Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Zuiku kembali!



Seluruh tingkat 2 berbaris untuk menerima arahan sebelum besok mereka libur semester. Yang berdiri di depan seluruh murid adalah guru olahraga sembari memegang pembesar suara.


"Besok!! Kalian akan libur jadi sebelum itu bapak menyuruh kalian untuk membersihkan sekolah!"


"Walaupun kita disekolah ternama namun para muridnya harus rajin, dan jangan jadi pemalas!!! Bapak tahu hampir seluruh murid di sini berasal dari keluarga kaya tapi tetap harus melakukannya!"


Wajah murid - murid berubah menjadi datar, mereka tidak ingin mengulangi kegiatan yang menguras tenaga ini seperti saat tingkat 1.


"Kalau begitu, kelompoknya!!"."


Setelah pembagian kelompok yang begitu lama, para murid tercengang dengan kelompok 7 yang berisikan Reihan, Yoel, Irine, Leo, Zujy.


Masing - masing kelompok menuju tempat kerja mereka, dan ampasnya kelompok 7 malah mendapat tugas untuk membersihkan kolam pertama yang lebih besar dari kedua kolam lainnya di gedung ini.


Setelah mengganti baju ke baju olahraga, mereka segera menuju ke kolam yang airnya sudah tidak ada.


Mereka menatap kolam yang amat besar dengan lesuh. Mungkin bisa berjam - jam mereka membersihkan kolam ini pikir kelimanya.


"Oke. Aku akan panggil pelayanku untuk membersihkannya," ucap Irine mulai melangkah ingin pergi namun tangannya ditahan Zujy.


"Harus mandiri!!"


Langkah Irine terhenti setelah mendapatkan tatapan tajam Zujy.


"Dasar maniak kebersihan!" ejek Irine namun Zujy tidak membalas perkataannya.


Irine mendengus kesal, ia mengingat sebelum lupa ingatan Zujy selalu membalas semua ejekannya.


Mereka dengan cepat membersihkan kolam tanpa istirahat selama dua jam penuh dan sekolah mulai sepi, banyak murid yang sudah pulang.


Kini mereka duduk di kursi pinggir kolam dengan keringat yang bercucuran di seluruh tubuh.


"Aku akan belikan air minum," ucap Zujy beranjak dari duduknya dengan rambut yang diikat namun poninya tetap menutupi setengah wajahnya.


Leo mengusap keringat di dahinya lalu beranjak dari duduknya dan mengikuti Zujy.


"Yoel, pinjam bahu sebentar," ucap Irine menyandarkan kepalanya di bahu Yoel membuat tubuh lelaki itu seketika mematung kaku.


Yoel melirik Irine yang sedari tadi mengipasi wajah dengan tangan.


Yoel mengulurkan tangannya lalu mengangkat poni Irine ke atas dan mengusap keringat Irine. "Maaf, aku tidak bawa sapu tangan."


Irine terkekeh sembari menutup matanya lalu berkata "Baiklah, aku akan menjadi adikmu."


Gerakan tangan Yoel terhenti, ia menyimpan kembali tangannya.


"Aku tidak butuh adik!" ucap Yoel dingin namun Irine hanya terdiam.


Reihan yang sedari tadi menatap Yoel dan Irine memutuskan untuk pergi dan mengejar Zujy.


.


.


.


Leo mengejutkan Zujy namun Zujy hanya diam dan terus berjalan.


Leo melirik Zujy. "Maaf kemarin aku ketiduran."


Zujy mengingat wajah Leo kemarin hampir tertawa.


"Hei!! Aku tahu kenapa kau tertawa, lain kali tunggu pembalasan dariku," ucap Leo tertawa mengingat wajahnya yang kemarin yang baru disadarinya ketika melihat cermin di kosannya.


"Maaf, maaf."


Leo tersenyum karna sikap Zujy mulai kembali setelah mengingatnya. Walau belum sepenuhnya kembali dan sedikit pendiam.


"Zui ... soal dirumah."


