
Jam 6.00
Kelima manusia itu telah berkumpul di depan gerbang.
Mereka berlari santai memutari desa kecil itu, suasanya terlihat biasa, Irine terlihat bersemangat seperti biasa, Zujy juga diam seperti biasa dan Yoel dan lainnya seperti biasa.
Seakan tidak terjadi apa - apa di antara mereka, Zujy sama sekali tidak bertanya apa - apa pada Yoel karna ia sudah tahu dilihat dari tingkah Irine, Zujy menyimpulkan Yoel tidak menyatakan perasaannya pada Irine.
Namun akhir - akhir ini Irine sering melamun dan seolah ingin mengatakan sesuatu pada Zujy namun selalu tidak jadi, Irine selalu menundanya. Zujy tidak mempermasalahkan itu karna ia tahu sikap Irine, bagaimanapun Irine pasti memberitahunya apapun itu.
Setelah 1 jam lebih mereka berkeliling desa, masing - masing pulang ke rumah mereka.
.
.
.
Leo memeriksa setiap sudut rumahnya dan tidak menemukan keberadaan adiknya sama sekali, ia lega karna Anna sepertinya telah pergi ke tempat yang tidak ingin dikunjungi Leo.
Leo masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual mandinya, setelahnya ia keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang melingkari pinggangnya sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk lainnya.
Otot - otot tubuhnya terlihat jelas, walau ia suka minum namun ia lebih menyukai olahraga bahkan menjadi ketua eskul olahraga di sekolah. Dan fakta itulah yang membuatnya tambah populer di kalangan gadis di sekolah.
Ia segera memakai celana hitam pendeknya dan kaos putihnya setelah mendengar suara ketukan dari pintu depan, ia membuka pintu dengan keadaan rambut yang sedikit basah dan berantakan.
Ia begitu terkejut menatap Zujy yang berdiri di depan pintu memakai celana jins pendek dan kaos longgar putih, ia tambah terkejut karna Zujy menjepit poninya membuat seluruh wajahnya terlihat dan sama sekali tidak memakai kontak lens, mata birunya terlihat sangat cantik.
"Aku membuat makanan lebih jadi ini untukmu." Zujy menyodorkan kotak makanan dan diterima Leo, lalu dipersilahkan masuk oleh Leo.
Zujy awalnya ingin menolak namun ia ingat ingin memberitahu Leo bahwa ia sudah mengingatnya.
Zujy melirik sekitar, rumah Leo sangat rapi beraroma kayu. Setelah Zujy mengingat - ingat Leo memang menyukai aroma kayu sejak kecil. Zujy duduk di sofa, ia menatap Leo yang datang dari ruangan lainnya lalu duduk di samping Zujy.
"Zui, penampilan ini?"
"Sebenarnya a-" ucapan Zujy dihentikan Leo, lelaki itu dengan cepat mengambil kue yang dibuat adiknya lalu meletakkannya di meja depan Zujy.
"Ini kue pengganti kue yang lalu dimakan Irine," ucap Leo kembali duduk di samping Zujy.
"Ma - makasih."
Zujy memakan kue itu perlahan - lahan lalu kembali meletakkan kue itu dan melanjutkan perkataannya yang sempat tercela.
"Sebenarnya aku sudah mengingatmu."
"Sejak kapan?"
"Beberapa hari yang lalu, aku lupa memberitahumu."
"Syukurlah kau sudah mengingatku."
Leo tersenyum dan Zujy menatapnya.
"Maaf sudah melupakanmu, aku gak tahu bagaimana bisa melupakanmu tapi sepertinya Ayahku menyembunyikan sesuatu padaku."
"Gak apa, aku senang kau sudah mengingatku."
Zujy kembali memakan kue itu lalu teringat dengan janjinya pada Irine hanya sebentar di sini.
Zujy dengan cepat meletakkan kue itu dan berdiri. "Maaf Leo aku harus pulang sekarang." Zujy hendak pergi namun di tahan Leo.
"Kau mau ke-" ucapan Leo terpotong karna Zujy tiba - tiba berjalan mundur lalu terjatuh di atas sofa begitupun dengan Leo.
Deg
Detak jantung Leo berdegub kencang, ia kini berada di atas Zujy yang terbaring di atas sofa. Ia menatap Zujy yang masih menutup matanya karna terkejut setelah terjatuh, sudah begitu lama ia tidak melihat wajah Zujy.
Leo terkejut ketika Zujy membuka matanya dan terlihat mata biru Zujy yang terlihat seperti berlian, Leo menelan ludahnya sendiri.
Ia tidak tahan lagi ketika melihat wajah Zujy yang memerah karna tersipu malu.
"Zui, kau sudah mengingatku kan?"
Leo mendekatkan wajahnya ke wajah Zujy lalu mencium bibir pink Zujy, Zujy begitu terkejut hingga tidak bisa bergerak. Setelah puas dengan bibir Zujy Leo menghentikan ciumannya lalu ******* bibir Zujy tanpa sekalipun menatap mata Zujy.
Zujy begitu takut, ia terus memukul dada Leo dan kakinya yang terus naik turun memberontak namun sama sekali tidak mempengaruhi Leo. Bahkan jambakan Zujy sama sekali tidak menghentikan ciuman ganas Leo.
"Mmmm, L - L."
