Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Aku sendiri



Gadis berambut hitam lebat sedikit bergelombang masuk dengan hati - hati ke dalam kelasnya, ia melihat sekitar dan tidak ada seorangpun yang dikenalnya. Zujy duduk di kursi belakang karna hanya itu kursi yang masih kosong, tidak ada seorangpun yang mengajaknya berbicara, dirinya kini benar - benar sendiri.


'Seperti ini lebih bagus dari pada mempunyai teman tapi hanya memanfaatkanku,' gumamnya dalam benaknya yang sebenarnya merasa sedih.


Di sisi lain, Irine masuk ke dalam kelas dan tertegun ketika seluruh murid menatapnya. Belum sempat ia duduk di kursi kosong hampir seluruh murid menghampirinya dan mengajaknya berbicara dan berteman.


Gadis itu hanya tersenyum sembari duduk secara perlahan.


"Hei!! Jangan mengganggunya," teriak seorang gadis berkunci dua.


"Hai, namaku hida," ucapnya mendekati Irine membuat kurumunan itu bubar seketika.


"Namaku Irine, salam kenal," sapa Irine tersenyum.


"Sudah tau kok, tidak ada yang tidak mengenalmu di sini, Airine Charles." Hida sepertinya gadis yang baik namun sedikit aneh karna penampilannya, ia duduk di depan Irine menjadikan mereka teman dekat nantinya.


Irine terus menatap Hida yang terus berbicara kepadanya, baru kali ini ia merasa kalah cerewet dari seseorang. Tiba - tiba seorang gadis lain dengan rambut panjangnya duduk di samping Irine.


"Irine, gak usah pedulikan omongannya, terkadang mulutnya tidak bisa di rem," ucap Riska terkekeh.


"Salken, namaku Riska," ucap Riska hangat.


"Hei, apa - apaan gaya rambutmu itu? kau mau menjadi anak SD lagi? Hahaha."


"Ini dipaksa ibuku tau! Aku juga tidak mau berkuncir dua seperti ini," ketus Hida.


Riska terus mengejek - ngejek Hida dan keduanya kini saling mengejek tapi terlihat tidak serius di setiap perkataannya.


"Oh, maaf, kami sudah berteman sejak kecil," ucap Riska.


"Bdw Rin, apa Zujy bersekolah di sini juga? " ucapan Hida membuat Irine terkejut.


"Aku ingin sekali bertemu dengannya, aku penggemarnya, lagu - lagunya sangat bagus, kau kan sahabatnya pasti tau," tambah Riska.


Irine hanya terdiam sejenak, ia tidak tahu akan membalas seperti apa. Namun Hida dan Riska terdiam ketika mendengar jawaban Irine. "Dia sudah tidak ada, sudah hilang."


Irine seketika tersadar dan tersenyum. "Maksudku, Zujy bersekolah di luar negeri."


Demi menghilangkan kecanggungan itu, Hida mulai kembali mencairkan suasana dengan membicarakan dua lelaki tampan menjadi pusat perhatian sekarang.


"Syukurlah mereka seangkatan dengan kita," ucap Hida tersenyum membayangkan kedua lelaki itu.


"Aku dengar, mereka memiliki sifat yang bertolak belakang, yang satu dingin dan yang satunya lagi jail," ucap Riska menyodorkan jarinya ke depan Hida dan Irine.


.


.


.


Satu tahun telah berlalu dan kini mereka duduk di bangku kelas 2 SMA.


Zujy sama sekali tidak mempunyai teman bahkan keberadaanya saja dianggap tidak pernah ada, beruntungnya ia tidak menjadi target bullying para murid. Lelaki yang menatapnya ketika pemberian arahan dari guru juga sudah tidak terlihat.


Ia juga tidak pernah berbicara dengan Irine ketika di sekolah, syukurlah mereka bisa mengatasinya dan sesekali makan berdua di tangga belakang sekolah yang jarang dikunjungi para murid.


Irine menjadi dekat dengan Riska dan Hida, tidak banyak hal yang terjadi di tahun sebelumnya berbeda dengan tahun ini. Dan semuanya berawal dari seorang lelaki yang mendekati Zujy.


Seorang gadis pemurung berambut hitam lebat tengah berjalan di lorong sepi membawa buku ditangannya.


"Duar." Zujy terkejut dan langkahnya terhenti, ia melirik ke belakang dan menghela nafasnya ketika melihat Irine.


"Hehe." Irine tersenyum sembari ikut berjalan di samping Zujy.


"Zui, aku sekarang sekelas dengan anak pak-" ucapan Irine terhenti saat terdengar suara keras dari area hutan.


Irine terkejut ketika Zujy seketika berjalan menuju area hutan dengan cepat menghentikannya.


"Kau mau kemana!?"


"Shttt, tadi ada lelaki yang berjalan di sana," ucap Zujy kembali berjalan mengikuti sumber suara menghiraukan Irine yang terheran mendengar perkataanya pasalnya Irine sama sekali tidak melihat siapapun.


