Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 59



Chester mengubah mimik wajahnya.


"Apa maksudmu?" ucapnya yang membuat Ivanna tersenyum sinis.


"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Lucian memotong jari seseorang. Lalu saat acara pernikahan padre mengucapkan kata yang sangat ambigu. Jawab aku, sebenarnya apa yang mereka sembunyikan?" Chester terkekeh, ia membereskan kembali peralatannya dan memasukkannya kedalam tas.


"Kau pasti hanya berhalusinasi Anna, wajar saja


hormon ibu hamil membuatmu gampang kelelahan. Dan itu bisa memicu halusinasi. Terang Chester. Namun sayangnya Ivanna seperti tak tertarik dengan omong kosong Chester. la melipat kedua tangannya di dada.


"Jadi menurutmu aku berbohong?" Chester bangkit dan menatap Ivanna, tatapannya begitu datar.


"Tidak, namun akan lebih baik bila kau langsung bertanya dengannya." Ucap Chester sambil menyodorkann secarik kertas yang bertuliskan resep obat. Ia meninggalkan Ivanna yang sedang duduk sambil meremas kertas itu.


Brakk.


Ivanna mengigit bibirnya. takut bila ternyata kenyataan tak sesuai ekspetasinya. Ia mengatur nafasnya lalu mencoba untuk menghubungi Bryan. Ivanna meraih ponselnya yang berada di nakas ranjang.


Drttt drtttt


Ivanna semakin takut ketika Bryan tak kunjung mengangkat panggilannya. Ia kembali menghubungi Bryan.


Dritt drtttt


Setelah panggilan yang ke lima barulah Bryan mengangkat panggilannya.


"Yes babygirl, Apa kau butuh sesuatu? Maaf aku menaruh ponselku di saku celana. Aku tak melihat panggilan darimu." ucap Bryan dari balik panggilan tersebut.


"Ah tidak, aku hanya ingin tanya kau ada dimana itu saja." Balas Ivanna sekenanya, ia ingin mengetahui alasan apa yang akan diberikan oleh Bryan kepadanya. Samar-samar Ivanna mendengar suara rintihan dari balik ponselnya, namun ia memilih untuk tidak bertanya untuk menghindari kecurigaan Bryan.


"Aku sedang melakukan sesuatu bersama Lucian. Kalau begitu aku akan mematikan panggilannya okay?" Tak lama kemudian panggilan itu benar-benar dimatikan oleh Bryan. Ivanna berusaha untuk tetap berpikiran positif terhadap Bryan, namun entah mengapa feelingnya mengatakan yang lain. Ia memilih untuk menyusul Bryan yang mungkin saja sekarang berada di pavilium.


********


Click!


Bryan mematikan panggilannya, kemudian menatap sinis kearah pria yang sedang saat ini sudah dipenuhi darah di bagian tangannya. Bryan baru saja memotong tangan pria itu hingga benar-benar terputus keduanya. Bryan memakai kembali sarung tangannya dan mendekati pria itu. Bryan memukul pipinya.


"Sialan! Untung saja aku lekas mematikan panggilan itu." Bryan menjepit pipi pria itu, ia pun memanggil Lucian untuk mendekatinya.


"Lu, kemarilah dan pegang mulutnya. Aku akan memotong lidahnya karna berani bersuara ketika aku menerima telepon." Bryan sudah bersiap membawa pisau dapurnya, tampak pria itu meronta ketika Lucian mencoba untuk memegangi mulutnya.


"Tidakk! Jangan! Ampuni aku!" teriak pria itu, setelah itu Lucian berhasil memengangi mulutnya, dengan senyum smirknya Bryan menarik lidah pria itu dengan sarung tangan yang sudah berdarah-darah.


Srettt!


Dalam sekali ayun Bryan berhasil memutus lidah itu, Lucian melepaskan tangannya pada mulut pria itu. Pria itu merintih sambil membuka mulutnya yang kini mengucurkan darah segar, dan Bryan pun tersenyum penuh kemenangan.


"Bagaimana? Kau menyukainya bukan?" Pria itu masih merintih kesakitan. Bryan meninggalkan pria itu untuk menghisap rokoknya. Bryan menjepit rokok itu diantara jari telunjuk dan jari tengah, lalu membawanya ke bibirnya ketika ia meraih korek apinya. Dalam satu hisapan Bryan mengenyitkan alisnya. Lalu membuang rokok itu.


"Sial, rasanya seperti darah."


Bryan melepas kedua sarung tangannya dan mengantinya dengan rokok yang baru.


Drtt dritt


Bryan dan Lucian saling berpandangan, lalu mata mereka menatap ke arah suara ponsel yang berbunyi itu. Ponsel itu berada di saku celana pria tadi. Bryan meraihnya, layar tersebut menampilkan nama Mr. X. Senyumnya tersungging.


