Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 52



hari ini nampak seluruh anggota keluarga Benvolio berkumpul di meja makan. Mereka semua makan dengan lahap kecuali Ivanna yang nampak tak nafsu makan.


"Ada apa sayang? Kamu tidak suka makanannya?" Tanya Yoanna kepada Ivanna.


Ivanna meminum air putih dengan cepat lalu menggeleng membalas jawaban Yoanna.


Bryan yang duduk disampingnya pun menoleh menghadap Ivanna. Ia menarik sebelah alisnya, ia menggenggam tangan Ivanna dan menaruhnya pada paha Bryan.


"Hey amore, what's wrong?" kini Bryan yang bertanya.


"B-bulkan madre, hanya saja sepertinya aku tidak


ingin makan ini hari ini. Bolehkah aku masuk ke


dalam kamar terlebih dahulu?" Yoanna tersenyum kecil sambil mengangguk.


"Tentu sayang. Istirahatlah."


"Terima kasih madre, padre. "Mau aku temani ke kamar" ucap Bryan yang dibalas gelengan Ivanna.


"Tak perlu Bry, nikmati makan malammu dulu okay." Ivanna bangkit dari karsinya dan pergi meninggalkan mereka yang saat ini hendak


menikmati makan malam.


"Bry, selesai makan coba kamu ajak bicara Ivanna." Bryan mengangguk lalu dengan cepat


menghabiskan makan malamnya.


Yoanna hanya bisa menggeleng melihat putranya


Ceklek,


Selesai Ivanna menutup pintu kamarnya Ivanna


bergegas pergi ke kamar mandi, mengeluarkan isi


perutnya.


"Hoekkk hoekkk!"


Ivanna menekan flush toilet lalu menuju washtafel untuk mencuci mulutnya. Ia dapat melihat matanya nampak berkaca-kaca.


Ivanna mengelusnpelan pelan perutnya sambil mengajak perutnya yangbkini nampak sedikit buncit berbicara.


"Ah maafkan mommy ya sayang Sepertinya kalian tidak menyukai makan malam ini."bla meninggalkan kamar dan duduk di tepi kasur.


tak berselang lama ia merebahkan tubuhnya di ranjang empuk itu sambil mendesah.


"Aku ingin makan es cream rasa matcha." Gumam Ivanna


Ceklek!


Pintu terbuka, Ivanna melirik kearah pintu dan melihat Bryan yang sedang berdiri disana. Ivanna


memposisikan dirinya duduk di tepi kasur.


Bryan berjalan mendekati Ivanna dan berjongkok di depan Ivanna. Bryan mengelus pelan perut Ivanna sambil menatapnya.


"Kau butuh sesuatu amore?"


"Sebenarnya aku ingin makan ice cream rasa matcha" Ucap Ivanna sambil tersenyum pelan.


Bryan berdiri dan menawarkan tangannya.


"Ayo, kita akan membelinya bersama" Senyuman Ivanna mengembang. Ia memegang tangan Bryan dan mengikutinya berjalan menuju lantai satu


Ting


Lift terbuka, Ivanna dan Bryan berjalan bergandengan tangan. Mereka mendekati Yoanna yang saat ini sedang berbicara dengan seorang pelayan.


"Ah kalian mau pergi kemana malam-malam seperti ini?" ucap Yoanna menatap kechianya


bergantian.


"Aku akan mengajak Ivanna jalan-jalan. Dia ingin makan sesuatu." Yoanna terkekeh melihat betapa perhatiannya Bryan kepada Ivanna.


Ia mengangguk dan mempersilahkan keduanya untuk menikmati waktu mereka.


"Bukankah mereka serasi?" ucap Yoanna kepada


pelayannya.


Pelayan yang berusia 50 tahunan itu tersenyum pelan menatap arah Yoanna memandang Bryan menggandeng tangan Ivanna, dan sesekali


tampak Bryan membenarkan anak rambut Ivanna


yang tertiup angin.


"Tentu saja nyonya." Yoanna mendesah pelan sambil melipat tangannya di atas perutnya.


"Aku berharap Bryan segera menceritakan kepada Ivanna, sebelum Ivanna sendiri yang


mengetahui semua tentang keluarga Benvolio"


Dia akan sangat sedih jika mengetahui bahwa ia dikelilingi orang yang berbahaya.


Bryan menghentikan mobilnya di area parkiran.


Sebelum mereka keluar dari mobilnya bryan memakai jaket dan juga topinya yang sebelumnya berada di bagian belakang


"Oh wow, lau sungguh berbeda ketika memakai


pakaian santai." Ivanna menatap heran kepada Bryan Bryan tersenyum smirk sambil menatap Ivanna.


"Begitukah? Apakah ini mengurangi ketampanaku" ucap Bryan melepaskan sabuk Ivanna.


Ivanna terkekeh mendengar ucapan Bryan.


"Biasa saja."


"Ck!"


Ivanna melirik Bryan yang kini berdecih, iamenangkupkan kedua pipa Bryan dengan tangan kecilnya.


