Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 34



Leon dan Maria tampak sedang berdebat di sebuah toko,


"Kamu kenapa sih babe, aku cuma mau ngajakin kamu quality time berdua! Kenapa kamu marah – marah sih?"


"Tapi aku beneran lagi gaada mood buat main Le, kamu tahu aku kangen banget sama Ivanna. Pumpung dia lagi ada disini!"


"Tapi-"


"Sudahlah. Aku mau pulang saja."


Maria menghentakkan kakinya menjauh dari pusat pertokoan, ia mengigit kuku jarinya.


"Sial, aku kehilangan waktu berhargaku untuk bisa mengikat Bryan. Aku harus kembali ke panti asuhan."


Ivanna bangkit dari bathup, ia berdiri di depan cermin menatap wajahnya yang tampak membengkak dengan beberapa bekas tamparan di pipinya yang tampak kemerahan. Ia juga menatap pergelangan tangannya bekas ikatan kuat dari sabuk laki-laki bejat itu. Jangan lupakan bekas jejak kemerahan di seluruh tubuhnya karena ulah Bryan.


"Aku membencimu!" Ivanna terus menggumamkan kata-kata tersebut,


Ia berjalan menuju ke kamarnya dengan sedikit tertatih karna rasa sakit yang menyerang di **** ***** miliknya, ia mendesah pelan.


"Shhhh sakit sekali."


Ivanna membuka pintu kamarnya, melihat Bryan yang sedang duduk sambil menghisap ceritunya. Bryan melirik Ivanna dan mendekati gadis itu.


"Are you okay amore?" Ivanna menyentak tangan Bryan yang memegang kedua bahunya, Ivanna menatap tajam kearahnya.


"Aku membencimu Bry, demi bumi dan seisinya aku mengutukmu!" Bryan mencium bibir Ivanna sekilas, ia memegang wajah mungil gadis itu dengan kedua tangan besarnya.


"Hey it's okay. Kamu boleh mengutukku Ivanna, namun jika kau membenciku aku akan mencium bibir jahat ini." Bryan mengusap bibir lembut itu, pandangan matanya tertuju pada cincin di tangan kanan Ivanna. Ia mencium cincin itu dengan lembut.


“Aku mencintaimu Ivanna, kau tahu itu bukan? Aku mencintaimu selama 10 tahun. Menikahlah denganku, maka aku akan memberikan seluruh duniaku untukmu. Apapun akan aku berikan untukmu amore!" Ivanna tertegun dengan ucapan Bryan, jika sebelumnya mereka bertemu secara baik - baik tentu ia akan tersanjung, tapi setelah apa yang dilakukan Bryan padanya tentu saja ia akan menolaknya.


"Kau bisa melepaskan cincin ini? Aku mohon. Kau menyakitiku, kau mengikatku. Aku merasa sesak! Aku mohon lepaskan aku!" Ivanna terisak, Ivanna membenci dirinya yang terlihat lemah. Tangan Bryan terkepal, saat ini ia tampak akan mengamuk. Bryan mengusap kedua wajahnya kasar dan mendesah pelan.


"Aku menganggap aku tak mendengar permintaanmu Amore!" Ivanna menatap tajam Bryan, ia memukul - mukul dada bidang itu dengan kedua tangan kecilnya,


"Aku benar benar membencimu, jangan pernah bermimpi untuk memilikiku Bry. Aku tak akan jatuh padamu.!" Bryan menatapnya datar, sebuah getaran ponsel menginterupsi keduanya. Bryan menatap nama pada layar ponselnya yang berkedip, lalu melirik sekilas kearah Ivanna yang tampak menatapnya tajam dengan mata yang memerah.


"Ya Lu, bagaimana?" Senyum smirk tergambar di wajahnya tak kala Lucian memberitahukan sesuatu yang membuat perasaanya menjadi lebih baik.


“Bagus, ikat dia di tempat biasanya. Dan panggilkan beberapa pria untuk menemaninya." Bryan mematikan ponselnya, ia mengusap pelan mata Ivanna.


"Mari kembali amore, kau sekarang milikku." Ivanna menggeleng, ia hendak mengucapkan pendapatnya. Bryan menunduk sekilas dan membisikkan sesuatu di telinga Ivanna hingga membuat gadis itu tampak bergetar karna terkejut.


"Kau ingat apa yang ku ucapkan sebelumnya bukan, Amore? Menurutkah! Atau kau lebih senang jika aku menghancurkan panti asuhan ini?"


Bryan menggendong Ivanna ala bridal style, ia mencium bibir gadis itu dengan lembut di dalam gendongannya.


Grace yang sedang menyuapi Vania menatap kedua sejoli itu,


"Ada apa denganmu sayang?" ucap Grace dengan wajah khawatirnya menatap Ivanna yang bersembunyi di dalam gendongan Bryan.


"Bunda tenang saja, Ivanna baik-baik saja kok. Ia hanya sedikit kelelahan dalam perjalanan dan belum sempat beristirahat." Grace mengangguk paham, ia tersenyum menatap Bryan lalu menepuk pelan bahu pria itu.


"Bunda selalu percaya kepadamu Bryan, bunda harap kalian berdua bersatu seperti dulu." Bryan tersenyum, senyum tulus yang bahkan tak pernah ia beri tahu kepada orang lain termasuk Ivanna.


