
Bryan mengusap kasar wajahnya, sudah semalaman ia kesulitan tidur karna memikirkan bagaimana cara memenangkan hati Ivanna. Ia mendesah kasar, ia melirik jam di ponselnya. Jam menunjukkan pukul 04.30 dan ia masih terjaga sampai saat ini. Bryan mengetuk pelan mejanya dengan jari tangannya.
Ia lebih memilih meletakkan ponselnya kembali dan pergi menuju ruang basement. Ia masih memiliki tugas yang belum diselesaikan.
Ting!
Pintu lift terbuka, tepat setelah itu beberapa orang yang ditugaskan untuk menyiksa Maria satu persatu keluar dari dalam ruangan tersebut. Senyum Bryan mengembang.
"Kalian menikmatinya bukan?" mereka tersenyum, Bryan menepuk pundak mereka satu persatu sambil memasuki ruangan tersebut.
Aroma bekas percintaan dan juga aroma alkohol menguar didalamnya, rupanya mereka semua benar – benar menikmati kegiatan mereka. Bryan mendekati bed yang diatasnya telah tergeletak tubuh Maria yang tampak mengenaskan,
"Tsk tsk tsk, bagiamana Maria? Kau menyukainya?" Tubuh Maria yang tampak lemas melirik sekilas Bryan yang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya di saku. Ia berusaha kuat untuk mengangkat tangannya.
"A-aku me-ngutuk-mu!" Sumpah Maria dengan tangan yang tampak membiru akibat ikatan kuat tengah menunjuk Bryan, Bryan terkekeh. Ia menampik tangan itu dan mengeluarkan senjata api miliknya, ia mendekatkan pucuk senjata apinya tepat di jantung Maria.
"Any last word Maria? Aku pikir semalam adalah waktu yang cukup untuk membuatmu mati kelelahan, rupanya staminamu lumayan juga." Bryan tersenyum sinis, Maria hanya menatap tajam kearahnya.
"Tak ada hal yang lain untuk kau sampaikan bukan? Jadi ambil nafas dulu Maria, menurutlah karna ini tak akan menyakitkan sama sekali."
Bryan menarik pelatuknya dan suara tembakan menggema didalam basement, pucuk senjata api itu mengepul dan jangan lupa percikan darah yang mengenai sebagian besar wajah dan pakaiannya. Bryan tersenyum menunjukkan gigi - giginya.
"Have a nice dream, Maria!"
Bryan melepaskan kembali sarung tangannya dan membuangnya di dalam tong sampah, salah satu tangannya sibuk menyapu jasnya menggunakan tisu sedangkan tangan yang lainnya tengah menekan - nekan layar ponsel.
"Sial, kemana Lucian!" Umpatnya sambil terus menerus menghubungi Lucian melalui ponselnya, tak lama kemudian panggilannya tersambung.
"Hoamm hal-"
"Bodoh! Apa yang kau lakukan hah! Cepat kemari, basement!" ucapnya sambil memutus panggilannya. Bryan melirik jasad Maria yang tergeletak bersimbah darah, ia kembali mengusap wajahnya dengan tisu dan membuang tisunya kedalam tempat sampah.
Bryan menatap jam di pergelangan tangannya, tiga menit berlalu dan Lucian belum sampai juga di dalam basement.
Ting!
Suara lift turun di dalam basement, Bryan melirik ke arah Lucian yang tampak berantakan dan menguap berkali-kali.
"Kau lama sekali!" Bryan melipat kedua tangannya di dada dan bersandar pada tembok, Lucian menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jadi, apa yang harus saya lakukan tuan?" Bryan menunjuk Maria dengan matanya, Lucian menoleh.
"Kemarin dimana kau taruh mobilnya? Masukkan dia di dalam mobilnya, lalu bakar mobil itu. Pastikan seluruh CCTV jalanan tempat rutemu mengantar dan kembali di matikan." Lucian mengangguk, ia mengambil sepasang sarung tangan karet dan mulai memasukkan mayat Maria kedalam sebuah kantung sampah hitam besar. Setelah semuanya selesai, Lucian membawa kantung sampah itu memakai troli dan membawanya melalui jalan keluar di dalam basement yang langsung menuju kedalam hutan.
