bryan mengusap wajahnya kasar. Ia melirik Lucian yang sedang berdiri di belakangnya.
"Berapa lama mama akan disini? Aku merasa tak tenang bila mama berduaan dengan Ivanna."
"Kurang lebih selama satu minggu tuan, selanjutnya nyonya besar akan melanjutkan world tournya lagi ke hawaii." Bryan mengangguk. Ia memutuskan untuk pergi ke panti asuhan karna sudah lama ia tak kesana. Sebelum ia memasuki mobilnya, ia membicarakan sesuatu dengan Lucian.
"Awasi mama dan Ivanna, aku tak ingin mereka bersama dalam waktu yang lama. Kau tahu maksudku kan Lu?"
Lucian mengangguk. Tentu saja ia tahu segalanya tentang Bryan. Ia juga tahu kekhawatiran Bryan bila Yoanna ikut campur dengan Ivanna, ia takut mamanya kecewa bila mengetahui ia pernah menyiksa Ivanna.
Mobil yang ditumpangi Bryan melaju kencang menuju panti asuhan. Kurang lebih 45 menit perjalanan akhirnya ia sampai juga di panti asuhan tempatnya tumbuh. Ia mendesah pelan,
"Aku sedikit merasa bersalah melibatkan Panti Asuhan untuk mengikat Ivanna."
Bryan berjalan menuju pintu yang terbuka lebar itu. Di ruang tamu, ada bunda Grace yang sedang berbincang dengan Leon dan Maria.
"Bryan? Kamu datang nak?" Grace berdiri, Leon dan Maria yang duduk membelakangi pintu utama pun menoleh menatap seseorang yang tiba-tiba datang bertamu. Betapa terkejutnya Leon ketika melihat siapa yang datang. Maria yang melihat gelagat aneh Leon pun mengguncang tubuh Leon yang bergetar hebat.
"Le! Sadarlah. Ada apa?"
"It - itu, dia laki-laki yang meneror Ivanna." Leon buru-buru mencari ponselnya, berniat menghubungi Ivanna. Berkali-kali ia menghubungi nomor Ivanna namun nomor Ivanna tak aktif.
"Astaga kemana kamu Ivanna! Apakah pria itu membuatmu menderita!" Gumam Leon. Maria menoleh menatap Bryan, Bagaimana bisa laki-laki tampan itu mengenal Ivanna, Maria menggigit bibirnya. Ia begitu iri dengan Ivanna.
Grace dan Bryan duduk di kursi ruang tamu. Bryan melirik Leon dan tersenyum sinis.
"Lihatlah wajah ketakutan itu!" Batin Bryan ketika mendapati Leon begitu gugup bertatapan dengannya.
"Nah Leon, Maria. Kenalkan, dia Bryan. Dulu dia adalah penghuni panti asuhan bunda."
"Dan Bryan, mereka adalah sahabat Ivanna, kamu masih ingat dengan Ivanna bukan?" Bryan mengangguk. Ia tak mungkin menceritakan tentang Ivanna kepada Grace. Bisa bisa wanita itu kecewa dengannya.
Lama mereka berbincang, hingga akhirnya Leon memilih untuk pulang terlebih dahulu. Ia mengajak Maria pulang, namun Maria menolak dengan alasan ingin bermain sebentar dengan anak – anak kecil. Bryan meminta izin kepada Grace untuk pergi ke depan.
Brakk!
Bryan menarik dan mendorong Leon pada gerbang depan. Ia mencengkram erat kerah baju Leon.
"Hei! Aku akan membunuhmu jika kau memberitahukan kepada bunda Grace jika Ivanna bekerja kepadaku!"
Leon melirik sinis kepada Bryan,
"Kau ketakutan tuan? Tentu saja aku akan memberitahukan kepada semua orang jika kau adalah seorang maniak yang memangsa seorang gadis, Dan aku akan menjebloskanmu ke penjara." Suara tawa Bryan membuat Leon terdiam,
"Benar-benar orang gila!"Batin Leon.
"Kita lihat tuan sok pemberani, kemana nasib buruk akan berpihak? aku yang masuk kedalam penjara atau kau yang akan kupotong- potong lalu kuberikan kepada buaya di kebun binatang!" Bulu kuduknya berdiri, Bryan bukan orang yang mudah untuk dijatuhkan.
Melihat Leon yang hanya terdiam membuat Bryan melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Leon, ia sedikit merapikan kerah baju tersebut.
"Lebih baik kau jaga wanitamu, tak perlu kau memikirkan 'milikku'. Kelihatannya wanitamu jatuh cinta denganku." Bryan meninggalkan Leon yang terduduk di balik gerbang.
Ia teringat tentang ucapan Ivanna saat Ivanna berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah Mansion. Leon mencari tahu tentang pemilik mansion itu. Saat ia memberitahukan temuannya kepada Ivanna semuanya sudah terlambat, Ivanna sudah masuk kedalam lubang buaya. Leon mengigit ujung kukunya.
"Laki-laki brengsek!" Maki Leon pada Bryan.