Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 37



Bryan dan Ivanna menikmati makanan mereka dengan canggung, sesekali Bryan melirik Ivanna yang sedang mengaduk – aduk makanan di piringnya.


Ting!


Bryan meletakkan sendoknya dengan kasar, dan ia pergi meninggalkan Ivanna yang saat ini tengah menatapnya. Ivanna mendorong piringnya dan mendesah pelan.


Tap tap tap


Langkah kaki Bryan berhenti ketika ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari Mama Yoanna. Mata Bryan membola ketika ia membaca kata - kata di pesan tersebut.


'BRYAN KAEL BENVOLIO, ada yang mau mama bicarakan kepadamu!'


"What's going on?" gumamnya, Bryan menekan tombol panggilan dan menunggu sampai panggilannya tersambung. Satu dan dua kali panggilan tak kunjung di angkat, Bryan semakin resah. Tak lama kemudian setelah panggilan yang ketiga nada panggilan tersebut tersambung. Bryan meneguk air liurnya sebelum bersuara.


"Ada apa ma?"


Deg deg deg,


Detak jantung Bryan berdetak tak karuan ketika mendengar suara Yoanna yang sangat terkesan singkat dan dingin.


"Kamu tahu apa yang akan mama bahas kan, sayang? Jadi cepat ceritakan, atau mama yang akan menghukummu?" ucap Yoanna yang membuat Bryan gugup, jangan bilang Yoanna tahu apa yang terjadi dengan Ivanna.


Bryan terdiam, detik jam menggema seakan – akan menyaksikan keterdiaman Bryan. Yoanna mendesah dari balik panggilannya.


"Mama sudah tahu semuanya Bry, tentang apa yang kau lakukan kepada Ivanna dan juga panti asuhan tersebut. Kau terlalu kekanak-kanakan. Dan setelah semua yang terjadi kamu memintanya untuk mencintaimu? Jangan harap!" Ucapan Yoanna membuat jantung Bryan seperti ditusuk - tusuk. Yoanna benar, setelah apa yang dilakukan Bryan kepada Ivanna tak akan mungkin kalau Ivanna akan mudah menjatuhkan hatinya kepada Bryan.


"Apalagi kamu sudah menodainya Bry, astaga! Ivanna masih enam belas tahun Bryan, kamu gila? Mama tidak habis fikir dengan jalan pikiranmu!" Yoanna memijat pangkal hidungnya dari balik panggilannya, sementara Bryan mengepalkan jari - jarinya.


"Kenapa kamu diam? Kamu sadar kan kalau kamu salah sayang? Mama tidak mau anak-anak mama menyakiti wanita, kalian lahir dari seorang wanita!" tambah Yoanna. Bryan mendesah pelan.


"Tapi aku menyukainya ma, aku cinta sama Ivanna. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar buatku maa-"


"Biarkan dia istirahat sayang, cinta butuh pengorbanan. Ivanna butuh waktu buat bisa menerima kamu setelah apa yang kamu lakukan padanya. Biarkan dia istirahat sejenak okay? Kamu masih bisa memberinya perhatian, pelan-pelan sayang." Bryan mengendurkan kepalan jari tangannya. Ia menunduk.


"Baiklah, mama masih ada rapat dengan para kru. Mama percaya kamu sayang!" Bryan mematikan panggilannya, ia merebahkan punggungnya di kursi kerja dan menutup matanya dengan punggung tangannya. Bryan menarik lacinya, dua buah ponsel dengan salah satu diantaranya merek terbaru dan satu lagi ponsel usang. Ia menimbang - nimbang ponsel itu.


Bryan mengambil ponsel usang itu dan menghapus beberapa pesan termasuk pesan dari Grace tentang pelunasan tanah, senyum smirknya mengembang ketika melihat tumpukan pesan dari Leon. Bryan memindahkan simcard Ivanna kedalam ponsel barunya dan menghancurkan ponsel usang itu. Bryan memasukkan ponsel usang itu di sakunya, dan berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju kamar ivanna.


