Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 41



"Wah akhirnya jadi juga!" seru Irish ketika membuka pintu oven, wangi cupcake coklat menyebar keseluruh ruang dapur.


"Wangi coklatnya harum banget." Ucap Ivanna yang dibalas anggukan oleh Irish, tak lama kemudian datanglah beberapa maid yang lainnya ke dapur.


"Wah wangi apa ini?" ungkap salah satu dari mereka, Ivanna dan Irish saling berpandangan kemudian tersenyum,


"Pas banget kita bikin banyak ya? Bagaimana kalo sebagian kita bagikan ke semuanya?." Tanya Ivanna, Irish tentu saja menyetujui idenya. Mereka menuangkan lagi sebagian adonan kedalam cetakan cupcake, setengahnya lagi yang saat ini sudah matang mereka bagikan ke seluruh maid. Saat ini hanya satu cupcake yang tersisa di atas loyang, sembari menunggu matang Ivanna mengambil cupcake itu lalu membaginya menjadi dua rata dan memberikan setengah dari cupcakenya untuk Irish.


"Untukku?" tanya Irish, Ivanna mengangguk


sambil tersenyum. "Tentu saja, kau kan sudah membantuku


membuat cupcake ini."


"Tapi-"


"Terima saja Irish, kita membuatnya berdua. Jadi aku ingin menikmatinya berdua denganmu.” Ivanna menyodorkan cupcake itu, dengan pelan Irish mengambil cupcake itu dari tangan Ivanna. Kemudian mereka memakannya bersama-sama.


"Huhuhu enak banget, bener-bener mirip sama buatan bunda." Ivanna terharu dengan cupcake perdananya dengan Irish. Irish tersenyum,


"Kita membuatnya dengan cinta Anna, itulah yang membuatnya menjadi nikmat." Ivanna mengangguk setuju.


Setelah semua bahan masuk, Irish bertugas mencuci bekasnya. Ia melarang Ivanna untuk mencuci bekas masak-masak mereka. Ivanna melepas apron dan juga membuang sarung tangan plastiknya kedalam tempat sampah. Ia berjalan mendekati Irish,


“Aku bisa membantu kok, tenang saja Bryan gak bakalan tahu." Ivanna terus mendesak Irish agar diperbolehkan untuk membantu, namun Irish masih tetap menggeleng sambil sesekali mendesah pelan.


"Sudahlah Anna, aku takut seseorang melihatmu lalu memberitahukan itu kepada Tuan. Bisa – bisa kau terkena masalah." Ucap Irish. Mau tak mau Ivanna lebih memilih kembali duduk di tempatnya berada, dan meneruskan mengisi sebuah kotak kue dengan cupcake.


Selesai mencuci, Irish mengeringkan tangannya dengan apron lalu mendekati Ivanna. Ivanna tampak tersenyum menyodorkan kotak kue tersebut.


"Apa ini?" Tanya Irish,


"Ambillah, aku menyisakannya untuk adikmu. Adikmu harus menikmati kue buatan kakaknya." Irish tersenyum haru lalu memegang kedua tangan Ivanna.


"Kau benar-benar, aku bahkan tak bisa lagi berkata-kata. Terima kasih Ivanna."


"Sama-sama Irish!"


Sebuah motor trail melaju dengan kencang melintasi pepohonan ditengah hutan yang gelap, penumpang dengan helm fullface itu melirik radar di tangan kirinya. Setelah ia yakin ia berada dalam posisi yang tepat ia menghentikan motornya. Ia membuka helm itu,


"Ck beneran di sini kan?" ucap Samuel sambil melihat di sekelilingnya, semuanya tampak datar. Ia memukul tangki motornya.


"Dasar manusia-manusia bodoh! Mereka membohongiku!" Samuel mengigit bagian dalam bibirnya, ia mengeluarkan ponsel dan menekan - nekan layarnya. Lalu mendekatkan ponselnya di telinga kanannya. Berkali-kali nada sambung itu ditolak, Samuel membuang ponselnya.


