Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Masa lalu



Zujy berjalan melewati lorong yang sepi, ia berhasil lolos dari Zofia dan kini Pak Fin tengah mengatasinya, entah apa yang akan dilakukan Pak Fin namun yang ia tahu besok ia tidak akan melihat Zofia di sekolah ini lagi.


Langkahnya terhenti saat melihat Irine dan Leo berlari menghampirinya dengan wajah yang cemas.


"Zui, ka - kau tidak apa - apa kan?" tanya Irine khawatir memegang kedua lengan Zujy.


Zujy menganguk kecil melirik Leo yang terdiam menatapnya.


"Bau, siapa yang nyiramin sampah Zui?"


"Zofia."


"Dimana?" ucapan Leo begitu dingin hingga membuat Zujy terkejut.


"Kenapa dia melakukannya?" Zujy hendak menjawab pertanyaan Irine namun terhenti sembari melirik Leo, ia merasa tidak enak memberitahu Irine jika ada Leo di sana.


"Jadi aku. Dimana perempuan itu?" Leo menyadari lirikan Zujy bertambah kesal.


"Di belakang gedung, ta - tapi sudah di urus Pak Fin pengawalku." ucap Zujy dengan cepat menahan tangan Leo yang hendak menuju belakang gedung.


"Jangan, jangan kesana, sudah di urus pengawalku."


Langkah Leo terhenti dengan terpaksa, ia menatap sedih Zujy dan menutup kepala Zujy menggunakan jas sekolahnya.


Irine hanya menatap tajam Leo dan membawa Zujy ke toilet perempuan di ikuti Leo yang menunggu di luar toilet.


Irine dengan setia membantu Zujy membersihkan rambut serta bajunya.


"Akh."


Irine terkejut dengan Zujy yang tiba - tiba merasa kesakitan di bagian kepalanya.


"Zui! Kenapa?"


Zui begitu merasakan sakit yang belum pernah ia rasakan dan beberapa kejadian yang belum pernah dilakukannya terlintas di kepalanya.


"Suara kakak bagus ya."


"Suara kakak bagus."


"Su - ra ka - ba -gusya." Sebuah kalimat terus terulang - ulang melintas di kepalanya namun semakin tidak jelas.


"ZUJY!!" ia tersadar ketika namanya dipanggil Irine.


"Kenapa? Sakit?"


"Tidak, tidak sakit lagi."


Zujy terus menatap dirinya dari cermin di depannya, ia menenangkan dirinya mengganti kontak lensnya dengan yang baru. Anehnya kepalanya benar - benar tidak sakit lagi.


Irine terus menatap khawatir Zujy. Mereka keluar menghampiri Leo dan Pak Fin yang tengah menunggu mereka.


Zujy hendak memberikan jas Leo namun Leo malah membuka jas Zujy dan memakaikan jas miliknya yang kebesaran di tubuh Zujy yang mungil, ia mengelus pelan pundak Zujy sebelum Zujy pergi bersama Pak Fin.


"Zujy mengalami ini karna mu, jadi jangan dekati dia lagi."


Langkah Irine terhenti saat mendengar penolakan dari Leo.


"Aku akan melindunginya, aku tidak akan biarkan dia mengalaminya lagi."


Irine berbalik menatap tajam Leo sejenak lalu tersenyum tipis dan kembali berjalan pergi.


.


.


.


Zujy terhenti tepat saat ia ingin membuka pintu kosannya, ia berbalik menatap Pak Fin dan membungkukkan badannya tanda hormat.


"Terima kasih Pak Fin sudah menjagaku selama ini." dengan cepat Pak Fin membangunkan tubuh Zujy.


"Tidak nona, itu sudah tugasku."


Zujy benar - benar berterima kasih kepada Pak Fin yang sudah dianggapnya sebagai ayahnya sendiri. Pak Fin selalu ada bersamanya semenjak ia kecil, walau itu adalah tugasnya namun ia selalu melihat ketulusan dari Pak Fin. Mungkin Pak Fin sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri juga.


"Walau Pak Fin bilang hanya tugas tapi aku menghargainya." Zujy meraih tangan lusuh Pak Fin lalu seketika memeluknya dengan hangat.


"No - nona!"


Ketika Ayahnya tidak ada untuknya Pak Fin selalu ada untuk menggantikannya, ia berpikir lebih banyak kenangan bersama Pak Fin dari pada Ayahnya sendiri. Zujy masuk ke dalam kosannya setelah beberapa saat memeluk Pak Fin.


Pak Fin tersenyum hangat menatap pintu kosan Zujy dan membungkukkan badannya sebelum pergi.


.


.


.


Leo berjalan menuju kosannya yang tepat di depan gedung kosan Zujy. Ia terus memikirkan kejadian tadi, ia merasa bersalah tapi tidak ingin menjauh dari Zujy. Dan raut wajah Irine begitu menghantuinya.


