
Malam sudah mulai larut, Ivanna dan Leon meninggalkan area minimarket dengan berjalan kaki. Area gang itu terasa sangat sepi, hanya suara sol sepatu yang bersinggungan dengan aspal serta suara jangkrik yang berisik. Tepat di perempatan jalan seperti biasa tempat mereka berpisah, saat ini Leon mengantarkan Ivanna sampai tepat di gerbang Panti Asuhan.
"Terima kasih le sudah mau anterin sampai sini, kamu juga hati hati ya!"
"Sama sama, tenanglah sepertinya tak ada orang misterius yang mengikuti kita. Yaudah aku pulang ya!"
Leon meninggalkan Ivanna yang masih setia menatap Leon dari belakang, jalanan benar benar sangat sepi. Ivanna takut sesuatu yang buruk terjadi kepada sahabatnya itu. Beberapa menit berlalu dan ketika Ivanna sudah melihat bayangan Leon yang menghilang ia memilih memasuki gerbang dan mengunci gerbangnya.
"Anna? Sudah pulang?" Grace menata beberapa cookies didalam toples, aroma cookies coklat yang nikmat menguar didalam ruangan.
"Wah harum banget aromanya. Bunda bikin sendiri?" Ivanna mendekati Grace lalu duduk didepannya, Grace menggeleng dan tersenyum.
"Bukan, tadi sore seorang laki laki mengantarkan cookies beserta beberapa minuman susu kotak dari titipan Neneknya. Sayangnya nenek itu tidak bisa mengantarkannya sendiri, besok Anna mau menemani bunda? Kata cucunya mereka baru pindah beberapa minggu yang lalu di sekitar sini. Bunda mau mengucapkan terima kasih langsung kepada beliau" ucap Grace panjang lebar, ia mengambil sebuah cookies lalu menyuapkan cookies itu kedalam mulut Ivanna.
"Enak kan?"
"Waah enak bunda. Besok biar Anna yang menemani bunda buat bersua sama neneknya!" Grace memasukkan beberapa toples isi cookies diatas rak atas. Ia membersihan mejanya lalu berjalan mendekati Ivanna.
"Yaudah sekarang sudah malam, jangan lupa bersihkan diri, makan lalu istirahat. Anna pasti capek" Grace menyurai rambuh Ivanna dengan pelan. Ivanna mengangguk lalu mencium pipi Grace.
"Baiklah bunda, selamat malam. Anna mau naik keatas dulu” Ivanna melenggang naik keatas kamarnya yang berada dilantai dua. Sebelum memasuki kamarnya ia terlebih dulu mengecek ruangan kamar didepannya, ia mengintip apakah adik adiknya sudah tertidur atau belum. Ivanna melihat Vania sedang duduk membaca buku cerita dalam penerangan yang redup.
"Nia?"
"Eh kakak. Kakak sudah pulang ya?" Ivanna mengangguk. Beberapa hari ini Vania jatuh sakit, dan Ivanna yang sibuk bekerja jarang menemani Vania yang sedang sakit. Kalaupun pulang kerja, biasanya sudah Vania tertidur.
"Sudah. Tumben Vania belum tidur?"
"Nia tunggu kakak hehehe!"
Ivanna menyentuh kening Vania, untunglah demamnya sudah turun.
"Vania mau tidur sama kakak?" Dengan cepat Vania menganggukkan kepalanya, ia membawa boneka barbie kesayangannya dan membawa buku ceritanya. Lalu menyusul Ivanna dibelakangnya.
Sesampainya di kamar, Ivanna terlebih dahulu membersihkan diri.
Sesampainya di kamar, Ivanna terlebih dahulu membersihkan diri. Setelah itu ia ikut berbaring di samping Vania.
"Nia mau kakak bacakan cerita?"
"Mmm enggak deh kak, Nia cuma ingin tidur sama kak Anna. Kakak pasti capek seharian bekerja terus harus bacain cerita buat nia"
"Yaudah kalau begitu nia tidur ya, kakak mau ambil makan malam dulu"
Ivanna meninggalkan Vania dan turun ke bawah. Ia mengambil beberapa makanan dan minuman lalu kembali ke dalam kamar. Ia mengintip sebentar sebelum masuk kedalam kamar, diatas ranjangnya kini adiknya sudah lelap tertidur. Ivanna mengecup kening Vania lalu melanjutkan makan malamnya dan setelahnya ia ikut tidur bersama adiknya.