Zujy ingin memanggil nama Leo namun tidak bisa, ia begitu takut ketika lidah Leo terus menjelajahi lidahnya bahkan seluruh mulutnya dan sesekali bibirnya. Air mata Zujy mulai keluar melewati pipi mulusnya dan mulai pasra untuk memberontak, ia menatap mata Leo yang tertutup dengan pasrah dan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Tok - tok - tok.
Leo tersadar, ia melepaskan ciumannya lalu menatap Zujy yang sedari tadi terisak. Leo begitu terkejut melihat raut wajah Zujy yang ketakutan dan pasra akan keadaan.
Zujy mendorong keras tubuh Leo lalu berlari keluar sembari mengelap bibirnya yang basah, ia membuka kasar pintu dan sekilas menatap Irine lalu berlari sembari menarik pergelangan tangan Irine karna jika tidak mungkin saja Irine yang melihatnya menangis akan masuk dan memarahi Leo dan kejadian barusan akan ketahuan. Ia sama sekali tidak ingin sahabatnya tahu jika Leo telah mengambil ciuman pertamanya yang ingin diberikan pada suaminya nanti. Zujy juga takut melihat wajah kecewa Irine nantinya.
Leo terdiam dengan posisi yang tidak berubah, ia memegang bibirnya lalu menendang meja yang masih terletak kue tadi dengan kasar.
Ia meremas rambutnya sendiri dan merasa kesal pada dirinya sendiri karna tidak bisa menahan nafsunya hingga melukai Zujy.
"*******!! ********!!"
.
.
.
"Zui? Kau kenapa?"
Zujy menutup pintu kosannya lalu memeluk Irine.
"Leo ... aku memberitahunya kalau aku sudah mengingatnya."
Irine melepaskan pelukan Zujy lalu menatapnya serius.
"Hanya saja, aku bahagia melihat ekspresinya yang begitu senang, sampai aku menangis dan pergi. Aku tidak ingin dia melihatku menangis."
Irine menganggukkan kebohongan Zujy, ia tahu sekarang Zujy berbohong namun ia tahu pasti ada alasan Zujy tidak memberitahunya. Ia memilih diam karna tahu suatu saat nanti sahabatnya ini akan memberitahunya, ia juga tidak akan bertanya pada Leo. Walau bersahabat tetap ada privasi masing - masing.
"Baguslah, tapi Zui, kalau kau butuh seseorang aku akan ada untukmu. Kau bisa mencurahkan perasaanmu padaku, jangan membendamnya sendiri."
Zujy mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar dan mengunci kamarnya.
Irine terdiam, ia tahu sikap Zujy. Zujy selalu membendam perasaannya sendiri namun tidak pintar menyembunyikannya, hingga saat ini Irine selalu menunggu Zujy membuka perasaannya padanya.
"Sampai kapan kau seperti ini. Aku benci kau kehilangan ingatanmu! Sejak saat itu kau menjadi pendiam dan gak membiarkan orang lain mengetahui perasaanmu!"
"Enggak peduli kalau ini semua untuk kebaikanmu! Aku akan mengembalikan Zujy ku. Zujy yang asli!"
.
.
.
Zujy berjalan sembari mengendong tas hitamnya, ia melirik ke depan dan terkejut menyadari Leo yang berdiri di samping gerbang sembari menatap hp.
Zujy segera mempercepat langkahnya melewati Leo yang sepertinya meliriknya.
Setelah Zujy tidak terlihat lagi Leo menghentakkan badannya ke tembok belakangnya, ia memukul tembok belakangnya lalu memaki dirinya sendiri. Ia berjalan mengikuti Zujy, mengawasi Zujy. Suara bisik - bisikan siswa terhenti saat Leo menatap tajam mereka.
Setelah kejadian Zofia yang berlutut di hadapan seluruh murid sedikit membuat mereka menghentikan kebiasaannya mengosipkan Zujy yang menggoda Leo, Yoel, dan Reihan. Namun masih saja ada yang menggosipkan Zujy karna merasa status mereka lebih tinggi dari Zujy.
Langkah Zujy terhenti saat mendengar namanya dipanggil Leo, ia tahu betul apa yang akan dilakukan Leo saat ini namun ia belum sanggup menghadapi Leo. Setiap rinci bagaimana Leo menciumnya masih melekat di otaknya.
Suara langkah Leo semakin mendekat lalu terhenti ketika Yoel menghampiri Zujy. Zujy begitu terkejut menatap Yoel, ia merasa bersalah atas perbuatannya kemarin. Ia terisak di dada Yoel yang membeku karna kaget saat Zujy seketika menangis.
"Zui? kau kenapa?? ada yang menyakitimu?!"
Zujy sama sekali tidak membalas perkataan Yoel dan hanya bisa terus menangis sembari terus menutup wajahnya di dada Yoel. Leo merasa kesal melihat Zujy menangis tanpa suara dan lagi malah menangis di depan Yoel. Rasa kesalnya itu dilampiaskan pada Yoel.
Ia mendorong kasar Yoel lalu memakinya dan masuk ke dalam kelas, ia duduk di bangkunya lalu berpura - pura tertidur.
Zujy mengusap air matanya lalu berlari masuk ke dalam kelas mengabaikan Yoel yang masih khawatir padanya, Yoel duduk di bangkunya sembari menatap Zujy yang juga berpura - pura tertidur.