Ia masuk ke dalam kosannya dan melempar tasnya asal sebelum berbaring di atas sofa birunya, ia menutup wajahnya dengan salah satu tangannya dan mengingat ketika ia pertama kali bertemu Zujy.


Ia berjalan sembari bersenandung, langkahnya terhenti mendengar suara tangisan seorang gadis. Ia mendekati sumber suara itu dan mendapati seorang gadis kecil tengah menangis sembari memeluk lututnya yang terluka. Ia mendekati perlahan - lahan.


Gadis itu seakan tidak mendengar perkataan Leo kecil dan terus menangis membendamkan wajahnya di atas lututnya menyirami lukanya sendiri dengan air mata yang tidak kunjung habis.


Leo dengan perlahan - lahan memegang pundak gadis itu dan seketika ditepis kasar gadis itu.


"Jangan mendekat!! Kau orang asing," ucapnya setengah menangis menatap tajam Leo.


"Kenapa kau sendiri di sini? Di orang tuamu?"


Gadis itu tetap tidak menjawab dan memilih menangis. Leo terdiam sejenak lalu sebuah ide konyol terlintas di kepalanya, ia mengambil senjata yang tergantung di pinggangnya lalu menirukan pose polisi.


"Lihat aku, Jangan mendekat!! Aku akan menembakmu!" ucap Leo sembari menembak asal menirukan adegan dari suatu film.


Leo terkejut ketika gadis itu seketika mengambil senjatanya dan berdiri.


"Salah! Yang benar tuh, JANGAN BERGERAK ATAU AKU AKAN MENEMBAK - mu"


perkataannya berlanjut ketika ia seketika terjatuh karna tidak tahan menahan rasa sakit dari luka di lututnya.


"Hahahaha. Sini, aku akan menggendongmu, Aku adalah pangeran yang akan membawa sang putri pulang."


Leo berbalik sembari jongkok membiarkan gadis kecil ini naik ke punggungnya.


"Kau bisa?"


"Aku ini kuat kau tidak perlu menanyakannya lagi."


Dengan hati - hati gadis itu mulai naik ke punggung Leo lalu melingkari tangannya di leher Leo.


"Mm kenapa kau ringan sekali, hahahaha."


Zujy kecil seketika menarik rambut Leo membuat mereka hampir terjatuh.


"Maaf - maaf." Ia kembali melingkari tangannya di leher Leo.


"Dimana kastilmu putri?"


"Di kawasan perumahan....."


"Kebetulan sekali putri, kita tinggal di kerajaan yang sama."


Zujy tertawa lepas dengan nada bicara Leo yang seperti pangeran.


"Kalau begitu kita bisa sering bertemu pangeran."


Leo tertawa sembari mengangguk - ngangguk.


"Aku akan mengantarmu ke sana putri."


Zujy tersenyum lalu bersenandung sembari sedikit memainkan rambut Leo.


"Aku akan menjadi penyanyi nanti. Kau harus datang ke konserku ya."


Leo kembali mengangguk, mereka banyak berbicara sebelum Pak Fin menghampiri Zujy.


Leo menurunkan Zujy dan mengelap keringatnya sembari tersenyum.


"Nona! Kau kemana saja? Lututmu terluka, ayo sini." ucap Pak Fin yang dibelakangnya banyak pengawal lainnya.


"Hehe. Tunggu."


"Namaku Zujy Dirni, panggil aku Zui," ucap Zujy menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


"Namaku Leo Purnama, panggil aku Leo."


Mereka saling membungkukkan badannya sebelum Zujy berada di gendongan Pak Fin.


"Tunggu!!" Zujy membisikkan sesuatu pada Pak Fin dan Pak Fin menurunkan Zujy lagi.


"Kita harus sering bertemu ya. Oh ya, jangan meninggalkanku, kau teman laki - laki pertama yang menjadi temanku, Janji," ucap Zujy menyodorkan jari kelingkingnya kepada Leo.


Leo mengangguk dan tersenyum. "Janji."


Mereka saling membuat janji jari keliling sebelum Zujy pergi.


"Itu sudah lama sekali. Tapi aneh kau melupakanku padahal hampir setiap saat kita bersama. ... yah, mungkin ini balasanmu karna aku mengingkari janji kita," gumam Leo.


"Kak?"


Leo terkejut dan membuka matanya menatap seorang gadis berambut pendek yang berdiri di depannya, ia mengerutkan keningnya.


"Kenapa kau di sini?"


"Aku bosan, jadi ke sini, aku akan tinggal beberapa hari di sini," ucap Anna tersenyum manis.


"Hah ... Terserahmu! Tapi jangan lama - lama di sini, kalau Ayah tahu kau menemuiku dia pasti akan marah besar."


Leo berbaring di atas sofa dan kembali menutup matanya berinisiatif untuk tidur membiarkan adiknya Anna yang duduk di sampingnya.


"Satu lagi, jangan masuk sebelum mengetuk," ucapnya sebelum tertidur.


Bersambung.