
Irine baru saja sampai di Indonesia setelah Yoel menyuruhnya balik ke Indonesia untuk menjalankan rencana mereka.
Beberapa jam yang lalu, Yoel menghampiri Leo yang terdiam di parkiran.
Setelah itu mereka masuk ke dalam apartemen Leo.
"Nih, untukmu," ucap Leo memberi semangkuk mie ayam yang tadinya untuk Zujy.
Leo duduk di sofa dan memakan mie ayamnya, ia melirik Yoel yang sedari tadi diam.
"Makan saja, gak ada racunnya."
Yoel terkekeh sekaligus terkejut, ia memakan mie ayam itu.
"Mmmm, seperti ini?" gumam Yoel terkejut, ia pertama kalinya berbicara ditengah makan.
"Enak!" ucap Yoel memakan lahap mie ayam.
Setelah selesai Yoel mulai membuka mulutnya kembali.
"Jadi, aku datang ke sini mau membicarakan sesuatu."
Leo menatap serius Yoel.
"Ini tentang Zujy."
Leo terkejut mendengar nama Zujy namun ia tetap diam menunggu kelanjutan perkataan Yoel.
Yoel menceritakan semua kejadian yang menimpa Zujy membuat Leo syok dan tidak percaya.
"Jadi! ... jadi begitu....." ucap Leo menundukkan wajahnya, ia tidak menyangka Zujy mengalami hal yang begitu menyakitkan.
"Jadi Anna yang membuat Zujy mengalaminya?!"
Yoel memegang pundak Leo. "Maaf, aku salah memberitahumu saat itu. Zui sama sekali tidak mau melupakanmu tapi om Agler memaksanya menggunakan hiptonis agar obat BR berfungi di tubuh Zui."
"Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu."
Leo terus menunduk, ia berfikir kenapa Zujy mau berpacaran dengannya padahal Zujy hanya mengingat hari itu dimana ia menyatakan cinta.
"Ternyata kau begitu percaya padaku dan menunggu tapi...."
"Datang ke cafe xx jam 3 nanti, kita akan memulai rencana itu."
Leo mengangguk.
Beberapa saat kemudian Yoel pergi dan memberitahu Irine untuk segera pulang ke Indonesia.
Leo terdiam, ia masih syok mendengar cerita Yoel. "Anna ... itu kenapa aku tidak menyukai sikapmu."
.
.
.
Irine menghubungi Zujy untuk segera ke Cafe yang ditentukannya, ia menatap langit yang mendung. Ia merasa berat meninggalkan kakaknya tapi ia harus datang ke sini. Ia juga berencana memberitahu Zujy tentang kakaknya dan juga ia akan kembali ke Inggris.
Irine dan Yoel duduk di dalam cafe berdua menunggu Zujy. Cafe ini kosong karna sudah di sewa Yoel dan tidak akan ada yang mengganggu mereka di sini.
Irine juga tidak memberitahu siapapun tentang rencananya kecuali Yoel, Zujy dan Leo.
Kring
Bel pin berbunyi menandakan seseorang masuk, Irine melambaikan tangannya memanggil Zujy.
Zujy duduk di samping Yoel, ia menatap Irine didepannya yang terus menatapnya.
"Ke - kenapa?" tanya Zujy memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.
"Kau kenapa?" tanya Irine menyadari mata Zujy sedikit merah.
"A - aku tadi makan makanan pedas jadi begini hahahaha."
Irine mengerutkan alisnya, ia bersandar di kursi sembari melipat kedua tangannya di bawah dadanya.
Yoel juga menatap Zujy terus menerus.
"Aku gak akan memulai pembicaraan itu kalau kau gak memberitahuku yang sebenarnya."
Zujy terkejut namun ia menatap tajam Irine lalu Yoel bergantian dan berkata. "Kalian juga sama kan? tidak memberitahuku keadaan kakak."
"Kak Felix juga kakakku, aku harus tahu keadaannya."
Irine terkejut, padahal ia baru ingin memberi tahu Zujy hari ini tapi Zujy sudah lebih dulu tahu.
"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Irine menatap Zujy.
Zujy hanya terdiam, jika ia memberitahu Irine alasannya Irine akan tahu mengapa ia menangis. Ia tidak mau membuat Irine khawatir.
