
Saat ini Ivanna dan Bryan saling duduk berjauhan. Bryan berdecak ketika Ivanna menolak ia mendekatinya hanya karna aroma sialan yang bahkan ia sendiri tak mencium bau aneh dari tubuhnya.
"Katakan apa maumu?" Ivanna terus mendengus tanpa mau melirik kearah Bryan.
"Bicaralah dari tempatmu berada, kau membuatku mual!" Bryan mendengus kesal dan menikat pelipisnya.
"Fine! Sekarang katakan apa maumu, amore?” Ivanna mendesah pelan,
"Aku mau pulang, aku mau bertemu bunda."
Bryan mengenyit, tumben sekali Ivanna merengek padanya.
"Cium aku dulu, lalu aku akan mengantarmu pulang."
"A-apa?"
"cium.dulu" ucap Bryan sambil memajukan wajahnya, dengan satu jari menyentuh bibirnya. Ivanna mengigit bibirnya sambil memainkan jari – jarinya.
"Come on Amore." Ivanna mendesah pelan, mau tak mau ia mencium bibir pria itu. Bryan menutup matanya ketika Ivanna berdiri di depannya, dan memajukan sedikit bibirnya. Namun berbeda dengan Ivanna, ia bahkan ingin mual saat berdiri di sekitar Bryan. Ia mengigit bibirnya dan menampar pipi Bryan sebelah kanan.
"What the ****, kau menamparku seperti seorang pria." Ucap Bryan sambil mengusap pipi kanannya, Ivanna mulai menangis mendengar ucapan Bryan.
"Kau tahu? Aku tidak menyukaimu! Aku tidak menyukai aromamu! Aku membenci wajahmu! Sekarang pulangkan aku atau aku akan memukulimu seperti seorang pria!" Ivanna mengatur kembali nafasnya, ia melenggang pergi meninggalkan Bryan yang sedang berdiri dan menutup pintu kamar itu dengan keras sehingga membuat Bryan terkejut. Ia menatap Lucian dan Chester yang sejak tadi duduk dan hanya menyaksikan drama di depan mata mereka.
"Kau lihat dia bukan? Kau juga lihat tamparan yang ku terima kali ini? Astaga sifatnya benar-benar membuatku merinding!" Chester terkekeh mendengar penuturan Bryan, ia membetulkan letak kacamatanya.
"Tenanglah, hormon ibu hamil memang benar- benar sensitif. Sepertinya mendengar kabar bahwa ia hamil membuat jiwanya sedikit terganggu, apalagi dia hamil bukan karna kemauannya sendiri." Chester melirik Bryan sinis, kemudian melanjutkan ucapannya.
"Ahh aku rasa sekarang aku lebih takut dengan Ivanna daripada denganmu, kau melihatnya bukan Lu? Betapa seramnya Ivanna dibanding Bryan saat membunuh orang. Nyawamu benar-benar terancam Bry." Chester terkekeh sambil menyikut Lucian. Chester bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu kamar, ia hendak berpamitan untuk kembali ke tempatnya bekerja.
"Cepat antar mommy, daddy. Aku takut dia membunuhmu." Chester terkekeh. Bryan memukul pelan bahu Chester.
Bryan melirik pada Lucian yang kini berdiri di sampingnya.
"Berikan kuncinya Lu, biar aku antar Ivanna sendiri." Lucian mengangguk, merogoh saku celanannya dan menyerahkan kunci mobil kepada Bryan.
Bryan sudah berdiri di samping mobilnya sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Ia memainkan kunci itu.
"Kemana dia?"
Tap tap tap
Ivanna tampak berdiri didepan pintu mansion, membawa sebuah koper besar dan juga pakaian yang sepertinya miliknya sendiri. Bryan melepas kacamatanya.
"Untuk apa kau membawa semua ini amore?" Ivanna melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam kearahnya.
"Aku mau pulang!" Bryan menarik kembali koper milik Ivanna, membuangnya hingga isinya berserakan. Ivanna tampak marah melihatnya sementara Bryan melirik dengan tatapan dingin.
"Apa yang kau lakukan? Kau benar-benar ya?" ucap Ivanna,
"Kau hanya meminta untuk bertemu dengan bunda bukan? Kau tak mengatakan akan tinggal disana. Tinggalkan koper itu atau kau tak akan pernah meninggalkan mansion ini SELAMANYA!" Ivanna mendengus kesal, ia memunguti kembali pakaian - pakaiannya dan melemparkan pakaian itu ke wajah Bryan.
"Kau menyebalkan! Aku membencimu." Ivanna kembali masuk kedalam mansion, sementara Bryan menunduk melihat pakaian - pakaian Ivanna. Bryan tersenyum smirk,
"Ah jadi begitu caramu menggodaku amore? Kau melemparkan pakaian dalammu ke wajahku? Bagus sekali!" Bryan memungut sebuah g-string berwarna merah milik Ivanna dengan senyuman mesumnya, lalu memasukkannya kedalam saku celana dan mengikuti Ivann masuk kedalam mansion.
Ivanna duduk di kursi taman dan mendesah kasar, ia memikirkan bagaimana caranya untuk pergi dari Bryan. Ia mengigit ujung kuku ibu jarinya.
"Bagaimana kalau Bunda kecewa denganku karna aku hamil di luar nikah? Astaga aku pasti akan menyakiti hatinya." Bryan berdiri di belakang Ivanna dengan kedua tangan di saku celananya. Hormon kehamilan yang membuatnya kepekaannya bertambah sadar bahwa Bryan berada di dekatnya. Ivanna mendongak keatas.
