
Mobil putih keluaran Manchester, Inggris itu memasuki area pelataran mansion megah milik pemiliknya. Bryan turun dari kursi penumpang dan masuk kedalam mansion disambut oleh puluhan maid beserta kepala pelayan.
"Selamat datang tuan!"
Bryan mengangkat tangan dan melambaikan telapak tangannya tanda mengusir mereka dan berjalan memasuki lift menuju ruang pribadinya.
Ting!!
Lift itu terbuka di lantai atas dan ia pun memasuki ruang pribadinya disusul oleh tangan kanannya, Lucian.
"Hahhhh!" Bryan mendudukan dirinya di kursi kerjanya dan melonggarkan dasinya. Bryan tampak meraba bagian saku celananya dan mengambil sebatang cerutu lalu menghisapnya. Lucian dengan sigap mendekati Bryan dan mematikkan korek api kepada sebatang cerutu tersebut.
"Aku butuh privasi Lu!"
"Pardon?"
"Hahh aku merasa maid itu tak terlalu dibutuhkan disini, pecat mereka!"
"T-tapi tuan?"
"Hey aku tak butuh persetujuan darimu. Just do it! Aku merasa sesak bersama orang banyak!"
"Baik!"
Lucian meninggalkan Bryan yang sedang melepas penat dengan menghisap cerutunya, terkadang ia mendongakkan kepalanya keatas menghembuskan asapnya tinggi tinggi.
"Aku butuh Ivanna"
Bryan memainkan ponselnya, menekan beberapa angka lalu ia memanggil seseorang. Tak lama kemudian sebuah ketukan memecah keheningan antara Bryan dengan suasana malam ini.
"Masuklah!"
Pintu terbuka, menampilkan seseorang dengan pakaian serba hitam sambil menyodorkan sebuah map coklat. Bryan menatap map itu sambil sebelah tangan yang lainnya sibuk mengetuk ketuk meja kerjanya. Bryan berdiri mendekati pria didepannya sambil menepuk pelan pundak pria itu.
"Ada masalah?" Ucapnya sambil menghembuskan asap cerutunya kepada pria didepannya. Pria itu tampak biasa dengan perlakuan Bryan.
"Semuanya berjalan normal tuan, hanya saja tadi nona Ivanna tampak berbincang bincang dengan seorang pria" Bryan tampak mengangguk mendengar jawaban dari pria tersebut. Ia menuju ke meja kerjannya lalu membuka paksa map itu hingga beberapa isinya berceceran. Senyum smirk ia tampakkan saat menatap sebuah foto didalam map tersebut.
"Kau boleh keluar!" Ucap Bryan tegas, pria itu menunduk lalu meninggalkan ruangan miliknya. Bryan terduduk di kursinya lalu menatap sebuah foto. Di foto tersebut tampak seorang pria yang dimaksut tengah bertatapan dengan Ivanna di depan konter mejanya, tak hanya itu beberapa foto lainnya menunjukkan adanya kontak fisik antara mereka berdua. Bryan terkekeh.
"Bagaimana amore! Haruskah aku menunggumu sedikit lagi ataukah harus secepatnya aku memilikimu?" Bryan tersenyum, sebuah senyum misterius ia tampakkan saat menatap wajah Ivanna yang memerah di salah satu foto tersebut. Bryan menghisap cerutu terakhirnya tersebut lalu membuangnya di dalam asbak, tiba tiba matanya terfokus pada sebuah korek api bermotif naga yang ditinggalkan oleh Lucian. Ia merobek sebagian foto dan menyisakan bagian Ivanna untuk disimpan. Sementara beberapa foto yang berisi gambar pria yang diambil dari belakang tersebut ia bakar diatas mejanya.
"Hahahahaha"
"Sungguh disayangkan aku tak bisa bertemu langsung dengan pria itu hmm, bagaimana kalau aku memberikannya sedikit sambutan selamat datang dariku? Apa yang harus aku berikan kepadanya sebagai tanda perkenalan?" Bryan terkekeh, ia mengeluarkan sebilah pisau lipat dari sakunya dan mengelus pisau itu.
"Sepertinya aku harus memberinya sambutan ekslusif dariku!" Bryan tersenyum sinis sambil memandangi foto pria yang diambil dari belakang tersebut.
Jam menunjukkan pukul 04.30 WIB. Ivanna dengan pakaian trainingnya dan juga sebuah headphone lengkap dengan iPad di sakunya siap untuk berlari mengitari taman hari ini. Ya! Hari ini adalah hari Minggu, ia berencana berlari bersaman dengan Leon. Tampak hawa dingin membelai pelan wajah gadis tersebut dibawah pencahayaan yang minim. Untung saja hari ini jalanan tak terlalu sepi sebab beberapa dari warga sekitar juga tengah berjalan atau sekedar bersepeda dijalanan.
"Hhaaahhh hhhaaahhh” Ivanna berlari kecil lalu berhenti tepat di sebuah pos, ia menekan ponselnya lalu memanggil seseorang.
'Halo?' Seseorang dari sebrang mengangkat panggilannya.
"Kamu dimana le? Sudah dijalan kan?"
"Hah? Aku baru bangun ini, kenapa?"
"Astaga Leon!! Katanya jogging bagaimana sih!"
"Cepetan kamu kesi-"Leon mematikan panggilannya sebelum Ivanna selesai berbicara. Ia mendesah pelan.
"Aku lanjutin lari sedikit lagi deh !" Akhirnya Ivanna memutuskan untuk memutari taman terlebih dahulu.
