Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 03



"Lepaskan aku!!!" Pria itu tampak diikat dan ditutup matanya dalam sebuah ruangan remang remang yang hanya menggunakan sebuah lampu kecil sebagai penerangannya. Ia dijaga oleh dua orang pengawal yang memeganginya pada sebuah kursi.


Pintu besi itu dibuka, Bryan berjalan mendekati pria itu disusul oleh Lucian dibelakangnya. Pria itu tampak gugup ketika mendengar suara langkah kaki yang dikenalnya.


"Sepertinya aku terlalu baik padamu Nic?" Senyum smirk andalannya ia tunjukan walau Nicholas tidak melihatnya, namun suara sarkatis itu tentu saja membuatnya paham berada disituasi mana saat ini


."Maafkan aku! Aku terpaksa melakukan ini karna mereka menjebakku" Bryan menghidupkan cerutunya, menarik nafas dalam lalu menghembuskan asap itu pada muka Nicholas. Tentu saja itu membuat Nicholas terbatuk batuk.


"Alasan klasik! Kau tahu kan kalau aku bukan orang yang mudah memaafkan?" Ucapnya sambil memainkan sebilah pisau lipat kecil yang diambil dari atas meja.


"Lucian, buka ikatan matanya!" Lucian membuka ikatan mata Nic, seketika Nic melotot melihat apa yang sudah tersaji didepannya. Ia menatap Bryan yang tengah berdiri sambil memainkan pisau lipatnya.


"Jadi mulai dari mana permainan kali ini nic? Kau suka dengan alat mainanku?” Ucapnya sambil memperlihatkan meja yang berjajar rapi segala jenis senjata tajam.


Kening Nicholas mengeluarkan banyak keringat, seketika wajahnya berubah pucat. Kini ia sedang berhadapan dengan seorang iblis. Ya, Bryan adalah seorang iblis. Dibalik wajahnya yang selalu tersenyum ia bagaikan sebuah mesin pembunuh! Tidak ada yang pernah kembali hidup setelah berhadapan langsung dengannya.


"Aku mohon maafkan aku, aku berjanji tidak akan berkhianat lagi. Aku berjanji akan menjaga rahasia !" Nic bersimpuh walau ia tahu badan dan kakinya sedang diikat. Ia tak perduli apapun kecual maaf untuknya. Senyum sinis terbit diwajah Bryan, ia mengisi beberapa peluru dalam senjata apinya.


"Kau tahu nic? Rahasia aman bersama orang yang sudah mati!" Ia meletakkan ujung senjata apinya pada kening Nicholas.


"Hei aku ingin sedikit berbagi belas kasihanku untukmu. Karna aku sangat mengenalmu, aku tak akan memperlakukanmu dengan buruk hingga menyakitimu."


Dorrr!!


Bryan menembakkan senjata tajamnya tepat bersarang di jantung Nic. Ia mendekati badan Nic yang sudah tergeletak tak bernyawa dan bersimbah darah.


"Titipkan salamku untuk penjaga neraka!" Bryan berbisik kepada mayat Nic. Ia membersihkan cipratan darah yang mengenai wajah dan badannya.


"Hey urus dia!" Bryan meninggalkan gudang itu bersama Lucian, dan membiarkan beberapa bodyguardnya untuk membersihkan tempat bermainnya.


Hari ini Ivanna bersama Leon sedang merapikan gudang karna beberapa barang telah datang.


"Beberapa hari ini aku liat kamu sering ngelamun anna, apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Ivanna terdiam. Ia bingung apakah ia harus menceritakan kejadian itu' atau malah menutupinya?


"Oh tidak apa apa leon, hanya sedikit urusan di panti" Ivanna memilih untuk tidak menceritakan kejadian itu, Leon hanya bisa mendesah pelan.


"Baiklah, aku harap itu bukan suatu hal yang besar Anna. Kamu tahu? Kau tak pandai berbohong" Leon meneruskan untuk menata bahan lainnya meninggalkan Ivanna yang sedang terdiam. Ivanna melanjutkan untuk membersihkan barang barang yang dikembalikan.


Seorang pelanggan datang memasuki minimarket, Ivanna yang sedang tampak sibuk tak menyadari kedatangan pelanggan itu sehingga Leon lah yang menjaga konter kasir.


"Selamat datang, selamat berbelanja"


Tampak seorang pelanggan laki laki itu menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah tengah mencari seseorang. Laki laki itu menatap tajam ke arah Leon.


