Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 13



Helikopter itu terbang mengarungi samudra atlantik utara, sebuah senter dengan cahaya yang terang menyorot bagian lautan yang gelap.


"Cari kapalnya!" Ucap Bryan pada yang lainnya.


"Tuan, radarnya menghilang. Sepertinya Antonio mempermainkan kita" Lucian yang sedari tadi mengawasi radar terkejut tak kala tiba tiba radarnya berubah, seperti mengalami glitch karna radarnya berpindah tempat berulang kali. Bryan menghembuskan nafasnya kasar.


"Baiklah sepertinya lebih baik kita kembali dulu, papa bagaimana? Sudah pulang?" Lucian menggeleng, sepertinya Tuan besarnya sedang sibuk membuat perhitungan dengan Ricardo. Bryan menyenderkan bahunya pada kursi,


"Bangunkan aku setelah kita mendarat di Italia"


"Baik tuan"


Bryan menutup matanya, malam ini bergitu sangat melelahkan.


Sementara ditempat lainnya, Louise tampak sedang menyiksa Ricardo dengan mengikat tubuhnya dengan sebuah batu besar. Beberapa kali Ricardo mengerang karna sayatan yang di buat oleh Louise disiram oleh air laut.


"B-bunuh aku saja sekalian!" Ucap Ricardo yang tengah terkulai lemas, Louise dengan senyum yang menakutkan tampak senang menatap lawannya kali ini.


"Tentu saja kau akan mati setelah ini, tapi membuatmu mati dengan perlahan karna kesakitan lebih baik untukmu. Kau seharusnya tahu konsekuensi yang harus kau terima ketika bermain main denganku, bukan?" Louise menepuk pelan pipi Ricardo, iapun kini tampak sudah pasrah dengan perlakuan mantan atasannya itu.


"Kau mau tahu sesuatu? Antonio berhasil kabur. Kau senang kan?" Ucapan Louise membuat mata Ricardo membola.


"Bajingan itu lebih pintar darimu, dan kau bodoh Ric karna harus percaya dengannya"


"A-apa maumu L-louise!" Louise terkekeh. Inilah pertanyaan yang sangat ia tunggu,


"Melihat orang yang berani berkhianat mendapatkan karmanya!" Louise menancapakan pisaunya pada dada Ricardo, hingga sang pemilik badan mengerang kesakitan.


"Pembalasan ini tak berarti secuil pun dari apa yang kau lakukan dibelakangku Ric, semalam aku sudah menawarkan beberapa organ milikmu untuk dijual"


"A-apa? Jangan! Tuan aku mohon ampuni aku!!" Ricardo meraung dan meronta, tubuhnya tampak memar karna gesekan dengan tali yang begitu kencang mengikatnya. Sebuah suntikan ia keluarkan dari dalam saku celananya, lalu ia menyuntikkannya kedalam nadi Ricardo. Perlahan tubuh pria paruh baya berusia 50 tahun itu melemas.


"Terkutuklah kau Benvolio beserta keturunanmu!" Ricardo mengucapkan sumpah serapahnya di akhir nafasnya, detak jantungnya berhenti.


"Tuan, kita apakan tubuh pria ini?" Ucap salah satu seorang bawahannya, Louise menatap jasad Ricardo dengan tatapan jijik.


"Tenggelamkan saja pria itu beserta batunya, dia sudah tak berguna lagi untukku” Ucapnya sambil melipat pisaunya dan memasukkannya kedalam saku.


"Sekarang fokuskan pencarian kepada Antonio. Kita berangkat sekarang!" Louise memberi arahan kepada para bawahannya dan menaiki sebuah kapal, menyusuri samudra atlantik utara demi menemukan Antonio.


"Annaaa!!" Leon masuk kedalam minimarket bersama dengan seorang gadis. Wajah mereka berdua tampak begitu terlihat segar dan bersemangat.


"Hei Leon- oh siapa dia?" Ivanna yang sedari tadi sibuk menghitung kembalian dan menatanya di laci tampak terkejut dengan kedatangan Leon dan seorang gadis disampingnya.


"Dia yang mau aku kenalin sama kamu kemarin. Anna perkenalkan dia Maria kekasihku dan Maria sayangku perkenalkan ini sahabatku Ivanna, panggilannya Anna" Gadis bernama Maria itu menyodorkan tangannya dan di balas Ivanna.


"Hai aku Anna"


"Salam kenal anna, aku maria"


"Wah kalian sangat cocok bersahabat" Ivanna memukul pelan lengan Leon sambil melototinya,


"Jadi kalian ada rencana mau kemana?" Tanya Ivanna pada mereka berdua, Leon yang baru pertama kali berpacarn pun hanya salah tingkah. Pipinya memerah..


