
"Bisakah kau berhenti melakukan hal seperti itu Bry? Menyakiti orang dan membunuhnya?" ucap Ivanna lirih, namun tak ada jawaban yang kunjung Bryan jawab. Hanya ada suara hembusan nafas yang berbicara. Ivanna tersenyum tipis.
"Kau tak bisa menjawabnya kan bry?" ucap Ivanna sekali lagi. Bryan mengeratkan genggaman tangannya. Melihat senyuman keputusasaan Ivanna semakin menambah rasa sakit di hati Bryan.
"Aku tidak bisa berjanji amore, tapi aku pasti akan melepaskan semuanya." Ivanna menggeleng mendengar penuturan Bryan, ia melepaskan genggaman tangan Bryan padanya. Saat ia menatap mata Bryan, ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul di pikirannya.
Ivanna menundukkan wajahnya mencegah Bryan untuk melihat air matanya. Jujur saja saat ini ia begitu rapuh. Ia lelah,
Sementara Bryan bingung ia harus melakukan apa, ia mencoba menghibur Ivanna dengan memengangi kedua pundak gadis itu.
"Aku ingin pulang ke Indonesia-" gumam Ivanna
lirih.
"Ulangi sekali lagi amor"
"AKU INGIN PULANG KE INDONESIA! AKU INGIN PERGI SEJAUH MUNGKIN DARIMU Apa kau sudah cukup mendengarkannya huh?" Ivanna berteriak di depan wajah Bryan. Ivanna menghempaskan tangan Bryan dan mencoba melepas jarum infusnya.
“Apa yang kau lakukan?" ucap Bryan mencoba menenangkan Ivanna, saat ini Bryan mencoba memegangi satu tangan Ivanna dan satu tangan lainnya memegangi bahu Ivanna. Bryan merebahkan tubuh Ivanna di atas ranjang rumah sakit.
"Lepaskan Bry, aku mau pulang!"
"Gila hah? Kau baru saja sadar, setidaknya pikirkan anak kita."
"Aku tahu Bry, dengan pergi sejauh mungkin darimu. Demi keamanan anak KITA. Bagaimana bisa aku membesarkannya di lingkungan yang berbahaya? Saat ini kita sudah kehilangan dua calon anak kita Bryan, lalu setelah ini bukan hanya nyawamu yang sedang dalam bahaya, namun bisa saja anak yang ada di dalam rahimku sekarang dan juga aku! Bisakah kau membayangkannya hah?" Nafas Ivanna terengah-engah la benar-benar meluapkan segalanya. Ia menarik nafas panjang dan meneruskan kembali ucapannya.
"Aku mohon pulangkan aku, dan hiduplah terus seperti itu jika kau enggan melepaskannya Bry. Saat ini aku peduli dengan keselamatan anak satu-satunya yang masih hidup. Aku tidak ingin kehilangannya." Ucap Ivanna lirih. Bryan mendekati wajah Ivanna dan memberikan ciuman untuk menenangkan Ivanna. Setelah ciuman itu Bryan menempelkan dahinya dengan dahi Ivanna, sambil tangannya mengelus pelan bahu Ivanna yang bergetar.
"Aku tidak mau kehilanganmu Ivanna, aku bisa gila bila melepaskanmu. Berikan waktu untukku okay? Aku akan menyelesaikannya tapi tidak sekarang." Ivanna menggeleng.
"Kau egois Bryan."
"Ya Ivanna, aku adalah pria yang egois. Dan pria egois itu begitu mencintaimu.
Ivanna mendorong dada bidang Bryan, lalu berbaring memunggunginya.
"Pergilah Bry, aku ingin sendiri."
Bryan mendesah pelan, ia bangkit dari ranjang itu dan pergi meninggalkan Ivanna yang sedang ingin menghabiskan waktunya sendiri.
********
Drtt drttt
Suara dering ponsel membuat Bryan menghentikan langkah kakinya. Ia mengambil ponsel itu di saku celananya.
Padre is calling
Bryan memijit pangkal hidungnya, tak lupa ia menarik nafas panjang kemudian mengangkat
panggilan itu.
"Ya padre?"
"Kemarilah, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Jangan pikirkan Ivanna, aku sudah mengirim seorang maid dan juga bodyguard untuk menemaninya."
"Aku akan kesana." Bryan memutus panggilannya.kemudian ia bergegas menuju basement untuk mengambil mobilnya dan pergi menuju Mansion milik Louise.
********
"Bagaimana keadaan Ivanna sayang? Apakah kau sudah menceritakan kepadanya?" Bryan mengangguk.
"Hampir semuanya Madre, aku tidak menceritakan tentang mafia di keluarga kita. Aku tak ingin semua itu menambah beban pikiran Ivanna.” Yoanna tersenyum tipis, ia mengusap air matanya yang menggenang di pelupuknya.
"Pasti Ivanna merasa kecewa." ucap Yoanna sambil mengusap bahunya. Bryan menggenggam tangan Yoanna dan mengusap punggung tangannya, seakan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Bryan memutuskan untuk segera pergi menuju ruang kerja milik Louise. Ia membuka pintu, di dalam sana tampak Louise dan Bennedict yang duduk saling berhadapan.
"Ada apa padre?" ucap Bryan mengambil duduk di samping Bennedict, Louise memutar monitornya. Bryan dapat melihat satu persatu dari ribuan data terinstal dan hampir mendekati seratus persen. Louise tersenyum,
"Aku sudah melakukan genosida, sebentar lagi BLACKWINGS akan melalui era baru." Louise dan Bennedict tersenyum, namun tidak dengan Bryan. Bryan berdiri dan membuat kedua orang itu menatapnya heran.
