Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Season 2. Perasaan buruk



Zujy menatap Leo di sebuah kamar yang bernuansa emas, mereka hanya saling menatap.


Suara jam dinding hanya terdengar di ruangan itu, jarum jam terlihat menunjuk angka 12 malam.


Leo merentangkan tangannya membuat Zujy berlari ke pelukan Leo.


Mereka berpelukan sangat erat, keduanya tidak ada yang ingin melepaskan pelukan.


"Aku sangat merindukanmu," ucap keduanya bersamaan sembari saling menatap.


Mereka kini terus menatap, wajah Zujy mulai memerah, perlahan - lahan ia menutup mata.


Leo terkejut, ia tahu betul kenapa Zujy menutup matanya namun sekarang bukanlah saat yang tepat.


"Tada!!!" Teriak tiga orang yang tiba - tiba masuk.


Zujy segera mendorong tubuh Leo dan menatap ke tiga temannya itu.


"A - ada apa?" tanyanya gugup.


Leo kembali memegang tangan Zujy dan menjatuhkan satu lututnya, ia mengambil sebuah kotak merah dan membuka kotak itu.


"Menikahlah denganku," ucap Leo.


Zujy hanya terdiam, ia terus menatap Leo. Tidak terasa air matanya keluar, kepalanya mengangguk pelan. Leo tersenyum bahagia dan memakaian cincin perak itu di jari Zujy.


Irine, Yoel dan Reihan tersenyum, sebenarnya mereka tidak tahu kenapa mereka harus di sana namun mereka turut senang.


Leo kembali berdiri dan mencium bibir Zujy seketika, gadis itu membulatkan matanya dan ketiga orang itu membalikkan badan mereka.


"Ayo pergi saja, kita hanya menganggu," ajak Irine merangkul lengan kedua lelaki di sampingnya.


Pintu besar itu tertutup meninggalkan kedua sejoli itu bermesraan di dalam, Leo melepaskan ciumannya untuk mengambil nafas lagi. Namun belum sempat ia kembali mencium Zujy, Zujy menahan bibirnya dengan telunjuk.


"Kenapa sekarang?" tanya Zujy menatap wajah tampan Leo.


Leo mengusap pipi merah Zujy dan menatap Zujy serius. "Hanya di saat begini kau mempunyai waktu dan lagi aku tahan melihatmu menanggung dua perusahaan selama setahun ini!"


"Aku tidak bisa membiarkan ayah melanggar aturan terlalu lama."


"Maka aku akan membantumu, menikahlah denganku," ucap Leo lagi.


Gadis itu kembali tersenyum dan mencium bibir Leo, ciuman mereka kembali terjadi.


.


.


.


Pov Zujy.


Aku membuka mataku dan melihat sosok lelaki yang mengambil hatiku, wajahnya yang tertidur sangatlah tampan. Aku beranjak dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi, syukurlah semalam tidak terjadi apa - apa.


Aku membuka semua pakaianku dan mengguyur badanku dengan air shower, setiap tetes air shower sangat kunikmati namun aku masih saja memikirkan lamaran Leo semalam, jujur saja itu adalah lamaran yang tiba - tiba bagiku.


Aku menatap cincin tunangan di jari manisku lalu menatap cincin yang diberikan Leo semalam di jari manisku di tangan sebelahnya lagi. Bibirku tersenyum mengingat perkataan Leo yang begitu khawatir padaku. Setahun yang lalu aku langsung saja merebut posisi perusahaan Dirni groub, dan juga perusahaan NZ diwariskan padaku. Bagaimanapun juga aku tidak ingin ayah melanggar aturan terlalu lama, hingga sekarang hampir tidak ada waktu luang bagiku. Dalam sehari aku bisa di berbagai negara hingga sekarang. Aku merasa bahagia Leo mau dengan cepat menikahiku, dengan begitu perusahaan Dirni akan diserahkan pada Leo dan tanggung jawabku akan berkurang satu. Namun di sisi lain aku merasa menikah terlalu cepat untukku, aku juga merasa belum cukup bisa menjadi istri. Aku merasa ragu untuk menikah sekarang. Tapi, aku harus menyingkirkan keraguan itu!