Kaki Leon mendadak lemas dan tubuhnya jatuh, nafasnya naik turun dan memanggil nama Ivanna berkali kali. Ivanna yang mendengar namanya dipanggil langsung bergegas menuju konter depan dan terkejut takkala melihat Leon hampir pingsan.


"Leon kamu kenapa?"


"Hah gila aku baru saja bertemu dengan hantu. Laki laki itu, dia menatapku dengan penuh mengintimidasi!" Ivanna terkejut, apakah laki laki gila itu kembali?


"Laki laki? Apa dia memakai topi dan jaket parasut?”


"Bukan. Pria itu memakai jas formal, wajahnya entahlah. Aku belum pernah melihatnya. Oh astaga dandannya seperti seorang mafia. Apakah aku akan dibunuhnya?" Leon terus bergumam sambil memegang lehernya, Ivanna berdecih.


"Hei tenanglah! Everythink will be okay. Kita tidak pernah berurusan dengan apa itu? Mafia? Kita hidup di Indonesia, bukan negara Eropa. Jadi tenang okey?"


"Hufff ya ya, aku sedang berusaha untuk tenang. Tapi kalo itu beneran mafia bagaimana?" Ivanna tergelak. Ia menyeka sedikit air matanya yang menggenang di sudut mata.


"Sudahlah leon, mulai besok jangan membaca novel atau menonton film genre mafia. Kau terlalu banyak berhalusinasi. Baik ayo mulai bekerja lagi" ucapnya sambil meninggalkan Leon masih menunduk di balik konternya.


"Terima kasih Leon! Hari ini kita sudah bekerja keras!" Ucap Ivanna sambil menutup minimarket. Ia mengantongi kuncinya karna besok adalah jadwalnya shift pagi.


"Kamu juga anna. By the way untuk beberapa hari ini kamu juga harus berhati hati deh kayaknya!" Mereka berjalan melewati gang yang cukup sepi, sekarang sudah pukul 21. 00.


Laki laki tadi, sepertinya sedang mencari seseorang. Dia berulang kali celingukan melihat ke belakang konter" Ivanna mengangguk. Beberapa hari yang lalu ia pun diganggu oleh seorang maniak juga. Tiba tiba bulu kuduknya berdiri, ia mengusap lengannya bergantian.


"Oh gosh kau sedikit membuatku takut Le!" Ucap Ivanna sambil membayangkan kejadian tempo hari yang lalu.


"semoga Tuhan melindungimu anna, sampaikan salamku untuk bunda bundamu ya" Leon berjalan sambil melambaikan tangannya,


"Kau juga Leon!!" Ivanna berbelok ke kanan, untung saja jarak rumah Leon dengan panti asuhan tak terlalu jauh. Sehingga mereka berdua hanya perlu berpisah tak terlalu jauh dari rumah masing masing.


Sebuah mobil melaju perlahan melewati Ivanna, mobil itu terlalu menonjol untuk sebuah pemukiman miskin di daerah sini. Ivanna mengeratkan pegangan tangannya pada tasnya, berjalan lebih cepat saat ia mendengar suara mesin mobil mendadak berheti setelah melewatinya. Suara step kaki seseorang seolah membuat Ivanna yakin bahwa ia sekarang sedang dalam bahaya.


"Tuhan tolong aku" jerit Ivanna dalam batinnya. Seseorang mencengkram pergelangan tangannya, Ivanna refleks menoleh kebelakang. Dia adalah laki laki maniak tempo hari yang lalu.


"K-kamu siapa?" Ucapnya terbata, wajah laki laki itu tertutupi siluet topi. Suasana di sekitar sini sangat gelap dan sepi, semakin malam jalanan hanya di terangi oleh lampu yang sangat minim cahaya. Itu semakin membuat wajah laki laki itu tak terlihat dengan jelas.


Laki laki itu terdiam, namun cengkraman tangannya yang memegang pergelangan tangan Ivanna terasa semakin kencang.


"Aku akan berteriak kalau kamu tidak mau berbicara!" Ucap Ivanna dengan lantang, namun sosok laki laki itu terkekeh. Ia tertawa sebab suara Ivanna yang terdengar bergetar, Ivanna sedang ketakutan.


"Berteriaklah. Jalanan disini sangat sepi. Bahkan kalau aku memperkosamu disini orang lain tak akan pernah tahu."


Ivanna berteriak, namun suara teriakannya tenggelam oleh ciuman lembut dari laki laki didepannya ini.