Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Mimpi aneh



Yoel menatap sendu Irine yang terbaring lemas di atas kasur kamar inapnya.


Sudah berhari - hari berlalu sejak kejadian itu, Irine dan Zujy belum sadarkan diri. Syukurlah Arka berada di dekat cafe itu dan melihat kakaknya yang pingsan membuat Yoel bisa segera membawa Irine ke rumah sakit.


"Aku tidak mau kau bangun Rin," gumam Yoel memegang tangan Irine dan menciumnya.


Kenyataan bahwa mungkin saja Irine akan cacat secara mental setelah bangun membuat Yoel tidak ingin Irine bangun dari tidur, ia tidak ingin melihat Irine kesakitan.


Yoel melepaskan tangan Irine ketika pintu terbuka, ia berdiri menatap Andre dan victoria yang masuk.


"Yoel," sapa Andre tersenyum, Yoel hanya menundukkan badannya tanda hormat. Ia melirik Victoria yang memasang wajah datar menatap Irine.


Andre hampir terjatuh ketika menatap Irine namun dengan segera Yoel menolongnya.


"Ayah, jangan memaksakan diri," ucap Yoel khawatir.


"Jangan memaksakan diri," ucap Victoria memegang pundak Andre.


Andre tersenyum sedih dan mengelus pelan kepala Irine.


"Irine tidak bisa melihat kakaknya untuk terakhir kalinya," ucap Andre.


Victoria memalingkan mukanya. "Maaf, aku keluar dulu."


"Tolong jangan memaksakan diri," ucap Yoel dan Victoria hanya menganggukkan kepalanya dan keluar.


Yoel ikut keluar, ia tidak ingin mengganggu Andre. Ini pertama kalinya merasa kesedihan menimpa keluarga ini sejak ia datang.


Victoria berdiri menatap dirinya di cermin toilet, ia mengusap air matanya yang keluar.


Mereka terpaksa memakamkan Felix tanpa Irine karna kondisi Irine yang koma, entah kapan akan bangun.


"Irene, kemudian Felix ...Tuhan, tolong jangan mengambil anakku lagi. Kumohon ... Irine, sayang kau harus bertahan," ucap Victoria terus mengusap air matanya yang berkeluaran, mengapa ia harus kehilangan anak untuk kedua kalinya dan keadaan Irine sekarang. Ia takut akan kehilangan Irine.


Victoria terisak tanpa suara, kenapa ia harus sakit dalam keadaan begini. Victoria memegang dahinya yang masih panas, ia merasa kesal pada tubuhnya yang lemah karna itu ia tidak bisa menolong anaknya sendiri.


.


.


.


Agler duduk di ruangan dokter Barry, dokter Barry hanya bisa menatap Agler. Ia tidak ingin menggunakan obat itu lagi pada Zujy.


"Mental nona Zujy sangat kuat, ia tidak akan terjerumus ke dalam traumanya sendiri kali ini. Tuan, jangan khawatir."


Agler hanya menatap dokter Barry.


"Tuan, saya sudah menemukannya," ucap Royce, Agler berdiri dari tempatnya.


"Antarkan aku ke tempatnya," ucap Agler menatap tajam ke depan.


Agler melewati lorong kamar inap Zujy, langkahnya menjadi berat. Ia menatap heran suster yang ditugaskan menjaga Zujy berlari menghampirinya.


"Tu - tuan, no - nona Zujy!" ucap Suster dengan wajah senang.


Agler membulatkan matanya dan segera berlari ke kamar Zujy, ia membuka pintu kamar dan menatap Zujy yang duduk sembari menatap jendela membelakanginya.


"Pergi." Royce dan suster segera pergi dan Agler berjalan pelan mendekati Zujy. Ia begitu bahagia Zujy telah bangun.


"Zui? Syukurlah kau sudah bangun." Agler memeluk Zujy namun Zujy tetap pada pandangannya, ia tetap menatap ke luar jendela.


"Tunggu! Aku akan memanggil ibumu dan Arka!" Agler segera berlari keluar mencari Runi bersama Arka yang tengah keluar mencari udara segar.


Agler kembali bersama Runi dan Arka dan Dokter Barry, Runi dan Arka terisak dan memeluk Zujy. Zujy hanya menatap Runi dan Arka.


Dokter Barry menatap curiga Zujy, tatapan yang kosong dan tidak ada aura kehidupan di tubuh Zujy. Ia segera memeriksa tubuh Zujy dan benar saja, Zujy mengalami depersonalisasi.


"Nona Zujy mengalami depersonalisasi atau lebih tepatnya depersonalization disorder," jelas Dokter Barry membuat kedua orang tua ini terkejut.


