Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Season 2. Gembok cinta



Mobil putih terparkir di antara begitu banyak mobil lainnya, ke enam orang itu keluar dari mobil itu dan masuk ke dalam mall yang begitu besar.


Ke enamnya berjalan mengelilingi mall itu dan keluar membawa begitu banyak bawaan. Mereka beristirahat di salah satu Cafe yang sangat terkenal di Seoul.


"Tahun ini juga sangat seru," ucap Irine sembari meminum minumannya.


"Ya, tapi sekarang beda. Reihan tahun ini mempunyai pasangan," kekeh Zujy melirik Reihan yang duduk di sampingnya.


"Kalian juga harus secepatnya," ucap Reihan tersenyum.


Mereka tertawa, Irine melirik Yoel yang juga tertawa.


"Jadi? Kalian berniat punya anak berapa?" tanya Irine dengan wajah serius.


Reihan dan Hida menjadi kaku dan saling melirik, telinga Reihan memerah begitupun dengan wajah Hida.


"10," ucap Leo tertawa membuat semua terkejut dan membuat Zujy tersedak.


"Ya kan?" ucap Leo lagi menatap Reihan yang masih terkejut.


"2, satu anak perempuan dan satu anak laki - laki!!" seru Hida membuat Leo terdiam dan melirik Zujy yang sepertinya melamunkan sesuatu.


"Bagaimana dengan kalian!?" tanya Hida menatap kedua pasangan pasangan itu.


Irine mengalihkan pandangannya dan mendapat sasaran empuk.


"Zujy!! Kau berapa?" tanya Irine memukul meja membuat Zujy tersadar.


"Hah? Kenapa?" tanya Zujy menatap semuanya.


"Oh, 3," ucap Zujy tersenyum kaku dan terkejut ketika Leo tersenyum padanya.


"Sekarang kau Irine!" seru Hida lagi membuat Irine kembali memalingkan matanya.


"Kau melihat kemana?" kekeh Hida mengikuti mata Irine.


"Kalau kau tidak mau menjawab, berarti!!" seru Hida lagi menatap Yoel.


"2," balas Yoel dengan wajah datar.


Hida terkekeh dan melirik Leo, ia menaik turunkan alisnya.


"1 anak perempuan," ucap Leo membuat semuanya terkejut.


"Kenapa?" tanya Yoel dan Leo menatap serius Zujy.


"Aku tidak ingin kehilangannya," ucap Leo membuat semuanya terdiam.


Leo menyandarkan tubuhnya dan menatap cincin tunangannya.


Irine seketika berpura - pura batuk membuat semuanya saling menatap dan menghela nafas.


"Ayo, sebentar lagi malam. Kita masih harus mengunjungi beberapa tempat," ucap Irine berdiri di ikuti semuanya.


.


.


.


Kini mereka berdiri di depan begitu banyak gembok - gembok dengan warna yang beragam, masing - masing memegang gembok di tangannya dengan harapan yang sudah tertulis di gembok. Mereka berpisah mencari tempat untuk menaruh gembok mereka.


Irine dan Yoel terhenti karna mendapat tempat yang kosong, mereka tersenyum dan berjongkok lalu mengunci kedua gembok mereka.


Gembok mereka saling mengunci sembari berharap mereka akan seperti itu selamanya, selalu bersama.


"Apa yang kau tulis di gembokmu?" tanya Irine membalikkan gembok Yoel dan terkejut.


"Will you mary me?" ucap Irine membaca tulisan itu, tatapannya menatap wajah tampan Yoel mencari keseriusan di mata lelaki itu.


Bibirnya tersenyum mendapatkan apa yang dia mau, ia memeluk Yoel dengan perasaan meluap - luap.


Yoel tertawa kecil dan melepaskan pelukannya.


"Will you marry me?" ucap Yoel.


Irine kembali tersenyum dengan air mata yang keluar, ia segera memeluk Yoel lagi.


"Sangat tidak romantis," ketus Irine yang masih memeluk Yoel.


"Kalau begitu mau aku ulang?" tanya Yoel.


Irine menggeleng - gelengkan kepalanya lalu melepaskan pelukan eratnya.


"Sekarang kita lihat harapanmu," ucap Yoel membalikkan gembok Irine membuat Irine terkejut.


"Yoel bodoh! dasar tidak peka!!" ucap Yoel membaca tulisan itu.


Irine memalingkan wajahnya sembari tersenyum kaku.


"6 tahun yang lalu Zui dan Leo sudah bertunangan, seminggu yang lalu Reihan dan Hida menikah tapi kau juga tidak kunjung melamarku padahal semalam Leo kembali melamar Zui. Jadi kau tidak peka," gumam Irine namun di dengar Yoel.


