Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 14



"Huhuhuhu" tangis Grace memuncak setelah ia mengetahui bahwa Ivanna menghilang. Semalam ia sengaja menunggu Ivanna pulang kerja seperti biasanya, namun sampai pukul 3 pagi Ivanna belum juga kembali. Lalu beberapa jam yang lalu salah seorang warga menemukan sebelah sepatu hak tinggi dan sebuah tas yang berisi data diri ivanna dan memulangkannya ke Panti asuhan.


"Tenang Grace kita berdoa bersama sama semoga Tuhan melindungi Anna, kau tahu kan kalau Anna adalah anak yang kuat dan pemberani." ucap Irene sambil menepuk nepuk pundak Grace.


"Bagaimana bisa aku tenang jika Anna diculik oleh orang jahat?"


"Percaya padaku, Anna akan baik baik saja. Kita akan segera lapor kepada polisi." Cecil berharap kata katanya ini mampu membuat Grace lebih tenang walaupun sedikit.


Kabar menghilangnya Ivanna rupanya sampai di telinga Leon dan Maria. Mereka berdua turun dari motor dan berlari masuk kedalam panti asuhan tersebut.


"Bunda?"


"Leon? Huhuhu Anna, dia menghilang Leon!" Tangis Grace semakin kencang ketika bertemu dengan Leon. Leon merasa kasihan dengan Grace, tentu saja ia merasa begitu kehilangan.


"Eungghh"


Sinar matahari yang menyinari bumi mengintip dari celah tembok berlubang. Ivanna menggeliat, dalam mimpinya ia merasa telah diculik oleh seseorang. Ia membuka matanya perlahan, dan mengerdarkan pandangannya ke segala arah. Ini bukan rumahnya dan ia tidak bermimpi. Ia bangun dengan tergesa gesa tanpa sadar bahwa kaki dan tangannya telah diikat di bagian pojok kasur.


"Ah aku dimana?"


"Tolong!!!"


"Tolong akuu?"


"Bundaaa"


"Tolong ak-"


"Berisik!" Ucap seorang pria bertopeng yang entah sejak kapan ia tertidur di sofa dekat jendela. Ivanna mengerjapkan matanya berulang kali. Ia ingat bahwa semalam pria inilah yang menculik dan membawanya ke sebuah rumah misterius.


"S-siapa kamu?”


"Apakah kamu sangat ingin tahu siapa aku?" Ivanna mengingat ingat suara yang familiar, tapi entahlah sepertinya Ivanna kesulitan mengingat di situasi yang seperti ini. Ia pun memilih diam.


"Kamu adalah gadis milik seorang pembunuh. Kamu pasti mengenalnya!"


"Siapa yang kamu sebut pembunuh?"


"Pria pemilik itu?" Ucap pria bertopeng sambil matanya menunjuk bagian lehernya, yang tak lain cincin yang menjadi bandul kalungnya.


"Ini pemberian seseorang,


bahkan aku belum bertemu dengannya. Aku tidak mengenalnya"


"Ya, dan kamu sudah ditandai. Kamu harus tahu itu!" Pria itu berjalan mendekati Ivanna, melepaskan beberapa tali yang mengikatnya dan menggantinya dengan satu tangan di borgol di bagian pojok dipan.


"Aku mohon lepaskan aku. Aku tidak mengerti apa maksudmu"


"Diamlah. Aku hanya ingin membuat semuanya jadi lebih mudah. Jadi menurutlah Ivanna" pria itu memilih meninggalkan Ivanna yang tengah terisak. Ivanna bersimpuh sambil sesekali mengusap air mata dengan satu tangan yang tak terborgol.


"Hiks bunda, tolong Anna"


Disisi lain pria bertopeng yang tak lain adalah Sam tengah berbicara dengan seseorang dari ponselnya,


"Bagaimana?"


"...... "


"Bagus, aku membuka lebar lebar pintu ini untuk kedatangan Tuan Bryan yang terhormat!" Sam mematikan ponselnya dan mengambil sebuah suntikan yang baru yang sebelumnya telah ia isi dengan obat khusus. Ia bergegas masuk kedalam ruangan Ivanna.


"Sebentar lagi temuilah pangeranmu!" Sam menyuntikkan cairan itu ke tubuh Ivanna. Dengan kekuatan yang tersisa Ivanna masing meraung raung meminta tolong sebelum akhirnya obat itu bereaksi dan ia tertidur.


"Dan sebentar lagi sebuah pertunjukan seru akan dimulai!"


Drtt drttt


Datanglah dan ambil kembali gadis kotormu ini. Kau pasti sangat mengenalku kan tuan Bryan?. Datanglah sendirian, atau mayat Ivanna yang akan kau temukan. SJ'


"Brengsek kau Samuel! Akan kupastikan nyawamu segera berada di gengamanku. Boris! Putar balik mobilnya, kita terbang ke Indonesia sekarang.!"


Untung saja mobil yang dikendarai oleh Bryan dan orang orangnya tak terlalu jauh dari lokasi lapangan terbang milik keluarga Benvolio. Dengan mengerahkan segenap jiwa dan raga Bryan beserta pasukannya terbang menuju ke Indonesia.


Sesampainya mereka mendarat di Indonesia, Bryan terlebih dulu masuk kedalam mobilnya dan menutup pintu rapat rapat. Lucian berusaha mengejar atasannya itu namun Bryan memilih pergi sendiri dan meninggalkan Lucian beserta yang lain untuk tetap tinggal di lapangan terbang.


"Boris, selalu cek secara bertahap posisi mobil tuan Bryan. Setelah ini kita berangkat untuk menyusulnya. Aku merasa ada yang tidak beres dengan Tuan kita."


