Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 25



Bryan menyeret tubuh Ivanna, melemparnya diatas ranjang empuknya. Ia tampak seperti orang yang kesetanan. Ia menulikan telinganya dan memilih terus mengikat kedua tangan Ivanna di sisi ranjang atas kiri dan kanan, Ivanna terus menangis meminta tolong dan tak ada satupun orang yang berani menyelamatkannya.


"Sebenarnya apa maumu, hiks?" Bryan mengangkat sebelah alis matanya mendengar pertanyaan Ivanna. Ia menjepit kedua pipi gadisnya itu.


"Aku menginginkanmu sialan! Dan jangan bertingkah seperti ****** yang menggoda pria di luaran sana. Lucian bukan orang yang bisa kau goda dengan wajah polos itu. KAU HANYA MILIKKU!" Bryan menekankan ucapannya, Ivanna semakin ketakutan. Bryan tersenyum smirk lalu naik keatas ranjang, duduk di paha Ivanna dengan bertumpu pada kedua lututnya.


"S-sejak kapan aku milikmu?" Tanya Ivanna, suaranya memelan. Bryan mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah cincin ya sama di jari manisnya.


"Kau milikku sejak dulu!" Kini giliran Ivanna yang terkekeh, membuat Bryan tampak bertanya – tanya ada apa dengan gadisnya?


"Heh, kau bisa melepasnya KAK! Sekarang aku sudah tahu siapa kau, silahkan lepaskan benda konyol milikmu dari tubuhku, aku tidak membutuhkan barang mengerikan ini lagi."


"Ulang kembali ucapanmu Ivanna!" Gigi Bryan bergemeletuk, otot-otot di lehernya mencuat. Bryan menahan emosinya.


"AKU TIDAK BUTUH BENDA KONYOL INI, AMBIL DAN ENYAHLAH DARI HIDUPKU BRENGSEK!"


Plakk!


Sebuah jejak tangan berwarna merah menghiasi kulit pucat Ivanna, tamparan itu sangat keras hingga Ivanna mampu mendengar suara berdenging di sebelah telinganya. Bryan mencekik leher Ivanna,


"KAU TAK PUNYA HAK UNTUK MENAIKKAN NADA BICARAMU SIALAN! Benda konyol? Akan kutunjukkan apa itu konyol Ivanna!"


Ivanna meronta, seluruh wajahnya memerah karna kekurangan pasokan oksigen.


"Ukhhh khhhhhkkk!"


"Ayo! memohonlah padaku amore, memohonlah agar aku melepaskanmu sekarang bunny!" Ucap Bryan sambil terus menyekik leher putih gadisnya itu, Ivanna menolak memohon. Ia lebih memilih mati di tangan pria gila itu agar Bryan berhenti menganggunya. Perlahan tapi pasti kaki Ivanna melemah, ia pingsan karna kekurangan oksigen. Bryan menggila, ia membanting semua yang ada di dekatnya. Ia merogoh saku celananya mengeluarkan ponsel miliknya.


"Lu! Panggilkan dokter kemari, cepat!" Bryan menutup panggilannya. Nafasnya naik turun karna setelah meluapkan emosinya.


"****! Bahkan kau lebih memilih mati daripada memohon padaku? Disgusting ****!" Maki Bryan, ia mengacak rambutnya kasar. Tak lama kemudian datanglah Lucian bersama seorang dokter laki – laki muda yang tak lain adalah Chester, sepupu Bennedict yang sedang melakukan tugas di Indonesia.


"What the **** dude! Apa yang baru saja terjadi?" Tanya Chester kepada Bryan, Bryan melirik tajam kearah Chester.


"Jangan banyak bicara Ches, kau cek dia!" Ia menunjuk Ivanna yang tergeletak tak berdaya diatas kasur dengan bekas tamparan dan juga cekikan. Tak lupa kedua tangan dalam posisi terikat. Hal ini tak membuat Lucian maupun Chester terkejut, hanya saja seorang gadis diatas tempat tidur Bryan? Chester mengeluarkan stetoskop dari dalam tas nya. Memeriksa kening dan bekas cekikan di lehernya.