Langkah Zujy terhenti dengan wajah yang memerah, ia menundukkan wajahnya tidak berani menatap Leo.


"Aku tidak akan meminta maaf, seharusnya kau tahu itu. Karna sekarang kau sudah mengingatku."


Zujy menatap Leo yang menatapnya serius.


"Hanya ... aku minta maaf karna tiba - tiba menciummu, ... Zui, sampai saat ini aku terus menunggumu dan jawabanmu." Leo memegang tangan Zujy dan terus menatapnya seakan menunggu sesuatu.


"Apa maksudm-" ucapan Zujy terhenti saat Reihan menghampirinya.


"Reihan?"


"Aku hanya ingin menemanimu. Jadi aku mengejarmu."


Leo menatap dingin Reihan yang mengganggu momen penting seperti ini.


Zujy hendak membayar namun isi dompetnya hanya dolar.


"Pasti ulah Irine lagi," gumam Zujy menyimpan dompertnya.


"Maaf, aku harus mengambil uangku sama Irine."


Leo dan Reihan hendak memberikan uangnya pada Zujy namun tidak sempat karna Zujy sudah berlari pergi.


Kini tersisa Leo dan Reihan.


Reihan melirik tajam Leo yang tengah membayar minuman.


"Kau, kenapa kau mendekati Zujy!"


Leo melirik Reihan dan berjalan mengabaikannya.


"Kau mau menyakitinya lagi!?"


Langkah Leo terhenti lalu berbalik menatap tajam Reihan yang tidak kalah tajam menatapnya.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau mendekati Zujy. Selain itu bagaimana kau bisa mengetahui identitasnya."


Reihan terkekeh. "Sepertinya Zujy memberitahumu."


Reihan melangkah mendekati Leo.


"Hubunganku dengan Zujy melebih hubunganmu dengannya yang sebatas TEMAN."


Reihan tersenyum licik lalu berjalan melewati Leo yang mematung serta menatap tajam kedepan.


Leo mengepalkan tangannya dan berbalik menatap tajam Reihan yang berjalan menjauh


"Siapapapun kau, kalau berani melukai Zujy. Tidak akan kuampuni."


.


.


.


Mata Zujy membulat melihat Yoel yang ingin membuka bajunya serta Irine yang bersandar di kursi sembari menutup mata.


"Yo-yoel!!"


Yoel menatap Zujy lalu tersenyum sembari membuka bajunya.


"Sudah sampai?" ucap Yoel.


Zujy menutup wajahnya dengan tangan serta sedikit mengintip dan semakin terkejut ketika baju olahraga Yoel dibuka.


Walau masih memakai baju kaos putih polos namun berkat keringat yang banyak, otot badan Yoel terlihat membuatnya terlihat seksi.


Irine terbangun ketika mendengar suara teriakan Zujy dan juga terkejut melihat tubuh Yoel yang kekar.


"Kenapa buka baju!!" seru Irine yang juga menutup wajahny seperti Zujy.


"Panas," jawab Yoel dengan santainya.


"Kalau begitu aku juga!" Irine membuka bajunya namun masih memakai kaos berlengan panjang berwarna hitam.


"Irine! Kenapa pakai baju lengan panjang di hari yang panas begini?! dan lagi warna hitam," ucap Yoel.


"Hahaha, tadi pagi dingin sekali."


Irine terkekeh dan melirik Zujy yang menatapnya tajam.


"Zui?"


"Irine! Kenapa di dompetku semuanya dolar!"


Irine terkejut mendengar perkataan Zujy, sebelumnya walau Irine menjahili Zujy, Zujy selalu tidak marah dan memilih diam namun sekarang Zujy merespon kejahilannya yang disengaja.


"Zui! ZUIKU SUDAH KEMBALI!!" teriak Irine memeluk erat Zujy yang terheran dengan tingkah Irine.


Yoel tersenyum bahagia melihat Irine yang begitu bahagia.


Bersambung.


Jangan lupa like, Vote dan dukung terus author😢😢


Karna aku butuh semangat dari kalian