"Kau bau sekali!"
Lagi-lagi Bryan mengendus pakaian dan aroma keteknya.
"Kau? **** Ivanna!" Bryan meninggalkan Ivanna
Bryan benar-benar mandi dan berganti pakaian dengan pakaian yang baru lagi. Beberapa maid yang sempat mengambil pakaian Bryan di kamar seketika menggeleng-geleng melihat kebiasaan baru majikannya yang suka berganti pakaian.
Ivanna menaiki lift ke lantai tiga, saat lift terbuka Ivanna berpapasan dengan Lucian. Ivanna berhenti ketika ia mengedus sesuatu dari pria itu.
"Lu?" ucapan Ivanna membuat Lucian yang hendak menekan tutup pintu lift seketika terhenti.
"Iya nona, ada yang bisa saya bantu?" Ivanna menggaruk lengannya,
"Kau pakai parfum apa? Aku menyukai aroma parfummu." Ivanna mendekat berusaha mengendus pakaian Lucian. Lucian yang terkejut hanya bisa pasrah terpojok di dalam lift.
"N-nona!"
"Wah kau harum sekali Lu. Huh aku lebih suka aromamu daripada tuanmu yang menyebalkan itu." Lucian meneguk air liurnya. Bohong kalau ia tak tergoda, Ivanna begitu cantik dan gadis itu sedang mengendus dirinya. Jantungnya berdetak kencang.
"Ugh N-nona t-tenang-kan dirimu!" Lucian hendak meraih bahu Ivanna ketika ia melihat Bryan menatap tajam kearahnya.
"Apa yang kalian lakukan?" Ivanna tersentak, ia berdiri di belakang Lucian sambil memegang ujung jas milik pria itu.
"A-anu tuan,"
"Diam Lu, setelah ini temui aku! Dan kau, ikut aku!" Bryan meraih tangan Ivanna, berjalan menuju kamarnya meninggalkan Lucian yang tampak syok terduduk di pojok lift sambil menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aihh nona kau membuatku dalam masalah besar!"
Bryan menutup pintu kamarnya, dan mendudukan Ivanna di atas meja. Bryan mengapit tubuh Ivanna dengan kedua tangannya bertumpu pada ujung meja. Ivanna mengigit bibirnya.
"**** jangan menggodaku! Apa yang kau lakukan di lift dengan Lucian?"
"A-aku hanya menciumi-"
"A-APA? ME-MENCIUMINYA?" Bryan tampak syok dengan jawaban Ivanna, Bryan memegang dada kirinya, Ivanna melotot menatap gestur Bryan. Ia memegangi kedua lengan Bryan.
"Tidakk! Aku hanya mengendusnya, aku pikir aku menyukai aroma parfum Lucian." Bryan menatap Ivanna, berulang kali mengedipkan kedua matanya sambil mendesah lega. Ia melepas kepalan tangannya pada dada kirinya.
"**** Ivanna, kau membuatku nyaris jantungan!" Bryan menyugar rambutnya, lalu menatap Ivanna. Ia meneguk air liurnya, lalu mengecup singkat bibir Ivanna.
"You're mine, kau hanya milikku Ivanna. Hanya aku yang boleh menyentuhmu." Ivanna tampak gugup, Bryan menyusupkan tangannya memegang belakang leher Ivanna dan mengelus pelan tengkuknya. Ivanna menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya di atas pahanya.
"Hey babe, lihat aku!" Suara baritonnya mendadak melembut. Ivanna mendongak, pupil mata pria itu membesar.
"Can I **** you? Aku tak bisa menahannya lagi." Ivanna terdiam, namun pria itu tetap berusaha meruntuhkan ketangguhan hati Ivanna.
Bryan menciuminya dengan lembut, jangan lupakan tangan pria itu yang bergerak mengusap pelan paha Ivanna.
"Shhh!"
"Come on love, let me ride you." Ivanna menggeleng, cukup sekali kesalahannya. Ia tak akan mengulanginya lagi. Bryan berdecak, ia semakin tertantang dengan penolakan Ivanna. Bryan menciumi kembali Ivanna, ia memberikan cukup banyak rangsangan kepada gadis itu. Senyumnya mengembang ketika Ivanna mulai membalas ciumannya.
Bryan mengangkat tubuh Ivanna dalam gendongannya dengan posisi mereka masih berciuman, Bryan merebahkan tubuh Ivanna, ia melepaskan ciumannya dan menatap Ivanna yang kini sedang terlentang di bawahnya dengan keadaan yang berantakan. Bryan mengigit bibirnya.
"Sial, melihatmu seperti ini membuatku semakin ingin membuatmu lebih berantakan lagi Ivanna." Bryan melepaskan pakaiannya, Ivanna menoleh ke sembarang arah dan menutup bibirnya dengan punggung tangannya. Bryan dapat melihat semburat berwarna pink di wajah putih Ivanna, senyum smirknya mengembang.
Bryan memegang kaki Ivanna, menciumi di berbagai tempat di kaki Ivanna. Meninggalkan bekas ****** di mana mana.
"Bry?"
"Yes amore?"
"Please, I beg you"
Senyumnya mengembang ketika mendengar permintaan Ivanna, Bryan mencium punggung tangan Ivanna.
"My pleasure, Ivanna-ku!"