"Aku berharap kau mau menerimaku Amore. Aku benar-benar mencintaimu! Aku ingin membangun keluarga bersamamu. Aku pastikan semua orang tak akan ada yang berani menyentuhmu bahkan seujung rambutpun karna kau hanya milikku.” Bisik Bryan pada telinga Ivanna. Lalu mobil itu melaju meninggalkan Grace dan Vania yang tampak melambaikan tangannya di dekat gerbang.


Vania menarik pakaian biarawati itu hingga sang empunya melirik kebawah.


"Bunda? Apakah dia pangeran yang mau membawa kak Anna?" Ucap Vania dengan bibir mungilnya, Senyum mengembang di wajah Grace.


"Iya sayang, dia pangeran yang mau membawa kakak Anna. Semoga mereka berdua bersatu."


Mobil berwarna putih itu berhenti di halaman depan Mansionnya, Bryan menggendong Ivanna yang tampak pulas di dadanya. Seorang maid laki-laki berjalan mendekatinya,


"Masukkan mobilku kedalam garasi!" Ucap Bryan yang dibalas anggukan oleh maid itu.


Lucian turun dari tangga, ia hendak meminta tubuh Ivanna yang berada di dalam gendongan Bryan. Namun pria itu memelototinya.


"Apa maksudmu lu? Kau tidak boleh menyentuhnya. Oh iya tata kembali ruang kerjaku menjadi kamar tidur Ivanna, belikan pakaian yang seukuran dengannya. Isi kamar yang baru dengan perabotan yang baru juga. Jangan lupa utus seorang maid untuk merawatnya." Lucian mengangguk, Bryan membawa Ivanna ke lantai atas dan pergi menuju kamar tidurnya.


Bryan merebahkan tubuh Ivanna di kasurnya, ia mencium sekilas kening gadis itu.


"Tidurlah yang nyenyak amore, maafkan aku karna menyakitimu. Ti amo!." Bryan menutup pintunya, ia melepaskan jasnya dan melangkah menuju lift.


Ting!


Pintu lift terbuka, Bryan menekan tombol menuju basement. Senyum smirknya mengembang. Tak kama kemudian pintu lift terbuka menampilkan ruangan yang benar benar gelap, Bryan mengambil sepasang sarung tangan karet dari laci dekat pintu lift. Ia memakai sarung tangan tersebut.


Samar - samar terdengar suara teriakan dari dalam sebuah ruangan, untung saja basement ini didesain kedap suara sehingga mereka yang berada di lantai satu tak bisa mendengar suara apapun dari dalam basement. Ketika pintu dibuka Bryan melihat pergumulan panas antara Maria dan beberapa pria berbadan besar lainnya, ia tertawa terbahak-bahak menyaksikan penderitaan gadis ular itu.


"Kau pria yang mengerikan!" Teriak Maria kepada Bryan, senyum sinisnya mengembang.


"Itulah balasan yang pantas untukmu bila kau bermain - main denganku, bagaimana? Bukankah kau juga menikmatinya?" ucap Bryan sambil menepuk satu persatu pria yang berjalan keluar.


"Kau juga memberiku obat, aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya milikmu bukan begitu Maria?"


Bryan menarik rambutnya hingga Maria mendongak,


"Sekarang kau terlihat menjijikan, bagaimana kekasihmu menilaimu sekarang?" Bryan tersenyum sinis ketika melihat wajah Maria, Bryan berjalan mendekati meja di sampingnya. Tampak memilih beberapa senjata yang digunakannya untuk bermain -- main.


"Jadi, kau mau mencoba yang mana? Ah, aku menyarankanmu menggunakan sayangku ini, kau tahu kenapa? Karna rasanya tak akan sesakit bila aku menggunakan pisau milikku." Bryan mendekati Maria dengan membawa pisau dapur dan juga senjata api kesayangan miliknya, sebelumnya ia memasukkan beberapa peluru kedalamnya.


Maria dengan keadaan baju terkoyak bersujud kepada Bryan, ia menangis memohon belas kasihan.


"Tolong maafkan aku, aku hanya mengikuti perintah seseorang untuk memasukkan obat itu kedalam minumanmu." Bryan mengangkat sebelah alisnya,


"Siapa pria itu?" Tanya Bryan, Maria hendak mengatakan sesuatu ketika sebuah notifikasi panggilan masuk di ponsel didalam tas kecil milik Maria, Bryan melirik tas itu. Ia mendekati tasnya dan mencari ponsel milik Maria.


Bryan mengangkat panggilan itu dan meloadspeaker panggilan tersebut.


"Sialan bagaimana pekerjaanmu? Aku sudah menemukan mansion pria itu namun aku tak melihat Ivanna disana?" Ucap Sam dari balik panggilan tersebut, Bryan tertawa.


"Tikusmu sudah tertangkap Sam, kemarilah! Aku menunggu kedatanganmu, namun sebelum itu biarkan aku memberinya pelajaran karna kenakalannya!" Bryan mematikan panggilan itu lalu menghancurkan ponsel itu dengan senjata apinya.


"Sekarang giliranku untuk menghancurkanmu seperti ponsel itu!”