Bryan mengawasi Lucian, namun setelahnya ia memilih untuk pergi ke lantai 3, Tak lupa Bryan membersihkan tubuhnya dahulu.
Bryan memakai celana pendek diatas lutut dan bertelanjang dada dengan handuk yang masih bertengger di kepalanya ia berjalan menuju kamar Ivanna yang berada di sampingnya.
Ceklek!
Bryan membuka pintu itu, Ivanna tampak sedang tertidur dengan nyenyak diatas kasur queensize. Bryan mendekati Ivanna dan ikut bergulung didalam selimut hangat itu. Bryan tidur memeluk tubuh Ivanna,
"Parfum apa yang kau pakai Amore, aku menyukai aromamu!" Bryan mengendus belakang leher Ivanna, sekali-kali ia mengigit leher putih itu dan meninggalkan beberapa gigitan di sana. Ivanna tampak membalikkan tubuhnya menghadap Bryan, secara tak sadar Ivanna mengusap kepalanya di dada bidang Bryan.
Bryan memegangi wajahnya yang terasa panas,
"****, she look so damn cute!"
Bryan mengusap rambut Ivanna, mencium sekilas tepat di ubun-ubun gadisnya dan membisikan sesuatu di telinga Ivanna.
"Have a nice dream amore. Aku mencintaimu!."
Bryan menutup matanya, dan ikut menyelami mimpi sambil memeluk tubuh gadisnya.
"Hah astaga?" Ivanna melihat pakaiannya dari balik selimut, kemudian ia mendesah lega.
"Syukurlah masih utuh."
Ivanna melirik Bryan, pria itu bertelanjang dada. Ivanna menelan air liurnya dan tangannya hendakmeraih selimut yang menutupi bagian bawah Bryan.
Bryan mencekal pergelangan tangan Ivanna, dan mencium punggung tangan gadis itu.
"Buongiorno amore!" ucapnya dengan mata yang
masih tertutup, Bryan tersenyum.
"K-kau? Apa yang kau lakukan disini?" Ivanna bergerak mundur dan menutupi badannya yang saat ini sedang menggunakan pakaian tidur tipis bertali spagheti dengan selimut, Bryan mengubah posisi tidurnya dengan posisi miring dan satu tangannya menyangga kepala. Perutnya yang sixpack terlihat begitu menggoda di terkena pantulan sinar matahari.
"Aku? Tentu saja tidur bersama dengan istriku." Bryan tersenyum smirk,
"Jangan pernah bermimpi! Aku tidak akan menikah denganmu!" Bryan mengusap perutnya, Ivanna melirik Bryan yang sedang terseyum mesum sambil menatapnya.
"Tunggu saja, akan aku pastikan kau mau menikah denganku." Bryan bangkit dari kasurnya, ia memutari kasur itu dan berdiri di dekat Ivanna. Ia menundukan wajahnya sejajar dengan wajah Ivanna.
"Aku akan memastikannya sendiri kalau kau akan memintaku menikahimu dengan mulutmu." Bryan melirik bibir Ivanna dan memberinya ciuman singkat.
"Terima kasih, aku suka sarapannya amore." Bryan berjalan meninggalkan Ivanna sambil menjilat ibu jarinya, wajah Ivanna tampak memerah. Ivanna mengusap bibirnya.
"Bodoh! Aku tak akan menyukaimu.”
Bryan bersiul didalam kamarnya, ia memakai kembali pakaian santainya. Dan berjalan menuju ruang makan. Disana seluruh makanan sudah disiapkan diatas meja, Bryan melirik keatas dimana lantai kamar Ivanna berada.
"Dimana Ivanna?" Ucapnya membuat seluruh maid yang berdiri disana saling bertatapan. Bryan mendesah kasar.