Dan saat ini Bryan menghentikan mobilnya di sebuah hutan belantara yang letaknya tak jauh dari jalan tol. Ia memarkirkan mobilnya dan memilih berjalan membelah hutan sendirian. Jarak yang ditempuh dengan berjalan kaki rupanya cukup melelahkan, namun rasa lelah itu seketika hilang ketika ia menemukan sebuah rumah kayu ditengah hutan.


Bryan mengambil sebuah senjata api dari balik saku jas nya, ia berjalan mengendap menatap kiri dan kanan seolah waspada.


Saat pintu pertama kali di buka hal pertama yang ia lihat hanyalah ruang kosong yang sangat besar. Bryan dengan senjata yang masih kokoh ditangannya berjalan dengan pelan membuka setiap pintu yang berada didalam rumah ini. Hingga akhirnya sampailah ia pada pintu terakhir yang berada di bagian ujung koridor.


Ceklek,


Bryan terpaku menatap Ivanna yang tertidur. Fantasi liarnya mulai bermunculan, akhirnya inilah saatnya ia bisa mencicipi tubuh molek milik gadisnya. Ia mencium lembut bibir Ivanna lalu turun dan beralih ke bagian dagu hingga leher jenjang milik gadis itu. Ia mengendus ceruk lehernya cukup lama dan tatapannya beralih pada beberapa tanda merah keunguan yang terdapat banyak di leher putih itu.


"Ahhh akhirnya aku bisa menciumi langsung wangi tubuhmu. Sekarang lihat dirimu, aku bisa mencium aroma pria lain di tubuhmu. Benar benar murahan!" Senyum smirk ia tampakkan takkala melihat wajah teduh Ivanna yang tertidur bagaikan putri salju.


Dengan adanya Ivanna, Bryan benar benar hilang fokus hingga tak sadar seseorang berdiri tepat di belakangnya dan merebut senjata api dari saku celananya.


"Akhirnya kita bertemu, Bryan Kael Benvolio!"


"Ya Samuel Jarvis. Ah bukan, namamu Samuel Edmondo! Anak haram dari laki laki bejat dan wanita malam. Hah! memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, menjijikan!"


"Brengsek kau Benvolio, kau dan seluruh keluargamu. Aku ingin membunuhmu!"


"Silahkan, sebuah kehormatan besar bisa mati ditanganmu Sam!"


Sam mengambil sebuah pisau dari balik bajunya, membuang senjata api yang telah direbut dari Bryan. Ia berlari dan mencoba menghunuskan pisau itu tepat di jantung Bryan. Namun Bryan dengan mudahnya menghindar dari tusukan Sam. Bryan melakukan gerakan memutar hingga ia berhasil menendang tangan Sam sehingga pisau itu terpental jauh.


"Brengsek!"


"Kalian, serang bajingan ini!" Teriak Sam hingga membuat beberapa orang yang tengah bersembunyi keluar dan mengepung Bryan. Bryan yang melihatnya tersenyum sinis,


"Hah sepertinya aku terlalu meremehkanmu Sam" ucap Bryan dan memilik melawan mereka semua dengan pisau lipat yang selalu ia bawa kemana mana. Pertarungan 1 lawan 7 orang yang bersenjatakan pisau rupanya cukup melelahkan, akhirnya tak sampai dari 30 menit seluruh lawan tewas ditangan Bryan.


Korban terakhirnya ia tusuk dibagian dada hingga membuat darah tersebut mengalir deras dari sela pisaunya.


"Kau bukan apa apa dibanding denganku Sam! Kau hanya bayi yang baru lahir kemarin sore!" ucap Bryan membersihkan pisau yang berlumuran darah itu dengan tangannya. Aroma darah yang kental menguar ke semua ruangan. Sam yang merasa kalah memilih memutar otaknya untuk membalikkan keadaan.


"Kau bukan apa apa dibanding denganku Sam! Kau hanya bayi yang baru lahir kemarin sore!" ucap Bryan membersihkan pisau yang berlumuran darah itu dengan tangannya. Aroma darah yang kental menguar ke semua ruangan. Sam yang merasa kalah memilih memutar otaknya untuk membalikkan keadaan. Pilihannya hanya satu, ia harus menyakiti Ivanna.


Samuel mendekati Ivanna yang sedang pingsan lalu meletakkan sebuah pisau tepat di leher Ivanna. Bryan terdiam ditempatnya, karna ketika ia berhasil mendekat satu senti pun Sam menekankan pisaunya lebih dalam dan hingga berhasil melukai Ivanna.


"Ups! Aku tak sengaja membuat leher putih bersih ini terluka"


Tangan Bryan terkepal, mereka saling berhadap hadapan. Keterdiaman mereka tak berlangsung lama ketika seseorang yang Bryan kenal mengintip mereka dari balik jendela. Dia adalah Lucian. Posisi Lucian membelakangi Samuel dan Ivanna.


Bryan dan Lucian berkomunikasi lewat pandangan mata mereka. Saat Lucian mengangguk rupanya Lucian juga melepaskan tembakan dan mengenai lengan Samuel. Sam refleks mengerang dan melepaskan Ivanna.


"Arghhh sial!"


Samuel melepaskan Ivanna dan berjalan mundur, ia menoleh ke belakang. Tentu saja kesempatan itu tak Bryan sia siakan. Bryan mengambil senjata api miliknya dan menembakkan pelurunya. Sayangnya Sam yang bergerak limbung membuat pelurunya meleset dan mengenai perut Samuel di bagian kiri.