
Reihan mendatangi Zujy dan Yoel yang asik ngobrol berdua.
"Zui, ngapain?" tanya Reihan menatap tajam Yoel.
Zujy menatap Reihan dan mendekatkan wajahnya ke telinga Yoel.
"Apa kita ajak Reihan juga?" tanya Zujy.
Yoel mengangguk, ia tahu Irine juga dekat dengan Reihan.
Zujy sekilas menatap Leo yang berbicara dengan gadis itu, ia memegang tangan Reihan.
"Sini," ucap Zujy mendekatkan wajahnya ke wajah Reihan.
"Kami mau merayakan ulang tahun Irine," bisik Zujy.
"Oke, kalau begitu aku beri tahu gadis singa itu dulu." Zujy segera menahan tangan Reihan yang ingin menemui Irine.
"Ini Surprise!"
Reihan tersenyum menatap Zujy terus menggenggam tangannya, ia mengelus kepala Zujy.
"Bercanda kok," ucap Reihan tersenyum hangat.
Yoel merasa menjadi obat nyamuk di depan kedua orang ini. Sebagian murid mulai heboh menatap senyuman Reihan, si gunung es sudah dicairkan Zujy.
Leo menatap murid yang heboh ikut melirik Zujy, ia terkejut dan berdiri ingin memisahkan keduanya namun tangannya ditahan Yui.
"Leo, Kau lupa?" tanya Yui menatap sedih Leo.
Leo mengerutkan alisnya dan kembali duduk.
"Sudah, ayo kembali ke topik," ucap Yoel memisahkan keduanya.
.
.
.
Di kelas yang sepi, hanya ada Zujy dan Leo di sana.
Zujy berdiri menatap Leo yang tertidur.
"Tidur terus," gumam Zujy.
Ia membangunkan Leo, Leo membuka matanya dan menatap sayu Zujy.
"Kami mau merayakan ulang tahun Irine, kau mau bergabung?" tanya Zujy.
"Zujy, aku sudah bilang jangan menyapaku lagi."
Zujy sedikit tertawa. "Datang ke pohon besar setelah bel pulang berbunyi."
Leo menatap datar Zujy yang pergi, ia menghela nafas dan kembali menutup matanya.
.
.
.
Bel pulang berbunyi.
Zujy menutup mata Irine dengan kain, ia memandu Irine ke pohon besar.
Irine sudah menyadari Zujy akan membuat surprise namun ia berpura - pura tidak tahu.
Sebuah kain yang menutup mata Irine terbuka, perlahan Irine membuka matanya. Ia terkesima dengan surprise yang di buat sahabatnya ini.
Pohon besar di hias sedemikian rupa, di atas karpet yang terbentang di bawah pohon besar begitu banyak kue dan kue yang besar di tengah - tengahnya. Ia menatap haru Zujy, Yoel dan Reihan.
"Terima kasih," ucap Irine tersenyum.
Zujy dan Yoel seketika memeluk Irine dan Irine membalas pelukan sahabatnya itu, sebuah air keluar dari mata Irine.
"Hei, jangan menangis di hari bahagiamu," ucap Reihan sembari memakan kue.
"Rei!! Irine yang harus diluan makan kue!" ucap Zujy setengah berteriak dan melepas pelukannya.
Yoel melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Irine.
"Rin, aku...." ucapan Yoel terhenti ketika Reihan kembali berbicara.
"Kalau begitu ayo makan," ucap Reihan.
Yoel menatap sendu Irine yang duduk bersama Zujy dan Reihan, ia ikut duduk di samping Irine.
Irine menutup mulutnya ketika ketiga sahabatnya itu menyanyikan lagu ulang tahun.
"Irine, sekarang tiup lilinnya," ucap Zujy menepuk tangan.
Irine meniup lilin itu, ia masih saja terharu dengan kejutan sahabatnya ini. Ini pertama kalinya merasakan ulang tahun yang sangat menyenangkan walau hanya Zujy, Yoel dan Reihan yang menghadirinya.
Sebelum kue dipotong Irine, ia mengucapkan permohonannya.
Keempatnya memancarkan senyum bahagia.
Beberapa saat kemudian Zujy izin ke kamar mandi.
Setelah ke kamar mandi Zujy berjalan melewati lorong yang panjang, jarak gedung kelas tiga dengan pohon besar cukup jauh.
