Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
prolog



"Selamat pagi, selamat berbelanja!" Ucap seorang gadis dari balik meja kasirnya. Ia tampak sedang menghitung belanjaan dari pelanggan yang saat ini sedang menyusun barangnya di atas meja kasir.


"Totalnya 235rb ya kak, terima kasih silahkan datang kembali!" Ucapnya tak kala pelanggan itu meninggalkan meja kasir. Ia membalikkan tubuhnya dan kembali menyusun beberapa barang di rak belakangnya. Ia menyusun dengan telaten sambil sesekali bersenandung riang. Sementara beberapa pelanggan lainnya mulai berdatangan dan ia melakukan kegiatan yang sama berulang kali.


"Kak Ivanaa!!" Ucap seorang gadis kecil berusia sekitar 12 tahun masuk kedalam minimarket tersebut sambil tersenyum, gadis kasir itu menoleh.


"Vania? Kamu kesini sama siapa ?" ucapnya menoleh ke belakang, melihat siapa yang berada diluar minimarket.


"Aku sendirian kak, nia mau beli es krim" Gadis yang bernama Nia itu menyodorkan beberapa uang recehan dan berlalu menuju kotak es yang selalu penuh terisi beberapa jenis ice cream. Ia tampak dengan riang memilih beberapa macam es krim yang akan dibelinya. Sedangkan Ivanna menghitung uang receh milik Nia.


"Nia, kamu hanya bisa membeli 1 buah es krim dengan uangmu ini” ia berkata sambil mendekati Nia, tampak gadis itu sangat sedih karna ia gagal membawa lebih banya es krim. Ivanna tampak sedang berpikir.


"Kali ini beli seadanya dulu saja ya nia, nanti setelah kakak gajian akan kakak belikan banyak es krim buat semuanya Ivanna." membujuknya dengan nada lembut, senyuman mulai terbit dari bibir manis Nia.


Nia membawa sebuah es krim menuju meja kasir, Ivanna tampak menyodorkan beberapa kembalian dengan uang recehannya tadi.


"Nia, makannya di depan saja ya sayang. Oh iya kembaliannya jamgan dibuat jajan sembarangan, di tabung saja nanti bunda marah loh sama Nia" Nia si gadis mungil tersebut tersenyum, Ivanna membantu membukakan pintu untuknya dan membiarkan gadis kecil itu duduk sendirian menatap lalu lalang kendaraan sambil memakan es krimnya. Gadis kecil itu hendak meninggalkan minimarket karna es krimnya sudah habis, ia kembali masuk kedalam minimarket tersebut.


"Nia pulang kak gadis itu melambaikan tanganya kepada Ivanna, dan Ivanna kembali membuka pintu untuk gadis kecil itu.


"Hati hati ya sayang! Hari ini kakak akan cepat pulang. Jangan lupa pr nya dikerjakan nanti akan kakak lihat bukunya" Ivanna melambaikan tangannya membalas gadis itu. Ia kembali menunggu kasir selama kurang lebih 8 jam, sampai akhirnya seorang staff lainnya datang dan menggantikan jam kerja Ivanna sebagai karyawan shiftt.


"Thanks Anna" ucap laki laki itu sambil melambaikan tangannya kearah Anna, sedangkan Anna pergi sambil tersenyum membalas lambaian tangan dari karyawan laki laki itu.


"Thanks juga leon, aku pulang "


Sekarang jam dipergelangan tangannya menunjukkan pukul 16.30. Ivanna berjalan melewati beberapa gang yang sepi. Ia mendengar langkah kaki di belakangnya, saat ia menoleh tak ada satupun orang yang berjalan dibelakangnya. Ivanna dengan perasaan sedikit ketakutannya mencoba berdoa dari dalam hati meminta keselamatan.


Seorang pria dengan jaket parasut dan topi hitam menatap punggung Ivanna yang semakin menjauh. Ia mengirup udara dalam dalam.


"Haaahhh wangi aroma Ivanna" pria itu masih mengikuti Ivanna dari jarak yang lumayan jauh agar tak diketahui oleh Ivanna. Sementara Ivanna yang sadar ia telah diikuti oleh seseorang, ia berbelok ke gang kanan dan berlari dengan sepatu hak tingginya.


