
Seorang wanita berambut panjang lurus tengah berjalan di antara taman bunga mawar yang mekar, rambut emasnya seketika bertebrangan ketika di tiup angin halus. Ia merapikan rambutnya ke belakang telinganya dan menatap langit yang begitu cerah. Dengan gaun putihnya ia kembali berjalan dan menatap seorang lelaki di kursi roda, ia tersenyum dan memeluk lelaki itu. Lelaki itu juga tersenyum lalu kursi roda hitam itu di dorong pelan gadis berambut emas serta bermata biru itu. Ia terus bersenandung bahagia.
.
.
.
Irine berdiri sembari menyandarkan tangannya di pagar kapal, rambut emasnya tidak henti bertebrangan di tiup angin laut. Bibirnya tersenyum menatap laut biru yang begitu indah. Warna laut biru itu sama persis dengan warna matanya.
Ia bersenandung kecil lalu seorang gadis berambut hitam pekat ikut menyandarkan tangannya di pagar kapal, Irine menatap mata Zujy yang juga sangat mirip dengan warna laut.
"Sangat damai," ucap Zujy tersenyum.
Irine hanya tersenyum dan kembali menatap laut biru, di atas laut biru itu berterbangan beberapa burung. Ya, mungkin karna sekarang waktu bermigrasi untuk para burung.
"Sebentar lagi musim dingin," ucap Irine.
Ke tiga lelaki ikut bergabung dengan mereka dan juga menatap laut yang begitu luas.
"Pfftt."
Semuanya seketika menatap Irine yang tertawa.
"Kenapa aku selalu lupa kalau Zui selalu mabuk laut," kekeh Irine membuat semuanya tertawa kecuali Zujy.
Semalam tadi.
Waktu telah menunjuk angka 12, langit malam dan angin dingin telah begitu terasa.
Irine dan Yoel masih saja di meja bar sembari meminum alkohol merah itu sedangkan Reihan telah tertidur di kamarnya.
"Rin, kamar Zui dimana?" tanya Leo yang datang menopang tubuh Zujy yang pucat.
"Zui?!" kaget keduanya segera menghampiri Zujy.
Zujy seketika merasa mual lalu menutup mulutnya, untung saja ia tidak muntah di sana.
Irine dan Yoel sedikit tertawa, kenapa mereka bisa melupakan bahwa Zujy paling anti dengan laut?
"Hhh, ayo ikut aku," kekeh Irine berjalan lebih dulu diikuti Leo dan Zujy lalu Yoel.
"Zui juga sudah mabuk," ucap Leo lagi seketika membuat wajah Irine dan Yoel kaku.
"Mmm, aku ada urusan. Ini kuncinya!" ucap Irine segera berlari pergi.
"Kalau ada apa - apa, cari syal merah atau cari Chris!" ucap Yoel sebelum berlari mengejar Irine.
Leo hanya kebingungan dan mencari kamar dengan nomor yang sama dengan kunci yang berbentuk kartu itu.
"*****! Hei *****! Beraninya kau ******!!" umpat Zujy membuat Leo yang tadinya mau membuka pintu kamar terhenti.
Leo terkejut karna Zujy tidak pernah mabuk, Zujy sangat pintar minum sampai tidak pernah mabuk sekalipun. Ini pertama kalinya ia melihat kebiasaan Zujy ketika mabuk.
"Zui, kau bilang apa tadi?" tanya Leo yang masih tidak percaya.
"*****!! Cepat gendong aku!!! Leo *****!!" umpat Zujy membuat image Zujy di mata Leo hancur seketika.
Ini pertama kalinya mendengar Zujy mengumpat dan bertingkah kasar.
Zujy mengerutkan alisnya dan menjambak rambut Leo membuat Leo kesakitan parah.
Walau Zujy terus menjambak dan memukul Leo, akhirnya ia bisa masuk ke kamar Zujy dan membaringkan Zujy di atas kasur putih itu.
Leo mengusap keringat di dahinya, dan terkekeh menatap Zujy.
"Ini sisi lain yang aku tidak tahu," kekeh Leo berniat pergi namun Zujy seketika menangis.
Ia segera menghampiri Zujy lagi lalu menenangkannya namun Zujy terus menangis tanpa berkata apa - apa lagi. Dan yang membuatnya bingung sekalinya Zujy berbicara ia mengganti bahasanya secara acak.
Bel berbunyi, Leo meninggalkan Zujy menuju pintu kamar. Di monitor kecil, ia melihat Chris berdiri di depan pintu putih itu.
Leo seketika mengingat perkataan Yoel, jika ada apa - apa, cari syal merah atau panggil Chris.