"Bawa dua makanan kekamar Ivanna, aku akan sarapan dengannya."
Didalam kamar Ivanna mengigit ibu jarinya, ia berjalan mondar - mandir didepan tempat tidurnya.
"Ahh aku harus melakukan apa disini? Mereka semua melarangku menyentuh pekerjaan. Sebenarnya apa tujuan pria gila itu menahanku lebih lama disini!" Ivanna berhenti berjalan mondar - mandir ketika seorang maid yang bernama Lana membawakan makanan kedalam kamarnya.
"Eh ada apa ini? Kenapa kamu membawanya kemari?" ucap Ivanna kepada Lana, namun gadis itu tetap diam sambil terus menata makanannya di atas meja. Bohong kalau Ivanna tak merasa lapar ketika ia melihat berbagai macam makanan di tata sedemikian rupa di atas meja kamarnya. Namun rasa penasarannya kembali muncul ketika Lana menaruh dua piring makan kosong di mejanya.
"Siapa yang menyuruhmu Lana?" Tanya Ivanna kepada Lana, gadis itu telah selesai menata makanannya.
"Tuan Bryan ingin makan di sini bersama anda, Nyonya! Saya permisi dulu." Lana membawa troly itu keluar dari kamarnya, Ivanna memijit pangkal hidungnya. Tak lama kemudian datanglah Bryan dengan membawa sebucket besar bunga Daisy. Ivanna begitu terkejut dengan apa yang dibawa Bryan.
"Ada apa dengan wajahmu itu? Kau begitu terpesona bukan dengan apa yang ku bawa? Terimalah! Aku membelikan ini khusus untukmu!" Bryan menyerahkan bucket bunga itu kepada Ivanna, sedangkan Ivanna menatap bucket bunga yang berada dalam pelukannya. Bryan mendekati Ivanna, ia memeluk tubuh Ivanna dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Ivanna. Ivanna bahkan dapat merasakan hangat dari deru nafas Bryan yang dekat dengan telinganya.
"Kau tahu artinya bukan amore? Bunga ini dilambangkan sebagai ketulusan hati. Jadi kau harus menerima ketulusan hatiku bukan?" Bryan sedikit meniupkan nafasnya di telinga Ivanna.
Ivanna berbalik menatap Bryan, ia menyerahkan kembali bucket bunga itu kepada Bryan. Sedangkan Bryan menatap Ivanna dengan satu alis terangkat.
"Aku tak bisa menerima ini, aku tak menyukaimu. Aku mohon lepaskan aku!" Bryan mengepalkan tangannya, nafasnya naik turun.
"Kau menolakku? Kau tak menyukaiku Ivanna? SIAL!" Bryan membanting bucket bunga itu, kelopak bunga Daisy berserakan bertiup kemana-mana. Bryan berjalan mendekati Ivanna dan menyentuh bahu gadis itu.
"KAU MENOLAKKU? AKU MENCINTAIMU SELAMA 10 TAHUN, SIALAN! DAN KAU MASIH BERANI MENOLAKKU?" Ivanna menangis mendengar bentakan dari Bryan, mendengar suara tangis Ivanna membuat Bryan seketika melepaskan tangannya dari bahu Ivanna. Tubuh Ivanna luruh, ia menangis tersedu-sedu sambil bersimpuh.
"Huhuhu aku tak mencintaimu, kau tidak boleh memaksakan kehendakmu sendiri! Jangan jadi pria egois!"
Bryan memeluk tubuh Ivanna dan menciumi wajahnya.
"Aku mencintaimu amore, aku mencintaimu sampai aku ingin terus menahanmu. Aku tak ingin orang lain memilikimu. Kau harus jadi milikku apapun yang terjadi!" Bryan memegang wajah Ivanna hingga mereka saling berpandangan.
"Kau sekarang hanya memilikimu, kau harus tahu didunia ini tidak ada yang bisa menyelamatkanmu kecuali aku! Kau hanya memiliki aku!" Bryan mencium Ivanna.