
Seorang anak lelaki berumur 7 tahun tengah berdiri sembari melipat kedua tangannya dan memasang wajah acuh pada seorang gadis kembar berumur 7 tahun yang menatapnya sombong. Mereka bertiga berdiri tepat di depan gerbang sekolah dasar yang begitu besar, dan menggendong tas masing - masing.
Di antara banyaknya murid lain yang berjalan pulang, mereka hanya berdiri sambil menatap.
"Ayo pulang, di mana arah rumahmu?" tanya Fhnymy.
"Aku tidak tahu," ketus Ian mengalihkan pandangannya.
Fhnymi menatap tajam Ian yang lebih pendek darinya.
"Kau sekarang budak kami! jadi ikuti perintah sang ratu kembar ini," kekeh Fhnymi tertawa licik.
"Betul sekali, kami sampai rela pindah ke US hanya untuk budak kami," kekeh Fhnymy yang sebenarnya mengejek.
Bibir Ian tersenyum sebelah dengan pikiran nakal di kepalanya. "Ah, itu mobil yang menjemputmu! kalian masuk saja duluan. Aku baru ingat kalau buku paketku tertinggal hehe," ucapnya menunjuk sembarang mobil.
Ian segera berlari masuk sedangkan kedua kembar itu mempercayai perkataan Ian dan masuk ke dalam mobil yang terparkir jauh dari gerbang. Ian terkekeh melihat kedua gadis itu berjalan menjauh, ia terkejut ketika mobil di hadapannya membunyikan klakson. Ia segera menatap mobil yang terhenti di hadapannya, kaca mobil terbuka dan terlihat calon kakak iparnya duduk di kursi mengemudi. Tatapannya mencari kedua gadis kembar itu namun sudah tidak ada lagi di sana, akhirnya dengan perasaan gelisah ia masuk ke dalam mobil dan duduk di jok depan.
"Kemana kedua kembar itu?" tanya Leo menatap Ian.
Ian hanya mengangkat kedua pundaknya tanda ia tidak tahu, Leo kembali menerima di sekitar namun kedua kembar itu tak ada di manapun. Mobil mulai berjalan dengan Ian yang memainkan hpnya.
Ia mengirim lokasi kastil pada kedua kembar itu.
"kemana sopirku?" tanya Ian menyimpan hpnya di tasnya kembali.
"Zui melibatkannya jadi seminggu ini aku yang akan mengantar dan menjemput my."
"Padahal sopirku banyak," gumam Ian yang tidak menyukai lelaki di sampingnya.
"Dan untuk mendapatkan restumu," kekeh Leo.
Ian hanya terdiam, entah mengapa ia merasa Leo tidak cocok untuk kakaknya. Ia lebih menyukai Chris yang menjadi pasangan kakaknya.
Ian melirik wajah Leo yang terlihat serius mengemudi. Ia benar - benar tidak menyukai Leo pasalnya wajah Leo terlihat nakal dan playboy dibandingkan dengan wajah Chris yang terlihat lelaki baik dan dapat dipercaya.
"Percuma, walau aku tidak menyetujuinya. Kakak pasti tetap akan menikah denganmu."
"Berhenti di sini!" Pinta Ian membuat Leo segera menghentikan mobilnya.
"Aku akan turun di sini, aku mau bertemu dengan Ayah," ucap Ian segera turun dan masuk ke Perusahaan pusat Dirni.
Leo menghela nafas dan kembali mengemudi.
POV Ian.
Aku melangkahkan kakiku memasuki gedung yang begitu tinggi dan megah, sesaat setelah aku masuk tatapanku terhenti pada seorang wanita yang tengah berjalan sembari berbincang dengan seorang lelaki gendut berpakaian mewah, di sana bukan hanya ada kakakku dan lelaki itu namun banyak lelaki lainnya yang mengikuti dari belakang.
Mimik wajah kakak terlihat cemas dan seakan membujuk lelaki gendut itu, tampaknya kakak melihatku sekilas namun ia tetap melangkahkan kakinya sembari memasang wajah profesionalnya, aku berdiri sembari berbicara pada resepsional dan ia menyuruhku menunggu di sofa abu - abu di suatu ruangan bernuansa putih. Tidak biasanya aku disuruh menunggu, sepertinya Ayah dan kakak benar - benar sibuk sekarang.
Alasanku kemari bukan ingin bertemu dengan ayah namun ingin bertemu dengan kak Chris, ada yang ingin kutanyakan.
beberapa saat kemudian seorang lelaki berjas hitam memasuki ruangan, itu adalah Chris. Mungkin ayah dan kakak sudah tahu alasan kedatanganku. Aku berdiri dan kak Chris menundukkan badannya.
