
Zujy baru saja menghempaskan tubuhnya ke kasur besarnya setelah berjam - jam mengililingi rumah yang begitu besar mencari adiknya yang entah pergi kemana.
"Aneh ... setelah mengingatnya aku merasa berani berbicara," gumam Zujy memegang bibirnya sembari menatap hpnya.
Ia terkejut ketika melihat game yang sudah di belinya, namun seperti hilang setelah ia jatuh pingsan.
Zujy mengirim pesan pada Leo, ia begitu khawatir dengan keadaan Leo setelah mengingat kejadian itu. Dan beberapa saat kemudian Leo menelpon dengan suara yang serak memanggilnya datang ke apartemennya.
Zujy segera memakai jaketnya dan mengemudi menuju apertemen Leo, ia begitu khawatir mendengar suara Leo yang seakan menangis.
Zujy menatap pintu apartemen Leo, ia memencet bel dan seorang pemuda membuka pintu.
"L - leo?" tanya Zujy menatap pemuda itu, Leo menjadi begitu tampan ketika dewasa.
"Zui..." ucap Leo memeluk Zujy namun Zujy mendorongnya.
"Bau alkohol, kau mabuk?? Kenapa wajahmu??" tanya Zujy menatap khawatir Leo, ia memegang pipi merah Leo.
"Maaf, kau harus melihatku seperti ini. Tapi, aku membutuhkanmu." Leo kembali memeluk Zujy, namun Zujy tidak tahan dengan bau alkohol yang menyengat. Zujy segera mendorong tubuh Leo lagi.
"Kenapa kau menjadi seperti ini? Kau minum di usia yang muda begini."
Leo terdiam, entah apa yang harus dikatakannya. Ia menatap wajah kecewa Zujy, namun pikirannya bercampur aduk dan kepalanya terasa pusing.
"Aku gak mabuk ... Zui ayo masuk dulu, aku akan menceritakan semuanya."
Leo menarik tangan Zujy namun Zujy melepaskannya, ia menatap wajah Leo.
"Aku tidak bisa mempercayai orang yang mabuk, aku tidak akan masuk. Maaf, aku akan kembali besok pagi."
Zujy hendak melangkah pergi namun Leo menahan tangannya ketika Leo hendak menarik tangan Zujy tangan Zujy yang lainnya di tahan seseorang.
"Yoel?"
Yoel menatap tajam Leo. "Leo, kau mabuk. Lepaskan tangan Zujy!"
Leo menolak, ia tetap menahan tangan Zujy dan dilepasnya setelah mendengar penolakan dari Zujy. Ia menatap sedih Zujy yang pergi di bawa Yoel.
Leo masuk dengan perasaan kesal, ia memasuki kamarnya dan melempar barang - barangnya. Ternyata ia benar - benar mabuk sekarang.
Zujy menunduk, ia kembali melirik ke belakang merasa khawatir dengan Leo.
"Aku mencintainya," gumam Zujy menyadari hal yang begitu besar kenyataan bahwa cinta pertamanya bukanlah Yoel namun Leo dan masih bertahan hingga saat ini.
Zujy memasuki rumah, sekilas menatap Arka yang menatapnya dan segera pergi. Zujy mengabaikan Arka, pikirannya sekarang berpusat pada Leo.
Sebelum tidur ia menyuruh pelayan untuk membelikannya obat pereda mabuk.
Pagi hari.
Sesua janji Zujy, ia segera berangkat menemui Leo membawa sebotol obat pereda mabuk. Ia kembali lagi membunyikan bel apartemen Leo, ia melirik ke belakang dan terpesona dengan pemandangan kota yang begitu indah dari lantai 20 ini.
ia kembali berbalik menatap pintu yang setengan terbuka dan terlihat Leo dengan rambut yang berantakan serta baju yang sama dengan semalam.
"Maaf, aku datang sepagi ini," ucap Zujy menatap Leo yang terkejut.
Leo mengucek - ngucek matanya untuk memastikan kembali gadis didepannya. Dan terdiam beberapa saat.
"Kau tidak mempersilahkanku masuk?"
Leo semakin terkejut, padahal semalam Zujy sama sekali tidak mau masuk kerumahnya namun sekarang menawarkan diri untuk masuk.
"Ah, i - iya." Leo segera mempersilahkan Zujy masuk dan menyuruhnya duduk di sofa depan tv.
Leo datang menghampiri Zujy setelah mencuci muka dan merapikan rambutnya.
"Ini, obat pereda mabuk."
"Ah, makasih...."
Leo meneguk habis obat itu, telinganya memerah karna mabuk semalam. Tidak disangkanya ia mabuk hanya karna segelas alkohol 70%.
"Maaf, aku mabuk semalam."
Zujy mengangguk dan terus menatap Leo yang salah tingkah dengan tatapannya.
"Emang bisa meminum obat pereda mabuk sebelum makan?"
"Gak tahu, aku belum pernah minum sebelumnya. Ini pertama kalinya aku mabuk," ucap Leo dan Zujy mengangguk.
Leo tersenyum kaku dan terkejut menatap penampilan baru Zujy yang tidak memakai kontak lens serta poni yang di jepitnya.
"Tunggu, ayo cari makan diluar." ucap Leo berjalan diikuti Zujy.
"Kenapa? Kau mau ikut ke kamar mandi?"
Wajah Zujy memerah, ia kembali duduk di sofanya. Leo terkekeh. "Tunggu sebentar, aku mandi dulu."
Zujy melirik sekitar, rumah Leo sedikit berantakan. Zujy memutuskan untuk membersihkannya karna merasa risih sembari menunggu Leo mandi.