Oh ya, sudah 7 tahun sejak kami lulus dari bangku SMA. Hari - hari kuliah kami terasa begitu menyenangkan dan hari ini tepat setahun setelah kelulusan kuliah kami. Aku langsung menjadi CEO kedua perusahaan dan Ayah memberikan waktu untuk Leo mengenal perusahaan Dirni agar benar - benar bisa meminpin nantinya, aku dan Leo sudah setahun bertunangan dan mungkin beberapa bulan lagi menikah, Leo juga sepertinya sudah siap memimpin perusahaan Dirni. Aku juga mendukung Leo menjadi aktor selama setahun ini karna aku ingin dia merasakan apa yang diinginkannya sejak kecil seperti aku yang sudah merasakan menjadi penyanyi.


Aku memakai handuk putihku dan berjalan keluar, tubuhku menjadi kaku melihat Leo yang berdiri di hadapanku.


"Ka - kau semalam ketiduran di sini, aku tidak enak membangunkanmu, jadi...." ucapku gagap.


Aku memakai baju yang santai karna hari ini kami akan berjalan - jalan bersama, tradisi yang kami jalani tiap tahun.


Setiap tahun kami menginap bersama selama sebulan di sebuah mansion milik keluarga Charles karna sejujurnya di hari - hari biasa kami jarang bertemu atau sama sekali tidak bertemu.


Aku melangkah keluar dan mendengar bunyi air dari kamar mandi, itu pasti Leo. Aku melangkahkan kakiku keluar dan turun melewati anak tangga berkarpet merah yang mengarah ke ruang makan. Di sana aku mendapati Reihan yang tengah fokus mengetik di laptop silvernya sedangkan Hida tengah memasak.


"Selamat pagi," ucapku tersenyum membuat kedua nya menatapku dan membalas senyumanku.


Jujur saja aku masih tidak percaya Reihan akan mendahuluiku dan Irine menikah.


"Pagi - pagi udah sibuk aja," kekehku mendekati Reihan.


Biar kuberitahu, Reihan sekarang menjadi pemuda sukses karna kepintarannya perusahaan yang dibuatnya dua tahun yang lalu sebentar lagi setara dengan perusahan NZ. Reihan memang sangat hebat.


Reihan sama sekali tidak menjawab perkataanku, dia saat sibuk memang tidak bisa di ganggu. Aku juga seperti itu.


Aku melangkah mendekati Hida dan membantunya memasak.


"Irine masih belum bangun ya?" tanya ku dan Hida mengangguk.


"... bagaimana rasanya sudah menikah?" tanya ku menatap Hida.


Hida tersenyum malu dan menatap Reihan. "Aku masih belum terbiasa, tapi rasanya senang berada di dekat orang yang kita cintai seharian."


Aku menatap Reihan, cinta Hida dan Reihan sangatlah menarik bagiku. Lelaki yang baru saja kehilangan cinta pertamanya mendapatkan cinta yang sesungguhnya dan lelaki tidak ingin lagi kehilangan cintanya, ia dengan cepat menikah dan memiliki gadis itu seumur hidupnya.


Lamunanku terpecah ketika seorang gadis periang masuk ke dalam ruang makan ini.


"Reihan! tidak sopan bekerja di meja makan!" ucap Irine yang masuk di ikuti Yoel.


Reihan hanya mengerutkan keningnya dan tetap fokus ke laptopnya.


"Akhirnya!!" ucap Reihan tersenyum menutup laptopnya dan ia merentangkan tangannya.


Aku tertawa melihat tingkah mereka yang lucu namun entah mengapa ada perasaan sedih di hatiku, 7 tahun ini berlalu dengan tenang membuat perasaanku tidak enak, rasanya ketenangan ini akan berakhir sebentar lagi.


Beberapa bulan kemudian.


Aku menatap Leo dengan wajah yang begitu marah, Leo juga marah melihatku.


Nafas kami terengah - engah karna baru saja beradu argumen namun tidak ada yang mau menyerah.


Suara sungai di sampingku begitu terdengar, bulan di malam ini bersinar terang namun tidak dengan hati kami.


Kami berdiri saling bertatap tajam.


"Kita putus!!" ucapku dan lelaki itu bersamaan.


Kami membalikkan badan kami bersamaan dan berjalan ke arah yang berbeda, setelah kurasa sudah jauh aku menghentikan langkahku.


Air mataku yang sedari tadi kutahan mulai keluar, aku menunduk sembari mengepalkan tangan.


Padahal semuanya baik - baik saja 5 bulan yang lalu.


Aku tahu kalian pasti bingung, jadi aku akan ceritakan semuanya dari 5 bulan yang lalu. Setelah Leo kembali melamarku tepat di tengah malam.


Esok harinya kami mengelilingi seoul bersama.


Bersambung.