'Pasti ada hubungannya dengan matamu yang merah,' gumam Irine di benaknya.
"Baiklah, kalau kau tidak mau memberitahuku. Aku akan memulainya."
Zujy mengangguk, ia bersyukur Irine tidak memaksanya. Zujy merasakan detak jantungnya berdegub kencang menandakan ia begitu penasaran dengan ingatannya yang hilang.
"Semuanya dimulai dari seorang gadis yang iri dengan keberhasilan saingannya," ucap Irine.
Pov Irine.
4 tahun yang lalu.
Aku berlari masuk ke belakang panggung, niatku ingin memberi semangat pada sahabatku untuk babak final lomba menyanyi yang diadakan suatu perusahaan. Namun kemarahan menyelimutiku menatap leher sahabatku di cekik seorang gadis yang kalah melawan Zujy di babak sebelumnya, aku dengan cepat memisahkan mereka namun nihil, gadis itu tetap berusaha mencelakai Zui.
Aku menatap tajam gadis itu dan memukulnya hingga terpental ke sudut ruangan, aku segera menelpon ambulans dan tante Runi yang sedang berada di sekitar sini.
Aku terus menenangkan Zujy yang kesakitan, air mataku mengalir deras. Pikiranku mulai menjalar, aku takut kehilangan sahabat berhargaku. Aku takut kehilangan keluargaku.
Aku kembali tersadar ketika om Agler berteriak sembari mencekik gadis itu, aku melirik sekitar ternyata tante Runi sudah berada di sana menenangkan om Agler namun tidak berhasil. Akupun beranjak dari dudukku dan mencoba menenangkan om namun nihil, usaha kami sama sekali tidak berhasil. Om Agler sudah dikuasai amarah namun amarah itu seketika padam dengan sentuhan halus anaknya, Zujy berusaha bersuara sebelum jatuh pingsan di tempatnya dan om segera menggendong tubuh Zui kemudian berlari menuju ambulans yang baru saja sampai.
Beberapa hari berlalu dan keadaan Zujy mulai membaik, aku terus berada disampingnya untuk menyemangatinya. Dan di hari itu tepat pada hari babak final dimulai, Zujy menganggap lomba itu begitu berharga untuknya karna ia akan berhenti dari dunia hiburan setelah lomba ini. Zujy akan fokus untuk belajar agar siap mewariskan perusahaan Dirni. Zujy tetap memaksa tampil walau aku sudah berkali - kali melarang, Zujy memang keras kepala.
Aku menghentikan langkah Zujy ketika ingin menaiki panggung. "Zui, kau benar yakin?"
Zujy mengangguk sembari tersenyum, sebenarnya aku takut karna luka di leher Zujy belum sepenuhnya sembuh. Aku takut jika luka itu malah bertambah buruk.
Aku menatap layar monitor, Zujy terus tersenyum dan ketika ia baru saja ingin bernyanyi semua penonton meneriakinya dan menyuruhnya turun dari panggung. Bahkan ada yang sampai melempari Zujy dengan botol air minum ataupun makanan yang ada di tangan mereka.
"DASAR *****!! TURUN DARI PANGGUNG!! KAMI TIDAK BUTUH ORANG SEPERTIMU!! DASAR TIDAK TAHU MALU MENGGUNAKAN POSISI AYAHMU UNTUK MENCAPAI KEMENANGAN!!" teriak para penonton dengan serentak dan berulang - ulang, Zujy menutup telinganya dan terjatuh, ia menangis di hadapan beribu - ribu penonton kemudian pingsan.
Aku berusaha ingin naik ke panggung tapi usahaku dicegah para security yang menjaga panggung, namun tanpa diketahui para security Yoel naik ke atas panggung dan menggendong Zujy turun dari panggung. Kami segera membawa Zujy ke rumah sakit, aku memberi tahu kedua keluarga bahwa Zujy jatuh pingsan.
Beberapa hari berlalu, Zujy belum sadarkan diri hingga sekarang. Aku begitu khawatir hingga pola makanku tidak teratur, Yoel selalu mengingatkanku makan. Yoel tetap memasang wajah dinginnya, namun aku tahu dia sangat mengkhawatirkan Zujy.
