
"Ada apa ini? Apa kau salah tingkah Ben? Kau terlihat lucu sekali." Ucap Red sambil mencoba membalik tubuh Bennedict agar melihatnya. Ben terus menerus memalingkan wajahnya agar Red tak melihat wajahnya yang kini tampak memerah.
Ben mencoba menormalkan kembali nafasnya, ia
membetulkan letak dasinya yang semakin terasa sesak.
"W-well, ada tugas untukmu Red." Ben mengalihkan pembicaraan. Red berpindah dari belakang Bennedict dan memilih untuk duduk didepan Bennedict. Ia menyimak semua hal yang
disampaikan Bennedict padanya.
"Bacalah." Bennedict menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat muda dengan cap lambang Oregon. Red menautkan alisnya.
"Apa ini?"
"Undangan Aniversary Oregon. Mereka hanya akan mengundang para rekan-rekannya saja. Seperti biasa Oregon akan mengundang wanita-wanita penghibur untuk menghibur mereka. Aku ingin kau masuk ke sana." Ucap Bennedict menjelaskan. Red membolak-balikkan amplop yang ternyata adalah undangan itu. Senyumnya mengembang.
"Pastikan kau melakukannya dengan benar Red Jangan sampai mereka mencurigaimu." Red
mengangguk.
"Tentu. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu."
"Aku percaya padamu, Red."
********
Bryan mengemudikan mobilnya kencang membelah jalanan. Sesekali ia mengigit ujung kukunya.
"****!" maki Bryan sambil memukul setir mobilnya. Tak lama kemudian dering ponselnya menyadarkannya kembali la mengambil earbudsnya dan meletakkannya di telinga. Tak lupa ia menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Ada apa?" ucap Bryan sambil matanya tetap
fokus pada jalanan.
"Tuan Louise akan melakukan serangan dalam
dua hari lagi, bertepatan dengan acara Aniversary Oregon yang ke 25 tuan. Saya sudah mempersiapkan semua milik tuan di jok belakang mobil Anda."
Bryan melirik jok belakangnya, Sebuah koper
besar yang ia yakini berisi senjata - senjata andalannya. Selama ini ia dan Lucian berusaha
menyembunyikan alat-alat itu dari Ivanna.
"Aku tahu, aku sudah membawanya pulang. Apakah kau sudah menangkapnya?" Balas Bryan pada Lucian. Dari balik panggilan itu Lucian sedang bersama dengan seseorang yang tangannya penuh dengan luka, ada beberapa jari tangan yang putus dari tangannya.
"Sudah tuan." Bryan mematikan panggilannya. Ia melepas earbudnya dan terus mengendarai mobilnya untuk kembali ke mansion miliknya.
********
Ivanna menuruni tangga Mansion yang memiliki
dua lantai itu. Untuk ukuran sebuah Mansion, Bryan memang membeli Mansion utama yang sedikit sempit, alasannya untuk tetap menjaga privasi antara keduanya. Sementara bagian belakang Mansion, ada sebuah danau yang cukup besar dan juga paviliu yang jaraknya cukup jauh jika berjalan kaki. Bryan menyukai suasana yang sepi namun memiliki kesan yang nyaman di dalamnya. Itulah mengapa ia memilih Mansion ini untuk Ivanna.
Saat Ivanna sedang berdiri di tepi danau, ia tak sengaja melihat Lucian sedang menyeret seseorang Ivanna menutup mulutnya terkejut. Jadi ia memutuskan untuk mengikuti Lucian dari belakang.
Tujuan Lucian adalah paviliun. Sebenarnya paviliun itu akan digunakan tempat tinggal para pekerja, namun untuk saat ini Bryan belum memiliki banyak pekerja. Ivanna dengan pelan memastikan Lucian tak menyadarinya.
Setelah 30 menit berjalan akhirnya Ivanna sampai di paviliun tersebut. Dengan berjingkit-jingkit Ivanna mengikuti Louise dengan jarak yang lumayan jauh. Ivanna memutuskan untuk ikut masuk kedalam paviliun tersebut.
"Sebenarnya apa yang akan dilakukan Lucian?" Ivanna bergumam, dengan matanya ia mengikuti kemana arah Lucian membawa pria itu karna paviliun itu memiliki banyak ruangan didalamnya. Lucian memasuki sebuah ruangan dan menutupnya. Namun karena sebuah kayu yang menghalangi pintu tersebut. Pintu itu tak tertutup dengan sempurna.
Ivanna mendekati pintu itu, ia mencoba untuk mengintip Lucian dari luar. Alangkah terkejutnya Ivanna ketika ia melihat Lucian dengan wajah dinginnya ia memotong jari-jari pria itu dengan sekali tebas. Jangan tanyakan bagaimana pekikan kesakitan dari pria yang kini tampak terduduk dengan kedua tangan yang dipasung diatas meja.
"ARGHHHHH TOLONG!!" pekikan pria itu Lucian dengan senyum smirknya menuangkan alkohol
diatas jari pria itu.
Ivanna bergerak mundur, ia harus segera pergi dari tempat ini karna ia merasa ingin mual ketika melihat adegan kekerasan seperti itu. Ivanna memutuskan untuk berlari kembali ke danau.
Ivanna menetralkan degub jantungnya, sekarang perutnya terasa sakit akibat berlarian. Ivanna mengelus pelan perutnya.
"It's okay baby, maafkan Mommy ya." Ivanna berbicara dengan perutnya. Ia kembali mengingat adegan berdarah tadi. Tak sampai hati Ivanna
mendengar pekik kesakitannya.
"Ahhhhh jangan!" teriak Ivanna sambil menutupi
telinganya. Bryan cukup terkejut dengan apa yang terjadi pada Ivanna.