"Hhaaahh hhhahhhh hampir sampai!" Ivanna terus berlari hingga sebuah gerbang yang bertuliskan PANTI ASUHAN KASIH BUNDA terlihat jelas oleh redupnya lampu jalanan. Ia memasuki gerbang, menutup serta mengunci gerbang dengan rapat. Kini ia merasakan perasaan aman dan nyaman. Sebuah pintu utama terbuka, seorang wanita berumur kurang lebih 50 tahunan yang berpakaian biarawati itu menatap Ivanna yang berkeringat dengan perasaan khawatir.


"Anna? Apa yang terjadi denganmu anakku?" Ivanna memeluk tubuh biarawati itu, lalu menangis sesenggukan. Tubuhnya bergetar hebat karna merasakan ketakutan.


"Cup cup! Sekarang anna aman bersama bunda, yuk masuk. Anna pasti lelah bekerja" Senyum wanita tua itu menenangkan Anna, ia menyeka air matanya dibantu oleh tangan berkeriput itu lalu mengangguk kecil.


Anna naik ke lantai atas menuju kamarnya. Ia melepas baju kerjanya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia menghidupkan air hangat dalam bathup, dan merendamkan semua badannya yang sedikit pegal. Ia menginggat peristiwa tadi, ia merasakan seseorang tengah mengikutinya. Namun kenapa saat ia menoleh kebelakang sosok misterius itu menghilang? Apakah ia salah mengira?


Pria itu menatap lantai atas panti asuhan itu, ia tahu bahwa kamar itu adalah milik Ivanna. Kini ia tengah bersandar pada kap mobil dengan menghisap sebatang cerutu. Ia menyugarkan rambutnya ke belakang, sambil menatap sebuah silluet dari balik gorden. Bayangan gadis itu tampak berjalan ke kanan dan kekiri, sesekali ia seperti tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tak lama kemudian lampu kamar itu padam.


Seorang pria lainnya yang sedang duduk di balik kemudi turun mendekati sang pria yang tengah berdiri diluar itu.


"Anda mau pergi sekarang, Tuan muda?"


"tuan"


"Oh hampir lupa. jika sedang berdua denganku, berhenti berbicara formal kepadaku Lucian!" Pria itu menghisap cerutunya, membuang dan menginjaknya. Berjalan mendekati Lucian dan mengeluarkan asapnya tepat didepan muka lelaki itu dan membenarkan kerah baju lelaki itu.


"Ya bryan" ucap Lucian membukakan pintu belakang, membiarkan Bryan masuk lalu menutup pintunya.


Mobil Rolls Royce berwarna putih itu melaju meninggalkan gerbang Panti asuhan.


Sementara itu Ivanna mematikan lampu kamar dan pergi menuju meja makan, disana bunda Grace dan dua biarawati lainnya tengah duduk menyantap makan mereka dalam satu meja panjang.


"Selamat malam bunda Irene, bunda Cecilia" Ivanna mengecup pipi mereka satu persatu. Mereka tersenyum. Ivanna berjalan mendekati kursi bunda Grace karna letaknya yang berada di ujung meja makan.


"Malam juga bunda Grace" Ivanna mengecup pipi bunda yang selalu bersamanya sejak masih bayi itu, lalu bunda Grace dan yang lainnya mempersilahkan Ivanna untuk mencari tempat duduk yang nyaman untuknya sendiri.


"Duduklah Anna. Hari ini bunda Irene yang memasak kesukaanmu. Ayam lada hitam dan tumis brokoli wortel" bunda Irene memasukkan nasi kedalam piring serta mengisi piring itu dengan lauk yang dimasaknyan tadi. Ivanna mengucapkan terima kasih lalu berdoa. Mereka semua makan dengan damai.


"Maaf ya bunda bunda, Anna hari ini tidak bisa membantu bunda mengurus adik adik" Mereka semua saling menatap, lalu tersenyum hangat.


"It's okay sayangku. Bunda disini semua tahu kalau Anna sibuk bekerja.


Dan seharusnya bunda yang berterima kasih kepada anna karna anna masih mau ikut membantu perekonomian panti ini" bunda Cecillia mengelus punggung tangan Anna, lalu tersenyum.


"Semoga Tuhan selalu mempermudah segala urusanmu, anakku!"