Ivanna merebahkan badannya di atas kasur, ia mendesah pelan.


Sejak tadi Ivanna sibuk mencari keberadaan ponselnya, seingatnya ia meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Kemana perginya ponselku?"


Tak lama kemudian tampak Bryan membuka pintu, wajah pria itu memerah ketika melihat Ivanna berbaring di kasurnya dengan kedua tangan terbuka lebar. Ivanna melirik ke bawah kakinya dan ia melihat Bryan berdiri di samping pintu.


"Hei, kau harusnya mengetuk pintu!" ucap Ivanna sambil duduk di kasurnya dan menarik selimut hingga menutupi sampai bagian dadanya.


"Mengetuk pintu? Di rumahku sendiri?" Balasnya dengan kedua tangan didalam saku, Bryan mendekati Ivanna dan menyerahkan ponsel baru itu kepadanya. Ivanna menarik sebelah alisnya,


"Apa maksutmu? ini bukan ponselku." Bryan mengeluarkan ponsel usang milik Ivanna disebelah sakunya, senyum smirknya mengembang ketika melihat mata Ivanna membola menyaksikan ponselnya kini sudah rusak tak berbentuk.


"Apa yang kau lakukan pada ponselku? Kau merusaknya?" Ivanna merebut ponsel usangnya dan sedikit memukul - mukul ponselnya.


"Kau benar-benar? Astaga!"


"Sudahlah, aku menggantinya dengan yang baru. Selesai kan?" ucap Bryan acuh hingga membuat Ivanna melirik sadis kearahnya,


"Aku tak peduli dengan ponsel baru itu. Kau tak tahu ada nomor dan beberapa foto - foto kenanganku didalamnya!" Ivanna terisak sambil menggenggam ponsel rusaknya, Bryan mendesah pelan.


“Aku sudah menggantinya, tenang saja. Nomor - nomor penting dan juga foto-foto jelekmu sudah aku pindah semua."


Ivanna menghapus air matanya dan menatap Bryan seakan tak percaya. Ia mengambil ponsel baru itu dan mulai mengecek isinya satu persatu. Nomor yang tersisa hanya empat orang, tiga orang nomor para biarawati dan satu nomor aneh dengan nama berlambang love di sana. Tak ada nomor ponsel Leon didalamnya. Ivanna memanggil nomor dengan lambang love tersebut. Tak lama kemudian ponsel Bryan berbunyi, Bryan tersenyum dan menunjukkan ponselnya kearah Ivanna.


"Mi Amore?" Ivanna melirik, jadi ia menelepon nomor milik Bryan?


"Jangan berani mengganti namanya, kau dengar?” ucapan Bryan yang mengintimidasi membuat Ivanna mengangguk pasrah. Bryan mengusap rambut Ivanna sambil tersenyum.


Sebuah panggilan dengan nomor tanpa nama berdering di ponsel Ivanna, Bryan tahu cepat atau lambat pria itu akan menghubungi Ivanna, senyum smirknya mengembang.


"Hal-?"


"Anna? Oh gosh akhirnya aku bisa menghubungimu, M-maria.."


"Hah Maria? Ada apa dengannya?"


"Plis kamu liat sekarang juga berita di televisi,


cepat!"


Tutt,


Panggilan itu terputus, Ivanna mengambil remote tv di atas nakas. Dan mulai menghidupkan siaran berita pagi ini. Mata Ivanna melotot ketika membaca headline berita yang dibacakan ekslusif pagi ini, bahkan remote tv yang di pegangnya kini jatuh. Ivanna menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Pagi ini kami sampaikan berita tentang ditemukannya mobil terbakar di area jembatan kosong yang rencananya akan diresmikan pada akhir tahun ini, ahli forensik menemukan bahwa ditemukan sesosok mayat wanita yang sudah hampir seluruhnya terbakar di sekujur tubuhnya. Polisi mengatakan bahwa kejadian ini diduga karna konsleting pada arus listrik dari bagian mobilnya, dan juga polisi telah menemukan identitas korban yang berinisial MW!” ucap pembawa acara itu, mereka sempat menampilkan identitas korban yang merupakan Maria.