"Hahh benar-benar!"


Samuel berjongkok, ia mengambil sebatang rokok di dalam saku bajunya dan mengisap rokok itu. Ia menghembuskan asapnya tinggi - tinggi.


Tak lama kemudian ia mendengar sesuatu, seperti suara pintu gerbang yang terbuka yang letaknya tak jauh dari sini. Dengan cepat Samuel mematikan rokoknya, tak lupa ia menginjak putung rokok itu.


Benar saja, sebuah gerbang yang letaknya 500 meter dari sisi kirinya terbuka. Ada sebuah lampu kecil didalamnya. Senyumnya mengembang,


"Hehehe I found you!" gumamnya.


Samuel berjalan mengendap-endap mendekati pohon besar yang tumbuh tak jauh dari gerbang itu, ia bersembunyi dibalik pohon itu mengeluarkan teropong dari dalam jaketnya.


"Sepertinya itu kaki tangan Bryan, apa yang dilakukan pria itu malam-malam dengan sebuah plastik sampah besar? Benar-benar menakutkan."


Bruk!


Lucian menutup pintu bagasi mobilnya, ia tampak berulang kali menguap dan menutup pintu gerbang aneh itu. Setelah memastikan pintunya terkunci Lucian masuk kedalam mobil dan mengendarai mobilnya menjauh dari area hutan.


Samuel menimbang – nimbang apakah ia harus mengikuti Lucian atau mengeksplorasi tempat itu. Dan rupanya Samuel memilih untuk tetap tinggal disini.


Samuel mendekati gerbang aneh itu. Ia menghidupkan senter dari ponselnya.


"Sepertinya ini yang dimaksut oleh mereka." Samuel menghidupkan radarnya, dan menandai koordinat tempatnya berdiri, Ia tertawa.


"Akhirnya aku menemukan cara untuk mengambil Ivanna, dan membuatmu menjadi gila karna kehilangannya. Tunggulah Bryan hahahahaha!"


Samuel menghentikan tawanya, ia menekan ponselnya lalu memanggil nomor papanya.


Antonio mematikan ponselnya, Samuel berdecih dan kembali memanggil pria sialan itu. Namun lagi - lagi panggilan Samuel sengaja di tolak oleh Antonio. Ia tersenyum sinis lalu mengetikkan pesan singkat dan mengirimnya ke nomor Antonio.


Satu detik,


Dua detik,


Tiga detik,


Drrtt drtttt,


kini giliran ponsel Samuel yang bergetar. Samuel melirik sinis nama pemanggilnya dan memilih mematikan panggilan itu. Samuel melakukan hal yang sama dengan apa yang pria itu lakukan kepadanya. Tepat di panggilan yang kelima kali Samuel menggeser layar ponselnya menggangkat panggilan dari pria itu.


"Astaga maafkan aku karna tadi tak mengangkat panggilanmu, maklumilah bahwa papa mu adalah orang yang penting. Jadi, rencana apa yang kau dapatkan hari ini untuk menyingkirkan Benvolio putraku?" Samuel tersenyum sinis mendengar ucapan pria tua itu,


“Aku memaklumimu papa, kita sama bukan? Aku hanya menyampaikan bahwa aku menemukan cara untuk menculik mainan Benvolio. Aku sudah menemukan sebuah jalan, jadi cepat lakukan dengan Oregon Oregon apalah itu untuk membuat Benvolio ini mengangkat kakinya disini." jelas Samuel panjang lebar, dibalik panggilannya Antonio mengangguk paham sambil melirik gadis yang kini bersimpuh memainkan miliknya di bawah sana. Bahkan Samuel dapat merasakan ******* menjijikan dari mulut pria tua itu.


"Baiklah aku akan membantu rencanamu putraku, kalau begitu aku akan mematikan panggilan ini karna aku sedang melakukan hal penting lainnya.”