"ada apa tuan muda ingin bertemu dengan saya?" tanya Chris.
"Tiba - tiba saja aku ingin bertemu dengan Saya."
Chris terkejut namun ia segera tersenyum.
"Baiklah, saya akan memanggil Sayaka."
"Tidak, aku akan ke sana. Di mana rumahmu?"
"Apa harus ku ulangi lagi?" tanyaku dan Kak Chris segera mengantarku ke rumahnya untuk bertemu dengan adiknya.
Aku berdiri bersama Chris di depan pintu rumah yang sederhana, Chris kelihatan gelisah dengan rumahnya. Ia mungkin merasa aku bukanlah orang yang harus memasuki rumah sekecil ini. Yah, sebenarnya dari luar kelihatan rumah di depanku ini sebesar kamar kakak.
Saat bel di pencet sama sekali tidak ada yang membuka pintu namun suara seorang anak gadis dari belakang membuatku membalikkan badanku.
Di sana berdiri seorang gadis dengan rambut yang diikat ekor kuda dengan pakaian anak sekolah dasar dan menggendong tasnya ia menatapku heran.
"Lo ngapain kesini?" tanyanya dengan bahasa yang menurutku kasar karna hanya dia seorang yang kutemui memakai bahasa seperti itu.
"Saya! jaga perkataanmu!" pinta Chris terlihat gelisah.
Aku masih saja menatap datar gadis yang tidak sopan itu.
"Aku malas pulang, jadi datang ke sini," ucapku masuk ke dalam rumah seakan rumah sendiri.
Aku membuka pintu dengan kunci yang tertancap di lobang kunci pintu, tadinya Chris ingin membukanya namun Saya keburu datang.
"Gak sopan banget! ini rumah gue! keluar Lo!!" teriaknya menarik tanganku keluar.
"Berisik!"
Chris terkejut menatap wajah kesalku, ia segera memisahkan Saya dariku. Walau terdengar sayup, aku mendengar Chris menyuruh adiknya untuk bersikap sopan namun adiknya yang keras kepala tidak mau.
Aku kembali melangkah masuk dan duduk sembari menyalakan TV walau gadis di sampingku terus menyuruhku keluar bahkan menarikku. Kami mematung setelah mendengar berita.
"Karna kepala tim manajemennya yang mengambil semua dana dari perusahaan Dirni, kini perusahaan Dirni terancam bangkrut," ucap wartawan yang berdiri tepat di depan gedung perusahaan yang baru saja aku datangi.
Padahal tadi sangat sepi namun sekarang begitu banyak wartawan yang mengerumuni gedung perusahaan.
"Ini pasti bohong!!" teriak Saya terkejut sembari melepaskan genggaman tangannya dari lenganku.
Aku melirik Chris yang terus menatap serius berita itu lalu kembali menatap berita.
Di layar TV itu terlihat kakak dan Ayah yang baru saja keluar dari gedung perusahaan. Mereka langsung saja di kerumuni wartawan.
begitu banyak pertanyaan diterima kakak dan Ayah. Ketika kakak ingin membuka mulutnya seluruh wartawan terdiam.
"Saya akan mengatasi ini, perusahaanku tidak akan pernah bangkrut di bawah kekusaanku!!" tegas Kakak membuat wartawan kembali menanyakan hal lain.
Namun keduanya tidak menjawab lagi dan masuk ke dalam mobil hitam dengan bantuan security yang menghalang wartawan.
Tatapan kami teralihkan dengan suara kak Chris yang berlari pergi, kemudian kami hanya terdiam sembari saling menatap.
di sisi lain.
Zujy dan Agler menghela nafas kasar setelah berhasil duduk di jok belakang mobil lalu mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang.
"Dasar ***** itu!" umpat Agler.
"Ayah akan membawa kasus ini ke jalur hukum, kamu urus saja perusahaan," pinta Agler di anggukan Zujy.
"beraninya dia mencuri uang kita," gumam Agler kesal namun didengar sopir dan Zujy.
Zujy juga kesal namun ia tidak ingin menunjukkannya, ia memilih bersikap profesional dan tetap tenang.
ketika ia membuka hpnya, begitu banyak pesan dari ibu dan sahabatnya yang khawatir dengannya. Ia tersenyum dan memberitahukan bahwa semuanya baik - baik saja.
'Semuanya akan baik - baik saja, aku yakin itu. Selama perusahaan di tanganku aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil atau menghancurkannya,' tegas Zujy dalam benaknya.
Bersambung.