"Kau tampan. Aku baru sadar kalau kau bahkan benar-benar tampan," Bryan mengigit bibirnya gemas mendengar jawaban Ivanna.


Ia mengelus pelan paha Ivanna yang terbalut celana jeans. "Maukah kau melakukannya di dalam mobil? Aku benar-benar tak tahan untuk segera memakanmu."


Ivanna melepas tangan Bryan yang sedang mengelus pahanya dan membuka pintu mobilnya.


"Kan benar-benar pria tua yang mesum" ucap Ivanna lirih kemudian menutup pintunya. Bryan


mengigit ujung ibu jarinya sambil tersenyum smirk.


"Benar-benar imut, setelah ini aku akan membuatnya memohon dibawahku" Bryan melepas sabuk pengamannya kemudian pergi mengikuti Ivanna dari belakang


Bryan mengambil rokok di dalam sakumya. Sejak


beberapa hari lalu Bryan mengganti cerutunya dengan rokok karena alasan supaya lebih cepat habis. Bryan mengapit rokok itu dengan bibirnya dan ia hendak menyulut rokok itu, namun upayanya gagal ketika ia melihat Ivanna ditabrak oleh seorang laki-laki tak dikenal.


"Maafkan aku." Ucap Ivanna sambil memegangi


pria di depannya tanpa memikirkan rasa sakit di


bahunya akibat bertabrakan dengan pria yang fisiknya tentu lebih besar daripada fisiknya.


Pria yang menabraknya itu hanya mengibas ngibaskan tangannya pada kaosnya, ia melirik Ivanna dengan tatapan tajam dan terus mengomel menggunakan bahasa Italia Bryan mendekati mereka, ia merangkul Ivanna dan menatap sinis kearah pria asing itu.


Pria itu menatap Bryan dengan tatapan remeh "Well kau harus menjaga istrimu lebih baik kalau


begitu bung Jangan biarkan dia berkeliaran menabrak orang" Bryan mengepalkan tangannya


mendengar jawaban pria itu


"Bukankah seharusnya kau yang meminta Maaf? Karena menabraknya terlebih dahulu." ucap Bryan tak mau kalah. Suaranya yang begitu keras membuat beberapa orang disekitarnya menatap mereka tak nyaman.


Ivanna yang menyadarinya mencoba melerai mereka dengan cara menenangkan Bryan terlebih dahulu.


"Sudahlah, lagian aku yang salah. Aku yang tak


melihat kearah depan karna asyik melihat sekitarku." Ucap Ivanna sambil mengelus pelan bahu.


Bryan Perlahan-lahan kepalan tangan Bryan mengendur dan menggenggam tangan Ivanna, sebelum ia mendekatkan bibirnya di dekat wajah pria itu.


"Pergilah dari sini, jangan sampai aku bertemu lagi denganmu." Bisik Bryan.


Pria itu berdecih sambil menujuk Bryan dengan jari tengahnya. "Ck! Hijo de puta" ucap pria itu sambil pergi meninggalkan Bryan dan Ivanna.


Ivanna mengelus lengan Bryan.


"Maafkan aku Bry karena selalu membuat masalah ." Bryan tersenyum sambil mengacak rambut Ivanna. Ia menuduk dan mendekatkan wajahnya di dekat telinga Ivanna.


"Aku akan memaafkanmu kalau kau mau melakukannya denganku nanti malam." Bisik Bryan lirih.


Ivanna melirik Bryan dan menginjak kakinya hingga ia mengaduh.


"Kau!"


"Hahahaha maafkan aku!" Teriak Ivanna sambil memasuki toko Gellato.


Pria yang sebelumnya menabrak Ivanna kini tengah menghisap rokoknya di sebuah gang kecil. Ia memainkan ponselnya menekan tombol panggilan untuk menghubungi seseorang. Berkali-kali ia memanggil seseorang namun panggilan tersebut tak kunjung diangkat.


Drrtt drttt,


Senyumnya mengembang ketika merasakan ponselnya bergetar tanda adanya panggilan masuk. la menghembuskan asap rokoknya kemudian mengangkat panggilan itu.


(Apa maumu? Berani - beraninya kau mengganggu waktuku yang berharga!)


"Aku memberikan sebuah berita penting untukmu!" ucapnya membalas pertanyaan dari lawan bicaranya.


(Hal penting apa maksutmu?)


"Berikan aku uang, aku akan langsung memberitahukannya kepadamu." Pria itu kembali menghisap rokoknya, dan menghembuskannya ke udara.


(Aku akan memberikannya nanti, sekarang beri tahu aku terlebih dahulu.)


"15.000 dollar, berikan aku sekarang. Kirimkan kedalam rekeningku."


(Ck! baiklah!)


Pria itu tersenyum smirk mendengar jawaban dari lawan bicaranya. Tak lama kemudian ponselnya bergetar, ia menatap layarnya dan tersenyum puas melihat banyaknya angka yang tertera pada layar ponselnya.


