
Flashback on-
Delapan tahun telah berlalu.
Bryan yang kini sudah berusia 20tahun sudah menjadi remaja yang tampan dan juga gagah. Tak lupa kharismanya sebagai anak pertama dari keluarga kaya membuat banyak gadis gadis rela melemparkan tubuhnya kepada remaja tampan tersebut. Namun sifatnya yang cuek dan dingin membuat para gadis semakin berlomba lomba untuk mencairkan kutub es pada hati bujangan tersebut.
Setelah kelulusannya tahun lalu kini ia ditunjuk sebagai direktur di gudang persenjataan milik papanya. Awalnya ia bahkan tak tahu bahwa papanya adalah pemilik gudang senjata serta pabrik senjata api terbesar di Italia. Namun seiring berjalannya waktu ia menyadari bahwa ia sekarang bukan orang biasa.
Jangan lupakan 2 tahun setelah Bryan di adopsi, mama Yohanna melahirkan anak laki laki kandung pertamanya yang sekarang secara tidak langsung Bryan adalah kakaknya. Adik laki laki yang terpaut usia 12 tahun dibawahnya itu bernama Bennedict Kael Benvolio. Hubungannya dengan sang adik cukup berjalan dengan baik walaupun ia tahu ia bukan anak kandung dari keluarga tersebut.
Saat ini makan malam antara keluarga Benvolio berlangsung secara damai, hanya suara piring yang berdenting akibat gesekan dengan sendok dan garpu.
"Bry"
"Ya papa!"
"Selesaikan makanmu, lalu masuk kedalam ruanganku” Tuan besar Louise beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ruang kerjanya, adiknya Ben menatap kearah kakaknya.
"Kenapa kak?"
"Entahlah. Selesaikan makananmu lalu pergilah belajar” Mamanya, Yoanna menyukai interaksi antara kakak beradik ini. Ia beruntung bahwa Bryan dapat menerima kehadiran adiknya begitupun sebaliknya.
"Cepat bry, papamu bukan orang yang sabar menunggu" mama Yoanna melap bibirnya dengan tisu. Bryan beranjak dari kursinya dan mengikuti Lucian berjalan menuju ruang kerja sang papa.
"Masuklah" suara baritone itu menyadarkan Bryan yang sejak tadi berdiri dibalik pintu. Aroma cerutu dan kayu mahoni yang selalu tercium jika memasuki ruang kerja papa nya kini menjadi aroma favoritnya.
"Masuklah" suara baritone itu menyadarkan Bryan yang sejak tadi berdiri dibalik pintu. Aroma cerutu dan kayu mahoni yang selalu tercium jika memasuki ruang kerja papa nya kini menjadi aroma favoritnya. Bryan duduk di depan meja, sementara ia menatap dengan tatapan kagum terhadap sosok papanya itu.
Di usianya yang sekarang, papa nya sangat terlihat tampan dan berwibawa. Badannya besar, rambutnya selalu terlihat mengkilat karena efek pomade. Jambang yang selalu bersih dan juga rahang kokoh. Bryan sangat mengagumi sosok papanya.
"Dalam waktu sebulan kedepan kamu bebas, setelah itu kamu harus fokus dalam pekerjaanmu!"
"Papa?"
"Bolehkah aku mengunjungi panti asuhan?" Tuan besar Louise menyudutkan cerutunya pada asbak, menghembuskan asapnya keatas.
"Silahkan" Matanya berbinar. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih lalu berlalu meninggalkan papanya yang kini sedang mengurus beberapa berkas.
Lucian yang menunggu Bryan dari balik pintu begitu heran dengan tingkahnya.
"Mari berkemas Lu, hari ini kita terbang ke Indonesia"
Setelah perjalanan yang begitu panjang akhirnya Bryan dan Lucian sampai juga di bandara Indonesia. Kini mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju panti asuhan. Bryan sangat begitu, tak lama kemudian mobilnya berhenti disebuah bangunan tua namun begitu terawat.
Saat itu seorang Biarawati berjalan keluar membuang sampah, saat ia melihat seorang pemuda yang sangat ia kenal ia berlari lalu memeluk pemuda itu.
"Bryan? Ini kamu anak?” Bryan membalas pelukan biarawati itu dengan begitu erat.
"Benar bunda Irene, bryan kembali"
"Oh anakku. Mari masuk, bunda Grace pasti lebih senang melihatmu. Lihatlah kau sekarang!"
"Grace! Grace, Celine! Lihatlah siapa yang berkunjung!" Grace dan Celine berlari tergopoh gopoh menuju asal suara yang berada di ruangan depan tersebut. Alangkah terkejutnya ketika mereka melihat bahwa anak laki laki yang pernah pergi dari panti ini kembali dengan wujud yang menawan.
"Bundaa" Bryan memeluk mereka berdua, mereka semua dalam perasaan haru biru saling melepas rindu. Grace dan yang lainnya mengajak Bryan untuk bercengkrama di ruangan depan, mereka saling bercerita satu sama lainnya.
Deg!