Tubuh Irine menjadi kaku ketika Yoel memegang kepalanya dan memberantakkan rambutnya.


"Ya, aku memang tidak peka," ucap Yoel membuat Irine meliriknya.


"Tapi kau menyukaiku kan?" kekeh Yoel membuat wajah Irine memerah.


"Pasti!!" balas Irine tanpa sengaja.


Yoel tersenyum dan melepas maskernya begitupun dengan masker Irine dan Cup.


Irine membulatkan matanya ketika bibirnya menyatu dengan bibir Yoel, hingga Yoel kembali memakai maskernya ia sama sekali tidak berkedip.


"Terakhir kalinya saat uji nyali itu," gumam Irine memegang bibirnya.


Tatapan Irine melekat ke tangan besar Yoel kemudian ia menatap wajah Yoel dan tersenyum.


Ia memegang tangan Yoel dan berdiri.


Di sisi lain Leo dan Zujy baru mendapat tempat kosong.


"Malam ini sangat sepi, biasanya tempat ini ramai," ucap Leo mengunci gemboknya yang saling mengunci dengan gembok Zujy.


Harapan mereka di gembok itu sama, mereka mengharapkan selalu bersama.


"Oh ya, setelah ini aku harus ke perusahaan. Ada meeting yang tidak bisa dibatalkan," ucap Zujy menatap Leo begitupun dengan Leo.


"Kalau bekerja jangan sampai lupa waktu," ucap Leo menekan hidung Zujy.


"Kau juga jangan mengambil peran yang ada adegan ciumannya," ucap Zujy juga menekan hidung Leo.


Mereka saling menatap dan tertawa.


"Tenang saja bibirku hanya untukmu seorang," bisik Leo di telinga Zujy seketika membuat wajah gadis itu memerah.


Leo kembali menatap Zujy yang terlihat malu di balik masker hitam itu. "Jangan terlalu dekat dengan lelaki itu.


Zujy berjalan di samping Leo dan terkekeh. "Siapa? maksudmu Chris?" goda Zujy menatap Leo.


Zujy tertawa kecil dan berjalan berhadapan dengan Leo.


"Kau cemburu?" goda Zujy terus menatap Leo yang terdiam.


"Hhhh, Chris itu hanya sekretaris sekaligus pelayan pribadiku dan juga tangan kananku," kekeh Zujy.


"Tapi dia tetap laki - laki!!" tegas Leo menghentikan langkah Zujy.


"Sayangku ternyata bisa cemburu," kekeh Zujy menggandeng lengan Leo.


"Sayang? Kau serius?" tanya Leo melirik Zujy.


Zujy terus tertawa hingga tidak mendengar perkataan Leo.


"Baiklah, mulai saat ini aku akan memanggilmu dengan sebutan sayang," kekeh Leo dan kali ini di dengar Zujy.


"Hah?!"


Leo menggoda Zujy dengan memanggilnya dengan sebutan sayang walau Zujy terus menolaknya.


Dan di sisi lainnya lagi Reihan dan Hida baru saja selesai mengunci gembok mereka yang juga saling mengunci dengan harapan terus bersama seperti gembok itu.


Mereka berjalan sembari bergandengan tangan.


"Aku berniat membuat film," ucap Reihan.


"Film?"


"Ya, Film tentang cerita dua sahabat yang sama - sama memiliki masa lalu yang kelam."


"Jadi siapa pemerannya?"


"Zujy Dirni dan Airine Charles dan kita semua," ucap Reihan membuat Hida terkejut.


"Karna ini cerita kita jadi kita yang harus memerankannya," kekeh Reihan membuat Hida juga tersenyum.


"Jadi kisah hidup Zui dan Irine?" tanya Hida dan Reihan mengangguk.


"Mungkin akan sulit untuk mendapat persetujuan mereka karna mereka bukanlah orang biasa," ucap Hida yang sudah di tahu Reihan.


Namun Reihan tetap ingin membuatnya menjadi film.


"Tapi kalau kita mendapat persetujuan mereka, aku yakin Film ini akan menjadi proyek terbesar di perusahaanku," ucap Reihan tersenyum sembari menatap langit, menatap bintang - bintang yang begitu banyak.


"Tapi di ceritanya kau akan menjadi sad boy karna di tolak Zujy," kekeh Hida membuat Reihan sedikit kesal.


"Ya, tapi aku mendapat gadis yang menghentikanku menjadi sad boy," kekeh Reihan membuat Hida sedikit tertawa.


Hida senyum - senyum sendiri sembari memeluk lengan Reihan.


Bersambung.