"Dia demam dan mengalami dehidrasi, heh rupanya kau penyuka gaya bercinta secara brutal ya sepupu? Sayang sekali sepertinya kali ini kau harus berpuasa terlebih dahulu." Chester memasangkan infus di tangan Ivanna, menuliskan resep obat dan memberikannya kepada Bryan.


"Oleskan salep di lehernya setelah mandi, obatnya diminum 3 x 1 hari. Dalam dua hari dia akan segera membaik!" Bryan menatap resep obat di tangannya, membiarkan Lucian mengantar Chester ke depan.


"Hhaahhh!"


Ia mendekati Ivanna, mengelus sayang pipi gadis itu. Memberikan ciuman di seluruh wajah dan tak lupa bibir pucat gadis itu.


"Seharusnya kau memohon kepadaku bunny. Ini semua salahmu karna kau tak mau memohon kepadaku!" Bryan mengepalkan tangannya, melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan Ivanna yang tertidur.


"Uh hhaahhh, Bunda tolong An-na. Huhuhu hiks!" Bryan mengusap air yang menggenang di mata Ivanna, lalu mengelus pucuk rambutnya. Gadis itu menangis dalam tidurnya.


"Bangunlah amore, aku disini!"


Sudah 2 hari sejak Ivanna pingsan, ia sama sekali belum bangun. Bahkan untuk mengisi perutnya dan meminum obat. Bryan tetap setia menemani Ivanna dan menenangkan jika tiba-tiba gadisnya menangis.


Tangan Ivanna bergerak perlahan-lahan, tak lama kemudia kelopak matanya tampak berkedit dan mulai terbuka pelan-pelan.


"Kau sudah bangun?" Ucap Bryan kepada Ivanna saat gadis itu menatap tajam kearahnya. Ayolah, Bryan ingin berdamai. Bryan membantu Ivanna duduk, ia hendak menyuapkan bubur kepadanya.


"Makanlah, kau sudah tidur selama 2 hari."


Ivanna menolak suapan Bryan. Berulang kali nun Ivanna menolak Bryan selalu memaksanya.


Bryan bukanlah orang yang mempunyai stok sabar tak terbatas. Bryan menyuapi dirinya sendiri dan mencium Ivanna. Ia menyuapi gadis keras kepala itu melalui mulutnya.


"Telan!"


"Menjijikan!" Ucap Ivanna. Bryan menekan kedua pipi Ivanna, menatap gadis itu dengan nyalang.


"KAU? MENGAPA KAU SELALU MENOLAKKU!" Bryan meninggalkan Ivanna, menutup pintu dengan keras dan memilih turun ke lantai satu.


"Richard! Panggil satu pelayan dan suruh dia merawat gadis tak tahu diri itu!" Seorang maid membawa sepiring bubur dan pergi menuju kamar, sedangkan Bryan memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya. Ia memilih melampiaskan rasa emosinya dengan menghisap cerutu.


Selesai makan dan meminum obat Ivanna duduk bersandar pada ranjang Bryan. Aroma maskulin khas pria itu menguar di seluruh kamar. Ia menatap ke jendela lalu perlahan - lahan ia menangis. Ia benar-benar gagal melarikan diri. Ivanna tak tahu nasib apa yang menunggunya besok.


Bryan masuk kedalam kamar, melirik sekilas Ivanna lalu memutuskan pergi menuju kamar mandinya. Suasana canggung diantara mereka berdua membuat Ivanna kebingungan. Suara gemericik air shower membuat pikiran Ivanna melayang jauh. Memikirkan Grace dan yang lainnya, memikirkan sahabatnya dan juga memikirkan panti asuhan tempatnya tumbuh. Ivanna menyentuh lehernya, kalung dan juga cincin itu masih terikat di lehernya. Ia merasakan sesak ketika mengingat benda itu.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Bryan dengan badan setengah kering dan handuk kecil yang menutup bagian pinggulnya. Ivanna mengalihkan pandangannya ke arah lainnya. Ia Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Bryan dengan badan setengah kering dan handuk kecil yang menutup bagian pinggulnya. Ivanna mengalihkan pandangannya ke arah lainnya. Ia ingin berbicara dengan Bryan untuk memulangkannya.