"Tersisa kamar itu," ucap Zujy mengintip kamar dengan pintu yang terbuka dan begitu terkejut menatap kamar yang begitu berantakan serta pecahan kaca yang berserakan di lantai.
"Siapa yang tidur di sini sampai berantakan sekali?" tanya Zujy tidak berani masuk.
"Kamarnya kah?"
Zujy membeku, ia melirik Leo dan menutup wajahnya setelah melihat tubuh Leo yang kekar dan hanya ditutupi seheli handuk kecil yang melingkari pinggangnya serta handuk lain yang tergantung di leher Leo.
Zujy ingin berjalan mundur namun terhenti karna dibelakangnya tembok, ia terus menutup wajahnya yang memerah.
Leo yang menatap itu hanya menelan ludah, ia perlahan - lahan membuka tangan Zujy dan Zujy mematung menatap wajah Leo yang begitu tampan. Leo mendekatkan wajahnya dan ketika Zujy menutup matanya Leo tersadar.
Leo mematung. 'Jangan sampai hal itu terulang lagi,' benak Leo menyadari naluri hewan buasnya muncul lagi setelah menatap wajah malu Zujy.
"Kenapa kau menutup matamu? Mau kucium," goda Leo terkekeh dan wajah Zujy bertambah memerah.
Leo mengepal tangannya, ia terus menahan diri. Ia mencium kening Zujy dengan wajah yang memerah juga.
Zujy membuka matanya dan tidak sengaja mencium bibir Leo ketika hendak pergi dari situasi menegangkan ini.
Keduanya membeku, Leo menahan tangan Zujy ketika hendak kabur dan mengunci pergerakan Zujy di dinding.
Jantung Leo berdegub kencang begitupun dengan Zujy. 'Seharusnya aku tidak datang ke sini' benak Zujy menunduk tidak berani menatap wajah Leo yang terus menatapnya.
'Wajah Leo begitu dekat' benak Zujy.
Leo kembali menelan ludahnya.
"Tahan!!" ucap Leo dengan lantang dan berjalan memasuki kamarnya lalu menutup kamarnya rapat - rapat.
Leo bersandar di belakang pintu mengatur nafasnya, setelah dirasa dirinya tenang. Ia berjalan menuju lemari bajunya.
Zujy terjatuh, ia memegang bibirnya. "Aku ingat pernah berciuman dengan Leo sebelumnya."
Zujy kembali mengingat bagaimana Leo menciumnya.
"Berarti ini ciuman kedua," gumam Zujy serasa ingin berteriak.
"Apa yang terjadi pada kami? Aku tidak ingat apa - apa selain ciuman itu," gumam Zujy memegang kedua pipinya yang merah.
"Bagaimana ini?! Apa hubungan kami lebih dari teman?"
"Apa kami ... berpa-"
Gumaman Zujy terhenti ketika Leo membuka pintu kamarnya, Leo menatap Zujy yang termenung menatapnya.
"A - ayo pergi," ajak Leo menutup wajahnya dengan salah satu tangannya.
"... oke." Zujy mengejar Leo yang berjalan lebih dulu di depannya.
Di mobil, keduanya sama sekali tidak berbicara. Zujy terhanyut dalam pikirannya sendiri dan Leo hanya diam.
Zujy menarik nafasnya dalam - dalam untuk memberanikan dirinya bertanya. "Leo, a - apa hubungan k - kita sebenarnya."
"Maksudnya?" tanya Leo melirik Zujy.
"K - kita sudah berciuman sebelumnya dan k - kau bilang kau mencintaiku."
Leo membukatkan matanya dan menghentikan mobil, ia menatap serius Zujy.
"Kau masih mengingatnya?"
Zujy mengangguk dan Leo kembali menatap ke depan. "Seperti yang aku bilang, aku menunggu jawabanmu."
Leo merasa bersalah pada Zujy, ia sempat berniat melupakan Zujy dan berpacaran dengan beberapa gadis. Namun ia tetap tidak bisa dan bersikap cuek akhirnya semua pacarnya memutuskannya dahulu sebelum ia memutuskannya.
"I - iya." Zujy seketika menatap Leo, tanpa disadarinya ia menerima Leo.
"Benarkah?? Ini seriuskan??" tanya Leo masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Zujy mengangguk dan Leo tersenyum lebar, ia tidak menyangka akhirnya berpacaran dengan Zujy.
"Kalau begitu kita sudah berpacaran, aku gak akan segan - segan."
Zujy terkejut dengan perkataan Leo, apa maksudnya?
Leo kembali mengemudi dan menghentikan mobil ketika sampai di depan pedagang kaki lima yang begitu banyak berjejeran.
"Kita makan di sini?" tanya Zujy menatap pedagang kaki lima.
"Kau gak mau makan di sini?"
"Tidak, aku mau. Sejak datang ke Indonesia, aku ingin mencoba makanan yang dijual orang - orang ini."
Zujy menatap Leo yang membukakan pintu mobil. "Aku bisa sendiri."
"Kau sekarang pacarku."
"Apa berpacaran seperti ini?"
Leo hanya menggeleng - gelengkan kepalanya karna tidak tahu, ia selalu tidak mempedulikan pacarnya dulu. Dan jika belajar dari temannya terlalu susah, karna kedua temannya itu berpacaran terkadang melewati batas. Bahkan ia sampai tidak tahu berbuat apa menatap tingkah kedua temannya dihadapannya ketika berpacaran.
"Aku kira seperti ini, kalau berpacaran harus membukakan pintu mobil itu seperti pengawalku saja."
Leo tersenyum kaku, dan memegang tangan Zujy mengajaknya ke salah satu pedagang langganannya.
Bersambung.