"Nggak mungkin!" Ucap Ivanna. Bryan menatap Ivanna sambil menyenderkan punggungnya di tembok kamar itu. Tak lama kemudian Bryan mengambil remote yang tergeletak dibawah kaki Ivanna dan mematikan tv itu.


"Bagaimana bisa? Bukankah kemarin dia pergi bersama Leon?" Gumam Ivanna. Ivanna berjalan mendekati lemari pakaian dan mencari baju ganti. Bryan menarik alisnya sebelah,


"Kau mau apa?" Ivanna berhenti melakukan aktifitasnya, ia melirik kearah Bryan,


"Sahabatku kehilangan kekasihnya, menurutmu aku harus melakukan apa?" Ivanna kembali sibuk mencari baju ganti, Bryan melipat tangannya didada.


"Aku akan mengantarmu."


"Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Ivanna memasukkan beberapa barangnya didalam tas, Bryan mendekati Ivanna dan mencekal tangannya, dan membalik tubuh Ivanna hingga mereka berdua sama – sama berhadapan.


"AKU AKAN MENGANTARMU! Kalau kau berani keluar dari halaman rumah sejengkal kakipun, aku akan memotong kakimu. Kau paham?" ucap Bryan yang membuat Ivanna meneguk ludahnya, Ivanna menghempas tangan Bryan dan berbalik badan.


"Aku menganggap itu jawaban iya Ivanna, aku akan menunggumu di luar." Bryan keluar dari kamarnya, Ivanna menghembuskan nafasnya kasar.


"Benar-benar mengerikan!" Gumam Ivanna.


Ting!


Pintu lift terbuka, Bryan melangkahkan kakinya menuju pintu depan Mansionnya. Disana ia bersimpangan dengan Lucian yang tampak menguap berulang kali karna melewati jam tidurnya. Lucian menyerahkan kunci mobil kepada Bryan.


"Bagaimana?"


"Semua sudah selesai tuan, seluruh CCTV sudah kembali diperbaiki dan mobil sudah saya cuci bersih." Bryan mengangguk ia menepuk bahu Lucian.


"Well done Lucian, khusus hari ini aku memberimu istirahat satu hari." Lucian meninggalkan Bryan, ia berjalan menuju ruang khusus di lantai satu, kamar Lucian. Bryan mendongakkan kepalanya keatas, ia melihat Ivanna melirik kebawah, senyumnya tersungging.


Bryan menghidupkan mobilnya, membetulkan arah kaca yang berada di atasnya. Dari belakang, muncul Ivanna dengan dress berwarna hitam dan juga sepatu kets putih. Ivanna tak menemukan pakaian – pakaian lawas miliknya sebab Bryan menyuruh para maid untuk membuang semua baju-baju Ivanna dan menggantinya dengan yang baru.


Brak!


Ivanna duduk tenang di samping Bryan, pria itu melirik gaun yang dipakai Ivanna dan bersiul.


"You look so hot amore!" Bryan mendekatkan wajahnya di hadapan Ivanna, Ivanna yang terkejut pun menutup matanya. Bryan tersenyum lalu memasangkan seat belt pada Ivanna.


Cklik!


Mata Ivanna terbuka, ia menoleh kearah Bryan yang sedang tertawa sambil memeluk roda kemudi.


"Merindukan ciumanku, amore?"


Wajah Ivanna memerah, ia menoleh ke arah yang lain.


"Hahaha enough. Sekarang mari kita berangkat!" Senyum smirk Bryan tersungging sambil menekan gas dengan kakinya.