Bryan mengangkat panggilan itu. Mulanya tak ada suara yang terdengar dari balik panggilan itu, namun tak lama kemudian terdengar suara tertawaan dari balik panggilan itu.


"Tunggulah, aku benar-benar akan menghancurkanmu dengan tanganku sendiri."


Tawa terdengar dari panggilan tersebut, bukan hanya satu orang tapi ada banyak suara tawa yang terdengar dari panggilan itu. Mereka berusaha membuat Bryan malu.


"Sampai saatnya tiba kau juga akan kehilangan sesuatu yang berharga Bryan, Ivanna dan juga triplets!"


"Kau? Jangan pernah berani untuk menyakiti


Ivanna!"


"Bukankah itulah resikonya Bryan? Harusnya kau tahu itu." Damian mematikan panggilan itu, membuat Bryan murka dan membanting ponsel itu ke tembok hingga membuat ponselnya hancur berkeping - keping.


Bryan mengambil senjata api dari saku jasnya dan menodongkan pucuknya di kening pria tersebut.


Dor!


Sebuah tembakan dilayangkan Bryan untuknya, muncratan darah dan juga daging berserakan dimana- mana. Tak hanya pakaian, kini wajah Bryan pun terkena cipratan darah.


"Rest In Hell!" Gumam Bryan,


Krekkk!


Bryan dan Lucian menoleh ke arah sumber suara, Bryan dan Lucian terkejut ketika mendapati Ivanna yang terduduk di balik pintu sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mala Ivanna tampak berkaca-kaca.


"****!" ucap Bryan lirih lalu melemparkan senjata itu kepada Lucian.


"Bereskan ini, aku serahkan semuanya kepadamu." Bisik lirih Bryan pada Lucian lalu ia berjalan mendekati Ivanna.


"Hey amor-"


"Jangan mendekat!" Bryan mengulurkan tangannya berusaha untuk membantu Ivanna berdiri, namun belum sempat ia mendekat Ivanna menyeret badannya menjauh dari Bryan.


"KUBILANG JANGAN MENDEKAT! APA KAU TULI?" maki Ivanna ketika Bryan mendekatinya. Nafasnya naik turun. Ivanna memegangi perutnya yang terasa sakit, bahkan kini wajahnya penuh dengan keringat dingin.


"Amore hey kau pucat, aku akan membawamu kembali okay?" ucap Bryan sambil mencoba untuk meraih Ivanna. Bukan tangan lembut yang membalas uluran tangannya melainkan Ivanna yang menampik kasar tangan Bryan. Tak ada lagi tatapan lembut yang ditunjukkan Ivanna untuk Brya, melainkan tatapan takut dan jijik Ivanna kepadanya.


"Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu. Aku bisa melakukannya sendiri!" Ivanna mencoba untuk bangkit sendiri. Efek syok dan rasa takut Ivanna membuat kaki dan tangannya terasa lemas.


"Aku akan tetap membawamu kembali ke kamar." Bryan meraih tubuh Ivanna dan menggendong ala bridal style untuk membawanya pulang. Tak perduli akan dirinya yang kini penuh dengan darah dan juga tubuh Ivanna yang terasa berat saat hamil, Bryan tahu bahwa dirinya kini dalam masalah besar.


********


Bryan mendudukan Ivanna di tepi kasur. Sejak tadi tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Ivanna.


"Hey sweetheart." ucap lembut Bryan sambil berlutut di depan Ivanna, tangannya mengusap lembut perut Ivanna sambil matanya menatap wajah Ivanna yang kini enggan menatap matanya.


"Kau membunuhnya." Gumam Ivanna lirih yang masih dapat di dengar oleh Bryan.


"Iya aku tahu." balas Bryan sambil terus mengelus perut Ivanna. Tak lama kemudian Ivanna bangkit lalu dengan keras ia menampar wajah Bryan hingga membuat tangannya terasa perih. Bryan memegang pipinya dan menatap Ivanna dengan tatapan sendu.


"Pergilah, aku tak ingin melihatmu." Ucap Ivanna lirih sambil membalikkan tubuhnya. Ia tak ingin menatap Bryan lebih lama lagi, Bryan mengerti itu. Bryan memilih untuk mengalah dan berjalan meninggalkan Ivanna untuk menenangkan dirinya. Sebelum melangkahkan kakinya keluar Bryan dapat melihat bahu Ivanna bergetar. Ivanna menangis, ia ingin sekali berlari dan memeluk tubuh itu. Namun sekali lagi ia tak ingin membuat Ivanna semakin membencinya.


Brak.


Pintu tertutup. Tangis Ivanna luruh beserta tubuhnya yang kini terduduk di tepi ranjang. Tangan bekasnya menampar Bryan kini nampak memerah, bahkan tangan itu bergetar. Kini kepercayaannya runtuh, Ivanna begitu takut kepada Bryan.