"Hey amore ini aku." Ivanna melirik Bryan yang berdiri diatasnya. Ia mendesah lega ketika melihat orang yang memeluknya tadi adalah Bryan. Ivanna terduduk di tanah sambil menangis karna merasakan kelegaan di hatinya.
"Huaaaa astaga kau membuatku takut." Bryan kebingungan menatap Ivanna, ia memeluk Ivanna dan mengelus pelan punggung istrinya itu. Tak lupa in juga menciumi wajah Ivanna dan bergantian mengelus kedua pipi Ivanna.
"Berhentilah menangis, maafkan aku ya?" ucap Bryan menenangkan Ivanna. Ivanna mengangguk pelan, kemudian ia memeluk Bryan dan mengendus semua aroma wangi Bryan yang menenangkan. Cukup lama Ivanna memeluk Bryan hingga akhirnya ia melepaskan pelukan itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi hm? Tidak biasanya kau terkejut dengan pelukan tiba-tiba. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu ucapan Bryan membuat Ivanna tak berkutik. Tiba-tiba saja rasanya sesak, seperti pasokan udaranya menipis. Ivanna mencoba memegang lengan Bryan. Ia terkena serangan panik.
Dengan cepat ia mencoba untuk kembali menetralkan nafasnya, menarik nafas dan menghembuskannya berulang kali hingga membuatnya sedikit tenang.
"A-aku tidak apa-apa."
"Apa kau yakin hmm? Kau terlihat pucat." Ucap Bryan. Sebuah dering ponsel membuat keduanya saling bertatapan. Bryan melirik layar ponselnya, Lucian menghubunginya. Bryan melirik Ivanna sebentar.
"Aku akan kembali amore." Bisik Bryan lirih sambil mengecup pelan bibir Ivanna. Bryan berjalan sedikit jauh untuk mengangkat panggilan Lucian Ivanna tahu siapa yang memanggil Bryan, ia ikut melirik ketika Bryan menatap layar ponselnya. Ivanna bergerak mundur lalu pergi meninggalkan Bryan yang sedang mengangkat panggilan dari Lucian.
'Ada sesuatu yang salah dengan Bryan.' Batin Ivanna.
********
"Halo?"
Saya akan meninggalkan Jerome tuan. Sepertinya benar bahwa ia adalah seseorang yang dikirim oleh Oregon untuk mengantarkan undangan. Sepertinya pria itu dijebak, Oregon sengaja mengirimnya kepada BLACKWINGS, Bryan menundukkan kepalanya, ia mendesah pelan. Kemudian ia melirik Ivanna yang saat itu sudah berjalan pergi meninggalkannya.
"Aku akan membereskannya nanti."
Bryan mematikan panggilannya dan pergi menemui Ivanna. Ia mengira Ivanna sedang sakit jadi ia memutuskan untuk menghubungi Chester untuk mengecheck keadaan Ivanna.
Brak!
Ivanna menutup pintu kamarnya. Kedua tangannya berkeringat dingin. Bolak-balik ia mencoba meminum air untuk membuatnya kembali tenang.
"Astaga a-aku takut sekali." Gumam Ivanna lirih
Ceklek,
Ivanna sedang berdiri sambil mengigiti ujung ibu jarinya ketika Bryan datang kedalam kamar. Ia menatap Ivanna terheran.
"Kau terlihat pucat amore, duduklah. Aku sudah memanggil Chester untukmu." Ucap Bryan tanpa curiga. Ivanna memilih untuk mengikuti kemauan Bryan, ia duduk di pinggir kasur dan menunggu kedatangan Chester agar Bryan tak curiga kepadanya. Bryan berjongkok di depan Ivanna, ia mengelus pelan perut buncit Ivanna sambil menatap wajah istrinya itu.
"Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?" Ivanna menggeleng, ia bahkan takut untuk menatap Bryan.
"Hey babe lihat aku? Apa yang sebenarnya terjadi?" Lagi-lagi Ivanna memilih untuk bungkam Bryan mendesah kasar dan bangkit untuk duduk di sebuah kursi di depan Ivanna la melirik jam tangannya.
"Aku akan menunggu disini sampai Chester datang. Ada sesuatu yang harus aku lakukan setelah ini." Ucap Bryan sambil menatap Ivanna, namun gadis itu hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaannya.
'****' gumam Bryan
Tak lama kemudian Chester datang dengan tas kerjanya. Ia mendekati Ivanna dan memberikan pemeriksaan dengan cepat. Saat Chester hendak bangkit dari duduknya Ivanna memegangi lengan Chester.
"Bisakah kau menyuruh Bryan untuk keluar? Aku ingin berbicara berdua denganmu?" bisik lirih Ivanna pada Chester, sedangkan pria itu melirih Bryan sekilas lalu mengangguk.
"Akan aku usahakan." Balas Chester lirih.
la mendekati Bryan,
"Bisakah kan keluar? Aku akan melakukan pemeriksaan kepada Ivanna." Bryan menautkan
kedua alisnya.
"Why? Apakah ada hal buruk yang terjadi dengannya? Dan kenapa aku harus keluar?" Chester melirik Ivanna, dan tersenyum tipis
"Aku akan sedikit melukai Ivanna, tenang saja tak berbahaya. Hanya saja aku takut kalau kau mengganggu kita." Bryan mengangguk pelan dan bangkit dari tempat duduknya. Ia menatap keduanya.
"Fine, aku akan keluar." Bryan memilih keluar dari kamarnya. Ketika pintu tertutup. Ivanna menatap Chester dengan tatapan tajam.
"BENVOLIO? Sebenarnya apa yang disembunyikan Bryan? Kau tau maksud pertanyaanku bukan?" Pertanyaan Ivanna membuat Chester menatap dingin kearahnya.