Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 53



Bryan menjatuhkan sendolanya. Bryan mengendusi tubuhnya memastikan ia tidak mencium aroma anyir. Ivanna tampak menatap heran kemudian ia terkejut ketika melihat lengan jaket Bryan yang mengeluarkan darah.


"Ada apa denganmu?" Ivanna memegang lengan


itu dan menyihakkan lengan jaket itu, Alangkah


terkejutnya ia ketika melihat luka menganga yang


bersembunyi di balik lengan jaketnya.


"Astaga, pantas saja alu mencium bau darah.


Bagaimana bisa kau tak sadar bahwa kan sendiri


terluka?" Bryan tersenyum melihat perhatian Ivanna, ia mengelus pelan pipi gadis itu dengan salah satu tangannya.


Sepertinya aku terjatuh ketika berada di kamar mandi. Cepat selesaikan makanmu.


"Tapi bagaimana bisa. Haruskah kita pergi ke


rumah sakit?"


Tak perlu, aku memiliki kotak pak di dalam mobil." Ivanna menatap Bryan seakan tak percaya, namun ia lebih memilih segera menghabiskan


gelattonya dan membantu mengobati Bryan di dalam mobil.


Sesampainya di mobil Bryan mengambil kotak itu di belakang jok mobilnya, ia menyerahkan kotak itu di pangkuan Ivanna.


"Kau bisa membantuku bukan?" ucap Bryan menyandarkan kepalanya di atas roda kemudi Ivanna mengangguk dan mengeluarkan beberapa alat yang akan digunakan untuk mengobati Bryan.


Ivanna mengoleskan alkohol untuk membersihkan sisi luar huka yang menganga. Ia berkali-kali menatap Bryan memastikan bahwa Bryan tak kesakitan.


Nyatanya Bryan hanya menatapnya intens sambil tersenyum seolah ia tak merasakan rasa sakit sama sekali.


"Apa kau benar-benar terjatuh? Sepertinya ini bukan luka jatuh, lebih seperti luka karna goresan


benda tajam."Bryan menatap Ivanna datar dan mengelus pucuk kepala gadis itu.


"Aku benar-benar tejatuh. Apa kau tak mempercayaiku?" ucapan Bryan seketika membuat Ivanna diam.


Entah mengapa Ivanna merasa Bryan menutupi sesuatu. Akhirnya Ivanna hanya menutup saja luka itu dengan perban Selesai mengobatinya


Bryan mengemudikan mobilnya menuju mansion. Keadaan di dalam mobil tampak begitu sunyi. Tak ada yang mau mengeluarkan suaranya, entah Bryan ataupun Ivanna mendesah pelan, ia menatap jalanan dari dalam mobil hingga akhirnya ia pun tertidur.


"Nghhh!"


“Shhh tidurlah amore." Bisik Bryan lirih sambil menggendong Ivanna ala bridal style. Ivanna


mengeratkan pegangannya dan menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Bryan.


Sesampainya di dalam kamar Bryan merebahkan


tubuh Ivanna, ia menyelimuti gadis itu dan


memberikannya ciuman selamat malam.


Saat Bryan hendak pergi Ivanna menarik tangannya "Kau man pergi kemana?" ucap Ivanna lirih.


Bryan menatap Ivanna dan duduk berjongkok di


samping Ivanna yang tengah mengintipnya dari balik selimut "Aku akan pergi sebentar."


"Apakah itu penting?" Bryan terdiam, ia menghembuskan nafasnya lalu mengelus pelan puenk rambut Ivanna.


Ia tersenyum tipis. "Entahlah, tapi aku harus pergi sebentar. "


"Bisakah kah menemaniku tidur? Malam ini. Aku


ingin tidur sambil memeluk mu." Ucap Ivanna


mengiba, Bryan berdiri menyngar rambutnya ke


belakang.


Ia melepasakan kancing bajunya, dengan bertelanjang dada dan memakai celana bahannya Bryan ikut merebahkan dirinya di kasur la mengambil posisi dimana tangan kirinya untuk


dijadikan bantal oleh Ivanna.


Ivanna tersenyum puas, ia merebahkan dirinya di samping Bryan dan memeluk pria itu. Sesekali Ivanna mengusap wajahnya di dadanya.


"****, can we just **** now?" Bryan berbisik lirih.


Matanya menatap frustasi Ivanna yang sedang


mengusap-usap dada Bryan dengan wajahnya.


Mendengar hal itu Ivanna berhenti mengusap-usap wajahnya dan berpura-pura tidur.


"Kau harus bertanggung jawab amore." Bryan mengusap pelan bibir penuh Ivanna dan menciuminya, Ivanna membalas ciuman Bryan.


Ivanna melepas ciuman Bryan, dan menatap sayu


kearah Bryan


"Kau tak melupakan apa kata dokter tadi kemarin


bukan?" Bryan mengigit bibir bawahnya.


"I'll be gentle." Ucap Bryan lirih sambil mencium


telapak tangan Ivanna. Kemudian ia kembali memberikan kecupan ringan di seluruh wajah Ivanna, tak lupa Bryan meninggalkan jejaknya di bagian tubuh Ivanna hingga akhirnya ia sampai di perutnIvanna


Cup cup cup


Bryan mengecup perut Ivanna sebanyak tiga kali Kemudian mengusapnya pelan. Ia juga memastikan milik Ivanna siap untuk penyatuan mereka. Ivanna menutup wajahnya dengan kedua tangannya ketika Bryan hendak memasukkan miliknya.