Suara gadis menghentikan percakapan mereka. Gadis itu masuk lalu berhenti di tengah pintu.
"Oh maaf ya bunda, Anna tidak tahu kalau sedang ada tamu" Ivanna meninggalkan mereka dan masuk kedalam ruangannya.
"Bunda, dia siapa?" Tanya Bryan dan membuat mereka semua tertawa.
"Dia Ivanna, kamu lupa nak?”
Bryan begitu terkejut, adik yang ia cium sebelum meninggalkan panti, adik yang ia tinggalkan kalung mendiang ibunya dan adik yang ingin ia nikahi suatu hari nanti kini berubah menjadi gadis berusia 16 tahun yang sangat cantik dan berhasil membuat jantungnya berdetak kencang. Ia sangat ingin memeluk dan menciumi adiknya itu.
"Bolehkah aku bertemu dengan Ivan-"
"Tuan muda kita harus segera pulang!" Lucian berlari dengan keringat bercucuran di dahinya.
"Ada apa?"
"Gudang senjata api dibakar oleh kelompok tak dikenal" Bryan beranjak dari kursi dan berpamitan kepada biarawati biarawati tersebut.
"Maaf bunda, Bryan harus segera kembali"
"Apakah ada masalah? Sepertinya dia berlari tergesa gesa"
"Lain kali Bryan akan jelaskan bunda"
"Baiklah, hati hati nak?"
Setelah berpamitan, Bryan dan Lucian bergerak cepat kembali menuju negaranya. Untung saja mereka berangkat menggunakan jet pribadi. Sesampainya di tempat kejadian, Bryan memeriksa dokumen penting yang ada di kantornya.
"Hilang?” Ia mencari cari seperti orang kesetanan, tak lama kemudian Tuan besar Louise beserta ajudannya mendatangi Bryan.
"Nak, ada sesuatu yang harus kamu lakukan" Bryan mengikuti papanya menuju sebuah ruangan didalam basement.
'ruangan apa ini? Kenapa aku baru tahu sekarang' batinnya bertanya tanya. Di ujung sebuah pintu papanya menyodorkan sebuah berkas.
"Tugas pertama untukmu nak, beri mereka pelajaran! Mereka adalah dalang dibalik kejadian hari ini” ucapan dan tatapan dingin itu baru Bryan ketahui, ternyata papanya bisa membuat ekspresi mengerikan seperti itu.
"Pelajaran apa? Ada apa papa?" Tuan Louise menganggukan kepala kepada para bodyguardnya. kini ia dan papanya memasuki ruangan itu. Disana ia melihat tiga orang dewasa dengan tangan terikat dibelakang dan mulut yang sudah ditutup dengan lakban. Papanya berjalan menuju sebuah meja yang diatasnya tersusun beberapa senjata, seperti beberapa pisau dan senjata api.
"Aku akan memberikan contoh anakku! Aku bukanlah orang suci" Papanya menarik pelatuk dan dorr! Salah satu dari pria itu tertembak tepat dibagian kepalanya, otaknya berceceran bercampur dengan darah. Aroma anyir menguar dari ruangan tersebut. Tuan Louise menghirup dalam dalam aroma anyir darah serta aroma mesiu yang terbakar.
"Bagaimana? Menyenangkan bukan? Lihatlah mereka! Menggeliat bagai belatung yang bersiap dimangsa burung! Hahahahaha" tawanya menggema diseluruh ruangan. Bryan tentu saja terkejut. Ia kini tahu alasan kenapa rumahnya selalu didatangi beberapa orang asing berpakaian serba hitam, terkadang papanya yang menyelinap pergi tepat ditengah malam dan kembali sebelum matahari terbit dengan baju yang terkadang berbeda dari saat ia pergi.
"Ayo nak sekarang pegang senjata ini!" Papanya membantu Bryan dengan memberikan senjata itu lalu membantu memegang senjata itu dari belakangnya. Tangan Bryan gemetaran, senyum smirk ia tunjukan kepada musuh musuhnya yang tengah menggeliat seolah ingin kabur.
"Tenanglah boy, kau hanya perlu menekan pelatuk ini" Sang papa mengarahkan senjata itu tepat di kepala seorang tahanan lainnya.
"Dan, dorrrr" bersamaan dengan suara papanya Bryan berhasil menekan pelatuknya, namun sedikit meleset dari tempat yang diinginkan sang papa. Pelurunya tepat menembak pada mata sebelah kiri pria didepannya, namun tentu saja orang itu langsung mati karena kepalanya ikut meledak setelah peluru itu bersarang di mata kirinya. Papa louise bertepuk tangan, sementara Bryan tampak gemetar menatap senjata yang berada ditangannya.
"Kau sangat hebat anakku, walau sebenarnya aku ingin kau menembak di tengah kepalanya tapi percobaan pertama kau tak mengecewakan. Welcome to the Family son! Kedepannya kamu akan melakukan hal yang lebih dari pada sekarang!" Senyum smirk tuan besar Benvolio membuat siapapun yang berada disana ketakutan.