
Pagi harinya Leo melihat Zujy yang berjalan menuju sekolah, ia mempercepat memakai sepatu dan mengikuti Zujy dari belakang.
"Apa Zui masih marah?" gumam Leo dan berjalan di samping Zujy.
Zujy tidak menyadari Leo berjalan di sampingnya karna terus memikirkan tentang ia tidak merasa sakit kepala ketika melihat Leo sore kemarin dan bisa berbicara dengan lancar dengan Leo.
"Apa cuma kadang - kadang?" ucap Zujy dan terkejut menyadari Leo di sampingnya.
"Kau masih marah?" tanya Leo.
"Gak, aku gak pernah marah."
"Jadi yang kemarin apa?"
"I - itu aku sakit perut, hahahaha."
Leo tidak percaya pada perkataan Zujy yang tidak meyakinkan.
"Jadi kau gak marah padaku?"
Zujy mengangguk kecil dan langkahnya terhenti membuat langkah Leo juga terhenti.
"L - leo ... kau bilang aku harus mengingatmu kan?"
"Iya."
"M - maaf." Zujy memegang pipi Leo lalu menatapnya serius, Leo kebingungan namun terlena dengan kecantikan Zujy yang tetap terlihat walau di tutupi poni setengahnya.
Beberapa saat Zujy terus menatap Leo, sakit kepalanya mulai timbul namun ia tetap mencoba menahannya hingga lewat lima menit kepalanya sangat sakit, ingin sekali rasanya ia pingsan saat itu juga. Hingga ia sudah tidak tahan lagi, ia berlari memegang kepalanya yang sakit parah.
Leo mematung, ia terkejut menatap raut wajah Zujy yang kesakitan serta keringat yang terus muncul di dahi Zujy. Ia menatap Zujy yang berlari, rasa penasarannya pada Zujy semakin besar. Apa yang sebenarnya terjadi pada Zujy atau pun dengan Irine?
.
.
.
Irine membuka pintu kosan setelah mendengar ketukan beberapa kali, ternyata itu adalah dokter Barry dan asistennya di belakangnya, dokter Barry mengatakan kedua orang tua Irine tidak bisa datang karna harus segera pergi ke Inggris saat ini juga. Irine mempersilahkan kedua orang itu masuk.
Dokter Barry adalah dokter di kedua keluarga Dirni dan Charles, ia bahkan mempunyai rumah sakitnya sendiri dan ia pintar di semua bidang kedokteran. Dokter Barry juga adalah sahabat sekaligus teman seperjuangan dengan Agler ayah Zujy.
.
.
.
Zujy berhenti berlari setelah memasuki ruangan pribadinya, ia duduk di belakang pintu dan menahan rasa sakit yang amat parah.
"Namaku Leo Purnama, panggil aku Leo."
"Aku adalah pangeran yang akan mengantar sang putri pulang."
Deg
"Aku ingat!"
Seketika kepala Zujy perlahan - lahan mulai tidak sakit lagi seakan hanya sakit ketika ingatannya kembali. Ia ingat pertama kalinya ia bertemu Leo setelah itu mereka selalu bermain bersama dengan Irine juga namun setelah Leo meninggalkannya ia tidak ingat lagi.
"Aku ingat ... Leo ... Leo ... kenapa kau meninggalkanku?"
"Aku bertemu Leo saat umur 5 tahun dan menjadi akrab hingga Leo meninggalkanku saat ... kelas 7, lalu aku menjadi penyanyi tapi aku tidak ingat lagi apa yang terjadi."
Suara bel masuk berbunyi, dengan terpaksa Zujy beranjak dari duduknya menuju kelasnya dengan beribu - ribu pertanyaan dalam benaknya. Akhirnya ia mengingatnya namun fakta Leo meninggalkannya sama sekali tidak membuatnya senang.
Sepanjang pelajaran Zujy sama sekali tidak fokus, ia terus ingin mengingat hal yang dilupakannya namun nihil, selalu tidak berhasil.
Tidak terasa bel istarahat berbunyi, setelah guru keluar para murid berhamburan keluar kelas.
Zujy beranjak dan menuju kantin, seperti biasa ia membeli beberapa roti namun baru saja ia ingin pergi Yoel menahan tangannya.
"Makan roti saja tidak bagus untuk kesehatan."
Yoel menarik Zujy lalu kembali mengantri untuk memesan makanan, Zujy hanya mengikuti Yoel karna hatinya sedikit bahagia karna Yoel perhatian padanya.
Mereka duduk di meja panjang berwarna putih yang satu - satunya kosong di ujung kantin.
"Kau selalu makan dimana? Aku tidak pernah melihatmu di kantin."
"Aku makan di kelas."
"Cuma roti?"
Yoel memberikan beberapa sayurannya ke piring Zujy padahal piring Zujy penuh sayuran karna Yoel memesannya begitu.
"Kau saja, kau kan tidak suka sayur pasti jarang makan sayur," ucap Zujy kembali memberikan sayur pemberian Yoel.
Tak
Zujy melirik Leo yang menghentakkan piring makanannya dan duduk di samping Zujy, wajah Leo terlihat kesal menatapnya lalu memberikan beberapa dagingnya ke piring Zujy.