Sudah 30 menit berlalu, Ivanna yang sudah lelah berlari duduk disebuah kursi taman. Ia meraba jaket training dan juga kursi disebelahnya.
"Aduh aku lupa bawa minum ya? Mana haus banget la-gi?" Seseorang dibelakangnya mengulurkan sebuah botol minum. Dia adalah cucu dari nenek yang berbelanja sendirian kemarin.
"Kamu?" Ivanna mengerjapkan matanya berulang kali. Pria itu memegang tangan Ivanna dan menaruh botol minum itu diatas telapak tangan Ivanna.
"Anggap saja ucapan terima kasih karna sudah nemenin nenekku" Ucapnya sambil memutuskan untuk berlari lagi. Ivanna menatap sebotol air putih di tangannya.
"Padahal aku belum ngucapin terima kasih" Ivanna memilih segera meminum air itu karna ia sangat kehausan. Tak berselang lama munculah Leon dengan wajah yang tampak kelelahan dengan keringat yang bercucur dari wajahnya.
"Hhhaaahhh maaf anna aku benar benar lupa dengan janjiku! Aku mau istirahat sebentar sebelum lari lagi aku capek" ucap Leon sambil merebahkan dirinya diatas kursi taman. Ivanna terkekeh.
"Astaga gak papa kok, lagian kita juga sudah sama sama capek sekarang cari sarapan di sana!" Ivanna menunjuk sebuah gerobak bubur ayam yang berada di bawah pohon itu. Leon mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Ivanna. Gerobak bubur ayam itu sangat ramai pembeli, ivanna dan Leon mencari tempat duduk lalu menunggu pesanan mereka.
Tak jauh dari tempat Ivanna dan Leon berada, sebuah mobil mewah berwarna putih tampak terparkir rapih di sisi jalan lainnya. Bryan yang duduk di kursi kemudi memilih membuka jendela mobilnya dan menghidupkan cerutu miliknya. Ia menatap kearah Ivanna, mengawasi setiap pergerakannya. Bryan memainkan ponselnya, dan memanggil seseorang.
Tak jauh dari tempat Ivanna dan Leon berada, sebuah mobil mewah berwarna putih tampak terparkir rapih di sisi jalan lainnya. Bryan yang duduk di kursi kemudi memilih membuka jendela mobilnya dan menghidupkan cerutu miliknya. Ia menatap kearah Ivanna, mengawasi setiap pergerakannya. Bryan memainkan ponselnya, dan memanggil seseorang.
"Kau sudah tahu siapa pria itu?"
"....... "
"Good job! Berikan kepadaku semua yang kau tahu tentang pria itu dalam 1 jam lalu taruh berkasnya di meja kerjaku. Aku akan mengurus sisanya!" Bryan mematikan ponselnya, lalu membuang sisa cerutu yang berada ditangannya. Ia berlalu meninggalkan Ivanna dan Leon yang sedang menikmati sarapan mereka.
Selesai dengan sarapannya, Ivanna dan Leon berjalan pulang melewati jalanan besar. Mereka tampak senang bergurau satu sama lain. Saat berjalan Ivanna tampak salah fokus dengan sesuatu yang diinjaknya, seperti sebuah rokok namun lebih besar.
"Ini apa?" Ucap Ivanna sambil memegang putung cerutu tersebut.
"Ini apa?" Ucap Ivanna sambil memegang putung cerutu tersebut. Leon yang melihatnya menatap dengan tatapan jijik lalu memukul punggung telapak tangan Ivanna.
"Hey buang! Jorok tahu. Btw itu namanya cerutu. Sama dengan rokok" jelas Leon, Ivanna hanya mengangguk. Tiba tiba langkah Leon berhenti mendadak, membuat Ivanna yang berjalan di sebelahnya ikut berhenti.
"Ada apa?"
"Hey tadi aku bilang cerutu kan?" Ivanna mengangguk, Leon berlari kembali ke tempat putung cerutu tersebut lalu mengambil gambarnya. Ivanna merasa aneh dengan temannya ini. Leon berlari tergopoh gopoh mendekati Ivanna, lalu melakukan sesuatu dengan foto tersebut.
"Lihat ini. Di Indonesia sekarang jarang orang memakai cerutu. Kebanyakan membeli rokok atau bahkan rokok elektrik. Kandungan nikotin pada cerutu lebih besar dari pada rokok biasa. Pasti ini harganya ratusan ribu rupiah" Leon mencari merek cerutu tersebut dengan cara memfoto putungnya lalu membuka mesin pencarian di ponselnya.
"I-ini" Leon terkejut, begitupun Ivanna yang berada disampingnya.
"Apa? Kenapa?"
"Gurkha Black Dragon, cerutu termahal di dunia. Harganya $1,150. Hey siapa pria bodoh yang membuang uang segitu banyaknya hanya untuk mempercepat kematiannya!" Umpat Leon, Ivanna terkekeh lalu nampak berpikir.
"Pastilah orang kaya yang membelinya, sudahlah kita tak perlu mengurusi orang lain. Yuk pulang"
"Atau mungkin ada mafia? Biasanya mereka di dalam novel atau film pasti menghisap cerutu!" Leon nampak ketakutan, ia teringat pria tempo hari yang menakutkan masuk kedalam minimarket. Sementara Ivanna tertawa hingga air matanya menggenang di sudut matanya.
"Hey jangan bercanda. Mafia hanya ada di film dan novel. Ada ada saja deh"
Ivanna berjalan meninggalkan Leon yang masih tampak mematung. Ivanna berhenti tertawa dan memikirkan ucapan Leon kepadanya.
"Mafia ya? Entah kenapa perasaanku tidak enak mendengarnya"