
Semilir angin menyapu lembut wajah Ivanna. Matanya tampak berkaca ketika menyaksikan pria yang akan resmi menjadi suaminya kini berdiri di ujung karpet putih yang di bentangkan. Sisi kiri dan kanan tampak kursi berjejer yang diisi oleh keluarga Benvolio dan juga beberapa orang yang Ivanna kenal adalah bawahan tuan Louise. Tampak Bryan berkali- kali mengusap matanya yang tampak berkaca-kaca. Ivanna mengulum senyumnya.
"Kau hampir sampai." Bisik lirih Louise padanya.
Ketika jaraknya kini menjadi lebih dekat dengannya, Bryan mengulurkan tangannya. Tuan Louise memberikan tangan Ivanna pada Bryan, lalu ia mundur untuk duduk di sebelah istrinya yang sejak tadi tampak mengusap matanya dengan tisu.
Ivanna tampak gugup ketika berdiri di hadapan orang banyak, dengan cepat Bryan menenangkannya dengan mengusap kedua punggung tangan Ivanna.
Tampak seseorang berjalan mendekati Bryan membawakan ponselnya. Bryan tersenyum menatap lavar ponselnya. Ia menyerahkan ponselnya pada Ivanna.
"B-bunda?" ucap Ivanna pelan ketika melihat
siapa yang memanggilnya.
"Anna, bagaimana keadaanmu nak?" Grace dan kedua biarawati lainnya tampak berkaca-kaca. Ivanna mengusap air matanya yang perlahan-lahan luruh di pipinya.
"Jangan menangis sayang. Hari ini adalah hari bahagiamu bukan?" Ivanna mengangguk.
"Maaf bunda, Anna tidak menceritakannya pada kalian." Grace tersenyum.
"Sebenarnya bunda marah sama Anna, Bunda sedih karna Anna melupakan kami. Tapi setelah Bryan datang dan menceritakan semuanya, Bunda paham mengapa Anna belum menemui Bunda. Bryan juga sudah meminta maaf kepada kami dan meminta izin untuk menikahi Anna." Ivanna melirik Bryan yang berada di sampingnya. Kemudian ia kembali terfokus kepada panggilan itu.
"Bunda hanya bisa berdoa, semoga Anna bahagia dengan pilihan Anna sekarang." Ivanna mengangguk, ia menyerahkan ponsel itu kepada Bryan
"Aku tidak tahan untuk tidak menangis ketika melihat Bunda." Ucap Ivanna seakan mengerti isi pikiran Bryan. Bryan mengangguk paham lalu menyerahkan ponselnya kepada salah satu anak buahnya. Ivanna dan Bryan saling berpegangan. tampak seorang pendeta berdiri di hadapan mereka.
"Tibalah saatnya saya akan meresmikan pernikahan kalian. Saya mempersilahkan saudara masing-masing untuk menjawab pertanyaan saya." ucap sang pendeta, ia tampak menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.
"Bryan Kael Benvolio, maukah Anda menikah dengan Ivanna Isabelle yang hadir disini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun duka, saat sehat dan juga sakitnya?"
Bryan menarik nafasnya, matanya tampak berkaca-kaca saat ia mengucapkan katanya.
"Ya, saya bersedia."
"Ivanna Isabelle, maukah Anda menikah dengan Bryan Kael Benvolio yang hadir disini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun duka, disaat sehat dan juga sakitnya?"
"Ya, saya bersedia." Air mata Ivanna runtuh seketika. Bukan air mata kedukaan, melainkan air mata haru karna saat ini ia resmi menjadi istri dari Bryan. Tepuk tangan yang meriah menjadi iring - iringan suara pernikahan mereka.
Setelah mengucapkan janji, saatnya Ivanna dan Bryan berlutut untuk melakukan pemberkatan. Semua yang menyaksikannya tampak berdiri untuk memberkati mereka.
Ivanna dan Bryan saling bertatapan. Bryan mengulum senyumnya ketika menatap Ivanna yang kini tampak tersenyum menatapnya haru.
Semua acara dilaksanakan dengan haru danmenyukainya damai. Semua tampak aman terkendali.
Setelah rangkaian acara selesai barulah mereka berdua berciuman. Bryan memegang kedua pipi Ivanna sambil menciumnya, bahkan Ivanna dapat
merasakan asin karna tetesan air matanya.
"Kau menyukai kejutanku amore?" Ivanna mengangguk, lalu Ivanna kembali mencium Bryan.
"Aku sangat menyukainya."
Ivanna dan Bryan mendekati kedua orang tua yang duduk didepan. Yoanna secara langsung memeluk Ivanna erat. Yoanna melepaskan pelukannya ketika air matanya kembali jatuh. Ia takut membasahi gaun Ivanna. Yoanna memegang tangan Ivanna dan juga Bryan bersama-sama.
"Madre berharap semoga kalian bahagia." Ivanna dan Bryan mengangguk, Bennedict yang tampak baru sampai di tempat acara berlari tergesa-gesa dan menemui Bryan.
"Kau dari mana saja?" ucap Bryan pada adiknya.
Tampak Bennedict tersenyum kecut ketika melihat Ivanna yang nampak begitu cantik dengan gaunnya berpelukan dengan Yoanna.
"Aku baru saja kembali dari gudang. Padre menyuruhku untuk tetap mengawasi mereka."
"Kau benar-benar menikahinya bro?" tanya Bennedict yang membuat Bryan mengenyitkan
alisnya heran.
"Tentu saja. Ada apa denganmu? Jangan bilang
kalau kau menyukai Ivanna?" ucapnya dengan mata membola, Bennedict terkekeh.