"Kau juga perlu makan daging, sepertinya kau sakit tadi pagi."
Zujy hanya mengangguk kecil, anehnya saat ia menatap Leo sakit kepala itu tidak timbul lagi. Mungkin karna ia sudah mengingat segala hal tentang Leo, wajahnya memerah ketika mengingat ia pernah mandi bersama Leo ketika kecil. Zujy menggeleng - gelengkan kepalanya agar pikiran memalukan itu segera menghilang dari kepalanya.
Zujy melirik Reihan yang tiba - tiba duduk di sisi sebelahnya, ah ... kenapa lelaki misterius ini malah duduk di sini."
"Oh, ketua osis, apa kabar," sapa Yoel dan dibalas Reihan.
"Zui, duduk di sini."
Leo menyuruh Zujy untuk pindah ke sampingnya agar tidak berdekatan dengan Reihan, namun Zujy menolaknya. Zujy ingin sekali menerima perintah Leo namun di sisi lain ia takut Reihan malah tersinggung dan membongkar identitasnya.
Mereka makan dengan situasi yang mencekam kecuali Yoel yang tidak tahu apa - apa. Zujy beranjak dari duduknya sembari berkata. "Aku sudah selesai, aku pergi dulu." Leo dengan cepat mengikuti Zujy, begitupun dengan Yoel meninggalkan Reihan sendiri.
Reihan tersenyum tipis sembari memakan makanannya.
.
.
.
Kosan 19.00
Zujy duduk sembari membaca buku serta di sampingnya ada beberapa buku tertumpuk, Irine bersandar di bantalnya dan menonton siaran TV.
Zujy berdiri dan keluar dari dapur mereka membawa beberapa cemilan, ia duduk di tempatnya tadi.
"Rin, apa yang dikatakan dokter Barry?"
Irine memakan cemilan. "Keadaanku tidak separah sebelumnya, dan ada kemajuan besar. Mungkin beberapa saat kemudian traumaku akan menghilang."
Zujy terlihat bahagia dengan perkataan Irine.
"Kau besok sekolah?" tanya Zujy kembali membaca bukunya.
"Iya."
"Aku lupa bilang, minggu depan ulangan semester."
Irine begitu terkejut, dengan cepat berlari mengambil bukunya setelah memukul kecil Zujy.
.
.
.
Zujy membuka matanya lalu melirik jam yang menunjukkan angka 3 malam. Ia melirik cahaya lampu yang masuk di sela - sela pintu yang terbuka sedikit, ia menyadari di sebelahnya tidak ada Irine sama sekali. Ia dengan perlahan mendekati pintu lalu membukanya, ia terkejut mendapati Irine tertidur di atas karpet dikelilingi beberapa buku yang masih terbuka.
"Masih seminggu lagi, kenapa harus sampai begadang."
Ia meletakkan dengan pelan selimut di atas tubuh Irine karna ia tahu Irine susah dibangunkan jadi ia tidak membangunkannya dan ikut tertidur di samping Irine karna merasa tidak enak pada Irine.
Seminggu kemudian, hari pertama ujian.
Kelas IPA 3 sangat sunyi, beberapa siswa sibuk menatap bukunya begitupun dengan Zujy, beberapa siswa lagi terlihat hanya melamun dan beberapa tertidur termasuk Leo.
Zujy menghela nafas, ia sangat suka hari ujian namun sekarang ia merasa bosan pasalnya semua materi pelajaran sudah melekat di otaknya.
Ia melirik Leo yang tertidur pulas di kursi belakang, entah bagaimana lelaki itu bisa tertidur di hari ujian.
"Dia niat belajar gak sih?" Gumam Zujy lalu melirik Yoel yang duduk di sebelahnya.
Yoel begitu fokus menatap bukunya, Zujy menatap kagum Yoel mengingat Yoel bisa beradaptasi dengan muda di negara asing. Berbeda dengan Zujy yang kesulitan saat pertama kali ke Indonesia, kampung halaman ibunya.
Zujy mengalihkan pandangannya dan fokus kembali menatap buku.
Kelas IPA 2, Irine tampak letih menatap bukunya, ia begitu banyak begadang hanya untuk hari ujian ini. Ia sedikit menguap lalu menatap Reihan yang duduk di sampingnya.
'Aku tidak boleh kalah dari orang ini,' gumam Irine kembali fokus ke bukunya.
Irine sudah mengenal Reihan sejak ia sekelas dengan Reihan di kelas 11 ini. Irine juga tahu identitas asli Reihan, dia sedikit akrab dengan Reihan walau Reihan begitu dingin tapi tidak menolaknya.
Reihan juga tahu trauma Irine jadi Irine banyak berpegangan tangan dengan Reihan untuk membiasakan tubuhnya dan menghilangkan traumanya sejak dokter Barry menyuruhnya.
Namun tindakan mereka malah membuahkan gosip baru di tingkat 2 ini.
Irine begitu sulit belajar karna memikirkan kakaknya, Ayahnya memberi tahunya bahwa keadaan kakaknya telah membaik. Irine memutuskan untuk pergi setelah kenaikan kelas dan melanjutkan ke tingkat tiga di Inggris, kampung halamannya. Ia belum memberitahu Zujy jika ia akan pergi, ia belum siap.
Bersambung.