“Aku memberitahukan bahwa Louise baru saja menikahkan Bryan. Aku baru bertemu dengan Bryanbdan melihatnya menggandeng wanita yang diculik oleh Samuel."


(Apakah kau yakin?)


"Satu juta persen aku yakin, aku tidak sedang mabuk kali ini Antonio. Aku berbaik hati membantumu bukan?" Antonio mematikan panggilannya. Kini pria itu tertawa puas sambil menghisap kembali rokoknya.


"Hahaha aku kaya sekarang!" Pria itu memasukkan kembali ponselnya, ketika ia hendak berjalan meninggalkan tempat itu seseorang menendang punggungnya hingga ia


tersungkur.


"****! Apa kau benar-benar tak punya mata huh?" Maki pria tersebut.


Bryan menghisap rokoknya yang kini tinggal sekali hisap, lalu membuang patung itu dan menginjaknya.


"Hahaha sudah kuduga kalau kau adalah mata- mata Oregon. Bryan mendekati pria itu, Bryanmelirik sebuah tongkat besi di samping tempat sampah.


Senyum smirknya tersungging "Lalu kan man apa kalau aku adalah mata-mata Oregon? Kau akan membunuhku?"


"Tentu saja."


"Sialan! Kemari kau!" pria itu meraih botol kaca pecah yang berada di samping kanannya. Ia melompat kearah Bryan berusaha untuk menusukkan botol kaca itu di tubuh Bryan.


Bryan dengan gesitnya mencoba menghindar, namun sayangnya ia sedikit lengah hingga pria itu berhasil melukai lengan kanannya karena pecahan botol itu sekaligus membuat lengan jaketnya sobek. Bryan berpikir dengan cepat, ia berusah memposisikan tubuhnya di pojok untuk


segera mengambil tongkat besi itu.


Pria itu tersenyum ketika melihat Bryan kini sudah terpojok didepannya dengan memegangi lengannya yang berdarah.


"Menyerahlah Bryan! Kau hanya bocah kecil yang bermain mafia - mafianan bukan? Nyatanya kini aku berhasil melihat dirimu yang sebenarnya. Kau akan mati setelah ini hahaha."


Pria itu menggenggam leher botol kaca itu dengan erat. Lalu saat pria itu berlari mendekati Bryan, Bryan menendang lengan tangan pria itu


hingga botolnya terpental.


Pria itu terkejut dan seketika kehilangan nyalinya. Bryan yang melihat kesempatan itu segera mengambil tongkat besi itu, berlari menuju pria itu dan menghunuskan tongkat besi itu tepat di jantungnya melalui punggung pria itu.


Pekikan kesakitan menggema di dalam gang kecil yang sepi nan gelap itu. Bahkan Bryan dapan mendengar tulang yang retak karna tertusuk oleh tongkat besi itu.


"ARGHHHHHHH FUCKKKKK!"


"Hahahaha kini siapa yang mati huh? Kau hanya pria tua yang bermulut besar rupanya." Bryan


menginjak tongkat besi itu berkali kali hingga akhirnya tongkat besi itu menembus tubuh pria itu hingga membuatnya menempel ditanah.


Jangan lupakan genangan darah dan juga cipratan darah dimana mana. Aroma tempat sampah yang bau kini bercampur dengan aroma anyir dari darah itu. Bryan mengusap pipinya yang terkena cipratan darah dengan lengannya


Ia menatap pria yang kini mati perlahan-lahan


di bawah kakinya.


Tak lama kemudian datanglah sebuah mobil mewah di ujung gang. Seorang pria dengan pakaian hitam datang atas perintahnya.


"Tuan!"


"Jake, bersihkan ini semua, pastikan tak ada bekas tertinggal di area sini." Jake mengangguk,


Bryan pergi menuju mobil Jake dan membuka pintu mobilnya.


Ia mengganti pakaian yang terkena cipratan darah dengan pakaian yang baru di dalam mobil. Bryan mencari parfum didalam mobil dan menyemprotkannya di seluruh tubuhnya, setelah ia memastikan sekali lagi bahwa tak ada aroma anyir pada tubuhnya Bryan keluar dari mobil dan pergimenuju toko Gelatto untuk menemui Ivanna kembali.


Ivanna duduk sambil mengaduk-aduk gelasnya dengan malas. Berkali-kali ia menatap pintu keluar dan mendesah ketika tak melihat sosok Bryan.


"Hey sweetheart." Ucap Bryan menarik kursi didepan Ivanna dan duduk dihadapan Ivanna. Gadis itu menatapnya dengan malas.


"Kau lama sekali, Gelattoku sampai hampir mencair." Bryan terkekeh, ia menggengam tangan


Ivanna yang berada di atas meja.


"Maafkan aku, aku sedikit tersesat saat mencari toilet."


Ivanna mengenyitkan dahinya, ia menatap tangannya dan mengendusinya.


"Kau mencium sesuatu? Aku seperti mencium


aroma anyir darah."


Deg!


Ucapan Ivanna berhasil membuat Bryan menjatuhkan sendoknya.