"Leo sama sekali tidak datang," benak Zujy.
Ia melirik kelasnya dan tersenyum, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara dari dalam kelasnya.
Ia perlahan - lahan mendekati kelas 3 - A dan mengintip dari jendela, ia begitu terkejut menatap Leo dan gadis itu berciuman dengan Leo yang duduk di atas meja dan gadis itu duduk di paha Leo.
"Ti - tidak mungkin," gumam Zujy menutup mulutnya, ia berjalan mundur dan tidak sengaja menabrak tempat sampah.
Ia terjatuh, air matanya mengalir deras. Zujy mendengar suara ciuman Leo terhenti dan langkah mendekatinya. Pintu kelas terbuka, Zujy menatap wajah Leo yang terkejut menatapnya.
"Ti - tidak mungkin...." Zujy seketika berlari pergi.
Leo memegang kepalanya yang pusing, ia menatap Yui yang memegang lengannya.
"Leo, maafkan aku," ucapnya.
Leo mendorong kasar Yui dan berlari mengejar Zujy.
.
.
.
Irine menatap curiga Zujy yang sedari kembali dari kamar mandi terus termenung, mereka berjalan menuju gerbang sekolah.
Dor!!!
Zujy terkejut, ia menatap seluruh murid kelas 3 - A berada di sana merayakan ulang tahun Irine.
"Selamat ulang tahun Airine Charles!!" Teriak semua murid.
Irine kembali lagi merasa terharu.
Semua murid menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan mencoret - coret wajah Irine dengan pasta kue, Irine terus tertawa dan membalas mencoret wajah mereka juga.
Yoel tersenyum menatap wajah ceria Irine. Reihan memegang tangan Zujy, ia merasa Zujy sepertinya sakit karna wajahnya begitu merah dan matanya juga.
"Kau kenapa? Sakit?" tanya Reihan memegang kening Zujy.
Zujy menepis kasar tangan Reihan.
Semua murid membukakan jalan di depan Irine, Irine semakin terkejut menatap Ayahnya yang bersandar di sebuah mobil mewah berwarna biru laut.
"Ayah?!"
"Selamat ulang tahun baby, ini hadiah ulang tahunmu!!" Andre memeluk Irine begitupun dengan Irine.
Irine sama sekali tidak mengharapkan mendapatkan hadiah ataupun ucapan dari ayahnya karna mereka masih dalam masa duka. Namun ia tidak menyangka ayahnya tetap memberi hadiah dan merayakan ulang tahunnya.
.
.
.
Irine terus tersenyum sembari membuka begitu banyak hadiah dari teman - temannya, Zujy hanya menatap Irine sembari memeluk lututnya.
"Sayang sekali Ayah harus kembali ke Inggris," ucap Irine membuka kado dari Zujy.
"Hah? Alarm?" Irine terkekeh menatap Zujy yang tersenyum.
"Baiklah - baiklah, aku akan berusaha bangun lebih dulu," ucap Irine membuka kado yang lain.
"Buku? ... Ciri - ciri kamu mencintai seseorang," gumam Irine dan tertawa lepas menatap hadiah dari Reihan.
"Dasar kaku," ejek Irine dan tatapannya terhenti di sebuah kado kecil.
"Baiklah, sekarang hadiah dari kakakku tercinta," ucap Irine terkekeh membuka kado dari Yoel.
"Cantiknya." Irine tersenyum menatap kalung berbentuk kupu - kupu kecil hadiah dari Yoel.
"Zui!! Bantu aku pakaikan!" Irine memberikan kalung itu dan duduk membelakangi Zujy.
Zujy memakaikan kalung dari Yoel, ia termenung setelah itu. Irine melirik Zujy dan menjadi khawatir ketika gadis itu seketika menangis.
"Zui? Kenapa?" tanya Irine memeluk Zujy.
Zujy terus terisak dan ketika dirinya sudah lebih baik, ia menceritakan semuanya pada Irine.
"Dasar Leo!! Bagaimana bisa dia melakukannya! tunggu saja dia besok!" ucap Irine.
"Tidak perlu Rin, aku akan melakukannya sendiri. Aku akan bicara padanya, dan memastikan semuanya."
Irine menatap Zujy dan mengelus pundak Zujy.
Bersambung.