Bryan mencoba meraih tangan Ivanna agar ia lebih lelusa melihat wajah Ivanna yang memerah dan tampak sayu


"Amore, lihat aku." ucapan Bryan layaknya


mantera sihir yang mampi membuat Ivanna memperlihatkan wajahnya. Tampak keringat bercucur di dahinya membuat kulitnya tampak lebih seksi ketika tersorot lampu kamar.


"Ivannaku yang cantik." Dengan sekali hentakan Bryan berhasil menembus bagian inti Ivanna. Sesuai janjinya Bryan melakukannya dengan pelan, menghabiskan waktunya untuk melihat wajah Ivanna yang tampak begitu menggodanya. Bryan mengigit bibir bawahnya gemas.


"Ughh you look so hot amore."


Ia terus menciumi Ivanna dan mengelus pelan


perutnya, memastikan ia tak melakukannya kasar dan menyakiti calon anak mereka. Hingga akhirnya Ivanna lebih dulu mencapai puncaknya, dan tak lama kemudian giliran Bryan yang hampir mencapai puncaknya. Ia mencabut miliknya dan mengeluarkannya di perut Ivanna.


Nafas mereka naik turun.


"Aku ingin tidur." Ucap Ivanna, Bryan mencium pipi Ivanna dan menggendongnya ala bridal style


menuju kamar mandi.


"Tidurlah setelah aku membersihkan tubuhmu." Bryan terlebih dulu memasukkan Ivanna kedalam bathtub, menyalakan air hangat lah menyusul untuk duduk di belakang Ivanna. Ivanna benar-benar tertidur saat air dalam bathtub sudah penuh sepenuhnya. Bryan membersihkan tubuh Ivanna dengan telaten, hampir setengah jam mereka berendam, dan Bryan membawa tubuh Ivanna kedalam kamar, menggantikannya dengan pakaian yang hangat lalu menyelimuti tubuhnya.


Selesai ia memakai pakaian Bryan mendekati Ivanna yang kini benar-benar tertidur. Ia mencium kening Ivanna.


"Aku akan kembali." Bisik Bryan lirih sambil


pergi keluar dari kamar mereka.


******


"Lu kemarilah."


Bryan menutup panggilannya dan menghisap kembali rokoknya. Ia meletakkan ponselnya dan memegangi lengannya yang kini kembali mengucur darah segar.


"****!"


Tak lama kemudian Lucian datang. Ia tampak pucat seperti seorang vampir karna ia baru saja tiba di Italia 3 jam yang lalu dan kini ia harus melayani Bryan dengan keadaannya yang belum istirahat.


"Kau kacau sekali." Bryan melirik Lucian dan berdecih.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?"


“Aku menyuruhmu untuk menjahit luka di lenganku. Sepertinya karna aku aktif bergerak membuat lukanya kembali terbuka." Lucian mengangguk mengerti dan mengambil kotak p3k dan juga alat medis untuk melakukan pembedahan. Lucian mengambil sebuah suntikan baru dan juga obat bius, lalu menyuntikkannya di dekat lengan Bryan.


"Apa ada hal buruk terjadi?" tanya Lucian sambil membersihkan tangan Bryan dengan alkohol.


"Aku bertemu dengan mata-mata Oregon. Sepertinya dia memberitahukan Ivanna kepada Antonio."


"Sial."


"Lalu bagaimana setelah ini tuan? Apakah Anda yakin akan menikah besok?" ucap Lucian kepada


Bryan yang dibalas kekehan Bryan. Bryan membuang putung rokok itu dan menginjaknya.


"Tentu saja, aku sudah menyiapkan semuanya dengan bantuan anak buah padre." Lucian mengangguk, Bryan tampak mengenyitkan dahinya ketika Lucian menarik jarum itu dari kulitnya, ia masih bisa merasakan tekstur benang yang menggeliat melewati kulitnya.


"Kau sudah memberikan 'itu' ke panti asuhan bukan? Aku sedikit merasa bersalah karna tak menceritakannya langsung kepada Ivanna." Bryan melirik Lucian yang saat ini sudah menggunting benangnya, tak lupa Lucian mengganti kembali perban dengan yang baru.


"Istirahatlah Lu, besok hari besarku." Bryan mengusir Lucian, kini ia sendiri sedang menikmati langit malam Italia dengan damai dari atas balkon. Ia menatap cincin yang kini melingkar di jari manis tangannya, mengusapnya dengan senyum smirk.


"Akhirnya aku mendapatkanmu Ivanna, setelah ini tak akan ada orang yang akan mengambilmu dariku. Aku pasti akan melindungimu dan juga anak- anak kita."


Bryan kembali menuju kamarnya, melihat Ivanna yang tampak tertidur dengan damai. Ia tersenyum sambil merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong. Ia menghadap Ivanna, menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah ayunya.


"Setelah hari ini, aku akan memastikan bahwa kau satu-satunya wanita yang ada di hidupku. Aku akan menjadikanmu ratu dan membuat wanita diseluruh dunia iri akan dirimu."


Bryan mengecup bibir Ivanna singkat, lalu tidur dengan memeluk tubuh Ivanna.