"Kau benar-benar anjing pencemburu Bro, aku menyukainya. Dulu, Kau ingat saat aku pergi ke Indonesia? Aku menemuinya. Aku sempat ingin merebutnya darimu." Bryan memukul bahu Bennedict.
"Kau harus melangkahiku dulu baru bisa memiliki Ivanna." Ucap Bryan sambil melirik Ivanna. Ia tersenyum menatap gadisnya yang kini tampak terlihat akrab dengan Louise.
"Apakah Ivanna tahu keluarga kita?" bisik Bennedict. Bryan menghembuskan nafasnya kasar. Tak lupa ia mengambil rokoknya yang berada di sakunya, dan menghisapnya ketika Bennedict menyulutkan api di ujung rokok Bryan. Bryan menghembuskan asapnya dengan kasar.
"Hey amore, oh iya kenalkan dia sekarang adalah adik iparmu."
Bennedict mengulurkan tangannya, yang dibalas oleh Ivanna. Ivanna tampak mengerutkan alisnya, ia merasa sudah pernah bertemu dengan Bennedict.
"Aku Bennedict. Sepertinya kau menatapku
bertanya-tanya kakak ipar? Kita pernah bertemu di minimarket tempatmu bekerja." Ivanna ber oh ria.
"Ahh aku mengingatmu. Aku Ivanna." Balas Ivanna.
Mereka tampak menikmati waktu siang hari di tepi pantai, tebing curam yang begitu tinggi membuat suasana disekitarnya tampak rindang karna sinar matahari terhalangi tebing itu. Hingga akhirnya sore hari pun tiba, waktu memang berjalan sangat cepat ketika kita terlalu asyik bermain.
Bryan menggandeng Ivanna untuk berpamitan kepada Yoanna dan Louise, mereka mengangguk setuju. Kemudian Bryan dan Ivanna pergi menuju
mobil mereka.
Brak!
Bryan menutup pintunya, ia melirik Ivanna yang tampak kesulitan memasang sabuk pengaman karna terhalangi oleh gaunnya. Bryan berinisiatif membantu Ivanna. Tampak Ivanna menahan nafas ketika wajah Bryan berada di hadapannya.
"Selesai."
Bryan menatap Ivanna, matanya terfokus pada
lvanna yang menggigit bibir bawahnya. Dengan cepat Bryan mendekatkan bibirnya, dan mencium Ivanna.
"Hey mereka melihat kita." Bisik Ivanna setelah berhasil mendorongnya, Bryan terkekeh.
"Apa yang salah ketika aku mencium istriku hmm?" Kalimat istriku' yang diucapkan oleh Bryan membuat Ivanna mengulum bibirnya dengan wajah yang memerah.
"Kau menyukai panggilan itu Istriku? Baiklah sepertinya ISTRIKU begitu malu untuk menciumku didalam mobil. Suamimu akan mengajakmu ke tempat yang lebih privat." Ucap Bryan sambil mengijak gasnya.
Pelan tapi pasti mobil itu pergi meninggalkan area pantai, disusul oleh kendaraan milik Benvolio yang juga meninggalkan area pantai
satu persatu.
Bryan menghentikan mobilnya di area parkir bawah tanah sebuah hotel bintang lima. Ia keluar dari mobilnya dan menggandeng Ivanna menuju lift khusus yang berada tak jauh dari basement tersebut.
Ting!
Pintu lift terbuka, Bryan masuk menggandeng Ivanna dan menekan tombol menuju lantai yang mereka tuju.
Setelah pintu tertutup Bryan menyerang Ivanna
dengan ciumannya. Ia memojokan Ivanna pada
tembok lift. Tak lupa ia memegang belakang kepala Ivanna dengan tangannya memastikan Ivanna tak terantuk dinding lift.
"Bry a-aku tak bisa berna-fas!" Ivanna memukul bahu bidangnya, Bryan pun melepas ciumannya.
"Maafkan aku. Aku begitu tak sabar untuk segera membawamu ke atas ranjang."
Kali ini Bryan menciumnya dengan pelan, ia bahkan melepas dasi kupu-kupunya dan membuang dasi itu di lantai lift. Bryan melepas satu kancing kemejanya.
Ting!
Pintu lift terbuka, Bryan menggendong Ivanna di bagian depan sambil terus menciuminya. Ivanna memegangi leher Bryan agar ia tak terjatuh ketika Bryan membawanya menuju pintu kamar mereka. Bryan menurunkan Ivanna ketika mereka sampai
di depan pintunya.
"Ambil keycardnya di saku ku amore." Ivanna merogoh saku belakang Bryan dengan satu tangannya, ia tak menemukan kunci itu. Lalu tangannya pindah di saku belakang yang lainnya, namun ia masih tak menemukan keycardnya.
"Di depan." ucapnya lirih sambil melanjutkan ciumannya. Ivanna merogoh saku depan kirinya. Ia tampak terkejut ketika ia meraba sesuatu. Bryan melepas ciumannya dan terkekeh. Lirih di dekat telinga Ivanna, ia pun mengigit pelan menciumi bibirnya.
"Goodgirl"
"Benar-benar tidak sabar rupanya." Bisik Bryan cuping telinganya. Dengan cepat Ivanna merogoh saku kirinya dan menarik sebuah keycardnya. Ivanna menyerahkan keycardnya pada Bryan yang sejak tadi menciuminya, sesekali Bryan mengecup leher meninggalkan jejak kemerahan dan kembali.
Ceklek.
Pintu terbuka. Bryan kembali menggendong Ivanna dan merebahkannya di kasur.
"Ingin istirahat dulu? Atau langsung ke menu utama kita hari ini?" ucap Bryan sambil mengusap bibir Ivanna. Ivanna mengigit bibirnya dan mengangguk pelan.