Arka kebingungan dan bertanya apa itu, Dokter Barry menjelaskan tentang keadaan Zujy saat ini. Depersonalisasi adalah keadaan dimana seseorang seakan hidup di dunia mimpi dan tidak bisa merasakan indera, lebih singkatnya menjadi boneka.


Arka mematung mendengar penjelasan Dokter Barry sedangkan Runi terisak memeluk erat Zujy, Agler menatap tajam Dokter Barry.


Dokter Barry mengajak Agler keruangannya untuk membicarakan tentang ini.


Agler dan Dokter Barry kini duduk berhadapan yang hanya dibatasi meja putih. Dokter mulai membuka mulutnya.


"Saya sudah menduga ini."


"Karna obat BR, ketika nona mengingat kembali semuanya, nona seakan mengalami trauma itu kembali. Walau sekarang mental nona sudah kuat, tetap saja mengalami trauma berulang - ulang tidak bisa dihadapi."


"Maksudmu, ini semua salahku?"


"... Untuk sekarang nona perlu dukungan dari keluarganya ataupun orang terdekatnya. Obat bisa mengobatinya tapi dukungan dari orang terdekat yang terpenting," ucap Dokter Barry.


.


.


.


23.00


"Aku yakin, kakak pasti bisa melawannya," ucap Arka menatap Zujy yang tertidur dan tertidur di sampingnya.


"Ibu, Kakak ... Kak Leo ... Kak Irine dan Ayah," gumam Arka dan terkejut ketika tangan Zujy sekilas bergerak, Arka dengan cepat berlari memanggil Dokter Barry.


Pov Zujy


Aku membuka mataku, rasanya baru saja mengalami mimpi yang panjang. Aku menatap sekitar, tempat apa ini?


Aku seakan berada dalam laut dalam, hanya ada secercah cahaya di langit. Apakah aku masih bermimpi?


Aku menatap ke bawah, tidak ada lantai sama sekali, aku melayang. Aku menatap gelembung - gelembung yang melayang di sekitarku, ternyata benar aku berada di dalam laut. Mungkin ini hanya mimpi.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku di sini?"


Aku berjalan berusaha mencari jalan keluar namun sepanjang berjalan hanya secercah cahaya itu yang ada.


Aku menatap ke atas, menatap secercah cahaya itu namun semakin meredub dan semakin memudar. Kapan mimpi aneh ini akan berakhir?


"Mmmmm~" aku bersenandung dan berbaring, mungkin jika aku menutup mataku aku akan bangun dari mimpi aneh ini.


"Ibu, kakak ...Kak Leo ... Kak Irine dan Ayah."


Aku membuka mata ketika mendengar suara anak lelaki, suara ini adalah suara nana.


"Nana!!!"


Aku memanggil Nana namun sama sekali tidak ada jawaban, beberapa saat kemudian suara itu tidak terdengar lagi. Aku menundukkan wajahku, rasanya begitu kesepian berada di sini. Aku ingin bertemu dengan mereka lagi. Kumohon cepatlah berakhir mimpi aneh.


.


.


.


Pagi hari, Perusahaan cabang Dirni groub, Indonesia.


Agler tengah duduk di kursi kebesarannya, ia menatap Royce yang berdiri di hadapannya.


"Siapa?" tanya Agler dingin.


"Anna fhancen."


Mendengar nama Anna membuat Agler marah, beraninya gadis itu mencelakai Zujy lagi.


"Dimana gadis itu?"


"Saya sudah mengintrogasinya, itu semua bukan salahnya. Anna dipaksa untuk menemui nona."


Agler berdiri menatap tajam Royce, Royce yang sedari tadi tidak berani menatap Agler membuka mulutnya kembali. "Maaf, tolong jangan marah mendengar ini."


"I - itu, Tu - tuan muda Arka."


Royce terkejut ketika mendengar Agler memukul meja, ingin rasanya ia mati saat itu.


"Kau yakin?" tanya Agler.


Royce hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia segera mengikuti Agler yang pergi berjalan cepat.


"Tu - tuan, tolong jangan marah pada tuan muda. Tuan muda masih anak - anak," ucap Royce gemetaran berdiri di belakang Agler menunggu lift turun.


"Dia itu bukan anak - anak, apa kau kira anak - anak bisa memaksa orang yang lebih tua untuk menyakiti kakaknya?"


Royce terdiam mendengar perkataan bosnya, jika dipikirkan kembali memang benar. Sebenarnya Royce tidak terlalu terkejut ketika mengetahui Arka yang memaksa Anna karna Arka yang memiliki pemikiran orang dewasa namun salahnya hanyalah pemikiran dewasa Arka yang kurang baik.


Bersambung.