Pagi itu seperti biasa suasana panti asuhan disibukkan dengan anak anak panti yang sedang menikmati sarapan mereka. Anak laki laki memimpin doa makan, setelahnya mereka menikmati sarapannya dengan tenang.
Ivanna sedang membantu Grace mempersiapkan beberapa bahan kue untuk dibawa ke rumah nenek dan cucu yang sebelumnya memberikan cookies untuk mereka.
"Permisi apakah ini rumah nenek Fatimah?"
"Ya saya sendiri, kalian siapa?"
Ivanna mengenal nenek ini, beliau yang pernah berbelanja di minimarket beberapa hari yang lalu. Ternyata nenek ini adalah tetangganya.
"Perkenalkan nek, nama saya Grace sedangkan anak saya ini Ivanna. Saya biarawati yang mengurus yayasan panti kasih bunda di sana! Semalam cucu anda yang mengatarkan cookies ke panti asuhan. Saya mau berterima kasih dan sedikit memberi bingkisan kepada nenek. Mohon silahkan di terima!" Ivanna menyodorkan bingkisan itu dan sang nenek menolaknya.
"Wah tidak usah repot repot, saya ikhlas nak. Loh kamu yang bekerja di minimarket A kan?” Ucap nenek pada Ivanna, sontak Ivanna menyambut tangan nenek itu dan menciumnya dengan hikmad.
"Iya nek, nama saya Ivanna. Nenek bisa memanggil Anna" Nenek Fatimah tersenyum manis mendapat perlakuan dari mereka berdua. Sebelumnya nenek itu mempersilahkan Ivanna dan Grace untuk masuk.
"Silahkan masuk! Maaf rumah nenek berantakan"
"Tidak apa apa nek, lagipun kami hanya ingin bersua dengan tetangga baru!"
Mereka berdua saling bercerita, sedangkan Ivanna hanya mendengarkan kedua orang yang lebih tua itu berbincang bincang. Dari ceritanya, ternyata nenek adalah penghuni baru dirumah ini. Ia baru saja pindah dari kota B bersama cucu laki lakinya.
"Nek? Siapa?" Suara laki laki itu dari balik pintu sebuah kamar, nenek mengajak cucunya untuk bergabung di ruang tamu.
"Mereka adalah orang orang dari panti asuhan, dan perkenalkan ini cucu saya!"
"Samuel Jarvis!" Sam menyalami Grace, begitupun dengan Ivanna. Tampak Samuel memegang tangan Ivanna lama sambil menatap kedua mata Ivanna. Ivanna yang ditatapnya gugup salah tingkah.
"Ah sorry" ucap Samuel melepaskan pegangan tangannya. Ivanna menarik tangannya dan menyembunyikannya dibalik punggung.
Lumayan lama mereka berbincang hingga akhirnya Grace dan Ivanna mengundurkan diri,
"Terima kasih yang banyak ya nek atas jamuannya. Kami merasa senang sekali!" Ucap Grace disambut anggukan dan senyuman oleh nenek itu.
"Saya juga berterima kasih karna kalian mau repot repot mampir kemari. Nak anna, kamu bisa main kesini kapan saja. Kasihan cucu nenek belum memiliki teman di kota ini"
"Ah nenek!" rajuk Samuel seperti anak kecil, Ivanna yang melihatnya hanya mampu mengetawakannya dari dalam batinnya.
"Tuan, semuanya sudah siap. Kita bisa berangkat sekarang!" Lucian berdiri di seberang meja kerja Bryan yang sedang mengetik sesuatu di komputernya. Bryan hanya melirik sebentar lalu menatap jam di pergelangan tangannya. Ia mematikan komputernya lalu bergegas membawa sebuah tas koper besar bersamanya.
"Bagaimana papa dan Ben?"
"Tuan besar Louise sudah berangkat di pesawat sejak satu jam yang lalu tuan, dan Tuan muda belum selesai memperbaiki senjatanya"
Klik!
Bryan memasang magazine berisi 16 peluru kedalam senjata apinya. Lalu memasukkan senjata api itu di balik jas miliknya.
"Baiklah, sepertinya sekarang aku hanya perlu mengandalkan cintaku'. Sekarang berangkat!"
Mobil Rolls Royce berwarna putih itu melaju meninggalkan Mansion dan mengarah ke sebuah landasan pesawat pribadi miliknya.