Tentunya Leo tidak membuka pintu itu dan membongkar koper Zujy, namun ia sama sekali tidak menemukan syal berwarna merah. Tidak ada syal satu pun di koper Zujy.
Suara tangisan Zujy terus terdengar di telinga Leo, dengan terpaksa ia membuka pintu itu. Ketika mendengar suara tangisan Zujy, Chris memasang wajah terkejutnya.
Leo berdiri dengan tangan yang disilangkan di dada bidangnya sembari menatap kesal Chris yang begitu perhatian pada tunangannya.
"Kenapa syal itu ada padamu?" tanya Leo.
Chris berdiri dan menghadap Leo, ia meminta maaf karna masuk tanpa izin sebelum ia menjawab pertanyaan Leo.
"Nona meminta saya menyimpannya," ucap Chris.
Leo mengerutkan alisnya, ia menatap Zujy yang tertidur dengan memeluk syal itu. Apa syal itu sebegitu penting bagi Zujy?
Leo duduk di pinggir kasur sembari terus menatap Zujy.
"Saat nona kecil, ia selalu memeluk syal itu ketika sulit tidur atau menangis. Tapi suatu hari syal itu menghilang membuat nona menangis seharian penuh dan ditemukan 4 tahun kemudian. Saat nona mabuk berat, nona tidak bisa mengendalikan perasaannya dan selalu menangis mencari syal itu. Nona seakan kembali ke masa saat kehilangan syal itu," jelas Chris membuat Leo tambah kesal.
"Jadi maksudmu, kau lebih tahu tentang Zujy dari padaku?"
Chris terkejut dan meminta maaf, Leo membentak Chris dan menyuruhnya pergi. Chris langsung saja pergi sedangkan Leo masih kesal.
"Aku tidak pernah tahu tentang itu," gumam Leo kesal.
Flashback off.
Mereka masih saja menertawai Zujy sedangkan Zujy terus terdiam.
Raut wajahnya terlihat sedih mengingat syal merah itu, mungkin orang menyebut Zujy terlalu alay tapi Zujy memang sangat menyayangi syal itu.
Seorang lelaki yang menghampiri mereka membuat mereka terdiam, rambut hitam lelaki itu juga berterbangan.
Mata hitamnya menatap mata biru Zujy.
"Nona, maaf mengganggu tapi ini penting," ucap Chris.
Zujy mulai melangkahkan kakinya namun Leo menahan tangannya.
"Bicarakan di sini saja," pinta Leo namun Chris menolak.
Chris merasa hal yang akan dibicarakannya ini mungkin privasi bagi nonanya.
Zujy mengangguk menatap Leo dengan perlahan - lahan melepaskan genggaman tangan Leo dan berjalan pergi diikuti Chris.
Di ruangan Zujy mereka berdiri dan saling menatap, Chris mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru tua dari kantung jasnya.
Zujy terkejut dan merebut paksa kotak itu.
"Kenapa kotak ini bisa ada padamu?" tanya Zujy curiga.
"Tidak sengaja terjatuh ketika di kastil."
Chris memang sempat kehilangan kotak berisi obat tidur itu tapi ia akhirnya menemukannya ada di tangan tuan muda Bryan, untung saja Bryan mau memberikan obat itu pada Chris dan mau tutup mulut perihal obat itu.
Zujy terdiam dan menyimpan obat itu di kantung bajunya, wajahnya terlihat serius.
"Tenang saja, saya tidak akan memberitahu siapapun tentang obat tidur itu."
Zujy menganggukkan kepalanya. "Kau memang tidak punya hak memberitahu siapapun tentang obat ini," ucap Zujy dingin.
"Jadi sekarang keluarlah," pinta Zujy.
Setelah Chris keluar, Zujy menatap obat itu dan membuka jendela kamarnya. Ia membuang obat itu ke laut.
"Aku tidak akan menggunakannya lagi," gumam Zujy melihat kotak berisi obat itu tenggelam di telan lautan biru.
"Maaf mencemari lautanmu," gumam Zujy lagi sebelum keluar dari ruangannya menuju ke tempatnya tadi.
Zujy mendapati ke empat sahabatnya sudah tidak ada lagi di sana dan ternyata tengah bersenang - senang di kolam berenang.
Zujy terkekeh dan masuk mengganti bajunya dengan baju renang sebelum ikut menyebur ke kolam renang yang begitu besar itu.
Namun di tengah - tengah kegembiraan, Leo naik ke permukaan dan duduk di meja bar. Zujy yang merasa aneh dan khawatir juga ikut naik dan menemani Leo.
Leo meneguk segelas alkohol dan menatap Zujy, yang dirasakan Zujy pertama kali saat Leo melihatnya adalah kecemburuan.
Terdapat begitu banyak kecemburuan di dapati Zujy di mata Leo.
Bersambung.