"Entahlah anna, jujur ini pertama kalinya aku berkencan dengan seorang laki laki. Apakah kamu mau memberikan kami ide tempat yang romantis?" Ucap Maria. Ivanna tampak terdiam memikirkan ucapan dari kekasih sahabatnya itu. Ahh mereka berdua sangat polos.


"Wahh terima kasih Anna, kau memang sahabatku! Baiklah yuk sayang, semangat Anna aku akan mentraktirmu lain kali!!" Ucap Leon sambil menarik tangan Maria menghilang dari minimarket, sedang Ivanna yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap tingkah sahabatnya yang tak jaim walaupun saat bersama pasangannya.


Ivanna terus melakukan pekerjaannya hingga tak terasa jam menunjukkan pukul 10 malam. Ia membuang sampah, mematikan lampu yang tak penting lalu mengunci minimarketnya. Setelah itu berjalan seperti biasa menuju rumahnya.


Ia berjalan ditemani oleh lampu jalanan yang menghiasi langkahnya. Ia bersenandung menyanyikan lagu kesukaannya. Ditengah tengah nyanyiannya beberapa orang berpakaian serba hitam menangkapnya dan membawanya masuk kedalam mobil. Ivanna berteriak


"Tolong!! Seseorang tolong aku!" Ivanna menjerit ketakutan, ia tak mengenal orang orang ini. pria yang membawanya menggunakan masker yang menutupi seluruh bagian wajahnya.


"Bunda tolong Ivanna!"


"Huaaaaa Leon! Bunda! To-long" Ivanna berhenti menjerit setelah seseorang berhasil menyuntikkan obat penenang kedalam tubuhnya.


"Bawa ke markas!" Ucap seorang pria yang berada di kursi penumpang didepan, dua orang yang lainnya berada di belakang mengapit tubuh kecil Ivanna.


Mobil berwarna hitam metalik itu berjalan membelah lautan mobil dan motor yang berlalu lalang dijalanan raya yang ramai. Setelah melewati jalan tol mobil itu melewati sebuah hutan yang ternyata ditengah tengah hutan itu ada sebuah rumah sederhana berbahan dasar kayu yang tampak terlihat bagus. Tubuh Ivanna yang kecil digendong ala bridal style dan diikat disebuah tempat tidur.


"Kalian boleh pergi!" Kawanan penjahat itu pergi meninggalkan tubuh Ivanna yang tergeletak dengan malang dan seorang pria yang merupakan ketua dari kawanan penjahat tersebut.


Pria itu menatap Ivanna dengan tajam, ia masuk kedalam kamar mandi tanpa melepas penutup kepalanya. Beberapa menit telah berlalu, pria yang sejak tadi berada di kamar mandi keluar hanya dengan menggunakan handuk yang melilit bagian pinggang kebawah, pria itu adalah Samuel Jarvis.


"Sayang sekali tak ada orang yang akan menyelamatkanmu Ivanna. Cincin yang kau jadikan kalung itu, aku mengenalnya. Kau adalah gadis yang dinanti oleh anak angkat dari Benvolio!"


"Aku harus membalaskan dendamku kepadanya dengan perantaramu"


Samuel memfoto Ivanna dengan keadaan yang begitu mengenaskan, sam sengaja melepas beberapa kancing baju milik Ivanna dan meninggalkan jejak kemerahan di bagian lehernya.


Cekrekkk!


"Kita lihat setelah ini apakah ia masih mau menolong 'gadis kotor' sepertimu?" Samuel menekan nomor di ponselnya, tak perlu menunggu lama hingga seseorang berhasil mengangkat panggilannya.


"Kirimkan foto tadi kepada Bryan, berikan juga kepadanya percikan percikan api yang mampu memicu kemarahan dari anak angkat Benvolio itu!"


"Baik, aku menunggu kabar baik darimu!"


Panggilan itu diputus oleh Samuel dan ia kembali menatap Ivanna, ia berdecih pelan.


"Tubuh sungguh menjijikan, aku tak menyukai tubuh gadis mungil sepertimu!"


Drttt drtttt


Bryan yang saat ini tengah berada di dalam mobilnya terbangun akibat dering ponselnya berkali kali.


"Ck siapa bajingan yang ganggu tidurku!"


Ia mengutak atik ponselnya dan menemukan sebuah nomor asing yang mengirim banyak gambar. Saat gambar itu satu persatu terdownload ia refleks membanting ponselnya.


"Arghhhh brengsek kau Samuel! Akan kupastikan nyawamu segera berada di gengamanku. Boris! Putar balik mobilnya, kita terbang ke Indonesia sekarang.!"


"Dan kau Lu, panggil beberapa anak buah kita untuk segera menyusul ke Indonesia. Aku yakin Samuel sudah mengetahui ayah kandungnya! Kita akan memulai perang dengan Antonio dan Samuel!"


"Baik tuan!"