"Aku ingin keluar dari BLACKWINGS."
Brak!
Louise menggebrak mejanya, matanya memerah menatap Bryan dan menunjuknya dengan tongkat kayu yang selalu dibawanya.
"TIDAK BISA! Kau anak pertama Benvolio Bryan. Kau tak bisa keluar begitu saja."
"Tidak bisakah padre mengangkat Ben? Aku ingin menjalankan kehidupan normalku padre. Menikah, memiliki anak-anak dan keluarga yang normal." Louise terduduk dan memijit pangkal hidungnya. Ia menatap tajam kearah Bryan.
Benar seperti ini jika mafia memutuskan untuk keluar dari kehidupan kotor yang sudah di buatnya sendiri. Tak semudah itu untuk keluar dari lubang beracun. Sangat sulit untuk membersihkan nama bagi seorang dengan track record terburuk. Dan Bryan adalah salah satunya.
"Apa Ivanna yang menyuruhmu?" Tanya Louise, ia melirik Bryan yang kini tampak meragu. Louise mendekati Bryan, memegang bahunya kuat dan menatap anak-anaknya.
"Tak ada sangkut pautnya dengan Ivanna padre, ini murni atas keinginanku sendiri." Jawab Bryan tegas walau masih ada sedikit keraguan dihatinya. Ia tak yakin semua akan berjalan begitu mulus untuknya.
"Tapi aku tidak tertarik dengan BLACKWINGS bro, kau tahu kan? Bahkan untuk membunuh saja aku tak sanggup,"
"Kau perlu waktu yang lama untuk membersihkan namamu Bry, Lak semudah itu untuk langsung lepas dari semuannya. Untuk saat ini pikirkan dulu okay. Kau bisa memulainya dengan membantu Bennedict, keruk semua harta yang bisa kau ambil dariku dan kembangkan sendiri bisnismu. Untuk saat ini hanya kau satu-satunya yang bisa aku andalkan, son. Padre membutuhkanmu." Ucap Louise sambil memegang bahu Bryan, tak ada yang bisa Bryan katakan selain mengangguk dan memilih untuk memulainya kembali, BLACKWINGS adalah harga mati Benvolio. Harga diri yang sudah diturunkan sejak dulu tak mungkin harus dilepaskan begitu saja. Bryan menatap Bennedict. Kini ia akan menyerahkan semuanya untuk Ben lalu hidup dengan tenang bersama Ivanna, istri dan juga belahan jiwanya.
********
"Bagaimana Damian dan juga Antonio?" ucap Bryan memecah keheningan yang terjadi diantara mereka.
"Beruntung bro, Antonio sudah mati setelah kau menembaknya. Dia memiliki masalah pada jantungnya dan tembakanmu yang sedikit meleset mengantarkannya pada ajalnya. Tapi Damian, pria itu berhasil kabur saat pesta sedang berlangsung. Tapi aku sudah melacaknya berkat bantuan Red." Louise dan Bryan mengangguk. Dua masalah sudah selesai, Antonio dan Genosida BLACKWINGS. Namun kini mereka akan menghadapi masalah selanjutnya. Oregon dan juga Ivanna.
Bryan berpamitan pada Louise dan Bennedict, tak lupa juga Yoanna yang tampak sangat ingin ikut pergi ke rumah sakit. Bryan menolaknya, ia takut Ivanna akan membenci keluarganya setelah ia tahu bahwa keluarganya pun menyembunyikannya pada Ivanna.
Brak!
Bryan merebahkan tubuhnya di jok mobilnya. Tiba-tiba ia merasakan perasaan lelah entah karena apa, ia ingin mendengarkan suara Ivanna untuk membuat perasaannya menjadi lebih baik.
Bryan mengambil ponsel di saku celananya, ia hendak menghubungi Ivanna. Bryan ingat ia meninggalkan ponsel Ivanna yang sebelumnya ada di dalam lemari baju di samping nakas bad rumah sakit.
Dua kali Bryan menghubungi Ivanna, namun sepertinya Ivanna tak ingin mengangkat panggilannya. Bryan tak kehabisan akal. Ia kembali menghubungi Ivanna hingga pada panggilan yang entah keberapa akhirnya Ivanna mengangkat panggilannya. Bryan mendesah lega.
"Apa maumu hm? Bukankah kau tahu bahwa aku perlu banyak waktu istrirahat di rumah sakit. Kenapa kau menghubungiku?" ucap Ivanna dari balik panggilan itu. Bryan tersenyum lega, akhirnya ia bisa mendengar suara cerewet dari wanita yang dicintainya itu.
"Aku mencintaimu Ivan-
Tut!
Panggilan itu terputus,
Na? Hah?" ucap Bryan sambil menatap layar ponselnya. Ivanna mematikan panggilannya. Bryan berdecak, sambil tangannya sibuk menggeser - geser foto - foto di galerinya. Ia tersenyum ketika melihat foto Ivanna saat ia memotretnya secara sembunyi – sembunyi di pantai Indonesia.
"Apakah ini karma yang diberikan untukku memperjuangkanmu dari awal lagi dan memulainya kembali Anna? Bila iya, aku akan sangat rela jika harus memperjuangkanmu dan memperlakukanmu lebih baik lagi dari pada saat pertama kita bertemu.”