Hingga suatu hari, aku terkejut mendengar suara teriakan histeris dari ruangan Zujy, semua yang di sana segera menuju ruangan Zujy. Tubuhku membeku menatap Zujy yang ketakutan, ternyata kejadian itu sangat membekas di hatinya membuat Zujy trauma besar.
Aku hanya bisa diam menatap orang tuaku dan orang tua Zujy serta perawat dan dokter yang berusaha menenangkan Zujy. Tubuhku seakan tidak bisa menahan rasa takutku akan kehilangan sahabat terbaikku dan akupun jatuh pingsan di saat yang sama.
Aku terbangun dan Yoel mengatakan 3 hari telah berlalu sejak aku pingsan, aku tentunya syok bagaimana bisa aku pingsan selama tiga hari. Kepalaku terasa sakit, aku memandang wajah Yoel yang sedih. Ada apa? Apa yang terjadi dengan Zui?
Yoel mulai membuka mulutnya. "Zui ... dia memilih melupakan kita dan membuang jati dirinya yang asli."
Aku terkejut mendengar perkataan Yoel, aku dengan cepat beranjak dari kasurku. Aku tidak mempedulikan Yoel yang berusaha mencekalku.
Dan ketika aku berlari menuju kamar inap Zujy, langkahku terhenti menatap seorang gadis memakai baju rumah sakit yang sama denganku. Hal yang pertama terpikir dalam benakku adalah ANEH, ada apa dengan penampilan Zui? Kenapa dia memakai kontak lens? kenapa ia memotong poni hingga menutupi setengah wajahnya?
Aku segera berlari memeluk Zujy, Yoel hanya terdiam menatapku. Aku terisak, aku begitu bersyukur Zujy baik - baik saja.
"Syukurlah, syukurlah hiks."
Aku melepaskan pelukanku. "Zui! Bagaimana keadaanmu sekarang! Tidak ada yang sakitkan?"
Aku terdiam, mengapa Zui tidak menatapku? Kenapa Zui tidak menjawab pertanyaanku?
"Zui? Kenapa?? Ada yang sakit?"
Aku berusaha menatap matanya namun Zujy terus menghindar.
"A - a - aku ba - baik saja....."
Aku melepaskan tanganku dari pundak Zujy, aku terus menatap Zujy. Zujy sama sekali tidak pernah berbicara dengan nada yang ketakutan, dia adalah gadis yang ceria dan terbuka bukan seperti gadis yang dihadapanku begitu penakut dan penutup.
"Idiot!" Aku melangkah mundur setelah mengejek Zujy, aku berjalan dan memeluk Yoel. Aku menangis di pelukannya, Yoel mengelus pelan kepalaku. Rasanya aku sekarang mengerti arti dari perkataan Yoel tadi.
Aku mendengar suara langkah menjauh, padahal dulu Zujy selalu kesal melihatku menangis tapi sekarang dia malah tidak mempedulikanku dan pergi begitu saja.
"Apa maksudnya ini Yoel?!" isakku menatap wajah Yoel, Yoel mengajakku kembali ke kamar dan menceritakan semuanya.
"Aku tidak melihat semua kejadiannya, tapi Ayah memberitahuku bahwa Zujy memilih obat penghilang ingatan dari pada melawan traumanya."
Aku memegang tangan Yoel dengan erat.
"Dan dia memilih melupakan semua tentang gadis itu dan Leo, Leo adalah kakak dari gadis itu."
Aku terdiam, penjelasan singkat dari Yoel begitu dipahamiku. Timbul rasa benci di didiriku pada Zujy, mengapa Zujy begitu pecundang dan begitu mudahnya menyerah.
"Apa Zui tidak mengingat kita? Padahal kita akan selalu disampingnya dan berjuang bersama melawan trauma itu," ucapku sedih, aku terdiam kembali di pelukan hangat Yoel.
Aku merasa kehilangan sosok sahabat yang begitu berharga bagiku.
"Aku tidak ingin percaya, tapi kalau Ayah sampai berkata seperti itu berarti benar," ucap Yoel mengusap punggungku dan memelukku erat.
"Padahal Zui bilang, dia mencintai Leo," gumam Yoel namun masih kudengar.
Bersambung.