Klik.


Panggilan itu diputus secara sepihak oleh Antonio, Samuel memasukkan jari kelingkingnya di telingannya.


"Sial aku mendengarkan suara gorila bercinta. Benar-benar menjijikan."


Samuel kembali memakai helmnya, dan mengendarai motornya untuk pergi kembali.


Tik tok tik tok


Detik jam diatas nakas berdenting, Antonio menghisap rokoknya sambil terus menatap wajah wanita yang ia sewa sedang melayaninya diantara kedua pahanya. Ia mengepulkan asapnya tinggi – tinggi. Tak jarang mimik wajahnya berubah berulang kali, Antonio mendesis kesakitan,


Plakk


Sebuah tamparan ia hadiahkan pada wanita itu hingga tersungkur, wanita itu memegangi pipinya yang memerah.


"Ashhh bodoh! Bagaimana kau bisa melayaniku dengan gigimu? Pakai mulut dan lidahmu, sialan merusak mood saja." Antonio mengambil dompet disaku celananya, lalu membuang beberapa lembar uang itu didepan wajah wanita itu.


"Ambil dan enyahlah dari pandanganku!”


Wanita itu merangkak mengambil beberapa uang yang berceceran di lantai, kemudian berjalan menuju ranjang dan memakai kembali pakaiannya. Tanpa permisi ia melangkah pergi meninggalkan kamar itu dengan wajah terangkat, senyum sinisnya tergambar jelas di wajahnya dengan pipi yang tampak memerah. Ia keluar dari bangunan itu dan mendekati sebuah mobil yang terparkir cukup jauh dari tempatnya berada.


Bennedict keluar dari mobilnya, ia bersandar di kap mobil sambil menghisap rokoknya yang tinggal sedikit.


"Jadi bagaimana keadaan didalam Red?" ucap Bennedict ketika wanita itu berdiri didekatnya.


"Aku sedikit mendengar tentang kakakmu dari panggilannya bersama anaknya. Kau tahu? Sepertinya anak itu menemukan cara untuk menjatuhkan keluarga Benvolio. Tapi aku menduga, kali ini tujuan mereka bukan lagi ke Tuan Louise, namun kepada Bryan." Bennedict mengangguk, sebuah panggilan menginterupsinya,


"Halo?"


"Tuan, beberapa herps terbakar. Kami menemukan ada kurang lebih 3 orang berhasil menyusup kedalam gudang. Kami minta ma-"


Klik,


Bennedict memutus panggilannya, ia menatap Red sambil tersenyum smirk.


"Ck mereka benar-benar bergerak dengan cepat bukan?" Red tersenyum,


"Jadi apa rencanamu Ben?" Bennedict membuang putung rokoknya, ia memberikan sebuah amplop coklat berisi beberapa lembar uang didalamnya kepada Red.


"Tentu saja membawa Bryan kemari. Tapi tenang saja, aku hanya akan menyuruhnya sebentar untuk memusnahkan para penyusup dan penghianat. Lalu menyuruhnya kembali. Kau tahu bukan bahwa membunuh terang-terangan bukan gayaku?” Red mengangguk, ia mengambil amplop uang itu sambil mengenyitkan kedua alisnya.


"Apa ini?" tanya Red kepada Bennedict yang kini telah masuk kedalam mobilnya, Ben menghidupkan mesin mobilnya,


"Untukmu, periksakan dirimu ke rumah sakit. Antonio adalah sampah, aku tak ingin kehilanganmu Red. Selamat tinggal!" Bennedict memacu mobilnya, sebelah tangannya keluar dari jendela mobil dan melambaikan tangannya untuk Red.


Red mematung dan menatap mobil Bennedict yang menjauh, Red menundukkan wajahnya yang memerah.


"Hah bagaimana bisa aku tak menyukaimu kalau kau seperti itu padaku Ben?"