Ting


Keduanya terkejut dan mengambil hp masing - masing dan benar saja, sesuai dengan pikiran mereka jaringan internet di sini benar - benar ada.


Kedua saling menatap dan senyuman gembira terpancar, mereka berpelukan sembari berlompat - lompat sedikit berteriak menggambarkan perasaan mereka saat itu. Entah sudah berapa lama mereka tidak membuka hp karna sama sekali tidak ada jaringan dan menderita karena tidak bisa melakukan hobi mereka yaitu bermain game online.


"Sini - sini, hari ini kita ada lomba game online kan? Ayo lakukan di sini," ucap Irine menarik tangan Zujy dan duduk di bawah pohon besar itu.


.


.


.


"Ke - kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Zujy yang bersandar di dinding karna seorang lelaki berdiri telat di depannya.


Entah mengapa lelaki ini tiba - tiba menariknya dari dalam kelas ke belakang sekolah meninggalkan seluruh murid di kelasnya yang heran dengan tingkah lelaki ini.


"Sudah lama aku ingin menemuimu," ucapnya meletakkan tangannya di samping Zujy yang membuat Zujy sama sekali tidak bisa pergi kemana - mana.


"Maaf, sepertinya kau salah orang." Lelaki itu tersenyum tipis dengan jawaban Zujy.


"Kau tidak mengenalku?" tanya Leo menatap tajam Zujy.


Zujy mulai memindai wajah Leo namun sama sekali tidak mengingat apapun.


'Aku tahu kau siapa, bukannya preman sekolah,' benak Zujy memperhatikan baju lelaki itu yang dibiarkan keluar serta rambut yang sedikit kemerahan.


"Sulit dipercaya," gumam Leo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku tanya kau mengenalku kan?" tanya Leo lagi mendekatkan wajahnya ke wajah Zujy.


Zujy membulatkan matanya menyadari betapa dekatnya wajah lelaki ini dengan wajahnya. Tangan Leo mendekati wajahnya pelan - pelan dan membuka poni yang menutupi setengah wajah Zujy.


"A - apa yang kau lakukan." Zujy dengan cepat menutup kembali wajahnya dan terus munundukkan wajahnya.


"Bagaimana ini," gumam Zujy gelisah karna setelah setahun tidak ada yang mendekatinya kini lelaki ini mendekatinya, apakah ia kurang waspada sehingga mungkin saja lelaki ini mengetahui identitasnya? GAWAT AYAH AKAN SANGAT MARAH PADANYA.


lelaki itu menjauh dari Zujy memberikan ruang nyaman untuknya.


"Begini saja, gara - gara kau aku kalah telak di lomba game online kemarin, jadi kau harus menerima permintaanku," ucap Leo dan menghela nafas setelah tidak mendengar jawaban apapun dari Zujy.


"Hah, kenapa kau menjadi pendiam seperti ini," ucap Leo membuat Zujy semakin bingung.


"Namaku Leo, mungkin kau melupakanku tapi aku tidak pernah melupakanmu."


"Lomba game online kemarin sangat penting bagiku, tapi kau malah mengalahkanku dengan hanya memakai pistol, aku paling tidak suka kekalahan," ucap Leo meilirik Zujy yang terus terdiam.


"Hei, jawab aku! Aku seperti berbicara dengan boneka saja," ketus Leo.


Zujy yang terus gelisah memainkan kukunya dengan segera berjalan cepat meninggalkan Leo namun langkahnya terhenti saat lelaki itu menahan tangannya.


"Maaf, a - aku harus pergi," ucap Zujy gugup tanpa menatap Leo.


"Kau harus bertanggung jawab, ajarkan aku supaya sehebat kamu."


Zujy terus merasa gelisah sehingga menerima permintaan Leo dan dengan cepat berlari menjauhi Leo.


"Aku kira aku salah liat dan ternyata dugaanku benar itu kau," gumam Leo tersenyum tipis.


"Bagaimana ini, tanpa sadar aku menerima permintaanya," gumam Zujy menyesali perbuatannya dan terhenti tepat di depan kelas Irine.


Apa ini? Kenapa ia berlari ke sini, Zujy menyadari bahwa di sekolah ia bukan siapa - siapanya Irine di sekolah. Hatinya terasa sakit saat melihat Irine yang tengah bercanda ria bersama kedua temannya, ia berjalan menjauh dari kelas Irine sembari terus menundukkan wajahnya menahan air matanya.


Ia benar - benar sendiri sekarang, semua kebebasannya di rebut Ayahnya walau sekarang ia sudah terbiasa dengan semua tekanan ini, seakan semua orang meninggalkannya sendiri sangat membuatnya takut ketika bisa saja Irine dan orang - orang yang di cintainya benar - benar meninggalkannya sendiri.


Bersambung.