Bryan masuk kedalam walk in closet, Ivanna menautkan kedua jari jarinya gugup. Bisakah ia pulang?


Tak lama kemudian Bryan keluar dengan pakaian yang lebih rapi, berjalan mendekati Ivanna.


"Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan? Kepalaku rasanya mau berlubang karna kau memelototinya." Ivanna menunduk malu,


"Bisakah kau memulangkan-"


Belum selesai ucapan Ivanna, Bryan menyambarnya dengan cepat. Ia tahu kalimat itu yang akan di ucapkan juga oleh Ivanna.


"Tidak! Kau tak melupakan kontrak kerjamu bukan?" Ivanna melongo, apakah ada point yang tidak ia baca dengan jelas sehingga Bryan mengingatkannya. Melihat wajah Ivanna yang nampak kebingungan ia berjalan menuju walk in closetnya dan mengambil kontrak kerja milik Ivanna.


"Bacalah! Aku harap kau mengingatnya." Ivanna mengambil kontrak itu, membacanya dengan pelan dan yakin bahwa tak ada satupun point yang ia lupakan. Sampai kertas terakhir, matanya membola. Ia yakin sebelumnya tak ada point seperti itu disana.


"Jika pihak kedua (2) berhenti bekerja sebelum waktu yang di tentukan bersama, maka pihak kedua (2) wajib membayarkan denda 5 kali lipat dari seluruh total gaji yang akan dibayarkan kepada pihak pertama (1 )? Apa - apaan ini, kalian memerasku?" Ivanna menggenggam surat kontrak ini. Bryan tersenyum sinis sambil mengambil kontrak itu,


"Memerasmu? Aku tak memerasmu. Kau bahkan yang tak membaca dengan teliti point penting pada kontrak itu. Jadi bagaimana? Kau mau tetap bekerja denganku atau membayar denda itu sekarang juga?" Sinis Bryan sambil menatap Ivanna yang memerah karna menahan amarah. Kedua tangannya mengepal.


"Aku akan tetap bekerja denganmu jika kau menghormatiku!” Sungut Ivanna sambil menatap pria itu berapi - api, sedangkan Bryan menjawab Ivanna dengan enteng seperti tanpa dosa.


"Aku menghormatimu." Bryan tersenyum meremehkan. Ivanna semakin marah melihat Bryan menjawabnya dengan tanpa beban.


"Kau melecehkanku!"


"Apa salahnya? Kau milikku!" Finalnya. Ivanna semakin terlihat berapi - api, ia meraba lehernya. Mencari benda sialan yang harus membuatnya terikat dengan pria gila itu.


"Kau mencari cincinmu?" Ivanna menatap Bryan nyalang, kali ini apa yang direncanakannya? Bryan mendekati Ivanna, menarik tangan kanan Ivanna dan mengecup cincin di jari manis Ivanna.


"KAU? Lepaskan cincin ini!" Ivanna berusaha melepas cincin itu, sayangnya cincin itu mengikat jari manis Ivanna dengan sempurna.


"Teruskan memberontak amore. semakin kau berusaha melepaskan cincin itu, semakin sulit. Cobalah, kau akan kehilangan jari manismu!"


"Lebih baik aku kehilangan jari manisku daripada harus bersamamu dan juga cincin sialan ini! Aku muak!”


Brak!


Bryan meninju heardboard ranjang yang berada di belakang Ivanna,


"Dengar bunny, jangan pernah kau menyebut cincin ini sialan, watch your mouth. Kau tak pantas menaikkan nada bicaramu seperti itu kepadaku! Kau tak ingin aku menyakitimu bukan?" Bryan mengelus rambut Ivanna pelan, lalu turun ke bibir gadis itu.. Ia mencium lembut bibir Ivanna dan berusaha masuk kedalamnya. Namun Ivanna tetap tak bergeming.


Bryan melepaskan diri, dan berjalan menuju pintu kamarnya. Ivanna menatap kepergian pria itu,


"Aku harap kau mendengarkan kata-kataku bunny! Jangan membuatku marah untuk kedepannya, kalau kau tak ingin berakhir di playroom milikku"


Pintu tertutup. Meninggalkan Ivanna yang tampak bergeming menatap cincin di jari manisnya.